Showing posts with label pastor. Show all posts
Showing posts with label pastor. Show all posts

Sunday, November 15, 2015

Kaul untuk Miskin

Mereka Pilih Miskin



Berbicara tentang gereja miskin, mau tak mau kita harus melihat orang2 yang pilih hidup miskin untuk gereja: para biarawan, romo, bruder dan suster.

Terima kasih kami sampaikan padamu semua karena telah mengabdikan diri untuk kita semua... Amiiiin.

*******************

Adakah romo, bruder, atau suster yang mengubah hidupmu? Yang memberimu pencerahan? Yang tak kan kau lupakan?  Ceritakan di sini....

******************
# Maaf, karena keterbatasan tempat, hanya 24 romo yang saya tampilkan...

Friday, November 13, 2015

Mahkota untuk Orang Miskin



Mahkota Kepausan, Dijual untuk Orang Miskin

Mahkota kebesaran pada gambar atas itu digunakan untuk penobatan paus Paus Paulus VI pada tahun 1963. Ini merupakan mahkota paus terakhir sampai saat ini. 


Dijual untuk Orang Miskin

Paus Paulus mengenakan tiaranya beberapa kali
. Lalu dalam tindakan dramatis pada bulan November 1963, dia meletakkannya di atas altar Basilika Santo Petrus sebagai tanda kerendahan hati, melambangkan bahwa paus tidak lagi punya klaim apapun atas kekuasaan duniawi. Dia (dan paus sesudahnya) tidak pernah memakainya lagi. 

Lalu diumumkan bahwa tiara itu akan dijual dan hasil penjualan diberikan untuk amal. Namun, Kardinal Uskup Agung New York cepat turun tangan. Mahkota bersejarah itu dibeli oleh Gereja Katolik di Amerika Serikat. Sekarang mahkota itu dipajang secara permanen di Basilika Katolik di Washington, DC.

Pujian dan Kutukan

Keputusan Paus Paulus membuang mahkota itu menuai pujian dan kecaman. Kelompok progresif dalam gereja memuji tindakan itu sebagai langkah yang sesuai dengan "tanda zaman" dan menandai lahirnya kembali kepausan yang lebih informal. Sebaliknya, kaum konservatif mengritik tindakan itu sebagai pengkhianatan pada nilai2 tradisi mulia, dan bilang bahwa hanya anti-paus yang melakukan itu; bahkan ada yang berkata bahwa itu bukti Paus Paulus bukan paus sejati.

Paus Johanes XXIII

Sebelum itu, waktu Paus Johanes XXIII terpilih tahun 1958, belum tersedia mahkota khusus untuk dia. Perancang mahkota berkonsultasi dengan Paus mengenai desainnya. Paus meminta agar mahkota ringan saja, dan batu permata yang ada di situ dibuang separo, hasilnya disumbangkan pada orang miskin. (Paus ini terkenal suka jalan2 keluyuran sendiri ke pasar2).

Diskusi

  • Gerakan  “pilih orang miskin” telah muncul lama sebelum Paus Fransiskus terpilih. Tapi Paus sekaranglah yang paling getol dan gencar meneriakkannya. 
  • Seperti biasa, gerakan kemiskinan tidak mengenakkan banyak orang, maka orang Katolik konservatif  mengecam tindakan tadi.
  • Semoga dengan pendekatan Paus kita sekarang ini, umat makin dekat dengan visi gereja mengenai orang miskin.

Thursday, November 12, 2015

Pembangunan Gereja Baru: Voting...


Pilih mana? Nomor 1, atau 2 ?

  • Tidak perlu cari ayat di Kitab Suci.   Ada ayat2 yang mendukung nomor 1, ada ayat yang mendukung nomor 2.
  • Semua cuma selera... Pilih 1 Anda benar... Pilih 2 Anda benar....
  • Eh, bukankah  kita SUDAH bantu orang miskin?
  • SUDAH cukupkah? Kalau jatah bisa dikurangi untuk mereka yang menderita, bukankah lebih baik?
  • Tapi saya ingin kemegahan untuk Tuhan
  • Tapi "Tuhan telah memakai wajah mereka (Red. orang miskin). Dan wajah itu memandang pada kita.... Jika kita tidak merendahkan diri kita, kita tidak akan melihat wajahNya," kata Paus.
  • Bukankah gereja yang megah demi kemuliaan Tuhan? Sudahlah. Saya senang dengan itu...

****************



Monday, November 9, 2015

Bebasnya Tokoh2 Pembela Orang Miskin



Bebasnya Teologi Pembebasan

Teologi Pembebasan adalah gerakan kelompok Katolik untuk membela rakyat miskin yang dulu tumbuh pesat di Amerika Latin. Gerakan ini dikecam oleh gereja karena konon ada unsur Marxisme-nya, mempertentangkan orang kaya dengan orang miskin. Padahal gereja ingin jangan ada pertentangan... Semua diselesaikan dengan kasih.

Tapi banyak pastor di sana yang tidak sabar dengan itu dan terus bergerak dalam ranah politik. Dulu rasanya ada berita, banyak pastor yang dikeluarkan dari gereja karena itu. Tapi skrg saya tidak bisa mendapat datanya. Yang jelas salah satu tokohnya, Leonardo Boff, keluar (atau dikeluarkan?) dan tidak jadi pastor lagi... Paus Fransiskus membuat keadaan berubah. Baca di bawah ini:

Pope Francis: has his revolution even started?


... (petikan)
...
Dia (Paus Fransiskus) telah merehabilitasi teologi pembebasan. Pada 1970-an dan 80-an Gereja Katolik Roma berusaha melemahkan gerakan “teologi pembebasan”, yang tumbuh di Amerika Selatan dan bertujuan menempatkan gereja di sisi orang miskin dalam perjuangan untuk keadilan dan perubahan sosial di negara berkembang. Bergoglio (Paus Fransiskus), sebagai pemimpin Yesuit di Argentina tiga puluh tahun lalu, ikut menekan gerakan yang dianggap sebagai tabir dari perjuangan kelas Marxisme ini (Red. komunis).
Tapi sebagai paus ia telah mengundang Bapak dari gerakan itu, Gustavo Gutierrez, ke Roma dan menyatakan teologi pembebasan ini tidak bisa lagi "tetap dalam bayang-bayang seperti terjadi bertahun-tahun ini." Dia meminta tokoh kunci lain, Leonardo Boff (mantan pastor), yang pernah dihukum agar tidak mengeluarkan pendapat ("obsequious silence") oleh Roma, untuk ikut serta menulis tulisan tentang teologi-lingkungan untuk ensiklik Paus Fransiskus tentang lingkungan (Red. skrg telah terbit).

http://www.theguardian.com/world/2014/mar/11/pope-francis-revolution-even-started-catholic-church-vatican

*************

Diskusi
Saya baru menyadari bahwa kalau tulisan2 saya ini muncul tahun 1980an, saya akan dicap pengikut teologi pembebasan... :)) Tidak apalah. Karena pada akhirnya kelompok pembela orang miskin ini diterima oleh Paus Fransiskus. Tokoh2 teologi pembebasan telah ikut serta menulis ensiklik Paus Fransiskus. Mereka tidak disingkirkan lagi oleh gereja...

Coba lihat dari sudut pandang (perspektif) orang miskin, kata para tokoh teologi pembebasan, yang juga saya dengung2kan di semua tulisan di blog ini serta di Facebook Gereja Miskin. Kasian mereka. Orang miskin adalah wajah Tuhan kita Yesus Kristus di dunia ini... Jangan singkirkan mereka.

************


.


Monday, November 2, 2015

Penampakan Maria atau Yesus: Bagaimana Menyikapi?

Kriteria Gereja untuk Konfirmasi Penampakan Maria 
Saduran dari Catholic News Agency, 8 Mei 2008.

Salvatore M. Perrella, pastor dan profesor teologi dan ahli Mariologi di Roma, menjelaskan kriteria yang digunakan oleh gereja untuk menentukan legitimasi penampakan Maria.

Dalam tulisan di L'Osservatore Romano, dia mengutip Pastor Yesuit Giandomenico Mucci untuk menjelaskan perbedaan antara visi/penglihatan dan penampakan. Yang pertama bersifat spiritual, sedangkan yang kedua bersifat fisik. Artinya, orang yg melihat mengalami pengalaman penampakan yang nyata dan masuk akal.

Proses gereja untuk memverifikasi penampakan Maria telah dibahas pada Konsili Lateran dan Konsili Trent. Saat ini "penegasan tentang kebenaran" dugaan penampakan "berada di tangan uskup atau Uskup Agung - dan belakangan pada Konferensi Uskup - serta pada Paus."


Setelah empat tahun melakukan kajian, "Kongregasi untuk Ajaran Iman" menyusun dokumen internal pada 25 Februari 1978, untuk digunakan oleh pihak yang berwenang dalam menilai kejadian supranatural.

Kongregasi menginstruksikan bahwa agar penyelidikan dapat dilakukan, harus dikumpulkan "informasi yang tepat" tentang berbagai aspek dari dugaan penampakan seperti kesaksian pertobatan, analisis teologis dari pesan penampakan, hasil pemeriksaan medis dan psikologis dari orang yang mengalami penampakan atau penglihatan itu, termasuk tingkat pendidikannya, pemeriksaan kehidupan spiritualnya, tingkat persekutuan dengan Gereja, mukjizat penyembuhan dan kejadian mukjizat, dan faktor lainnya.

Setelah memeriksa rinci peristiwa2 yang berkaitan dengan penampakan, Perrella mengatakan, Gereja telah mengakui total 11 penampakan dari 295 yang telah dipelajari - dan sekarang 12, dengan diakuinya penampakan Bunda Maria Laus, yang disetujui pada 4 Mei 2008.

=================
Catatan: Jelas bahwa selama 2000 tahun ini, tidak banyak penampakan yang diakui resmi oleh gereja. Karena itu, bila di group BB atau WA ada berita tentang "penampakan Maria atau Yesus" (yang sekarang sering beredar di internet) ada baiknya kita mengingat hal di atas: Sedikit sekali yang diakui resmi gereja.

Sunday, November 1, 2015

Seminar dan KKR. Tiket Rp 25 000,-



Beberapa minggu lalu saya dapat selebaran ini lewat group WA. Ada sesuatu yang bikin saya sedih. 



Seminar dan Kebangkitan Rohani Katolik:
Catholic Family is Beautiful
Kerjasama antara BPK PKK KAJ, Pertemuan Mitra Kategorial KAJ, dan Lumen Indonesia
Sabtu, 24 Oktober 2015 di Istora Senayan, Jakarta
Waktu:
Seminar untuk Orang Muda Katolik bersama Fr Cantalamessa "Beautiful Youth in the Catholic Faily"
Ruang Kenanga, Istora Senayan dari jam 10.00 - 12.00
Seminar - Seminar dari Pemikat KAJ (Pertemuan Mitra Kategorial KAJ) - Semua dimulai dari jam 13.00 - 15.00 di ruang Kenanga 1-5
1. Merciful in Catholic Family oleh RD Julius Salettia, Komunitas John Paul II for Youth Indonesia
2. Jangan Takut Berlayar di Lautan Digital oleh Bpk Stefanus Tay dan Ibu Inggrid Tay dari Katolisitas.org, Komunitas The Indonesian Pilgrims
3. Work Life Balance oleh Haryo Ardito, Komunitas KKMK (Kelompok Karyawan Muda Katolik)
4. Catholic Parenting oleh Anne Gracia dan Pasutri CHOICE, Komunitas CHOICE
5. Pernikahan Katolik oleh Komunitas Tritunggal Mahakudus
Kebangkitan Rohani Katolik bersama Fr Cantalamessa "Catholic Family is Beautiful"
Di Main Hall, Istora Senayan dimulai jam 16.00 - Selesai
Tiket Available @Rp 25.000 dan berlaku untuk seluruh kegiatan tersebut (Seminar dan KRK). Hubungi xxxx (Whatsapp/SMS di 0812 1181 xxx)


Diskusi
Semuanya indah. Dilakukan dengan tujuan mulia: Memuliakan Tuhan.  Tapi.... tiket @Rp. 25.000.  Artinya  orang yang tidak punya uang sebanyak itu tidak bisa ikut dalam kegiatan gereja ini.
Dengan cepat terjadi diskusi ini:
+ Sebenarnya aku tidak mau bilang, tapi aku beli banyak tiket untuk orang2 yang tidak mampu. 
Masalahnya, bukankah orang harus mengaku miskin, tidak punya uang, baru diberi tiket? Menyuruh orang mengaku miskin itu tidak bagus .Itu sama saja dengan menyuruh mengemis. Dan aku tahu betul rasa hati orang yang terpaksa mengemis, karena dulu aku pernah sekali mengemis pada orang yang tidak aku kenal.
 

+ Tidak juga. Kan kita tahu siapa2 yang tidak mampu
Mungkin tidak semua orang miskin giat di lingkungan atau gereja. Mungkin juga ada pendatang dari luar kota. Lalu mungkin tidak semua lingkungan menyediakan tiket gratis untuk umat yang tidak punya uang tadi. Alangkah indahnya kalau kita punya pedoman seperti di bawah ini:

Mungkin inilah yang dimaksud Paus Fransiskus dengan Gereja Miskin. Gereja yang dalam kegiatannya tidak pernah menyingkirkan orang yang tidak punya uang.

Coba mari kita pikirkan bersama di lain kesempatan.
Entah bagaimana, tapi kita bisa kalau mau...

  • Mungkin lebih baik kalau selebaran undangan kegiatan gereja, apalagi memakai upacara ekaristi, tidak mencantumkan istilah FREE, Gratis... Karena ini berarti ada kegiatan ekaristi yang dengan sadar menyingkirkan umat miskin.
 Baca : Gereja Miskin

*** Maaf kalau ada kata2 yang menyinggung.
*** Pesan Paus Fransiskus : "Lord, help us always to be more generous and closer to poor families." (Agustus 2015)





Penampakan Maria: Kriteria

Kriteria Gereja untuk Konfirmasi Penampakan Maria 
Saduran dari Catholic News Agency, 8 Mei 2008.

Salvatore M. Perrella, pastor dan profesor teologi dan ahli Mariologi di Roma, menjelaskan kriteria yang digunakan oleh gereja untuk menentukan legitimasi penampakan Maria.

Dalam tulisan di L'Osservatore Romano, dia mengutip Pastor Yesuit Giandomenico Mucci untuk menjelaskan perbedaan antara visi/penglihatan dan penampakan. Yang pertama bersifat spiritual, sedangkan yang kedua bersifat fisik. Artinya, orang yg melihat mengalami pengalaman penampakan yang nyata dan masuk akal.

Proses gereja untuk memverifikasi penampakan Maria telah dibahas pada Konsili Lateran dan Konsili Trent. Saat ini "penegasan tentang kebenaran" dugaan penampakan "berada di tangan uskup atau Uskup Agung - dan belakangan pada Konferensi Uskup - serta pada Paus."


Setelah empat tahun melakukan kajian, "Kongregasi untuk Ajaran Iman" menyusun dokumen internal pada 25 Februari 1978, untuk digunakan oleh pihak yang berwenang dalam menilai kejadian supranatural.

Kongregasi menginstruksikan bahwa agar penyelidikan dapat dilakukan, harus dikumpulkan "informasi yang tepat" tentang berbagai aspek dari dugaan penampakan seperti kesaksian pertobatan, analisis teologis dari pesan penampakan, hasil pemeriksaan medis dan psikologis dari orang yang mengalami penampakan atau penglihatan itu, termasuk tingkat pendidikannya, pemeriksaan kehidupan spiritualnya, tingkat persekutuan dengan Gereja, mukjizat penyembuhan dan kejadian mukjizat, dan faktor lainnya.

Setelah memeriksa rinci peristiwa2 yang berkaitan dengan penampakan, Perrella mengatakan, Gereja telah mengakui total 11 penampakan dari 295 yang telah dipelajari - dan sekarang 12, dengan diakuinya penampakan Bunda Maria Laus, yang disetujui pada 4 Mei 2008.

=================
Catatan: Jelas bahwa selama 2000 tahun ini, tidak banyak penampakan yang diakui resmi oleh gereja. Karena itu, bila di group BB atau WA ada berita tentang "penampakan Maria atau Yesus" (yang sekarang sering beredar di internet) ada baiknya kita mengingat hal di atas: Sedikit sekali yang diakui resmi gereja.


Wednesday, October 28, 2015

Dua Uskup Agung baru, pembela orang miskin



Paus Fransiskus bikin kejutan lagi. Dia menunjuk dua uskup agung baru yang memiliki "bau domba."

Yg satu, Matteo Zuppi, seblm ini uskup pembantu di Roma; yg lain, Corrado Lorefice, 53 th, seblm ini cuma pastor paroki di Keuskupan Noto di Sisilia.

Kedua uskup baru ini rohaniawan sederhana, dikenal krn banyak bekerja untuk orang miskin, org yg terbuang dan dalam kesulitan (Zuppi) dan mereka yang terjebak dalam prostitusi dan migran (Lorefice).

Zuppi, 59, dikenal sangat ramah dan baik. Dia dicintai oleh orang-orang miskin, orang buangan, kaum gipsi, dan orang-orang tua yang telantar; ia menghabiskan hidupnya melayani mereka.

Pengangkatan ini meneguhkan visi Paus, gereja untuk orang miskin. Dulu orang yang kurang setuju dgn paus memelesetkan visi itu dengan "berjiwa miskin" (tidak salah sih). Tapi makin lama paus makin jelas menunjuk ke kemiskinan dunia ini. Orang miskin, kere.... Itulah yang perlu dirangkul gereja... Sudahkah itu menjadi pedoman gereja di paroki Anda ?

Edit: artikel semula menyebut "kardinal". Salah baca..

Pembantu Rumah Tangga orang Katolik (3)

Lanjutan dari   Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen.

  • Gaji: Saya tidak bicara mengenai keluarga miskin yang terpaksa memakai dan menggaji pembantu karena keadaan sangat memerlukan. Keluarga itu dengan amat bersusah payah berusaha menggaji pembantunya dari segala kekurangannya... Hemat sini, irit sana, dan akhirnya mereka bisa.
  • Tapi sebagian orang yang mampu, bahkan amat sangat lebih dari mampu, kadang berpikir, kalau gaji bisa lebih rendah mengapa tidak? Toh semua ini hukum pasar. Dia mau, dia senang, aku senang, tanpa paksaan... Maka dicari cara untuk meminimalkan gaji tadi. Aku ambil contoh saja peraturan di Singapura. Karena di sini belum ada peraturan apapun. Sedang digarap LSM (yang mungkin bukan Katolik)... Di sana ada ketentuan, misalnya PRT harus digaji 400 dolar. Nah, bagi sebagian orang Katolik, kalau bisa diatur supaya pembantunya mau menerima 250 dolar, bukankah itu bagus? Dia senang, karena untuk ukuran Indonesia, itu sudah cukup besar. Nyonya majikan juga senang karena ada uang lebih untuk beli parfum Crocodile alias Lacoste atau Elizabeth Arden, tiap bulan. Bukankah kalau kumpul berdoa ke gereja perlu wangi? Juga mungkin uang bisa didermakan ke gereja, karena rumah Tuhan perlu dibuat megah.

    Di sini orang Katolik ini lupa pada ajaran gereja yang dituangkan dalam ensiklik Rerum Novarum (lebih dari 100 tahun lalu) dan Quadragesimo Anno. Intinya, jangan serahkan gaji pada mekanisme pasar! "Toh, tidak dipaksa, dia mau." Itu mekanisme pasar. Apalagi, pada kasus di atas, pembantu tadi telah ditipu karena seharusnya minimal dia memperoleh gaji setara yang ditetapkan negara. Sangat menyedihkan kalau ini dilakukan oleh orang Katolik yang rajin ke gereja. Apa ini terjadi? Coba tanya pada komunitas Katolik di sana...
  • Jadi bagaimana seharusnya orang Katolik menggaji karyawan kecil atau pembantunya? Pertama, ikuti aturan pemerintah (kalau kamu mampu, karena ada yang tidak mampu). Kedua, ingat bahwa pekerja-pekerja terkecil itu adalah perwujudan Kristus di dunia. Yesus sendiri yang bilang, apa yang kau lakukan pada mereka, itu kau lakukan pada Dia. Kalau sabda ini diterima dengan hati terbuka, tak ada keluarga Katolik yang semena2 terhadap pembantu. Pakai "kasih" sebagai dasar utama, maka semua akan gembira (karena "orang Kristen itu gembira," kata Paus)

    Jadi, berapa besar kita harus menggaji pembantu rumah tangga (atau karyawan kecil lainnya)? Terserah seberapa besar kasih Anda pada perwujudan Kristus di dunia ini. Tetangga umumnya memberi 500 ribu misalnya. Kalau pakai mekanisme pasar, jawaban kita sebagai majikan mungkin "saya beri 600 ribu saja; bukankah sudah lebih dari cukup?" Tapi untuk yang sudah berlebih kemampuannya, kenapa tidak lebih besar? Sepuluh kali lipat? Kenapa tidak, kalau mampu? Yang utama, jangan lihat pasar. Jangan lihat berapa besar orang lain membayar.

    Aku mengenal keluarga2 yang menggaji pembantunya dengan baik dan menyekolahkan anak2 pembantunya sampai lulus. Itulah Kristen sejati.Itu penginjilan yang diinginkan oleh Paus Fransiskus sekarang ini. Anggaplah mereka saudaramu sendiri.

Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (2)

Lanjutan dari   Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen


  • Tidak boleh istirahat di hari Minggu: Dalam Katekismus Katolik, dalam Kesepuluh perintah Allah ada perintah "Kuduskanlah Hari Tuhan"... Mungkin karena terlalu pendek, banyak orang Katolik mengartikan, hanya orang Kristen yang harus beristirahat pada hari ketujuh, yang sekarang disebut hari Minggu. Orang lain, pembantu di rumah, yang bukan Kristen, kan tidak terikat oleh hukum itu? Benar? Salah...

    Perintah aslinya, yang berasal dari Kitab Keluaran 20:10, mengatakan:
    "tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu."
    Nah, hewan pun tidak diperkenankan untuk bekerja terus menerus, apalagi manusia. Harus ada istirahat. (Mungkin pada perbaikan naskah katekismus yang akan datang, kalimat ini perlu dicantumkan lagi dan tidak terlalu pendek. Mohon Bapa Uskup mengusulkan ke Vatikan.)

    Negara-negara Barat banyak yang punya hukum untuk melindungi pekerja kecil seperti PRT ini. Singapura juga. Ada LSM yang mendorong pemerintah untuk melindungi PRT. Maka akhirnya dibuatlah peraturan bahwa semua PRT di Singapura harus diberi istirahat satu hari seminggu. Sayangnya, kalau tidak salah, ada klausula, pada hari istirahat itu PRT boleh tidak beristirahat kalau ada kompensasi uang. Apa arti uang bagi orang Singapura yang rata2 sangat kaya itu? Mereka negara terkaya ketiga di dunia (dari rata2 kekayaan penduduk). Dengan mudah mereka akan kasih uang, dan PRT tetap "dipenjara" di rumah dengan legal tanpa melawan hukum.

    Tadi aku sebut lembaga2 sosial, LSM, di Singapura yang mengusahakan perbaikan nasib para PRT di Singapura. Apakah itu LSM Katolik? Bukan. Adakah yang menulis beberapa di antaranya mewakili umat Katolik? Tidak... Aduh, sedih... ke mana saja saudara2ku orang Katolik Singapura itu? Apakah mereka tidak ada waktu karena sedang berdoa atau berkotbah tentang cinta kasih?  Gereja sebagai gereja, tidak boleh ikut politik. Tapi sebagai individu, orang Katolik perlu ikut memperjuangkan. Dan perlu berkata saya memperjuangkan karena saya Katolik. Inilah salah satu bentuk penginjilan (evangelisasi) yang diharapkan Paus Fransiskus. "Aku Katolik. Aku membela orang yang miskin dan menderita."

    Aku tidak tinggal di sana, jadi tidak tahu tepat apa yang terjadi. Tapi minimal dari berita koran Straits Times, tidak ada kata "katolik" yang tersisip dalam ulasan2 tentang PRT di sana (karena dulu tinggal di Batam, aku sangat sering ke Singapura, kadang tiap minggu). Dari artikel yang ada, tahun 1987 ada LSM yang aktif membela PRT. Tidak banyak jumlah orangnya; kalau tidak salah cuma 22 orang. Tapi tercatat di situ, dan aku bangga, bahwa sebagian dari mereka mengaku bergerak karena mereka Katolik. Karena pemerintah saat itu sedang sangat keras, mereka ditangkap. bahkan dituduh komunis. Ditahan tidak lama. Tapi tak lama kemudian LSM itu bubar... dan kata "Katolik" tidak tersisip lagi di koran, sampai sekarang (untuk urusan itu).

    Entah bagaimana gerakan umat Katolik di sana saat ini. Juga entah apakah pastor di sana sering mengingatkan umatnya soal ini dalam homili.
  • Di Indonesia sendiri, dalam 10 tahun ini rasanya aku tidak mendengar ada gerakan umat Katolik untuk membela PRT. Entah ada atau tidak ulasan tentang ini (dan cukup sering kah) di majalah Hidup. Juga 10 tahun ini dalam homili aku tidak mendengar kata PRT kecuali saat perayaan Natal atau Paskah 2 - 3 tahun lalu, di mana Pastor Eddy meminta kita menyayangi orang kecil, termasuk pembantu di rumah kita. Aku sangat menghargai itu... Umat perlu bergerak, tapi pastor bisa berpengaruh besar sekali kalau mau menekankan masalah ini berkali-kali dalam homili. Kristus sering sekali kita temui, dalam bentuk pembantu di rumah, office boy di kantor, satpam di lingkungan rumah (atau gereja), penjaja makanan kecil yang lewat di depan rumah, dst.

    Maaf, aku tahu tulisan ini mungkin akan membuat tidak senang sebagian orang, juga saudara2, anak2, menantuku, serta teman2 semua, khususnya ibu2 rumah tangga. Tapi aku harus mengatakan yang seharusnya. 
 Lanjutan: Pembantu Rumah Tangga ... (3)

Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (1)

Lanjutan dari  Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen
(Klik untuk baca)

 
Kisah sedih tentang pembantu rumah tangga (PRT) sering terdengar: yang dianiaya sampai cacat, yang dihukum mati, dihukum penjara karena menganiaya majikan atau anak majikan, dst. Kisah mengenaskan sebagai subyek. ataupun obyek. Di luar negeri, maupun dalam negeri.

PRT juga yang, dalam bentuk lebih ringan, kadang diperlakukan mirip budak belian pada masa kini, di sini, oleh sebagian orang Katolik. Begini:


  • Tidak boleh keluar rumah sendiri: Mungkin ada sebagian majikan Katolik yang aktif sekali di gereja, aktif berdoa, rajin pelayanan, daaan .... menerapkan peraturan ini. "Kalau dibiarkan keluar sendirian, nanti dia ke tetangga dan diambil oleh tetangga; saya jadi repot." Begitu alasannya... Tega ya! Demi kepentingan pribadi, kita bikin sengsara sesama manusia, mengambil hak asasinya yang sangat dasar, kebebasan. Atau mungkin majikan Katolik itu berpikir, PRT ini gembira tidak keluar rumah? Bukankah seluruh rumah adem, ada AC, banyak pesawat TV? Semua tersedia buat PRT, kecuali satu, kekebasan. (mirip penjara model baru yang sedang dirintis di Eropa?)

    Apakah kita mengetahui ada kasus ini di lingkungan paroki kita? Tidak tahu? Mungkin perlu bertanya2. Terbuka saja. Siapa tahu ada.. Kalau tahu ada, adakah umat atau salah satu kelompok kategorial, yang giat mengingatkan, itu tidak sesuai dengan jiwa Kristen kita? Kalau Yesus hidup pada masa sekarang, mungkin dia akan menambahkan sabdaNya dalam Matius 25:41 "... enyahlah ke dalam api yang kekal... Sebab ketika aku kesepian, kau mengungkung Aku di rumah.".... Aduh Gusti...

    Aku menyayangi kamu semua sebagai saudaraku, sesama umat Katolik. Jangan sampai itu terjadi padamu. Maka sekali lagi aku mengingatkanmu di sini, lewat tulisan ini. Aku telah berbuat; aku menulis ini; Semoga teman2 di paroki masing2 ikut berbuat, membela kaum tertindas ini. Jangan sampai kejadian budak disiksa itu dibiarkan selama 200 tahun lagi oleh kita semua, gereja, dengan menutup mata. Minimal, buka suara lah...

    Aku mengasihi kamu semua. Menyadari sulitnya hidup tanpa pembantu di dalam rumah. Sungguh berat... Susah... Tapi aku juga mau mengingatkan, ingat sabda Yesus. Apa yg kamu lakukan pada saudara kita yang paling kecil ini, kamu telah melakukannya pada Tuhan Yesus (Matius 25:32-42).
Baca lanjutan : Pembantu Rumah Tangga ... (2)

Monday, October 26, 2015

Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen


Kutipan di bawah ini saya peroleh dari selebaran lewat WA yang tidak saya ketahui sumbernya. Mohon izin dikutip untuk diskusi...
Kencan Dengan Tuhan
Senin, 26 Oktober 2015

Renungan: Seorang kakek berkulit hitam berdiri di depan pintu kantor lembaga Alkitab di Amerika Serikat. Setelah masuk ia bertanya, "Apakah kalian menjual Alkitab?" "Betul, kek," jawab pemuda di balik meja. Kemudian si kakek bercerita, "Aku terlahir sebagai seorang budak dan majikanku melarang aku untuk belajar membaca dan menulis, tetapi aku nekat sehingga seringkali aku dicambuk karena melanggar peraturan.
     Setelah itu aku dan ayahku mengabdi pada anak majikanku yang sudah berkeluarga. Ia mengijinkan budaknya belajar membaca agar bisa membaca Alkitab. Aku senang sekali. Aku membaca Alkitab dan melakukan perintah Tuhan yang aku baca. Sayang sekali aku tidak punya uang untuk membeli Alkitab. Bisakah aku mendapatkan Alkitab dengan bermain suling?" Maka terdengarlah suara suling nan merdu menggema di seluruh ruangan kantor. Pria muda itu segera membuka lemari dan memberikan sebuah Alkitab kepada sang kakek.
     Setelah berhenti bermain suling, sang kakek berkata, "Aku bisa memperolehnya tanpa membayar, nak?" Dengan ramah sang pemuda berkata, "Sesungguhnya kakek sudah membayarnya ketika dulu kakek berani dicambuk hanya karena belajar membaca."
    Begitu indah jika semua orang percaya memiliki kerinduan yang sama untuk membaca firman Tuhan...

Tuhan memberkati.

===================


Begitulah ceritanya.... Dia terlahir sebagai budak, dan majikan saat itu secara legal formal boleh mencambuk sesukanya, karena di dalam hukum, dia bukanlah manusia, melainkan "barang". Dia nekat sering melanggar peraturan, maka sering dicambuk. Untuk saat itu, wajar, biasa, alamiah; dan  kakek ini bercerita mungkin dengan tersenyum. Tapi yang sering dilupakan, majikan pencambuk itu mayoritas orang Kristen. Sebagian Katolik. Karena ini terjadi di AS.

Kisah kakek kulit hitam yang dicambuk itu menjadi pemicu tulisan ini. (Renungan yang saya kira akan tidak berkenan bagi sebagian orang. Untuk itu, mohon maaf sebelumnya.)

Apa yang ingin saya tekankan? Tolong dicatat bhw gereja Katolik kita pada masa itu tdk banyak bersuara tentang pelanggaran perikemanusiaan itu karena dianggap sudah sesuai dengan nilai zaman itu. Siapa yang dimaksud dengan gereja itu?

Gereja adalah kita semua. Orang awam, aktivis gereja, biarawan, sampai paus. Saya mungkin kurang lama mempelajari, tapi yang saya ketahui, secara umum tidak banyak yg dilakukan gereja untuk membela orang kulit hitam yang teraniaya setengah mati (banyak yang sampai mati) pada masa itu. Mungkin, dan pasti, ada pribadi2 Katolik atau non-Katolik yang baik, yang tidak melakukan penganiayaan; tapi sebagai kesatuan umat Katolik (kalau saat ini, mungkin berupa Wanita Katolik, SPSE, Orang Muda Katolik, kelompok kategorial lain, paroki, keuskupan, paus) tidak banyak membela, minimal kurang terdengar upaya mereka, untuk membantu orang tertindas itu. Selama 200 tahun.

Diskusi di group WA pun jadi makin panas; ada yang dengan cepat berkata "Mengapa sih mengungkit2 masa lalu, menyebar kemarahan. Cobalah berdamai dengan masa lalu..." Mungkin maksudnya mari kita bicara yang indah2 saja. Yang enak didengar. Yang membuat hati tenteram, damai, penuh kasih... Saya juga senang bicara yang manis2 seperti itu; tapi saya tidak bisa, kalau masih ada orang menderita, yang kita ketahui menderita, dan kita biarkan sengsara, sementara kita berkotbah menghamburkan kata-kata penuh cinta kasih tentang membantu sesama dst. Bentuk perbudakan itu masih ada, sampai saat ini, sekarang, di sini, di lingkungan kita, juga di lingkungan orang Katolik. Maka saya berkata. AYO BANGUN. Mari kita bantu mereka... Ini tidak bicara peristiwa 100 - 250 tahun lalu. Ini bicara masalah saat ini.

** Sudah lewat jam 12 malam... capek badan dan pikiran... Istirahat dulu...

Lanjutan di sini: Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (1)
 

Monday, October 19, 2015

Ekaristi, tata cara dan diskusi (2)

Lanjutan dari :

Mari ber-Ekaristi dengan baik dan benar
Silakan klik untuk melihat.

Diskusi


EN :  Patut dihargai. Tapi at most ini cuma pendapat pribadi si penulis. Dan mungkin bukan pendapat paus...
EN :  Yg paling sering aku ributkan, soal sikap pd saat doa bapak kami. Bebrp thn lalu uskup Jkt sdh meminta spt di atas. Tapi smp saat ini tdk ada perubahan. Dan pastor tdk peduli :((... Pdhal bisa diumumkan seblm doa itu, ckp 4 minggu, pasti berubah

http://dominisumus.myspx.org/2013/10/04/st-francis-assisi/
Patung Fransiskus Asisi sebagai pengemis, telanjang kaki, bersama burung2 di dekatnya. Inilah Fransiskus sejati setelah membuang pakaian kebesarannya.

EN :  Lalu soal pakaian.... Please jangan urus soal duniawi beginian. Pasti akan salah (Red. Gereja pernah salah. Baca di sini)... Soal pakaian yg "pantas", aku baru akan menuruti kalau Santo Fransiskus dinyatakan oleh gereja sbg org ngawur setengah sinting, krn buang pakaian mewahnya dan pakai pakaian rombeng tanpa alas kaki.  Dia tdk menghormati ekaristi, sakristi, maka hrs dicabut gelar Santo nya... Dan memang yg satu ini bikin pusing kepala. Maka tdk ada paus yg suka dengan nama dia (mungkin banyak org Katolik juga tdk suka?); kecuali Paus Fransiskus. :)  Kalau suka, mestinya ada paus yg pake namanya dlm 700 thn ini. (Entahlah, mungkin St Fransiskus dulu juga tidak boleh masuk gereja? Hanya duduk di luar gereja? Tidak tahu…)
KHD: Semua yg ditulis ada dalam buku TPE 2005. Kalau soal pakaian, aku setuju agar umat pakai pakaian yg rapi dan pantas, tidak pakai sandal, apa lagi sandal jepit....... Kita hadir dalam perayaan Ekaristi, suatu perjamuan yg agung, sudah sepantasnya kita menghormati Tuhan yg mengundang kita dengan hadir memakai pakaian yg pantas. Kalau misalnya kita diundang presiden atau gubernur aja kita berusaha pakai pakaian yg pantas dan rapi, pakai jas atau setidaknya baju batik yg terbaik.


EN :  @KHD. Maka aku pengen nulis di gereja, umat harap semua rapi dan pakai sepatu (kecuali St. Fransiskus dan pengikutnya)... :))  St. Fransiskus ini memang bikin anyel, menjengkelkan.
SB: Pengikut St Fransiskus...terutama di Indo..apa juga membakar semua pakaian yg bagus2 dan membuang sepatu merek nya....? kalo memang ini dilakukan ....rasanya boleh lah ke gereja pakai pakaian kay pang (pengemis) dan sandal jepit....hehe

EN :  Tdk sendiri kok. Mestinya, awalnya uskup wkt itu juga anyel (mendongkol) sama Fransiskus. Juga Paus Fransiskus skg bikin bingung banyak org... Tdk suka, tapi sungkan utk teriak... Maka wkt itu dikira akan ada perpecahan di gereja... Ternyata tdk terjadi. Paus Fransiskus lbh bnyk pendukung... Coba, maksudnya apa, bilang "betapa aku mendambakan gereja miskin, utk org miskin"... Bingung, kan... Nyebelin  :)
S B: Mungkin maksudnya....agar kita yang Katholik ini...jangan jor2an bikin gereja yang mewah2, pakai Ac, proyektor dll. Tapi kalau di Jakarta yang panasnya spt ini kalau tidak pakai AC lalu bagaimana… keringat bercucuran kan… kalau di Eropa gitu, cuaca adem… hehe.
KHD: Yang aku maksud adalah sikap kita sendiri sbg umat dalam menanggapi undangan Tuhan utk mengkuti perayaan Ekaristi Kudus. Aku liat di daerah2 terutama di Sumut, NTT dll. Mereka adalah petani2, tapi hadir di Perayaan Ekaristi dgn pakaian yg terbaik......
S B: Aku setuju sama KHD....kadang sikap ekstrem sudah tidak jamannya untuk kita2 ini....hehe
RH: Klau saya setuju dng pakaian yg rapi dan bersih,nggak usah yg bagus,yg penting diri kita mengikuti perayaan Ekaristi tsb.tahukan kita menghadap kpd raja diatas sgala raja lho.kita2 ini menghadap penggede saja mesti rapi coba klau mau bertemu dng menteri misalnya nih.berani ndak pakai pak sembarangan dan tdk pakai sepatu.

EN :  Kita hrs pake pakaian terbagus, krn kita akan ke rmh Tuhan. Bapak kita... Tapi kalau aku ke rmh ortu ku, smp sana kalau panas buka baju, pakai singlet :)…... Lalu Tuhan ada di mana2 lho. Kalau ketemu Tuhan, hrs baju bagus. Lha kalau mandi, apa kita tdk ketemu Tuhan... Tuhan ada di segala tempat, termasuk di telapak kaki kita... Atau mgkn tdk ada di situ ya :)… :)... Adanya cuma di atas langit,  maka kalau berdoa, mendongak. Tuhan tdk ada di bagian bwh bumi...?
KHD: @EN: hehehe...... tapi ini konteksnya kan bagaimana kita hadir di Rumah Tuhan memenuhi undangan-NYA mengikuti Perayaan Ekaristi Kudus. Memang, kalau di rumah ketika berdoa malam aku juga pakai piyama...... ok, akhirnya kembali pada suara hati kita masing2....
BS: Berpakaian saat ibadah memang bisa lain lain. Ada yg menganjurkan berpakaian rapi dan lengkap. Tapi ada agama yang saat ibadah diperbolehkan pakai sarung tanpa celana dalam. Gak tahu alasannya.

EN :  @BS. (::jempol) Menunjukkan bhw itu semua buatan manusia alias tradisi saja. Dan tradisi bisa diubah. Dulu kita msh kecil, wanita dan pria duduk terpisah kalau di gereja. Inget?  Seblm itu ada "keharusan" bagi cewek utk pake jilbab/penutup kepala/mantila kalau ke gereja... Cewek macam apa, ke gereja tanpa kerudung, kata Santo Paulus di 1 Kor. 11:2-16. Dan "ajaran" itu dibuang, krn org Kristen bisa dan boleh menafsirkan Injil.
SB: Betul tradisi bisa diubah.....sesuai tuntutan jaman nya......contoh...bahasa Latin di misa....bisa jd bahasa indonesia...maupun bahasa jawa....bahasa inggris dsb nya...dulu imam ngak boleh membelakangi tabernakel....sekarang coba bagaimana..
SB: Di Seoul.....ada sekelompok wanita devosi ke St Maria....kalo ke greja pakai kudung putih....
EN :  (::jempol)
EN : Kremasi misalnya, dulu tidak boleh dilakukan (mungkin orang Katolik yang melakukan waktu itu dikutuk oleh tetangganya), sekarang boleh. Dan di AS, tata caranya sekarang masih ketat banget; bikin aku tersenyum. Mengurus hal-hal duniawi, sering menyebabkan gereja salah.