Monday, February 1, 2016

Paus Fransiskus: Mengubah gereja jadi bisnis itu skandal



 


Paus Fransiskus mengutuk para pastor dan orang awam yang mengubah paroki mereka jadi "bisnis" dengan memungut bayaran untuk hal-hal seperti pembaptisan, berkat dan intensi misa. Dia menyebutnya skandal yang sulit dimaafkan.

Paus memusatkan  homilinya pada Injil hari ini, injil Lukas di mana Yesus menjungkirbalikkan meja2 di dalam bait Allah dan mengusir orang-orang yang berjualan, mengatakan itu adalah tempat suci yang dimaksudkan untuk doa dan bukan untuk bisnis.

Sementara banyak orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa dengan  baik dan mencari Tuhan, mereka dipaksa untuk membayar untuk membuat persembahan, Sri Paus menjelaskan

"Saya memikirkan bagaimana sikap kita bisa membuat skandal dengan kebiasaan yang tidak imami di Bait Allah: skandal melakukan bisnis, skandal keduniawian," kata Uskup Roma ini, yang mengamati berapa banyak paroki memiliki daftar harga yang tersedia untuk pembaptisan, berkat dan intensi misa.

Paus kemudian menceritakan kisah pasangan muda yang merupakan bagian dari sekelompok mahasiswa yang dipimpinnya tak lama setelah ditahbiskan. Ketika mereka memutuskan untuk menikah, mereka pergi ke paroki mereka untuk meminta upacara sipil dan misa sekaligus.

Ketika mereka bertanya, pasangan itu diberitahu bahwa mereka tidak bisa merayakan misa plus upacara pernikahan karena slot waktu yang terbatas hanya 20 menit untuk upacara; pasangan itu harus membayar untuk dua slot waktu untuk merayakan misa juga.

"Ini dosa, skandal," Paus menjelaskan, dan menyinggung bagian Alkitab dimana Yesus mengatakan kepada orang-orang yang menyebabkan skandal bahwa mereka "lebih baik dibuang ke laut."

Ketika orang-orang yang mengelola Bait Allah dan pelayanannya, termasuk pastor dan orang awam, menjadi pengusaha, "terjadi skandal. Dan kita bertanggung jawab untuk ini. Awam juga! Semua orang," lanjut Paus.

Mencegah skandal adalah tanggung jawab semua orang, kata dia, karena jika kita melihat mentalitas-bisnis ini terjadi di paroki kita, kita perlu memiliki keberanian untuk mengatakan sesuatu kepada para pastor.

"Terjadi skandal ketika Bait Allah, Rumah Allah, menjadi tempat bisnis, seperti dalam kasus yang pernikahan tadi: gereja sedang disewakan."

Paus Fransiskus mencatat bagaimana ketika Yesus membuat cambuk dan mulai mendorong orang keluar dari kuil itu bukan karena dia marah, tapi lebih karena ia penuh dengan murka Allah dan semangat untuk rumahNya.

Yesus, katanya, "mempersoalkan uang, karena penebusan itu gratis; itu hadiah gratis dari Allah, Dia datang untuk membawa kita hadiah yang mencakup segala kasih Allah."

Jadi, ketika sebuah gereja atau paroki mulai melakukan bisnis, itu seperti mengatakan bahwa keselamatan itu tidak gratis lagi, Sri Paus menjelaskan, itulah sebabnya Yesus mengambil cambuknya untuk memurnikan bait yang korup.

Diskusi:
Lalu bagaimana dengan bayaran untuk koor, bunga, seminar, KKR, dll.?

78 comments:

  1. diparoki saya,sebagai umat saya heran, tiba tiba datang uku, persembahan, dahar romo, iuran bla blab dan masih seabreg lg yang harus dibayar, apalagi menjelang hari raya, anehnya lagi ketua stasi bahkan dengan nada seolah olah paling berkuasa, "terserah kamu mau ke gereja purbayan, tapi kamu masuk paroki dirjodipuran" amplop u persembahan ini harus anda terima, terus apa ya saya kosongin saja? dari seolah anak di yayasan sampai kegiatan stasi wilayah, bener2 semua uang... jadi heran, aku sejak kecil dididik romo2 sj, rosario jalan kaki 5-8 kilo, ga ada dulu tarif tarif macem2 itu, semua berjalan baik, karena kerelaan, kita dan hasilnya juga beda jauh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bp Cahyo punya solusi agar tdk perlu lagi iuran2 umat ?
      sampaikan saja ke romo, sy pikir rm nandi atau rm daris cukup terbuka menerima masukan2.. kalau masukan tdk diterima, kita masih bisa naik banding ke uskup koq, atau paling tdk ke forum ini,mungkin ada pembaca yg bisa bantu..

      Delete
  2. Hehehe... Dulu mungkin dapat dana dari Belanda sana, pak. Skrg beda. Yg bapak ceritakan, itu memang masalah bagi yg pas2an. Tapi mungkin bukan itu yg dimaksud paus... Saya tidak tahu, dulu bapak ngalami apa tidak. Dulu di Purbayan, kursi dalam gereja disewa orang. Baris 1 adalah hak pak anu. Baris ke dua pak Anu. Keluarga saya dapat baris ke 5 atau 6, kalau tidak salah.
    Tiap bulan bayar ke paroki uang sewa kursi. Itulah bisnis sejati. Orang yg tidak punya uang, minggir sana... :)) Sejak kecil saya merasa, sungguh itu tak adil. Jadi: gereja memang ada salahnya. Mungkin skrg juga. Kita kita pilihi ("petani") mana yg bisa diperbaiki.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh... mentalitas pengurus paroki purbayan msh kolot begitu ya?

      Delete
  3. gereja sekarang sudah jauh melenceng dari misi utama yesus, gereja sekarang sudah banyak berubah, banyak aturan - aturan yang memberatkan umat bahkan banyak juga aturan yang bahkan tidak bisa memberi solusi terhadap persoalan umat.. sungguh sangat2 di sayangkan, misi dan ajaran yesus sudah mulai bergeser dari hari ke hari, bahkan sebagian umat mungkin tidak menyadarinya, bahkan menganggap biasa2 saja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat saya, misi utama Yesus adalah yang disebutkan oleh Paus Fransiskus pada awal jabatannya: "Betapa aku mendambakan gereja miskin, untuk orang miskin." Dia mendambakan, karena gereja belum, atau sekarang tidak, sesuai dengan visinya... Tapi banyak orang Katolik tidak suka dengan kata2 ini: gereja yang miskin. Untuk orang miskin... Kata "miskin" tidak enak didengar, kata paus...
      Soal aturan2 yg tidak bisa menyelesaikan persoalan umat, sebagian adalah krn ajaran paus tidak sampai pada umat. Misalnya, soal orang Katolik yg bercerai dan kawin lagi... Paus Yohanes Paulus II sudah bicara ttg ini puluhan tahun lalu, tapi banyak yg tidak tahu. Dan tidak diberitahu :( ....

      Delete
    2. saya setuju dengan pendapat bapak karena saya paham ajaran katolik, yang saya maksud adalah saat ini kenyataanya terjadi begitu banyak bentuk/jenis persoalan yang di alami umat, tapi begitu hal ini di sampaikan ke atas, respon dari pihak (yang mewakili) gereja terkesan tidak memberikan solusi. bahkan ada beberapa (maaf) pastor atapun pengurus geraja lainya cenderung (maaf) "arogan" dalam hal ini. Mereka tekesan tidak mau tau dan tidak mau repot dalam menyelesaikan masalah umat. pastor terkesan (maaf) "Pilih2" dalam melayani umat. Di beberapa tempat ada pastor ataupun pengurus gereja arogan dalam menjalankan aturan gereja, seolah2 gereja tersebut milik pribadi, akhirnya yang terjadi kemudian adalah Umat yang (maaf) melayani Pastor, bukan pastor yang melayani umat. Faktanya, yang terjadi sekarang khususnya di kampung halaman saya di Flores adalah banyak sekali umat yang kecewa dengan Gereja (pastor dan pengurus gereja), banyak sekali aturan yang sangat memberatkan umat, bahkan gereja (dalm hal ini pastor, dll)tidak bisa memberikan solusi yang baik dengan aturan yang mereka buat sendiri. akhirnya kesan yang ada adalah Gereja hanya sekedar gereja. biasa saja, orang ke gereja hanya sekedar aktifitas mingguan tapi tidak lebih. bahkan bagi sebagian orang di kampung saya Gereja (pastor, dll) seperti (maaf)"Momok" yang perlu di hindari, mereka jadi males ke gereja, mereka jadi apatis terhadap gereja karena gereja bukan lagi sumber solusi tetapi sumber masalah baru bagi umat di sana.. ada beberapa orang bahkan tidak mau ke gereja bukan karena males tapi karena kecewa dengan pastor, dll. ini adalah fakta yang terjadi di kampung saya..
      mohon maaf kalau opini saya tidak berkenan. salam hangat, semoga Tuhan memberkati kita semua. ("DI SINI PERLU KITA GARIS BAWAHI, BAHWASANYA SAYA TIDAK BAHAS AJARAN YESUS")

      Delete
    3. Bahwa ada pastor yg krg ramah pd umat, pilih2 dll, itu kita sadari. Mesti diingat bahwa di antara murid Yesus sendiri terdapat Yudas... Tapi menurut saya jumlahnya sedikit; jauh lbh bnyk yg baik. Setia pd sumpahnya. Jadi kalau dulu anda mengalami hal yg tdk enak, perkenankan saya atas nama gereja meminta maaf... Semoga dapat memaafkan... Amin

      Delete
  4. jujur saja saya dulu katolik, dan sempat mengenyam pendidikan di seminari, di sini saya tidak bermaksud menyerang atw mengkeritik gereja katolik, karena biar bagaimanapun keluarga besar saya katolik(orang tua dan saudara), saya hanya perihatin dengan perkembangan gereja katolik akhir2 ini, puncaknya adalah kita bisa saksikan sendiri banyak sekali skandal(maaf) yang terjadi belakangan ini, dan pemimpin2 gereja katolik tidak bisa lagi tutup mata akan hal ini, tapi saya sangat kagum dan bangga dengan Sri Paus yang sekarang, yang dengan jiwa besar turun tangan langung menangani masalah2 tersebut bahkan Beliau dengan jiwa besar meminta maaf kepada umat,,... Luar biasa, karna tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut... sekali maaf kalau opini saya tidak berkenan di hati teman2 semua, niat saya murni sebagai bentuk perhatian saya terhadap gereja katolik yang mana dulu saya di didik dan di besarkan dalam teradisi gereja katolik... salam hangat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam hangat juga... Terima kasih mampir... Gob bless you...

      Delete
    2. Well respect saja Mba, itu artinya Mba mencela klga Mba sendiri yg Chatolic , Tuhan Yesus memberkati

      Delete
    3. Menolak katolik kr hal manusia mcm x lojik. Kr kita ke geraja utk berdoa dan menyembah Tuhan.

      Delete
  5. kita harus pahami dulu gereja hidup kalo ada umat gereja perlu sumbangan dari kita umatnya, romo makan jg dr umat, perlu bensin untuk turne, klo mau jalan kaki bisa tp kan jadi ga efektif soal waktu. Di injil jg ada kisah bgmn seorang janda tua memberi sedekah persembahan seadanya dari kekurangannya. Acara Natal paskah perlu dana besar dan dana itu dari umat klo ga ada duit ya jgn kasi kan ga masalah. Terus intensi misa sebenarnya awalnya dari umat juga ada yg minta didoakan terus nyumbang dana sebagai persembahan bagi tuhan terus lama2 jd kebiasaan dan jd ga baik sampai jadi kewajiban harus kasi dan dipatok besarannya dana intensi misa. Setiap Imam baik Romo Suster PendetA atau Ustad sekalipun perlu dana untuk menyampaikan kabar suka cita keseluruh umatnya tapi dana tersebut harusnya bukan untuk bersenang2. Dari mana dana tersebut? Dari Tuhan melalui perantaraan tangan kita yg kita beri. Mari kita doakan para romo agar terus di jalan yg lurus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar... Romo, bruder suster, uskup dan paus perlu selalu kita doakan... Beban mereka berat.

      Soal pesta2, termasuk Natal, sebagusnya tidak dibesar2kan dan buang banyak dana. Kalau saya, dana lebih baik untuk pestanya wajah Yesus di dunia, yaitu orang miskin: kasih pada mereka. Natal terlalu banyak dipusatkan pada sandiwaranya, kata paus.

      Delete
    2. saya setuju dengan pendapat pak E.Nugroho, akhir2 ini makna Natal mulai pudar, saat ini banyak umat merayakan Natal lebih kepada mengikuti Tren ataupun tradisi yang ada di eropa dan amerika... bahkan hari ke hari hampir semua tradisi orang barat dalam merayakan Natal kita adopsi,.. Natal tidak lagi di rayakan sebagaimana mestinya tapi di rayakan menurut "Versi" orang barat...

      Delete
    3. Pelan2 akan kita perbaiki. Jesus bless you...

      Delete
  6. Fenomena umum di Gereja Indonesia. Kita harus segera bertobat
    Viva Il Papa

    ReplyDelete
    Replies
    1. betull pak vinsent, sudah saatnya umat katolik bangun dari tidur panjang, sudah saatnya umat katolik bangkit kembali menegakan panji2 gereja yang benar.. ingat, Gereja Katolik milik umat bukan milik segelintir pastor, uskup ataupun orang2 yang "katanya" mewakili gereja tapi faktanya mereka seperti kutu dalam selimut... sudah saatnya umat yang membesarkan Gerejanya sendiri bukan pastor, dll. karna sudah terlalu lama Gereja di "urus" oleh pastor, dll tapi faktanya hari ini justru mereka sendirilah yang membuat Gereja Katolik (maaf) "terpuruk" akhir2 ini. Semoga semua umat katolik sadar akan hal ini.. sekali lagi maaf kalau opini saya tidak berkenan. Salam Hangat.

      Delete
    2. Pak Vincensius, itulah hardikan paus pd kita semua utk bngn. Sadar. Dan berani maju membela gereja yg miskin utk org miskin.

      Pak Sakirah, gereja memang pastor/klerus + umat. Dan bener, skg paus terus menekankan peran umat. Paus mencela klerikalisme; ketergantungan penuh pd pastor/klerus. Tetapi gereja Katolik tetap memerlukan pastor, krn hanya pastor yg boleh memimpin misa.

      Delete
    3. gembala juga bisa salah, tapi yg lebih parah salahnya adalah umat yg diam saja, protes saja, menuntut saja tanpa berani menuding hidung gembala dan mengatakan anda keliru mo..!

      Delete
  7. Apa yang dikatakan Paus Fransiskus itu benar adanya hampir disuruh paroki di tanah air ini. Kalau kita mau jujur....banyak petugas gereja berorientasi material akhir akhir ini. Pungutan pungutan yang dibebankan pada umat dibungkus dengan berbagai istilah indah,dana ini adana itu dsbya,tetapi peruntukannya tidak jelas karena tidak ada transparansi antara petugas/pelayan dengan umatnya. Pelayanan terhadap umat mulai kelihatan pilihkasih,yang mau didahului adalah umat yang......dstnya,ada apa? Umat tahu bahwa pelayanan gereja butuh biaya tetapi tidak berarti penuh misteri peruntukannya. Umat sesungguhnya punya kemauan untuk membangun gereja,namun prilaku pelayan gereja yang tidak transparan menumbuhkan rasa curiga bagi umat yang kalau tidak diantisipasi bukan mustahil akan berubah menjadi pembangkangan umat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. like pa Philip@ betul betul betul sekali..

      Delete
    2. Pak Philipus, gereja ada kekurangannya. Dan paus telah menyentil. Mari kita benahi. Dengan mulai dr diri kita sendiri. Lewat lingkungan, dst. shg smp ke dewan paroki. Suarakan keinginan paus utk gereja yg miskin utk org miskin.

      Utk ini diperlukan dialog terbuka dengan kasih. Paus ingin umat berani maju kalau melihat sesuatu yg krg pas. Bicarakan... Semoga didapat kesamaan pendapat shg bersatu.
      Terima kasih atas masukannya.

      Delete
    3. kalau boleh tau, apa yg sudah dan akan pak Philipus perbuat setelah melihat itu semua ?. tetap menjadi penonton kah ?

      Delete
  8. Pantas Yesus bilang lebih mudah onta masuk lubang jarum drpd orang kaya masuk surga...soalnya yesus sudah tahu banyak pendeta dan pastur yg akan kaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pendeta itu dari sdr kami umat Kristen Protestan. Saya tdk punya kewenangan utk bicara soal mereka...
      Kalau pastor Katolik, mereka sdh mengucapkan kaul kemiskinan, shg tdk bisa kaya. Mereka dpt jatah uang saku sedikit saja. Tdk mungkin berfoya2... Yg dimaksud "bisnis" pd tulisan di atas adalah pasang tarif utk memberi berkat pd pembaptisan atau pernikahan dll. Istilah awamnya, mendoakan, dengan pakai tarif resmi. Itu namanya bisnis. Tdk boleh. Kalau kasih sukarela, bagus...
      Soal org kaya sulit masuk surga, paus juga selalu mengingatkan. Kekayaan sering merupakan hambatan masuk surga. Secara ilmiah, org kaya (agama apapun) cenderung memberi lbh sedikit dilihat dr segi persentase kekayaan, dibanding org miskin. Dengan kata lain, org miskin cenderung lbh besar amalnya...

      Delete
    2. Kalau pasang tarif tapi tarifnya rendah atau sungguh terjangkau, apakah itu dpt jg dikategorikan sbg bisnis? Misalnya, pembaptisan, minimal rp.20.000.

      Delete
    3. Matius 10:8... Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

      Delete
  9. Apa yg disampaikan Sri Paus benar adanya,dan sekiranya menjadi bahan permenungan Gereja. Terkadang dgn atas dasar ingin membangun Gereja yg mandiri kebijakan2 sebagaimana yg dikecam Paus menjadi alternatif utama,menjadi pilihan utama untuk membangun kemandirian. Iuran dan kolekte disadari blm cukup tuk membiayai program reksa pastoral gereja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paus kita telah memberi arah. Mari kita bantu dengan menyuarakannya di lingkungan kita... Juga dengan berani bersuara, spt diminta paus. Amin

      Delete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Beberapa bulan lalu di gereja tempat saya selalu berdoa sebelum berkat pengutusan Pastor menyampaikan dengan tegas kepada umat sekalian saya sampaikan bahwa paroki kita saat ini masih memiliki hutang kredit kepada koperasi simpan pinjam jadi harap perhatiaannya...yang dimaksud adalah dermanya ditingkatkan sungguh sesuatu yg menyedihkan bagi kita umat katolik, keuskupan dengan dalih otonom mengkomersilkan semua fasilitas keuskupan..semoga semua Pemuka agama kita bisa mengerti dan memahami hal ini agat dapat segera diperbaiki...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu dialog dengan dewan paroki. Dan dewan perlu aktif bertanya pd umat... Semoga dicapai penyelesaian yg bagus. Amin.

      Delete
  13. Apa yang di ucapkan bapa Paus memang benar adanya, di tempat saya setiap sakramen yang kita akan terima sudah di patok besarannya. jadi kadang jadi masalah karena kemampuan secara ekonomi tiap umat tidak sama.
    Jadi ini perlu di pikirkan kembali ole para pengambil keputusan ( Dewan Grena ) paroki. God Bless you all.

    ReplyDelete
  14. Didaftar untuk dibaptis harus bayar, ngambil akte baptis bayar, komuni pertama bayar, Krisma bayar, nikah bayar, akte nikah bayar......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya jadi kepala paroki, semua ini dihapus. Juga tdk ada sumbangan sukarela spt di kelurahan yg katanya "susu tante", suka2 tanpa tekanan... :)... Cari uang langsung dr donatur.

      Delete
    2. Bp Filomeno pernah tanya kenapa harus bayar ??
      Kalau sudah tanya dan keberatan dgn itu semua, pernah memberi mereka solusi ?

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  15. Sudah saatnya gereja perlu di bentuk badan pemeriksa aliran dana2 di setiap paroki... untuk menghindari pemikiran2 penyalahgunaan dana sumbangan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiap tahun diperiksa kok. Ada auditor dr keuskupan.

      Delete
  16. Kalau bener msh ada gereja yg pake tarif, maju ke pastor, bawa tulisan ini... Kalau mau bener mestinya semua stipendium juga dihapus, ganti dengan permintaan sumbangan langsung pd umat yg ckp mampu; dengan koordinasi Dewan Paroki. Omelan umat akan makin sedikit.

    ReplyDelete
  17. Semoga para elit gereja (pastor dan pengurus paroki)diseluruh dunia memahami apa yang disampaikan oleh sri Paus, agar lebih memperhatikan dan peduli terhadap kepentingan umat miskin, pastor wajib mengetahui jumlah umat yang miskin di lingkungan atau stasi agar bisa memberikan solusi, sehingga kasih kristus benar2 nyata dalam kehidupan kita Uang bukanlah segala galanya, tapi ingat segala galanya butuh uang,lantas apa yang harus kita lakukan terhadap semuanya ini? Menurut saya yang harus dikedepankan adalah transpansi,kejujuran,keterbukaan dan rasa kepedulian.Tuhan memberkati

    ReplyDelete
    Replies
    1. BERARTI TETAP ARTINYA HEPENG MANGATUR , BUKAN LAGI KASIH..... SUDAH JAUHHHHH MAKIN JAUHHHH KATHOLIK SEKARANG DARI KASIH , KATA KASIH HANYA SEBAGAI KIASAN SUDAH DIDALAM TUBUH KATOLIK, KAU KUKASIHI JIKA ENGKAU PUNYA UANG TAPI JIKA TIDAK SERIBU JAWABAN DAN ALASAN AKAN DIBERIKAN UNTUK MENGHINDARIMU.....ITULAH YANG TERJADI SEJAK TAHUN 1990 SAMPAI SAAT INI DAN SAYA PERHATIKAN SUDAH SEMAKIN PARAH LAGI.... DIMANA PASTOR YANG KATANYA MENGIKUTI TATA CARA KEHIDUPAN YESUS KRISTUS, YANG SAYA LIHAT TIDAK ADA LAGI SAAT SEKARANG INI KEBANYAKAN MENGIKUTI GAYA JAMAN KERAJAAN ROMAWI YAITUNPASTOR BERPOLITIK DIDALAM GEREJA BIAR UMAT SENANG TETAPI DIA LUPA TUHAN MURKA KARENA DIDALAM GEREJA KATOLIK SUDAH MENGHALALKAN SEMUANYA....YANG MASIH MAU MENGIKUTI TRADISI KATOLIK YANG SEKARANG SAYA UCAPKAN SELAMAT MENEMOUH JALUR NERAKA.KRN DIDALAM GEREJA KATOLIK SUDAH TERLALU BANYAK MELAKUKAN HAL HAL YANG MENDUAKAN TUHAN , INGAT 10 PERINTAH ALLAH , DAN INGAT PERINTAH YESUS KRISTUS TENTANG KASIH. SALAM.

      Delete
    2. Gereja punya keutamaan2nya dan ada dosa2nya, kata paus. Kesalahan bisa diperbaiki. Dan selalu diperbaiki, walau memakan wkt yg lama... Saya pilih bersabar dan bantu memperbaiki. Atas nama gereja (kita semua) saya meminta maaf kalau dulu anda mengalami peristiwa yg tdk menyenangkan lewat salah satu dr kita... Semoga dpt dimaafkan. Amin

      Delete
  18. hmmmm aku mulai mual2...aku takut muntah, krn melihat...banyak dr 'mereka' itu bergaya hidup mewah dengan ditengah jemaat yang merana...... aku malu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. apa yg sudah anda buat ?, diam saja kah ?

      Delete
  19. Iya banyak kasus di hampir semua paroki semoga mereka baca ini pernyataan pastor dan semoga yg baik saja seperti Tuhan Yesus.

    ReplyDelete
  20. saya heran, kebanyakan koment diatas kesannya koq hanya menuntut ya..,
    menurut sy baik buruknya gereja tdk hanya tergantung gembalanya, tapi kita sbg umat juga harus berani berbuat sesuatu bila merasa ada yg tdk benar.
    setiap orang bisa saja khilaf dan tugas umat adalah mengingatkan dan membantu spy jadi baik, tdk hanya menuntut harusnya begini harusnya begitu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bro Eduard, tepat sekali... Paus meminta kita berani. Karena gereja adalah kita semua. Tapi saluran ke atas sulit sekali... Mestinya ada alamat email ke paroki atau keuskupan sehingga mudah menyampaikan uneg2 ke atas; itu dilakukan di AS. tidak di sini... Saya beberapa kali coba tulis surat ke KAJ, KWI. Email-nya masuk ke sumur yg dalam tak terhingga... Kalau masalah stipendium, itu kewenangan uskup, atau bahkan Vatican.
      Terima kasih sudah kasih masukan yg berharga...

      Delete
    2. Apa gunanya bro... pastor sekarangpun udah terima duit bukan lagi memberi seperti jaman tahun 80an. Yang jelas didalam tubuh katholik saat sekarang ini sudah menjamur KKN sejak diberlakukan pastor lokal atau pastor atau imam otonomi dimana orang batak jadi pastor ditanah batak , orang jawa ditanah jawa. Dan juga sudah semakin banyak kegiatan yang meyembah berhala didalam gereja katholik...yang sudah menduakan kesucian TUHAN dalam gereja Katholik. Krn saya merasakan langsung .....dan daripada saya turut serta menduakan Tuhan melawan 10 perintah Allah yang tertulis dihukum taurat maka saya keluar dari katholik....

      Delete
    3. Bro Tabo do, saya ikut sedih krn tentunya anda mengalami peristiwa yg krg menyenangkan waktu itu... Namun mgkn sekali itu bukan gejala umum, tapi perorangan. Semoga kita dpt memaafkan, spt tertulis dlm doa Bapa Kami... Amin

      Delete
  21. Ya ampun, ternyata kasus-kasus tersebut semakin nyata. Sejauh ini memang belum penah saya alami, karena benar-benar saya hindari baik imam maupun petugas 'gereja' yang agaknya 'nakal'. Sejauh yang saya tahu memang 'Gereja' Katolik memiliki prinsip sukarela tanpa tekanan, tetapi sepertinya 'anak nakal' tetap dengan kebandelannya menjahili saudaranya yang lain. Hanya saja yang saya percayai bahwa keduanya tetap dikasihi sang Bapa. Efek yang terjadi adalah adanya beban-beban semacam iuran atau perlakuan kurang menyenangkan petugas 'gereja' kepada kita. sesama anak yang sedang dijahili sang 'anak nakal' ini bukankah bertolong-tolonglah menanggung beban sangat diperlukan saat-saat ini. saya percaya juga ketika kita tidak bisa memberi lebih atas 'palak'an anak nakal, rahmat dan kasih Bapa berkurang terhadap kita. Mereka telah mendapatkan upahnya. walaupun saya sendiri amat sangat menyayangkan hal ini terjadi, btw kita positif thinking dengan apa yang terjadi dan menghindarkan kita supaya tidak menjadi 'barisan katolik sakit hati'. Nice sharing. Berkah Dalem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Positive thinking saja. Ikut memperbaiki kesalahan yg dibuat gereja, sambil ikut berbuat utk menambah keutamaannya...

      Delete
  22. Kenapa ya kalau ada yang "berkeluh kesah" atau sedikit sumbang dicegat dengan pertanyaan : apa yg sudah kamu buat? Kok kamu diam saja..". Keluh kesah dan uneg-uneg itu adalah bahasa dipermukaan...artinya ada yang tidak beres. Kalau uneg-uneg dan keluh kesah itu masif...artinya ada yang tidak beres pake banget. Sekarang iman itu, melihat dulu baru percaya...kalau perilaku kita tidak mencerminkan iman...wajar jika banyak yang antipati... " semua kita tahu yang baik dan yang buruk...lebihnya pastor adalah mereka bisa buat misa bekat dan lain-lain...wawasan dan teladan berani diadu pak...jadi kalau telampau banyak seruan moral..orang pertama-tama akan bilang "o..medico..sanate ipsum alias hai tabib sembuhkanlah dirimu sendiri." Miki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, dlm arti kita perlu memperbaiki diri sendiri, sehingga dengan dmkn membantu menambah keutamaan gereja sambil mengurangi kesalahan yg dibuatnya..

      Delete
    2. Saya setuju banget tuh... Dunia dan gereja memang telah mengalami perubahan yg kurang baik. Namun kita sungguh bersyukur karena masih banyak diantara kita yang menyadari akan hal tersebut. Maka dengan itu, marilah kita bersama-sama u/ tidak mengikuti arus yg tdk baik itu dan berjuang u/ mengembalikan visi dan misi Yesus/ Gereja awali yang suci dengan memulainya dari diri kita sendiri. Bukan malah berlari menjauh dari Gereja u/ mencari kenyamanan dengan mengambil jln pintas yaitu pindah kepercayaan.

      Delete
  23. kita adalah bagian dari gereja, jd ngapain kita hanya bisa mengeluh.. Seharusnya tu kita jg hrs bangkit, bergerak dan wartakan.

    ReplyDelete
  24. babtis setelah babtis perlu sertifikat. sertifikat kan harus dicetak. biaya cetak dan kertas dari mana?

    yang penting tidak berlebihan dan harus transparan.

    apa pernah ada orang yang gak punya uang terus gak bisa baptis?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sikap kita demikian, berarti kita tidak mengharapkan salah satu org yg paling miskin utk masuk gereja kita... Yg diminta paus, jangan diatur secara bisnis, tapi lewat urunan, semua ikut memberi kolekte; yg kaya diharapkan memberi bnyk, yg kurang mampu mgkn tidak usah bayar... Saya kira begitu yg dimaksud.

      Delete
  25. loh koq sepiii...., padahal ini topik menarik dan faktual heheheee .... Saya sudah mengikuti perbincangan ini dari awal. Menarik memang, kadang jengkel, kesal, setuju, mengamini komen2 di sini. Menurut saya apa yg diutarakan Bapa Frans adalah ucapan Yesus sendiri pada umat saat ini yang relevan dgn jamannya. Bisa menimbulkan rasa jengah dan kejengkelan.

    Beberapa komen terbaca sarat kemarahan, kedongkolan dan tanpa sungkan declare 'saya dulu Katolik'atau senada dengan itu. Intinya, mengekspresikan perasaannya kepada Gereja atas dasar pengalaman yg pernah dirasakan dalam hidup menggerejanya. Apakah itu salah?, walahualam .....

    Bicara Gereja hendaknya dibedakan Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus (das sein) atau Gereja sebagai lembaga pelaksana dan birokrasi (das sollen) yg berisi manusia2 yg punya otak dan hati beraneka ragam, sayangnya, isi kepala dan hati ini sulit ditebak. Maunya sih sama, das sollen ya menjalankan das sein nya. Ini persoalan integritas .. hehe.

    Persoalayang menata kehidupan umat. Gereja lebih pada 'das sein', suatu yg wajib, yg baik, yg dicita-citakan, harapan dlsb, sedangkan untuk mewujudkannya diperlukan lembaga pelaksana. Kalau saya tetap mengapresiasi saudara2 yg mau menjadi pelaksana terlepas dalam perjalanannya timbul kesalahan di sanasini. Karena mereka telah mengorbankan waktu, pikiran dan tenaga untuk Gereja.Siapa sih yg mau jadi pengurus gereja?, kadang untuk sekedar petugas tatalaksana saja ditolak dengan berjuta alasan.

    Hal ini tidak berarti kita tutup mata atas kemelencengan Gereja dalam kenyataan sehari-hari. Ini fakta, tetapi tolong digaris bawahi, kebaikan Gereja jauh lebih banyak dibanding buruknya, ibarat slilit (sisa makanan) di celah gigi yg mengganggu, toh lebih banyak kenikmatan yang sudah dikecap. Persoalannya, apa sikap kita menghadapi persoalan seperti itu?.

    Supaya tidak anonim, nama saya Mell Goa, umat Paroki Santa Maria (HSPMTB) Tangerang. Saya umat yg getol mengkritisi Gereja sendiri. Saking nyinyirnya, saya katakan kepada Dewan Paroki 'Ini masih ST. Maria atau sudah menjadi PT. Maria?'. Tentunya klo PT ya wajar orientasinya bisnis, klo ST orientasinya sosial lah hehehe ... Resikonya ya disemprot Romo, dijauhi rekan2 dewan, bahkan ada yg tega mempertanyakan kekatholikan saya hmmm ... gapapa.

    Menurut saya, ucapan Bapa Frans ditujukan pada Gereja, yang berarti itu termasuk teguran untuk saya selaku bagian dari tubuh Gereja. Saya tidak perlu lari dari Gereja, saya tetap Katholik. Saya tidak perlu menggerutu diluar sana mencerca Gereja Katholik, karena dikecewakan oleh kebijakan yg tidak bijak oleh seorang atau segelintir pengurus Gereja.

    Tentu saja salah bila tubuh kita sakit lalu diam saja, masak tanganya diam saja klo jempol kakinya sakit?. Tentu harus dikritisi. Yang diperlukan adalah 'cara' jitunya. Karena maksud baik saja tidak cukup, dibutuhkan cara yg baik untuk mendapatkan hasil yang baik. yang kedua adalah menyertakan solusi dalam mengkritisi. Mengkritik tanpa solusi itu hanya senilai mencerca. yang ketiga, jangan memaksa kehendak, sebab boleh jadi ketidakberesan itu atas perkenan Allah. Koq gitu?, kadang tubuh kita sakit bisa jadi perkenanNya bukan?. Pasti ada rancangan mistis didalamnya.

    Maka, gonjangganjing begini ini akan terus berlanjut sampai akhir jaman dengan varian yang beraneka. Gereja bagai bahtera yg mengarungi jaman, ombak dan badai menerpa... blabla blaa (ingat lagu Madah Bakti, yg ga ada lagi di Puji syukur @#%??). Semua komentar diatas adalah baik, sadar atau tidak, itu tanda kepedulian pada Gereja. Boleh jadi ini yg dikehendaki Tuhan.

    Mari kita dengan berani mengkritisi Gereja dengan tajam dan dengan ...... cinta.

    Wassalam ...

    ReplyDelete
  26. Bagaimana dengan saat penerimaan komuni pertama. Apakah orang tua dari anak yang akan menerima komuni pertama diharuskan (tidak wajib) untuk menyerahkan sejumlah biaya yg akan diperuntukkan sebagai acara makan bersama dan serta souvenir bagi anak2..... mohon pencerahannya.

    BERKAH DALEM

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener. Di kota, panitia biasa meminta uang jumlah tertentu utk iuran pesta... Menurut saya, ini kebiasaan yg tidak bener. Kalau orang tidak mampu, tidak perlu dipaksa keluar uang utk makan2, souvenir dll... Biasakan gratis. Dana dicari dr sumbangan, termasuk ortu anak2 yg ikut komuni pertama. Tapi bukan diharuskan sekian. Atau hrs minta surat miskin dr kelurahan atau lingkungan. Atau hrs merengek dulu... Ini tidak bener. Posisikan diri kita pd diri orang yg bener2 miskin.

      Delete
    2. Markus 12:44 (TB) Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

      Janda miskin memberikan....semua yg ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.

      Sebaiknya kita introspeksi diri dulu dg merefleksikan ayat ttg sumbangan janda miskin diatas...yg memberikan seluruh nafkahnya....

      Pertanyaan reflektifnya... berapa prosentase derma melalui kolekte dan iuran2 yg lain2nya termasuk utk komuni pertama anak yg telah saya berikan/dermakan.... dibandingkan dg seluruh nafkah janda miskin itu???

      Jujur...masih sangat jauh...perlu ditingkatkan...

      Berkah Dalem

      Delete
    3. Janda miskin itu justru perlu kita lindungi agar tidak tersingkir dr kegiatan gereja 🙏

      Delete
  27. Sangat berbeda jika membandingkan Romo diera 70-an deng jaman now. Trus kita juga harus bisa bedakan antara kebutuhan Romo/Gereja dan umat dengan bisnis dalam Gereja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah bagaimana. Saya banyak utang budi dengan para klerus di masa lalu.

      Delete
  28. Mungkin ada baiknya, menanggapi seruan Bapa Paus, yang mewakili Yesus, memimpin Gereja di dunia yang makin keras dan kompleks ini, "DI MULAI DARI DIRI SENDIRI".
    Masing2 dengan peran dan fungsinya, dalam masa pertobatan ini, merefleksi diri sendiri, apakah "AKU SUDAH MELAKSANAKAN ATURAN DAN PERINTAH2 ALLAH ??"

    Marilah kita terus berusaha "memahami FirmanNya" dengan rendah hati berani ikut YESUS dari Bethlehem hingga Golgotha.

    Kalau perlu, misa dengan kesederhanaan .... apakah tanpa bunga ALLAH AKAN MENOLAK DOA KITA?
    Apa arti Romo di tahbiskan?

    Masih banyak pertanyaan.....yang penting....masing2 lihat ke kedalaman hati-nurani nya, supaya masih bisa mendengar FirmanNYa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Sangat sesuai dengan pikiran saya... Tuhan tidak perlu kemewahan. Dia pemilik alam semesta.

      Delete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. Luar biasa, bapak paus sungguh bisa mempengaruhi banyak orang, semoga umat seperti kita ini menyadari itu semua. Dan kita mendapat hidayah.

    ReplyDelete
  31. Hrs kita pahami gereja zaman now...jd nikmati ajalah....intix adl iman kita hrs terus diuji spy bisa kuat....pekerja patut mndptkn upah.....

    ReplyDelete