Aku pengemudi taksi online. Biasa ambil shift malam. Minggu lalu, sekitar pukul 11 malam, aku menjemput seorang pria tua. Ia masuk ke mobil dan berkata, “Jangan lihat tujuan di aplikasi. Tolong antar saya ke lima tempat malam ini. Saya bayar 1 juta rupiah. Tunai. Tapi kamu jangan tanya2 kenapa, sampai semuanya selesai.”
Ia menyerahkan lima alamat.
Tempat pertama: sebuah rumah di pinggiran kota. Ia tidak turun. Hanya duduk di mobil, menatap rumah itu sekitar sepuluh menit. Air matanya mengalir diam-diam. “Baik. Ke tempat berikutnya.” Aku pun mengemudi.
Tempat kedua: sebuah sekolah SD. Gelap. Sepi. Ia turun, berjalan ke taman bermain, duduk di ayunan. Dua puluh menit di sana. Kembali ke mobil dan berkata pelan, “Saya mengajar di sini. 43 tahun. Kenangan terindah dalam hidup saya.”
Tempat ketiga: sebuah kafe tua. Ia masuk, memesan kopi, duduk sendirian di pojok. Kopi tidak diminum. Hanya duduk dan memandangi ruangan. Lima belas menit. Saat kembali ia berkata, “Saya dan istri saya kencan pertama di sini. Tahun 1967.”
Tempat keempat: pemakaman. Ia berjalan ke sebuah nisan. Berdiri di sana. Berbicara pelan—saya tak bisa mendengar. Tiga puluh menit. Saat kembali, matanya merah. “Istri saya. Hari ini tepat tiga tahun.”
Tempat kelima: rumah sakit. Ia minta aku parkir dan menunggu. “Ini yang terakhir.” Ia menatap aku. Tetap duduk di mobil.
“Sekarang saya akan beri tahu alasannya. Saya kanker stadium empat. Mungkin tinggal hitungan minggu atau hari. Malam ini saya ingin melihat seluruh hidup saya sekali lagi. Sebelum saya tak bisa lagi.” Aku langsung menangis diam2 di kursi pengemudi.
“Rumah tadi—itu tempat saya membesarkan anak-anak.
Sekolah—tempat saya menemukan tujuan hidup.
Kafe tadi—itu tempat saya jatuh cinta.
Pemakaman—tempat saya mengucap selamat tinggal.
Dan di sini… rumah sakit. Malam ini saya akan masuk. Lantai perawatan pasien terminal yang tunggu akhir. Saya tidak akan pulang lagi.”
Ia menyerahkan uang 1 juta rupiah. “Terima kasih sudah mengantar saya melewati hidup saya. Kamu orang tak dikenal yang berbuat baik pada saya. Saya ingin malam ini terasa hangat. Kamu membuatnya hangat.”
Aku menolak. “Saya tidak bisa menerima ini.” Ia bersikeras. “Tolong. Tidak ada yang bisa saya warisi. Anak saya sudah lama tidak bicara dengan saya. Teman sudah tak ada. Kamu memberi saya tiga jam kebaikan. Itu lebih berharga dari 1 juta rupiah.”
Ia turun. Mengambil koper kecilnya. Lalu berbalik. “Siapa namamu?” “Mariono.” “Terima kasih, ya. Kamu memberi pengalaman baik terakhir dalam hidup saya.” Ia berjalan masuk ke rumah sakit. Aku duduk terhenyak di mobil. Terisak. Hampir satu jam.
Keesokan harinya aku kembali. Menanyakan namanya. “Pak Sudarsono. Kamar 412.” Aku membawa kue sedikit. Mengetuk pintu. Ia tersenyum ketika melihat aku.
“Mariono. Kamu kembali.”
“Saya tidak bisa membiarkannya begitu saja. Apa Bapak baik-baik saja?”
“Sekarat. Tapi tadi malam saya sempat melihat hidup saya sekali lagi. Jadi ya… saya baik-baik saja.”
Kami berbicara dua jam. Tentang istrinya. Murid-muridnya. Tentang hidup yang telah ia jalani. Anak yang tidak mau menemuinya lagi; "Saya terlalu keras, katanya." Aku datang setiap hari selama dua minggu. Membawakan kopi. Membacakan berita. Kadang hanya duduk diam. Ia menceritakan segalanya—penyesalan, sukacita, momen yang ingin ia ulang.
“Saya pikir saya akan mati sendirian,” katanya suatu hari.
“Tapi kamu di sini. Orang asing yang jadi keluarga di hari-hari terakhir saya. Itu anugerah.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bapak tidak akan mati sendirian. Tidak lagi.”
Ia menangis.
“Terima kasih sudah melihat saya. Saat saya tak terlihat.”
Pak Sudarsono meninggal pada hari Selasa, pukul 03.17 pagi. Aku ada di sana. Menggenggam tangannya. Kata-kata terakhirnya:
“Sampaikan pada orang-orang. Lihatlah orang yang tidak kamu kenal. Sungguh-sungguh lihat. Semua orang sedang menuju akhir. Ada yang lebih cepat. Ada yang lebih lambat. Bersikaplah baik sepanjang jalan. Kamu baik. Kamu memberi kehangatan di hari-hari terakhir saya.”
Monitor jantung berbunyi datar. Aku tetap di sana satu jam lagi. Tak sanggup melepas. Ia meninggal dengan seseorang di sisinya. Itu berarti.
Pemakamannya dihadiri enam orang: aku, tiga perawat, seorang pengacara, dan satu mantan murid yang dengar berita duka. Hanya itu.
Seorang pria yang mengajar 43 tahun.Mencintai seorang wanita selama 52 tahun. Hidup 81 tahun.
Enam orang. Aku berdiri dan berkata:
“Pak Sudarsono mengajarku sesuatu dalam dua minggu terakhir hidupnya. Setiap orang adalah seluruh dunia bagi seseorang. Setiap penumpang taksiku punya cerita.
Setiap orang yang kita lewati tampak hidup, tapi mungkin sedang sekarat, dan berharap ada yang melihatnya.
Ia membayar aku 1 juta rupiah untuk mengantarnya melewati hidupnya. Tapi ia memberi aku sesuatu yang jauh lebih berharga: kesadaran bahwa kebaikan pada orang tak dikenal itu bukan basa basi. Itu inti dari hidup dalam masyarakat.
Karena kita semua tidak saling kenal—sampai seseorang berhenti, melihat, mendengar, dan bicara.”
Uang 1 juta rupiah itu masih ku simpan di laci mobil. Tak pernah aku pakai. Itu pengingat. Setiap penumpang mungkin sedang dalam perjalanan terakhirnya. Setiap orang mungkin sedang mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kali.
Sekarang aku mengemudi dengan berbeda. Aku bertanya. Aku mendengar. Aku benar-benar melihat orang. Karena seorang pria tua membutuhkan satu malam yang hangat. Dan seorang yang tidak dikenalnya memilih untuk menemaninya.
Jadilah orang asing itu. Malam ini mungkin ada seseorang yang sedang menempuh perjalanan terakhirnya.Buatlah perjalanan itu terasa hangat.
Mungkin ada orang yang akan tersentuh kalau kamu share kisah ini?
EN. Disadur dari anonim





