Tuesday, April 14, 2026

Surat terbuka pada Bpk Kardinal Ignatius Suharyo

Jakarta, 30 Maret 2026

 

Kepada yang terhormat 

Bpk Kardinal Ignatius Suharyo,
Uskup Agung Jakarta

Di Jakarta

Perihal: Sikap resmi gereja tentang Kitab Suci dan  politik
Lampiran: Di bawah surat ini


Dengan segala hormat,

Melalui surat ini, saya memohon kiranya Bapak Kardinal berkenan memberikan penjelasan yang jelas dan gamblang mengenai hubungan antara Kitab Suci Perjanjian Lama dan sikap politik, khususnya dalam konteks situasi global saat ini.

Di tengah dunia yang terdampak konflik di Timur Tengah, berbagai pihak—terutama dari Amerika Serikat dan Israel—menggunakan nama “Tuhan” untuk membenarkan posisi dan tindakan mereka. Presiden Amerika Serikat, misalnya, mengundang para pendeta Kristen Evangelikal untuk mendoakannya, yang secara langsung maupun tidak langsung dimaknai sebagai permohonan dukungan ilahi dalam konflik tersebut. Di pihak lain, pemimpin Israel juga mengatasnamakan “Tuhan Israel”.

Sebaliknya, terdapat pula respons dari kalangan ulama Iran yang memahami posisi resmi Gereja Katolik—yang tampaknya justru belum banyak diketahui oleh umat. Salah satu tokoh ulama Iran menulis surat terbuka kepada Paus, berisi seruan perdamaian dan penghormatan terhadap hukum internasional, serta permohonan supaya Paus menyerukan agar ajaran Yesus Kristus dijadikan pedoman untuk mencegah kekerasan lebih lanjut.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana konsep tentang Tuhan—“Tuhan orang Kristen”, “Tuhan Israel”, dan ajaran Yesus Kristus—seolah dipertentangkan secara terbuka di ruang publik global. Oleh karena itu, kiranya penting bagi Gereja Katolik untuk menyampaikan sikapnya secara jelas dan terbuka, setidaknya untuk menjawab kebingungan, keraguan, rasa penasaran, dan pertanyaan yang muncul, baik dari umat maupun masyarakat luas.

Berikut ini adalah pemahaman saya mengenai ajaran Gereja Katolik (selanjutnya saya sebut "Gereja") terkait hal tersebut. Mohon kiranya Bapak Kardinal berkenan mengoreksi atau mengkonfirmasi poin-poin berikut:

  1. Gereja mengajarkan kasih kepada seluruh umat manusia tanpa membedakan agama, bangsa, atau latar belakang.
  2. Gereja tidak menempatkan satu bangsa atau ras lebih tinggi daripada yang lain; semua manusia memiliki martabat yang sama.
  3. Gereja mengimani satu Tuhan bagi seluruh umat manusia, bukan Tuhan yang eksklusif bagi kelompok tertentu. Tidak ada Tuhan Katolik, Tuhan Kristen, Tuhan Israel, dst.
  4. Penggunaan nama Tuhan untuk membenarkan atau memenangkan perang bertentangan dengan ajaran Gereja, karena Tuhan mengasihi semua manusia tanpa kecuali.
  5. Gereja tidak mengajarkan bahwa negara Israel modern merupakan pemenuhan langsung janji Alkitab.
  6. Gereja tidak mendukung klaim teologis bahwa wilayah tertentu merupakan hak abadi suatu bangsa berdasarkan Kitab Suci. 
  7. Gereja mengajak umat untuk berdoa demi perdamaian dan berempati pada penderitaan semua pihak yang terdampak konflik.
  8. Gereja tidak mendorong umat untuk mengharapkan kemenangan salah satu pihak, melainkan perdamaian yang adil.
  9. Istilah “bangsa terpilih” oleh Gereja dipahami secara teologis, bukan sebagai legitimasi politik bagi negara Israel modern.
  10. Gereja menolak segala bentuk antisemitisme, sikap anti-Yahudi. Tuhan mengasihi semua manusia, semua bangsa, termasuk umat Yahudi, Iran, Arab, dan semua bangsa lain. Dan umat Gereja diharapkan juga begitu.

Saya juga melihat bahwa karena kurangnya pemahaman terhadap ajaran Gereja dalam masalah ini, sebagian umat cenderung mengambil posisi tertentu dalam konflik tersebut, membenarkan Israel, berdasarkan pemahaman yang tidak sesuai dengan ajaran resmi Gereja. 

Secara pribadi, setiap orang tentu memiliki kebebasan untuk memiliki pandangan. Namun, apabila pandangan tersebut didasarkan pada pemahaman doktrin Gereja yang keliru, hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas.

Oleh karena itu, saya memohon agar Bapak Kardinal berkenan:

  • Memberikan klarifikasi atas poin-poin di atas;
  • Menyampaikan penjelasan yang singkat, jelas, dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan umat, termasuk umat yang cuma lulusan sekolah dasar. Alangkah baiknya kalau penjelasan tadi diteruskan ke bawah sampai ke semua lingkungan;
  • Mengimbau umat dan para pelayan Gereja untuk menjaga sikap dalam menyikapi konflik ini, khususnya di media sosial, agar tetap mencerminkan nilai kasih dan perdamaian. Semoga umat gereja lebih banyak menulis tentang kasih dan perdamaian, daripada kebencian dan saling memaki di medsos seperti terlihat sekarang ini.

Saya menyadari bahwa surat ini disampaikan secara terbuka. Hal ini semata-mata karena isu yang diangkat juga berkembang secara terbuka dan luas di masyarakat.

Demikian surat ini saya sampaikan. Mohon maaf apabila terdapat kekurangan atau hal yang kurang berkenan.

Salam dalam Kristus,

 

Dr. E. Nugroho

 

Tembusan : 

- Bpk Uskup Antonius Subianto Bunjamin, Kepala Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI)
- Redaksi Kompas
- Redaksi Detik
- Redaksi Jawa Pos
- Redaksi Media Indonesia
- Redaksi Tempo
- Redaksi Koran Sindo
- Redaksi Republika
- Redaksi Liputan 6
- Redaksi Metro TV

  ======================================================

 Lampiran:

 Berikut ini adalah pemahaman saya mengenai ajaran-ajaran resmi Gereja.

 Kitab Suci adalah:

- Wahyu Allah yang ditulis dalam sejarah
- Diilhami Roh Kudus tetapi melalui penulis manusia
- Tanpa kesalahan dalam hal "kebenaran yang menyangkut keselamatan", bukan di luar itu
- Tidak berdiri sendiri—harus dibaca bersama Tradisi Gereja
- Ditafsirkan secara otoritatif oleh Magisterium. Tidak boleh ditafsirkan seenaknya sendiri oleh tiap umat. 

 Jadi dalam teologi Katolik, Kitab Suci

- bukan buku sejarah murni
- bukan buku sains
- bukan dokumen hukum dunia
- atau kitab yang berdiri sendiri tanpa tradisi.

 Perang Israel AS lawan Iran

Peristiwa perang Israel AS vs Iran sekarang, juga peristiwa pembantaian orang Palestina di Gaza, membuka lubang besar perdebatan tentang kelanjutan Kitab Kejadian. Ada kesan sebagian (atau banyak?) umat Katolik sekarang mengikuti saudara2nya umat Kristen Protestan Evangelikal, percaya bahwa Abraham dan  keturunannya adalah bangsa Israel sekarang, dan dipercaya sebagai pemilik sah, "pemilik teologis", dari tanah Palestina yang diambil oleh negara Israel berdasarkan kutipan Kitab Kejadian yang diterjemahkan secara legalistik. 

Dengan sedih saya mengikuti perdebatan di antara umat yang mengatakan diri Kristen, Katolik maupun Protestan, yang sebagian (atau banyak?) membela Israel, membenarkan tindakannya, dan tidak menunjukkan empati sedikit pun pada orang-orang Palestina di Gaza (yang sebagian juga orang Kristen), yang  dianiaya begitu rupa sehingga Paus Fransiskus meminta agar diselidiki apakah itu bukan genosida. Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa 20-40% umat Katolik mendukung serangan Israel ke Iran (angka spekulasi dari 6 AI, dengan Grok memberi angka 59%). 

"Israel adalah umat pilihan Tuhan", itu kata Kitab Suci, katanya. Maka harus dibela dan  didoakan agar menang. Mereka sama sekali tidak tahu sikap resmi Gereja Katolik. 

Setahu saya, Gereja Katolik memegang doktrin ini:

  1. Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa negara Israel modern adalah pemenuhan janji Alkitab.
    Paus Benediktus XVI dalam refleksi teologinya tentang Israel menyatakan bahwa negara Israel modern jangan dipahami sebagai pemenuhan langsung janji Kitab Suci. Pandangan ini selaras dengan dokumen Komisi Vatikan "The Gift and the Call" (2015).
    Artinya:
    - Negara Israel modern adalah realitas politik modern; dia nyata ada, tapi
    - Bukan realisasi langsung dari ayat-ayat teologis Perjanjian Lama tentang "Tanah Perjanjian".
  2.  Vatikan mengakui Israel secara politik, bukan sebagai klaim teologis.
    Dokumen perjanjian Fundamental Agreement yang ditandatangani pada 1993 mengatur:
    - Hubungan diplomatik,
    - Hak properti Gereja,
    - Kebebasan beribadah.
    Namun, dokumen tersebut tidak menyatakan bahwa Israel memiliki hak teologis atas tanah karena Alkitab. Pengakuan Vatikan pada negara Israel bersifat politik dan diplomatik (de facto dan de jure), bukan penegasan janji Alkitab tentang tanah tersebut.
  3. Deklarasi Konsili Vatikan II Nostra Aetate menyatakan bahwa umat Yahudi memiliki hubungan khusus dengan Allah
    Dokumen ini mengakui bahwa Perjanjian Lama memang diambil dari Kitab Suci orang Yahudi dan mereka tetap dikasihi oleh Allah. Namun penting dicatat:
    -  Dokumen itu tidak mengaitkan janji tersebut dengan negara Israel modern,
    -  Fokusnya adalah hubungan religius dan sejarah keselamatan, bukan hak politik atas wilayah tertentu.
  4. Tradisi Katolik tidak membaca "Tanah Perjanjian" secara legalistik
    - Umat Katolik diharapkan akhirnya mencari "tanah surgawi" (Ibrani 11:16), bukan tanah Israel secara harfiah. Pemenuhan janji Abraham bagi semua bangsa adalah Gereja yang universal.
    - Karena itu, teologi Katolik tidak mendukung doktrin bahwa: "tanah Palestina adalah hak hukum abadi bangsa Israel modern" atau "negara Israel adalah mandat teologis dari Kitab Kejadian".

    Kalau ada umat Katolik yang memilih cara pikir ini, ini tidak mencerminkan ajaran resmi Gereja.
    Interpretasi bahwa bangsa Israel modern adalah keturunan langsung Abraham secara politik, dan karena itu memiliki hak ilahi atas tanah Palestina, umumnya berasal dari gerakan Zionisme Kristen abad ke-19, bukan dari doktrin Katolik klasik.
    Gereja Katolik tidak pernah menyatakan konflik politik di Timur Tengah adalah penggenapan nubuat Alkitab.
  5. Tradisi Katolik dan Sejarah
    Selama berabad-abad, teologi Katolik klasik tidak mendukung ide Zionisme politik (pembentukan negara Yahudi di Palestina). Perlu dipahami bahwa konsep "Negara-Bangsa" sendiri adalah konsep modern.
    Umat Katolik yang cukup tua, termasuk saya, masih ingat bagaimana tradisi sikap gereja dulu terhadap orang Yahudi. Selama berpuluh-puluh abad, Gereja Katolik sering menganggap orang Yahudi secara kolektif bertanggung jawab atas kematian Kristus (deicide, pembunuh Tuhan), dan dianggap berada di luar jalur keselamatan umum (secara awam, tidak bisa masuk surga) kecuali mereka menerima Kristus.
  6. Upacara Jumat Agung
    Pada upacara ini (yang akan diulangi Jumat depan ini), dulu dibacakan doa-doa khusus. Salah satu doa nya adalah untuk orang Yahudi (versi lama sebelum reformasi liturgi):

    Pengantar Doa (Versi Lama):
    Marilah kita berdoa pula untuk orang-orang Yahudi yang durhaka: agar Tuhan dan Allah kita mengangkat selubung dari hati mereka, supaya mereka pun mengakui Yesus Kristus, Tuhan kita.

    Doa Utama (Versi Lama):
    Allah yang Mahakuasa dan kekal, yang tidak menolak untuk mencurahkan kerahiman-Mu atas orang-orang Yahudi yang durhaka sekalipun: dengarkanlah doa-doa kami yang kami panjatkan atas nama kebutaan orang-orang itu, agar dengan mengakui terang kebenaran-Mu, yang adalah Kristus, mereka dapat dibebaskan dari kegelapan mereka. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

    Inilah yang saya dengar selama 18 tahun awal kehidupan saya sebagai orang Katolik. Itu doa dalam buku misa, Missale Romanum, edisi lama.

    Perubahan Pasca Konsili Vatikan II
    Sebenarnya, kata "durhaka" (perfidis) sudah dihapus oleh Paus Yohanes XXIII pada tahun 1959. Namun, bersamaan dengan Konsili Vatikan II tahun 1965 dan mengingat peristiwa Holocaust pada Perang Dunia 2, terjadi rekonsiliasi Yahudi-Kristen yang lebih mendalam.

    Doa untuk orang Yahudi itu masih ada hingga kini, tapi rumus kata-katanya sudah diubah total menjadi lebih hormat. Kata "durhaka", "buta", "selubung" dibuang. Umat dapat mendengarnya dalam liturgi Jumat Agung nanti dengan versi yang baru.
  7. Pemimpin-pemimpin Yahudi
    Meski pemimpin pemerintahan Israel adalah orang Yahudi yang gemar berperang, perlu diingat bahwa banyak orang Yahudi dan  tokoh Yahudi yang tidak setuju dengan perilaku negara Israel dan  Amerika, dan  mengecam keras tindakan mereka. Contohnya adalah Prof. Jeffrey Sachs, seorang Yahudi Amerika terkenal yang pernah diminta bantuan nasihatnya oleh belasan kepala negara dunia, termasuk membantu Paus Yohanes Paulus II. Juga banyak rabi-rabi Yahudi yang tidak setuju dengan Zionisme dan perang sekarang ini. 
    Tapi, jahat ataupun baik, Gereja mengajar agar kita mengasihi semua orang tanpa kecuali. 

Kesimpulan

Dalam 60 tahun ini terjadi perubahan radikal sikap umat karena Gereja jarang mengajarkan hal di atas secara mendalam kepada umat . Akibatnya, banyak umat Katolik terseret mengikuti teologi Zionisme Kristen yang populer di antara kelompok Evangelikal (bukan Protestan arus utama). 

Para wartawan dapat menanyakan sendiri masalah ini pada masing-masing gereja Protestan di Indonesia. Sebagai petunjuk, di Indonesia kelompok Evangelikal/Karismatik sering kali memiliki pandangan berbeda dengan gereja Protestan Arus Utama (mainline) yang bergabung dalam PGI. Dukungan teologis mutlak terhadap Israel umumnya berasal dari kelompok Evangelikal, bukan dari gereja Protestan historis maupun Gereja Katolik. 

Akhir kata, sekali lagi, akan jauh lebih elok kalau semua saudara Kristen, Katolik maupun Protestan, juga saudara-saudara Muslim, Buddha, Hindu, juga Yahudi, dan semua masyarakat menjauhi pertengkaran dan kebencian di dunia medsos dan menggantinya dengan kasih serta perdamaian. Mari kita doakan agar perdamaian segera teratasi di Timur Tengah, akar permasalahan bisa dihilangkan, dan damai bisa terasa lebih langgeng. Cukup sudah penderitaan seluruh manusia di bumi ini akibat perang di sana. Mari berdoa.... Amin.

 


Thursday, February 26, 2026

Lima Alamat



Aku pengemudi taksi online. Biasa ambil shift malam. Minggu lalu, sekitar pukul 11 malam, aku menjemput seorang pria tua. Ia masuk ke mobil dan berkata, “Jangan lihat tujuan di aplikasi. Tolong antar saya ke lima tempat malam ini. Saya bayar 1 juta rupiah. Tunai. Tapi kamu jangan tanya2 kenapa, sampai semuanya selesai.”

Ia menyerahkan lima alamat.

Tempat pertama: sebuah rumah di pinggiran kota. Ia tidak turun. Hanya duduk di mobil, menatap rumah itu sekitar sepuluh menit. Air matanya mengalir diam-diam. “Baik. Ke tempat berikutnya.” Aku pun mengemudi.

Tempat kedua: sebuah sekolah SD. Gelap. Sepi. Ia turun, berjalan ke taman bermain, duduk di ayunan. Dua puluh menit di sana. Kembali ke mobil dan berkata pelan, “Saya mengajar di sini. 43 tahun. Kenangan terindah dalam hidup saya.”

Tempat ketiga: sebuah kafe tua. Ia masuk, memesan kopi, duduk sendirian di pojok. Kopi tidak diminum. Hanya duduk dan memandangi ruangan. Lima belas menit. Saat kembali ia berkata, “Saya dan istri saya kencan pertama di sini. Tahun 1967.”

Tempat keempat: pemakaman. Ia berjalan ke sebuah nisan. Berdiri di sana. Berbicara pelan—saya tak bisa mendengar. Tiga puluh menit. Saat kembali, matanya merah. “Istri saya. Hari ini tepat tiga tahun.”

Tempat kelima: rumah sakit. Ia minta aku parkir dan menunggu. “Ini yang terakhir.” Ia menatap aku. Tetap duduk di mobil.

“Sekarang saya akan beri tahu alasannya. Saya kanker stadium empat. Mungkin tinggal hitungan minggu atau hari. Malam ini saya ingin melihat seluruh hidup saya sekali lagi. Sebelum saya tak bisa lagi.”  Aku langsung menangis diam2 di kursi pengemudi.

“Rumah tadi—itu tempat saya membesarkan anak-anak.

Sekolah—tempat saya menemukan tujuan hidup.

Kafe tadi—itu tempat saya jatuh cinta.

Pemakaman—tempat saya mengucap selamat tinggal.

Dan di sini… rumah sakit. Malam ini saya akan masuk. Lantai perawatan pasien terminal yang tunggu akhir. Saya tidak akan pulang lagi.”

Ia menyerahkan uang 1 juta rupiah. “Terima kasih sudah mengantar saya melewati hidup saya. Kamu orang tak dikenal yang berbuat baik pada saya. Saya ingin malam ini terasa hangat. Kamu membuatnya hangat.”

Aku menolak. “Saya tidak bisa menerima ini.” Ia bersikeras. “Tolong. Tidak ada yang bisa saya warisi. Anak saya sudah lama tidak bicara dengan saya. Teman sudah tak ada. Kamu memberi saya tiga jam kebaikan. Itu lebih berharga dari 1 juta rupiah.”

Ia turun. Mengambil koper kecilnya. Lalu berbalik. “Siapa namamu?” “Mariono.” “Terima kasih, ya. Kamu memberi pengalaman baik terakhir dalam hidup saya.” Ia berjalan masuk ke rumah sakit. Aku duduk terhenyak di mobil. Terisak. Hampir satu jam.

Keesokan harinya aku kembali. Menanyakan namanya. “Pak Sudarsono. Kamar 412.” Aku membawa kue sedikit. Mengetuk pintu. Ia tersenyum ketika melihat aku.

“Mariono. Kamu kembali.”

“Saya tidak bisa membiarkannya begitu saja. Apa Bapak baik-baik saja?”

“Sekarat. Tapi tadi malam saya sempat melihat hidup saya sekali lagi. Jadi ya… saya baik-baik saja.”

Kami berbicara dua jam. Tentang istrinya. Murid-muridnya.  Tentang hidup yang telah ia jalani. Anak yang tidak mau menemuinya lagi; "Saya terlalu keras, katanya." Aku datang setiap hari selama dua minggu. Membawakan kopi. Membacakan berita. Kadang hanya duduk diam. Ia menceritakan segalanya—penyesalan, sukacita, momen yang ingin ia ulang.

“Saya pikir saya akan mati sendirian,” katanya suatu hari. 

“Tapi kamu di sini. Orang asing yang jadi keluarga di hari-hari terakhir saya. Itu anugerah.”

Aku menggenggam tangannya.

“Bapak tidak akan mati sendirian. Tidak lagi.”

Ia menangis.

“Terima kasih sudah melihat saya. Saat saya tak terlihat.”

Pak Sudarsono meninggal pada hari Selasa, pukul 03.17 pagi. Aku ada di sana. Menggenggam tangannya. Kata-kata terakhirnya:

“Sampaikan pada orang-orang. Lihatlah orang yang tidak kamu kenal. Sungguh-sungguh lihat. Semua orang sedang menuju akhir. Ada yang lebih cepat. Ada yang lebih lambat. Bersikaplah baik sepanjang jalan. Kamu baik. Kamu memberi kehangatan di hari-hari terakhir saya.”

Monitor jantung berbunyi datar. Aku tetap di sana satu jam lagi. Tak sanggup melepas. Ia meninggal dengan seseorang di sisinya. Itu berarti.

Pemakamannya dihadiri enam orang: aku, tiga perawat, seorang pengacara, dan satu mantan murid yang dengar berita duka. Hanya itu.

Seorang pria yang mengajar 43 tahun.Mencintai seorang wanita selama 52 tahun. Hidup 81 tahun.

Enam orang. Aku berdiri dan berkata:

“Pak Sudarsono mengajarku sesuatu dalam dua minggu terakhir hidupnya. Setiap orang adalah seluruh dunia bagi seseorang. Setiap penumpang taksiku punya cerita.

Setiap orang yang kita lewati tampak hidup, tapi mungkin sedang sekarat, dan berharap ada yang melihatnya.

Ia membayar aku 1 juta rupiah untuk mengantarnya melewati hidupnya. Tapi ia memberi aku sesuatu yang jauh lebih berharga: kesadaran bahwa kebaikan pada orang tak dikenal itu bukan basa basi. Itu inti dari hidup dalam masyarakat.

Karena kita semua tidak saling kenal—sampai seseorang berhenti, melihat, mendengar, dan bicara.”

Uang 1 juta rupiah itu masih ku simpan di laci mobil. Tak pernah aku pakai. Itu pengingat. Setiap penumpang mungkin sedang dalam perjalanan terakhirnya. Setiap orang  mungkin sedang mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kali.

Sekarang aku mengemudi dengan berbeda. Aku bertanya. Aku mendengar. Aku benar-benar melihat orang. Karena seorang pria tua membutuhkan satu malam yang hangat. Dan seorang yang tidak dikenalnya memilih untuk menemaninya.

Jadilah orang asing itu. Malam ini mungkin ada seseorang yang sedang menempuh perjalanan terakhirnya.Buatlah perjalanan itu terasa hangat.

Mungkin ada orang yang akan tersentuh kalau kamu share kisah ini? 

EN. Disadur dari anonim

Tuesday, October 21, 2025

Statistik gereja 2022- 2024


Ringkasan statistik gereja 

Populasi Katolik Global (2022–2023):

Total: naik dari 1,39 miliar → 1,406 miliar (+1,15%)
  • Afrika     : 272 juta → 281 juta (+3,31%); 20% populasi Katolik global
  • Amerika : 47,8% populasi Katolik global
    • Amerika Selatan: 27,4% (Brasil: 182 juta = 13% global)
    • Amerika Utara: 6,6%
    • Amerika Tengah: 13,8%
  • Asia: +0,6%; 11% populasi Katolik global
    • Filipina: 93 juta;
    • India: 23 juta
  • Eropa: +0,2%; 20,4% populasi Katolik global
  • Oseania:  >11 juta (+1,9%)

Uskup (2022–2023):

  • Total: 5.353 → 5.430 (+1,4%)
  • Rasio Katolik per uskup global: 259.000
  • Afrika: 365.000
  • Amerika: 334.000
  • Oseania: 87.000 

  • Imam (2022–2023):

  • Total: 406.996 (–734; –0,2%)
  • Perubahan regional:
  • Afrika: +2,7%
  • Asia: +1,6%
  • Eropa: –1,6%
  • Oseania: –1,0%
  • Amerika: –0,7%
  • Distribusi imam (2023):
  • Eropa: 38,1%
  • Amerika: 29,1%
  • Asia: 18,2%
  • Afrika: 13,5%
  • Oseania: 1,1%
  •  

    Diakon Tetap (2022–2023):

  • Total: 50.150 → 51.433 (+2,6%)
  • Rasio per 100 imam (2023):
  • Global: 13
  • Amerika: 29
  • Eropa: 10
  • Afrika: 1
  • Asia: 0,5 
  •  

    Religius (2022–2023):

  • Bruder (bukan imam): penurunan di semua benua kecuali Afrika (+)
  • Suster: 599.228 → 589.423 (–1,6%)
  • Distribusi (2023):
  • Eropa: 32%
  • Asia: 30%
  • Amerika: 23%
  • Afrika: 14%
  • Oseania: 1%
  • Perubahan regional:
  • Afrika: +2,2%
  • Asia Tenggara: +0,1%
  • Amerika Utara: –3,6%
  • Amerika Selatan: –3,0%
  • Eropa: –3,8%
  •  

    Seminari Besar (2022–2023):

  • Total: 108.481 → 106.495 (–1,8%)
  • Perubahan regional:
  • Afrika: +1,1%
  • Eropa: –4,9%
  • Asia: –4,2%
  • Amerika: –1,3%
  • Oseania: sedikit turun
  • Distribusi seminari vs. populasi Katolik (2023):
  • Afrika: 32,8% seminari vs. 20% Katolik
  • Asia: 28,6% seminari vs. 11% Katolik
  • Eropa: 12,0% seminari vs. 20,4% Katolik
  • Amerika: 25,7% seminari vs. 47,8% Katolik
  •  

    Perubahan Struktural Gereja (2024):

  • 1 provinsi gerejawi baru
  • 3 keuskupan diangkat jadi Keuskupan Agung Metropolitan
  • 7 keuskupan baru
  • 1 keuskupan diangkat jadi Keuskupan Agung
  • 1 Administrasi Apostolik diangkat jadi keuskupan


  • * Angka2 belum saya cek ulang. Tolong beritahu yang tidak tepat.

    Wednesday, July 9, 2025

    Korban persekusi Gereja Katolik


    Hypatia. Filsuf, matematikawan, salah satu korban penganiayaan gereja. 


    Gereja Katolik adalah institusi yang juga institusi manusia. Yang bisa salah, bisa berdosa. Kata Paus Fransiskus. Pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II pernah meminta maaf secara resmi atas kesalahan gereja di masa lalu. Itu dilakukan tahun 2000. 

    Kadang saya ingin tahu berapa sih jumlah korban akibat pertikaian agama, penganiayaan yang dilakukan gereja? Maka saya coba tanya2 pada Google dll. 

    Korban Persekusi

    Tidak ada angka pasti yang disepakati secara universal untuk jumlah total orang non-Katolik yang terbunuh akibat persekusi oleh Gereja Katolik di masa lalu, karena:

    1. Rentang waktu sangat panjang – mencakup sekitar 1.500 tahun (abad ke-4 hingga abad ke-19 atau ke-20).

    2. Wilayah sangat luas – dari Eropa hingga Amerika Latin, termasuk koloni.

    3. Catatan sejarah tidak lengkap – banyak sumber berasal dari Gereja sendiri atau ditulis ratusan tahun kemudian.

    4. Motif bercampur – sulit membedakan mana yang murni karena agama, mana yang karena politik, ekonomi, atau nasionalisme.

    Namun, berikut adalah estimasi kasar dari beberapa peristiwa besar terkait:


    🔥 1. Inkuisisi (Spanyol, Roma, dan lainnya)

    • Korban tewas: sekitar 3.000–10.000 (versi modern yang mengandalkan arsip resmi)

    • Catatan: Sebagian besar korban bukan karena eksekusi langsung oleh Gereja, tapi diserahkan ke otoritas sipil.

    ⚔️ 2. Perang Salib (terutama Albigensian dan Reconquista)

    • Perang Salib Albigensian (1209–1229): Sekitar 200.000 – 1 juta warga Languedoc tewas, banyak yang adalah Kristen non-Katolik (Cathar)

    • Korban Yahudi dan Muslim dalam Perang Salib di Tanah Suci: Ratusan ribu (tidak semua dari Gereja langsung, tapi dengan restu dan teologi Gereja)

    🩸 3. Perang agama pasca-Reformasi (Eropa abad ke-16–17)

    • Total korban Protestan akibat konflik dan eksekusi bisa mencapai ratusan ribu (termasuk Perancis, Belanda, Jerman, Inggris, dll.)

    • St. Bartholomew's Massacre (1572): Sekitar 5.000–30.000 Huguenot terbunuh di Perancis.

    🔥 4. Perlakuan terhadap Yahudi

    • Pogrom dan pengusiran (Spanyol 1492, Portugal, dll.): Banyak Yahudi tewas atau dipaksa pindah agama. Jumlah korban tewas sulit ditentukan, bisa puluhan ribu.

    ⛓️ 5. Amerika Latin & Kolonialisasi

    • Ribuan pribumi yang menolak baptisan Katolik dibunuh atau disiksa (kadang oleh biarawan, kadang oleh conquistador yang membawa misi Katolik).

    • Estimasi kematian akibat penaklukan Spanyol di Amerika: 8–10 juta, tapi kebanyakan karena penyakit, bukan pembunuhan langsung. Yang dibunuh karena perlawanan terhadap agama mungkin ratusan ribu.


    📊 Estimasi total kasar (semua abad):

    • Minimal: 50.000 jiwa (angka konservatif, dari arsip gereja dan akademisi Katolik)

    • Maksimal: 1–5 juta jiwa (tergantung apakah menghitung korban politik, kolonialisme, dan perang agama yang didukung/diberkati Gereja)


    Catatan penting: Tidak semua tindakan kekerasan dilakukan langsung oleh otoritas Gereja Katolik. Banyak dilakukan oleh raja, tentara, atau otoritas sipil dengan restu atau pengaruh Gereja. Kadang Gereja juga melindungi minoritas, tergantung konteks dan tokohnya.


    Saturday, June 14, 2025

    Gereja Katolik St. Antonius, Purbayan, Solo*



    Aku dipermandikan sejak bayi di gereja ini. Gereja St Antonius di Purbayan, Solo. Dekat Pasar Gede. Sebelah Balaikota. Pusat kota Solo. Km 0 berada tepat di depan Balaikota, 50 meter dari gereja. 

    Gereja Santo Antonius Padua. Tapi sampai gede, hampir tidak ada yang menyebut Padua. Biasanya Santo Antonius saja (tapi tidak pakai "saja" 😊 ). Sampai lama cari2, ini bener St Antonius Padua apa bukan. Tulisan di sesawi.net jadi meyakinkan aku. Bener. St. Antonius Padua. Yang mengelola gereja ini ordo SJ. Dulu, sekitar tahun 1955 -1959, kepalanya adalah pastor Wakers.  Belanda,  murah senyum. Rajin mengunjungi umat. Tiap 3 - 4 bulan pasti berkunjung ke rumah... Kardinal Darmo Yuwono juga pernah jadi pastor di situ. 

    Sebenarnya, soal Padua atau bukan, kalau masih di sana, tinggal cari patung Santo Antonius, langsung akan tahu. Tapi sudah lama tidak ke sana. Sudah lupa. Ke sana juga cuma mampir sebentar... Di situ dulu aku pernah tiap hari misa pagi. 

    Di situ juga aku mulai mengenal bahwa bangku di gereja itu diberi label nama orang yang menyewa. Mesti bayar tiap bulan. Kalau misa, ada orang yang tidak berhak duduk di situ? Diusir aja baik2... Yang tidak punya uang, berdiri saja. Itu 70 tahun lalu.

    Juga baru tahu, kebiasaan Islam memisahkan umat laki dan  perempuan itu dulu meniru Gereja Katolik. Di Antonius situ, laki duduk di sisi kiri. Perempuan di sisi kanan dari garis tengah gereja... Ada yang tahu sejarah ini? Hehehe...  ....  Itu 70 tahun lalu. 

    Organnya? Masih pakai organ yang dipompa pakai kaki. Belum semenit, pemain harus memompa dengan kakinya. Tahu. Karena dulu ikut koor. 

    Sampai di Jakarta sekarang ini, gereja juga Santo Antonius. Tapi kata Padua hampir selalu ditambahkan. Namun ...

    Banyak sekali umat (mayoritas??) tidak tahu siapa Antonius ini. Pokok-e berdoa minta barang atau kekasih yang hilang supaya kembali. Anak naik kelas. Usaha lancar. Jual rumah supaya laku. Ortu atau anak yang sakit supaya sembuh... dst dst... 

    Selama di sana (Solo) dan  di sini, aku juga tidak pernah dengar romo cerita siapa Antonius itu... Pokok-e rajin ikut novena aja. Nanti doanya terkabul... (Isi doa mirip orang yang berdoa ke kelenteng, 100 m dari gereja itu.? Tiap hari aku main di kelenteng ini... bertahun2... sehingga kenal baik dengan encek tua penunggu kelenteng.) 

    Diusir dari gereja

    Oke. Balik ke gereja Antonius Solo tadi. Sepupu ku bulan lalu jalan2 ke Solo. Nostalgia. Mampir ke gereja. Waktu sampai di pintu, oleh petugas tata laksana (talak) dicegat. 

    + Maaf pak... Dilarang pakai celana pendek.

    -- Ooo... Maaf. Saya balik hotel dulu. 

    Dia memang pakai celana pendek. Maka dia pun balik dan ganti pakaian... Ikut misa berikutnya. Seperti aku bilang tadi, mayoritas umat (jangan2 pastor nya juga?) tidak tahu siapa Santo Antonius Padua.  Minimal tidak menghayati atau menyadari bagaimana jalan hidupnya. 

    Anak bangsawan yang jadi pengemis

    Antonius adalah anak bangsawan yang membuang kebangsawanan nya untuk menjadi  pengikut Santo Fransiskus Assisi. Seperti Fransiskus, dia juga membuang busana mewahnya. Juga sepatu nya. Pakai pakaian pengemis gembel, dan  hidup dengan meminta2... Tanpa sepatu (belakangan pakai sandal karena tidak kuat hawa dingin di sana). 

    Aku membayangkan... Kalau Santo Antonius sendiri masuk ke gereja itu, yang pakai nama nya tanpa izinnya, kemgknan besar dia akan diusir oleh petugas talak. Iya kan? Pakai celana pendek rapi aja diusir. Apalagi pakai baju compang camping, bau, kotor, tanpa sepatu. Waduh... Makhluk apa ini yang berani masuk istana Tuhan tanpa menghormati Tuhan nya... (Seandainya Antonius hidup di zaman sekarang, dan gereja minta izin pakai nama nya, kemgknan besar dia akan minta syarat, jangan mengusir orang yang datang dengan celana pendek. BTW gereja di Singapura banyak orang bercelana pendek. Coba ke sana.)

    Ini sekadar renungan setelah dengar cerita sepupu tadi. 

    Yang baca cerita ini, kalau ada 10 orang, mungkin sekali punya 50 pendapat. Karena manusia bebas berpendapat. Jangankan umat biasa seperti saya. 10 Paus saja bisa punya 10 pendapat atau lebih... Jadi, jangan takut punya pendapat. Kalau merasa pastor dan  petugas talak tadi bener, syukur... Kamu berada dalam kelompok mayoritas... Kalau merasa sebaliknya, jangan takut. Kamu minoritas, tapi kamu dibela mati2an oleh Paus Fransiskus. 

    Atau pendapat mu berada di tengah. Separo2... Juga bener. Tidak usah takut. Semua bener... Kamu benar.

    Karena bener atau tidak bener itu tidak penting.  Yang penting, punya pendapat. Dan  di Gereja Katolik, semua pendapat itu benar... (Terlihat dari sikap para paus, yang semua benar adanya. Yang satu bilang yang bener yang  kiri. Yang lain  bilang, yang bener yang kanan. Dan  disimpulkan semua benar.)

    Karena bener atau salah itu tidak penting. Yang penting benar... Hahaha ....  Jadi bingung sendiri aku... 

    Catatan

    Dari cerita di atas kita tahu asal kata ordo "saudara hina dina" (OFM) yang sekarang secara fisik tidak hina dina lagi. Ada ordo lain, Karmel  "berkasut" dan  "tidak berkasut".

    Baik hina dina, berkasut atau tidak. Sekarang pokok-e semua harus pakai sepatu. Yang bagus ya. Kalau belum punya uang untuk beli, pinjam 😊 


    Kalau kamu tidak yakin, berdoalah pada Roh Kudus. Minta penerangan. Setelah itu ambil putusan... (Ini beberapa kali diucapkan Paus Fransiskus)...  Dan lakukan perbuatan2 baik... 👍 👍 


    Tuesday, June 10, 2025

    Sebulan Paus Leo XIV


    ** Tulisan ini disusun berdasarkan laporan Reuters “Pope Leo, in first month, makes a break in style from Francis” (4 Juni 2025), dengan tambahan2 dari saya...


    Paus Leo XIV: Pelan, dan Penuh Perhitungan

    Sudah satu bulan Paus Leo XIV menjabat sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Pendahulunya, Paus Fransiskus,  langsung membuat gebrakan pada hari pertama. Pada minggu pertama. Dalam bulan pertama, gereja dan dunia sudah gempar.


    Paus Leo memilih jalan yang lebih sunyi. Tidak tergesa. Tidak berisik. Tapi (semoga) bukan berarti kosong. Sampai sebulan ini, hampir tidak ada hal baru yang keluar dari nya dalam homili, audiensi, ataupun konferensi pers. 


    Paus asal Amerika Serikat pertama dalam sejarah ini: tenang,  konservatif, dan penuh perhitungan. Sampai kini, belum ada pengumuman besar. Belum ada penunjukan kardinal. Belum ada pengumuman rencana kunjungan luar negeri. Bahkan, tempat tinggal resminya di Vatikan pun belum diputuskan. Tapi dari orang2 dalam Vatikan, dikatakan dia akan kembali tinggal di Istana Kepausan, yang sedang direnovasi. Memilih kenyamanan... Sangat berbeda dengan Paus Fransiskus.


    Awal yang Sunyi Tapi Sibuk

    Sejak terpilih pada 8 Mei 2025, Leo hadir di lebih dari 20 acara publik. Ia menyampaikan pesan damai untuk Gaza dan Ukraina, memimpin misa, bertemu umat. Itu saja. Tidak ada yang membuat gereja atau dunia gempar. 


    Mengapa Paus Leo tampak begitu berhati-hati?

    Mungkin jawabannya ada pada prinsip dasarnya: dengar dulu, bertindak kemudian.

    “When you first come into leadership,” ujar Rev. Anthony Pizzo yang mengenal Paus, “listen well… make a well-informed decision.”


    Gaya Kepemimpinan yang Baru 

    Paus Fransiskus dikenal spontan, penuh semangat reformasi, bahkan kadang mengejutkan. Ia tinggal di wisma tamu Vatikan, bukan di apartemen resmi paus. Ia juga sering menjawab pertanyaan tanpa naskah, “tembak langsung dari pinggul, seperti cowboy,” kata sebagian pengamat.


    Leo berbeda. Ia memilih membacakan teks tertulis. Menghindari jawaban yang bisa disalahartikan. Komunikasi dibuat lebih hati-hati, tanpa mengorbankan substansi.

    Satu hal yang tetap: seruan untuk perdamaian. Dalam doa dan pesan publik, Leo melanjutkan warisan Fransiskus: hentikan perang, rawat bumi, buka tangan untuk kaum miskin. Namun, dengan gaya yang lebih senyap.


    Tantangan di Depan Mata

    Memimpin Gereja Katolik di abad ke-21 bukan perkara mudah. Berikut tantangan utama yang kini menanti Paus Leo:

    •  Defisit finansial. Vatikan mengalami kekurangan anggaran sekitar €83 juta, belum termasuk dana pensiun yang membengkak.

    •  Menurunnya jumlah umat, terutama di Eropa.

    •  Skandal pelecehan seksual yang terus menghantui Gereja.

    •  Ketegangan doktrinal tentang peran perempuan, LGBT, dan umat yang bercerai.


    Paus Leo belum merespons isu-isu itu secara frontal. Tapi para pengamat meyakini, ia akan menanganinya dengan cara khasnya: mendalam, terukur, dan penuh refleksi.


    Paus Bergaya Tradisional

    Leo dikenal sebagai pribadi yang menghargai liturgi yang tertata dan anggun. Dalam penampilan perdananya, ia mengenakan mozzetta merah dan ferula perak, dengan salib emas—simbol2 yang dibuang Fransiskus. Yang tidak suka pernak-pernik tetek bengek nenek2 ("Tidak perlu pakai renda nenek2," kata Fransiskus. Yesus tidak pernah pakai busana aneh2 untuk menunjukkan kekuasaannya, kehebatannya. Atau saya terlewat baca di Injil? ). Mobil? Sepertinya mobil butut Fransiskus dibuang. Sudah terlalu usang untuk seorang Paus?


    Apakah ini pertanda arah yang lebih tradisional? Atau hanya soal selera pribadi? Tradisional dalam arti sesudah gereja punya kekuasaan duniawi. Bukan zaman para rasul, gereja perdana, yang langsung meneruskan tradisi Yesus, yang sederhana, yang miskin, yang diinginkan Fransiskus. 


    Paus dari Chicago, Misionaris dari Peru

    Robert Francis Prevost—demikian nama lahir Paus Leo—adalah imam Ordo Augustinian yang besar di Chicago dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Peru. Di sanalah ia dikenal sebagai misionaris yang rendah hati, namun efektif. Ia juga pernah menjadi kepala kongregasi penting di Vatikan sebelum terpilih menjadi Paus. Departemen pemilih uskup. Maka dia dikenal oleh semua uskup.


    Teman-temannya menggambarkan dia sebagai pribadi dengan “selera humor kering” dan “kebiasaan berpikir sebelum bertindak.”

    “He’s not flashy, but very consistent,” kata seorang imam Augustinian yang mengenalnya sejak lama.


    Rencana Kunjungan 

    Hingga artikel ini ditulis, belum ada kunjungan luar negeri yang diumumkan. Tapi ada kabar bahwa Vatikan sedang mengatur kunjungan Leo ke Turki akhir November, bertepatan dengan 1.700 tahun Konsili Efesus—momen penting dalam sejarah Gereja.

    Kunjungan ini sudah direncanakan lama oleh Paus Fransiskus. Untuk mengadakan misa bersama dengan Patriark Ortodoks di sana. 


    Pertanyaan-Pertanyaan Yang Muncul

    • Mengapa Paus Leo begitu hati-hati di awal masa jabatannya?
    • Apakah pendekatan yang pelan ini akan justru membawa stabilitas jangka panjang?
    • Bisakah ia menyatukan Gereja dalam era penuh perpecahan dan skeptisisme?
    • Bagaimana ia akan menanggapi isu-isu sensitif seperti LGBT, perempuan, dan penyintas kekerasan seksual?
    • Bagaimana dia akan meneruskan misi Rerum Novarum dari pendahulunya, Leo XIII?
    • Apa rencana ekonominya untuk menyelamatkan keuangan Vatikan?

    Waktu Akan Menjawab

    Paus Leo XIV mungkin belum menyampaikan banyak hal. Tapi dalam diamnya, publik mulai membaca tanda-tanda. 


    Dia tidak bergaya nabi, seperti Fransiskus. Ia bukan pembaru radikal. Tapi ia juga bukan penjaga status quo. Ia seperti tukang kebun yang tidak langsung menebang pohon, melainkan mengamati akar, tanah, dan cuaca.

    Akankah gaya ini mampu memimpin Gereja ke masa depan yang lebih sehat? Dunia sedang mengamati setiap langkahnya.



    *** Refleksi pribadi

    Apapun pendapatmu, itu betul. Apapun yang dilakukan oleh Paus baru kita ini, itu betul, sekalipun seandainya  membongkar dan membuang semua ajaran Fransiskus. Karena semua itu betul adanya. Tapi Paus Fransiskus juga betul... Lebih penting dari itu, pendapat mu benar. 


    Pikirkan, renungkan, berdoa pada Roh Kudus, dan  putuskan... Lakukan hal2 baik ... ♥ 💐🌿 🎶


    Thursday, June 5, 2025

    Memikirkan Tuhan

    Manusia hanya sebutir debu. lebih kecil dari debu, dalam jutaan galaksi yang ada. Bila benar Tuhan lah yang menciptakan semua itu, manusia tidak akan dapat mengikuti cara pikir Tuhan. Otak yang maha kecil mau membayangkan Tuhan yang mahabesar? Bagaimana mungkin? 

    Saya percaya kalau Tuhan menciptakan semua manusia, dia menciptakannya dengan cinta. Dengan kasih... Kalau saya nanti tidak hilang begitu saja dalam alam semesta, Dia akan menerima saya dengan penuh kasih... 

    Hilang , tidak masalah. Dulu saya juga tidak ada... Kembali ke Tuhan, juga tidak masalah, bukan? 

    Terus berusaha berbuat baik, dan jalani hidup dengan senyuman. 😊

    =========================

    Renungan setelah membaca posting tentang tuhan2 atau dewa2 zaman dulu yang jumlah nya ratusan atau ribuan, dan  sekarang hilang. Zeus, Yupiter, Ra, Ishtar, Hera, dll.