Thursday, February 26, 2026

Lima Alamat



Aku pengemudi taksi online. Biasa ambil shift malam. Minggu lalu, sekitar pukul 11 malam, aku menjemput seorang pria tua. Ia masuk ke mobil dan berkata, “Jangan lihat tujuan di aplikasi. Tolong antar saya ke lima tempat malam ini. Saya bayar 1 juta rupiah. Tunai. Tapi kamu jangan tanya2 kenapa, sampai semuanya selesai.”

Ia menyerahkan lima alamat.

Tempat pertama: sebuah rumah di pinggiran kota. Ia tidak turun. Hanya duduk di mobil, menatap rumah itu sekitar sepuluh menit. Air matanya mengalir diam-diam. “Baik. Ke tempat berikutnya.” Aku pun mengemudi.

Tempat kedua: sebuah sekolah SD. Gelap. Sepi. Ia turun, berjalan ke taman bermain, duduk di ayunan. Dua puluh menit di sana. Kembali ke mobil dan berkata pelan, “Saya mengajar di sini. 43 tahun. Kenangan terindah dalam hidup saya.”

Tempat ketiga: sebuah kafe tua. Ia masuk, memesan kopi, duduk sendirian di pojok. Kopi tidak diminum. Hanya duduk dan memandangi ruangan. Lima belas menit. Saat kembali ia berkata, “Saya dan istri saya kencan pertama di sini. Tahun 1967.”

Tempat keempat: pemakaman. Ia berjalan ke sebuah nisan. Berdiri di sana. Berbicara pelan—saya tak bisa mendengar. Tiga puluh menit. Saat kembali, matanya merah. “Istri saya. Hari ini tepat tiga tahun.”

Tempat kelima: rumah sakit. Ia minta aku parkir dan menunggu. “Ini yang terakhir.” Ia menatap aku. Tetap duduk di mobil.

“Sekarang saya akan beri tahu alasannya. Saya kanker stadium empat. Mungkin tinggal hitungan minggu atau hari. Malam ini saya ingin melihat seluruh hidup saya sekali lagi. Sebelum saya tak bisa lagi.”  Aku langsung menangis diam2 di kursi pengemudi.

“Rumah tadi—itu tempat saya membesarkan anak-anak.

Sekolah—tempat saya menemukan tujuan hidup.

Kafe tadi—itu tempat saya jatuh cinta.

Pemakaman—tempat saya mengucap selamat tinggal.

Dan di sini… rumah sakit. Malam ini saya akan masuk. Lantai perawatan pasien terminal yang tunggu akhir. Saya tidak akan pulang lagi.”

Ia menyerahkan uang 1 juta rupiah. “Terima kasih sudah mengantar saya melewati hidup saya. Kamu orang tak dikenal yang berbuat baik pada saya. Saya ingin malam ini terasa hangat. Kamu membuatnya hangat.”

Aku menolak. “Saya tidak bisa menerima ini.” Ia bersikeras. “Tolong. Tidak ada yang bisa saya warisi. Anak saya sudah lama tidak bicara dengan saya. Teman sudah tak ada. Kamu memberi saya tiga jam kebaikan. Itu lebih berharga dari 1 juta rupiah.”

Ia turun. Mengambil koper kecilnya. Lalu berbalik. “Siapa namamu?” “Mariono.” “Terima kasih, ya. Kamu memberi pengalaman baik terakhir dalam hidup saya.” Ia berjalan masuk ke rumah sakit. Aku duduk terhenyak di mobil. Terisak. Hampir satu jam.

Keesokan harinya aku kembali. Menanyakan namanya. “Pak Sudarsono. Kamar 412.” Aku membawa kue sedikit. Mengetuk pintu. Ia tersenyum ketika melihat aku.

“Mariono. Kamu kembali.”

“Saya tidak bisa membiarkannya begitu saja. Apa Bapak baik-baik saja?”

“Sekarat. Tapi tadi malam saya sempat melihat hidup saya sekali lagi. Jadi ya… saya baik-baik saja.”

Kami berbicara dua jam. Tentang istrinya. Murid-muridnya.  Tentang hidup yang telah ia jalani. Anak yang tidak mau menemuinya lagi; "Saya terlalu keras, katanya." Aku datang setiap hari selama dua minggu. Membawakan kopi. Membacakan berita. Kadang hanya duduk diam. Ia menceritakan segalanya—penyesalan, sukacita, momen yang ingin ia ulang.

“Saya pikir saya akan mati sendirian,” katanya suatu hari. 

“Tapi kamu di sini. Orang asing yang jadi keluarga di hari-hari terakhir saya. Itu anugerah.”

Aku menggenggam tangannya.

“Bapak tidak akan mati sendirian. Tidak lagi.”

Ia menangis.

“Terima kasih sudah melihat saya. Saat saya tak terlihat.”

Pak Sudarsono meninggal pada hari Selasa, pukul 03.17 pagi. Aku ada di sana. Menggenggam tangannya. Kata-kata terakhirnya:

“Sampaikan pada orang-orang. Lihatlah orang yang tidak kamu kenal. Sungguh-sungguh lihat. Semua orang sedang menuju akhir. Ada yang lebih cepat. Ada yang lebih lambat. Bersikaplah baik sepanjang jalan. Kamu baik. Kamu memberi kehangatan di hari-hari terakhir saya.”

Monitor jantung berbunyi datar. Aku tetap di sana satu jam lagi. Tak sanggup melepas. Ia meninggal dengan seseorang di sisinya. Itu berarti.

Pemakamannya dihadiri enam orang: aku, tiga perawat, seorang pengacara, dan satu mantan murid yang dengar berita duka. Hanya itu.

Seorang pria yang mengajar 43 tahun.Mencintai seorang wanita selama 52 tahun. Hidup 81 tahun.

Enam orang. Aku berdiri dan berkata:

“Pak Sudarsono mengajarku sesuatu dalam dua minggu terakhir hidupnya. Setiap orang adalah seluruh dunia bagi seseorang. Setiap penumpang taksiku punya cerita.

Setiap orang yang kita lewati tampak hidup, tapi mungkin sedang sekarat, dan berharap ada yang melihatnya.

Ia membayar aku 1 juta rupiah untuk mengantarnya melewati hidupnya. Tapi ia memberi aku sesuatu yang jauh lebih berharga: kesadaran bahwa kebaikan pada orang tak dikenal itu bukan basa basi. Itu inti dari hidup dalam masyarakat.

Karena kita semua tidak saling kenal—sampai seseorang berhenti, melihat, mendengar, dan bicara.”

Uang 1 juta rupiah itu masih ku simpan di laci mobil. Tak pernah aku pakai. Itu pengingat. Setiap penumpang mungkin sedang dalam perjalanan terakhirnya. Setiap orang  mungkin sedang mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kali.

Sekarang aku mengemudi dengan berbeda. Aku bertanya. Aku mendengar. Aku benar-benar melihat orang. Karena seorang pria tua membutuhkan satu malam yang hangat. Dan seorang yang tidak dikenalnya memilih untuk menemaninya.

Jadilah orang asing itu. Malam ini mungkin ada seseorang yang sedang menempuh perjalanan terakhirnya.Buatlah perjalanan itu terasa hangat.

Mungkin ada orang yang akan tersentuh kalau kamu share kisah ini? 

EN. Disadur dari anonim

Tuesday, October 21, 2025

Statistik gereja 2022- 2024


Ringkasan statistik gereja 

Populasi Katolik Global (2022–2023):

Total: naik dari 1,39 miliar → 1,406 miliar (+1,15%)
  • Afrika     : 272 juta → 281 juta (+3,31%); 20% populasi Katolik global
  • Amerika : 47,8% populasi Katolik global
    • Amerika Selatan: 27,4% (Brasil: 182 juta = 13% global)
    • Amerika Utara: 6,6%
    • Amerika Tengah: 13,8%
  • Asia: +0,6%; 11% populasi Katolik global
    • Filipina: 93 juta;
    • India: 23 juta
  • Eropa: +0,2%; 20,4% populasi Katolik global
  • Oseania:  >11 juta (+1,9%)

Uskup (2022–2023):

  • Total: 5.353 → 5.430 (+1,4%)
  • Rasio Katolik per uskup global: 259.000
  • Afrika: 365.000
  • Amerika: 334.000
  • Oseania: 87.000 

  • Imam (2022–2023):

  • Total: 406.996 (–734; –0,2%)
  • Perubahan regional:
  • Afrika: +2,7%
  • Asia: +1,6%
  • Eropa: –1,6%
  • Oseania: –1,0%
  • Amerika: –0,7%
  • Distribusi imam (2023):
  • Eropa: 38,1%
  • Amerika: 29,1%
  • Asia: 18,2%
  • Afrika: 13,5%
  • Oseania: 1,1%
  •  

    Diakon Tetap (2022–2023):

  • Total: 50.150 → 51.433 (+2,6%)
  • Rasio per 100 imam (2023):
  • Global: 13
  • Amerika: 29
  • Eropa: 10
  • Afrika: 1
  • Asia: 0,5 
  •  

    Religius (2022–2023):

  • Bruder (bukan imam): penurunan di semua benua kecuali Afrika (+)
  • Suster: 599.228 → 589.423 (–1,6%)
  • Distribusi (2023):
  • Eropa: 32%
  • Asia: 30%
  • Amerika: 23%
  • Afrika: 14%
  • Oseania: 1%
  • Perubahan regional:
  • Afrika: +2,2%
  • Asia Tenggara: +0,1%
  • Amerika Utara: –3,6%
  • Amerika Selatan: –3,0%
  • Eropa: –3,8%
  •  

    Seminari Besar (2022–2023):

  • Total: 108.481 → 106.495 (–1,8%)
  • Perubahan regional:
  • Afrika: +1,1%
  • Eropa: –4,9%
  • Asia: –4,2%
  • Amerika: –1,3%
  • Oseania: sedikit turun
  • Distribusi seminari vs. populasi Katolik (2023):
  • Afrika: 32,8% seminari vs. 20% Katolik
  • Asia: 28,6% seminari vs. 11% Katolik
  • Eropa: 12,0% seminari vs. 20,4% Katolik
  • Amerika: 25,7% seminari vs. 47,8% Katolik
  •  

    Perubahan Struktural Gereja (2024):

  • 1 provinsi gerejawi baru
  • 3 keuskupan diangkat jadi Keuskupan Agung Metropolitan
  • 7 keuskupan baru
  • 1 keuskupan diangkat jadi Keuskupan Agung
  • 1 Administrasi Apostolik diangkat jadi keuskupan


  • * Angka2 belum saya cek ulang. Tolong beritahu yang tidak tepat.

    Wednesday, July 9, 2025

    Korban persekusi Gereja Katolik


    Hypatia. Filsuf, matematikawan, salah satu korban penganiayaan gereja. 


    Gereja Katolik adalah institusi yang juga institusi manusia. Yang bisa salah, bisa berdosa. Kata Paus Fransiskus. Pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II pernah meminta maaf secara resmi atas kesalahan gereja di masa lalu. Itu dilakukan tahun 2000. 

    Kadang saya ingin tahu berapa sih jumlah korban akibat pertikaian agama, penganiayaan yang dilakukan gereja? Maka saya coba tanya2 pada Google dll. 

    Korban Persekusi

    Tidak ada angka pasti yang disepakati secara universal untuk jumlah total orang non-Katolik yang terbunuh akibat persekusi oleh Gereja Katolik di masa lalu, karena:

    1. Rentang waktu sangat panjang – mencakup sekitar 1.500 tahun (abad ke-4 hingga abad ke-19 atau ke-20).

    2. Wilayah sangat luas – dari Eropa hingga Amerika Latin, termasuk koloni.

    3. Catatan sejarah tidak lengkap – banyak sumber berasal dari Gereja sendiri atau ditulis ratusan tahun kemudian.

    4. Motif bercampur – sulit membedakan mana yang murni karena agama, mana yang karena politik, ekonomi, atau nasionalisme.

    Namun, berikut adalah estimasi kasar dari beberapa peristiwa besar terkait:


    🔥 1. Inkuisisi (Spanyol, Roma, dan lainnya)

    • Korban tewas: sekitar 3.000–10.000 (versi modern yang mengandalkan arsip resmi)

    • Catatan: Sebagian besar korban bukan karena eksekusi langsung oleh Gereja, tapi diserahkan ke otoritas sipil.

    ⚔️ 2. Perang Salib (terutama Albigensian dan Reconquista)

    • Perang Salib Albigensian (1209–1229): Sekitar 200.000 – 1 juta warga Languedoc tewas, banyak yang adalah Kristen non-Katolik (Cathar)

    • Korban Yahudi dan Muslim dalam Perang Salib di Tanah Suci: Ratusan ribu (tidak semua dari Gereja langsung, tapi dengan restu dan teologi Gereja)

    🩸 3. Perang agama pasca-Reformasi (Eropa abad ke-16–17)

    • Total korban Protestan akibat konflik dan eksekusi bisa mencapai ratusan ribu (termasuk Perancis, Belanda, Jerman, Inggris, dll.)

    • St. Bartholomew's Massacre (1572): Sekitar 5.000–30.000 Huguenot terbunuh di Perancis.

    🔥 4. Perlakuan terhadap Yahudi

    • Pogrom dan pengusiran (Spanyol 1492, Portugal, dll.): Banyak Yahudi tewas atau dipaksa pindah agama. Jumlah korban tewas sulit ditentukan, bisa puluhan ribu.

    ⛓️ 5. Amerika Latin & Kolonialisasi

    • Ribuan pribumi yang menolak baptisan Katolik dibunuh atau disiksa (kadang oleh biarawan, kadang oleh conquistador yang membawa misi Katolik).

    • Estimasi kematian akibat penaklukan Spanyol di Amerika: 8–10 juta, tapi kebanyakan karena penyakit, bukan pembunuhan langsung. Yang dibunuh karena perlawanan terhadap agama mungkin ratusan ribu.


    📊 Estimasi total kasar (semua abad):

    • Minimal: 50.000 jiwa (angka konservatif, dari arsip gereja dan akademisi Katolik)

    • Maksimal: 1–5 juta jiwa (tergantung apakah menghitung korban politik, kolonialisme, dan perang agama yang didukung/diberkati Gereja)


    Catatan penting: Tidak semua tindakan kekerasan dilakukan langsung oleh otoritas Gereja Katolik. Banyak dilakukan oleh raja, tentara, atau otoritas sipil dengan restu atau pengaruh Gereja. Kadang Gereja juga melindungi minoritas, tergantung konteks dan tokohnya.


    Saturday, June 14, 2025

    Gereja Katolik St. Antonius, Purbayan, Solo*



    Aku dipermandikan sejak bayi di gereja ini. Gereja St Antonius di Purbayan, Solo. Dekat Pasar Gede. Sebelah Balaikota. Pusat kota Solo. Km 0 berada tepat di depan Balaikota, 50 meter dari gereja. 

    Gereja Santo Antonius Padua. Tapi sampai gede, hampir tidak ada yang menyebut Padua. Biasanya Santo Antonius saja (tapi tidak pakai "saja" 😊 ). Sampai lama cari2, ini bener St Antonius Padua apa bukan. Tulisan di sesawi.net jadi meyakinkan aku. Bener. St. Antonius Padua. Yang mengelola gereja ini ordo SJ. Dulu, sekitar tahun 1955 -1959, kepalanya adalah pastor Wakers.  Belanda,  murah senyum. Rajin mengunjungi umat. Tiap 3 - 4 bulan pasti berkunjung ke rumah... Kardinal Darmo Yuwono juga pernah jadi pastor di situ. 

    Sebenarnya, soal Padua atau bukan, kalau masih di sana, tinggal cari patung Santo Antonius, langsung akan tahu. Tapi sudah lama tidak ke sana. Sudah lupa. Ke sana juga cuma mampir sebentar... Di situ dulu aku pernah tiap hari misa pagi. 

    Di situ juga aku mulai mengenal bahwa bangku di gereja itu diberi label nama orang yang menyewa. Mesti bayar tiap bulan. Kalau misa, ada orang yang tidak berhak duduk di situ? Diusir aja baik2... Yang tidak punya uang, berdiri saja. Itu 70 tahun lalu.

    Juga baru tahu, kebiasaan Islam memisahkan umat laki dan  perempuan itu dulu meniru Gereja Katolik. Di Antonius situ, laki duduk di sisi kiri. Perempuan di sisi kanan dari garis tengah gereja... Ada yang tahu sejarah ini? Hehehe...  ....  Itu 70 tahun lalu. 

    Organnya? Masih pakai organ yang dipompa pakai kaki. Belum semenit, pemain harus memompa dengan kakinya. Tahu. Karena dulu ikut koor. 

    Sampai di Jakarta sekarang ini, gereja juga Santo Antonius. Tapi kata Padua hampir selalu ditambahkan. Namun ...

    Banyak sekali umat (mayoritas??) tidak tahu siapa Antonius ini. Pokok-e berdoa minta barang atau kekasih yang hilang supaya kembali. Anak naik kelas. Usaha lancar. Jual rumah supaya laku. Ortu atau anak yang sakit supaya sembuh... dst dst... 

    Selama di sana (Solo) dan  di sini, aku juga tidak pernah dengar romo cerita siapa Antonius itu... Pokok-e rajin ikut novena aja. Nanti doanya terkabul... (Isi doa mirip orang yang berdoa ke kelenteng, 100 m dari gereja itu.? Tiap hari aku main di kelenteng ini... bertahun2... sehingga kenal baik dengan encek tua penunggu kelenteng.) 

    Diusir dari gereja

    Oke. Balik ke gereja Antonius Solo tadi. Sepupu ku bulan lalu jalan2 ke Solo. Nostalgia. Mampir ke gereja. Waktu sampai di pintu, oleh petugas tata laksana (talak) dicegat. 

    + Maaf pak... Dilarang pakai celana pendek.

    -- Ooo... Maaf. Saya balik hotel dulu. 

    Dia memang pakai celana pendek. Maka dia pun balik dan ganti pakaian... Ikut misa berikutnya. Seperti aku bilang tadi, mayoritas umat (jangan2 pastor nya juga?) tidak tahu siapa Santo Antonius Padua.  Minimal tidak menghayati atau menyadari bagaimana jalan hidupnya. 

    Anak bangsawan yang jadi pengemis

    Antonius adalah anak bangsawan yang membuang kebangsawanan nya untuk menjadi  pengikut Santo Fransiskus Assisi. Seperti Fransiskus, dia juga membuang busana mewahnya. Juga sepatu nya. Pakai pakaian pengemis gembel, dan  hidup dengan meminta2... Tanpa sepatu (belakangan pakai sandal karena tidak kuat hawa dingin di sana). 

    Aku membayangkan... Kalau Santo Antonius sendiri masuk ke gereja itu, yang pakai nama nya tanpa izinnya, kemgknan besar dia akan diusir oleh petugas talak. Iya kan? Pakai celana pendek rapi aja diusir. Apalagi pakai baju compang camping, bau, kotor, tanpa sepatu. Waduh... Makhluk apa ini yang berani masuk istana Tuhan tanpa menghormati Tuhan nya... (Seandainya Antonius hidup di zaman sekarang, dan gereja minta izin pakai nama nya, kemgknan besar dia akan minta syarat, jangan mengusir orang yang datang dengan celana pendek. BTW gereja di Singapura banyak orang bercelana pendek. Coba ke sana.)

    Ini sekadar renungan setelah dengar cerita sepupu tadi. 

    Yang baca cerita ini, kalau ada 10 orang, mungkin sekali punya 50 pendapat. Karena manusia bebas berpendapat. Jangankan umat biasa seperti saya. 10 Paus saja bisa punya 10 pendapat atau lebih... Jadi, jangan takut punya pendapat. Kalau merasa pastor dan  petugas talak tadi bener, syukur... Kamu berada dalam kelompok mayoritas... Kalau merasa sebaliknya, jangan takut. Kamu minoritas, tapi kamu dibela mati2an oleh Paus Fransiskus. 

    Atau pendapat mu berada di tengah. Separo2... Juga bener. Tidak usah takut. Semua bener... Kamu benar.

    Karena bener atau tidak bener itu tidak penting.  Yang penting, punya pendapat. Dan  di Gereja Katolik, semua pendapat itu benar... (Terlihat dari sikap para paus, yang semua benar adanya. Yang satu bilang yang bener yang  kiri. Yang lain  bilang, yang bener yang kanan. Dan  disimpulkan semua benar.)

    Karena bener atau salah itu tidak penting. Yang penting benar... Hahaha ....  Jadi bingung sendiri aku... 

    Catatan

    Dari cerita di atas kita tahu asal kata ordo "saudara hina dina" (OFM) yang sekarang secara fisik tidak hina dina lagi. Ada ordo lain, Karmel  "berkasut" dan  "tidak berkasut".

    Baik hina dina, berkasut atau tidak. Sekarang pokok-e semua harus pakai sepatu. Yang bagus ya. Kalau belum punya uang untuk beli, pinjam 😊 


    Kalau kamu tidak yakin, berdoalah pada Roh Kudus. Minta penerangan. Setelah itu ambil putusan... (Ini beberapa kali diucapkan Paus Fransiskus)...  Dan lakukan perbuatan2 baik... 👍 👍 


    Tuesday, June 10, 2025

    Sebulan Paus Leo XIV


    ** Tulisan ini disusun berdasarkan laporan Reuters “Pope Leo, in first month, makes a break in style from Francis” (4 Juni 2025), dengan tambahan2 dari saya...


    Paus Leo XIV: Pelan, dan Penuh Perhitungan

    Sudah satu bulan Paus Leo XIV menjabat sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Pendahulunya, Paus Fransiskus,  langsung membuat gebrakan pada hari pertama. Pada minggu pertama. Dalam bulan pertama, gereja dan dunia sudah gempar.


    Paus Leo memilih jalan yang lebih sunyi. Tidak tergesa. Tidak berisik. Tapi (semoga) bukan berarti kosong. Sampai sebulan ini, hampir tidak ada hal baru yang keluar dari nya dalam homili, audiensi, ataupun konferensi pers. 


    Paus asal Amerika Serikat pertama dalam sejarah ini: tenang,  konservatif, dan penuh perhitungan. Sampai kini, belum ada pengumuman besar. Belum ada penunjukan kardinal. Belum ada pengumuman rencana kunjungan luar negeri. Bahkan, tempat tinggal resminya di Vatikan pun belum diputuskan. Tapi dari orang2 dalam Vatikan, dikatakan dia akan kembali tinggal di Istana Kepausan, yang sedang direnovasi. Memilih kenyamanan... Sangat berbeda dengan Paus Fransiskus.


    Awal yang Sunyi Tapi Sibuk

    Sejak terpilih pada 8 Mei 2025, Leo hadir di lebih dari 20 acara publik. Ia menyampaikan pesan damai untuk Gaza dan Ukraina, memimpin misa, bertemu umat. Itu saja. Tidak ada yang membuat gereja atau dunia gempar. 


    Mengapa Paus Leo tampak begitu berhati-hati?

    Mungkin jawabannya ada pada prinsip dasarnya: dengar dulu, bertindak kemudian.

    “When you first come into leadership,” ujar Rev. Anthony Pizzo yang mengenal Paus, “listen well… make a well-informed decision.”


    Gaya Kepemimpinan yang Baru 

    Paus Fransiskus dikenal spontan, penuh semangat reformasi, bahkan kadang mengejutkan. Ia tinggal di wisma tamu Vatikan, bukan di apartemen resmi paus. Ia juga sering menjawab pertanyaan tanpa naskah, “tembak langsung dari pinggul, seperti cowboy,” kata sebagian pengamat.


    Leo berbeda. Ia memilih membacakan teks tertulis. Menghindari jawaban yang bisa disalahartikan. Komunikasi dibuat lebih hati-hati, tanpa mengorbankan substansi.

    Satu hal yang tetap: seruan untuk perdamaian. Dalam doa dan pesan publik, Leo melanjutkan warisan Fransiskus: hentikan perang, rawat bumi, buka tangan untuk kaum miskin. Namun, dengan gaya yang lebih senyap.


    Tantangan di Depan Mata

    Memimpin Gereja Katolik di abad ke-21 bukan perkara mudah. Berikut tantangan utama yang kini menanti Paus Leo:

    •  Defisit finansial. Vatikan mengalami kekurangan anggaran sekitar €83 juta, belum termasuk dana pensiun yang membengkak.

    •  Menurunnya jumlah umat, terutama di Eropa.

    •  Skandal pelecehan seksual yang terus menghantui Gereja.

    •  Ketegangan doktrinal tentang peran perempuan, LGBT, dan umat yang bercerai.


    Paus Leo belum merespons isu-isu itu secara frontal. Tapi para pengamat meyakini, ia akan menanganinya dengan cara khasnya: mendalam, terukur, dan penuh refleksi.


    Paus Bergaya Tradisional

    Leo dikenal sebagai pribadi yang menghargai liturgi yang tertata dan anggun. Dalam penampilan perdananya, ia mengenakan mozzetta merah dan ferula perak, dengan salib emas—simbol2 yang dibuang Fransiskus. Yang tidak suka pernak-pernik tetek bengek nenek2 ("Tidak perlu pakai renda nenek2," kata Fransiskus. Yesus tidak pernah pakai busana aneh2 untuk menunjukkan kekuasaannya, kehebatannya. Atau saya terlewat baca di Injil? ). Mobil? Sepertinya mobil butut Fransiskus dibuang. Sudah terlalu usang untuk seorang Paus?


    Apakah ini pertanda arah yang lebih tradisional? Atau hanya soal selera pribadi? Tradisional dalam arti sesudah gereja punya kekuasaan duniawi. Bukan zaman para rasul, gereja perdana, yang langsung meneruskan tradisi Yesus, yang sederhana, yang miskin, yang diinginkan Fransiskus. 


    Paus dari Chicago, Misionaris dari Peru

    Robert Francis Prevost—demikian nama lahir Paus Leo—adalah imam Ordo Augustinian yang besar di Chicago dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Peru. Di sanalah ia dikenal sebagai misionaris yang rendah hati, namun efektif. Ia juga pernah menjadi kepala kongregasi penting di Vatikan sebelum terpilih menjadi Paus. Departemen pemilih uskup. Maka dia dikenal oleh semua uskup.


    Teman-temannya menggambarkan dia sebagai pribadi dengan “selera humor kering” dan “kebiasaan berpikir sebelum bertindak.”

    “He’s not flashy, but very consistent,” kata seorang imam Augustinian yang mengenalnya sejak lama.


    Rencana Kunjungan 

    Hingga artikel ini ditulis, belum ada kunjungan luar negeri yang diumumkan. Tapi ada kabar bahwa Vatikan sedang mengatur kunjungan Leo ke Turki akhir November, bertepatan dengan 1.700 tahun Konsili Efesus—momen penting dalam sejarah Gereja.

    Kunjungan ini sudah direncanakan lama oleh Paus Fransiskus. Untuk mengadakan misa bersama dengan Patriark Ortodoks di sana. 


    Pertanyaan-Pertanyaan Yang Muncul

    • Mengapa Paus Leo begitu hati-hati di awal masa jabatannya?
    • Apakah pendekatan yang pelan ini akan justru membawa stabilitas jangka panjang?
    • Bisakah ia menyatukan Gereja dalam era penuh perpecahan dan skeptisisme?
    • Bagaimana ia akan menanggapi isu-isu sensitif seperti LGBT, perempuan, dan penyintas kekerasan seksual?
    • Bagaimana dia akan meneruskan misi Rerum Novarum dari pendahulunya, Leo XIII?
    • Apa rencana ekonominya untuk menyelamatkan keuangan Vatikan?

    Waktu Akan Menjawab

    Paus Leo XIV mungkin belum menyampaikan banyak hal. Tapi dalam diamnya, publik mulai membaca tanda-tanda. 


    Dia tidak bergaya nabi, seperti Fransiskus. Ia bukan pembaru radikal. Tapi ia juga bukan penjaga status quo. Ia seperti tukang kebun yang tidak langsung menebang pohon, melainkan mengamati akar, tanah, dan cuaca.

    Akankah gaya ini mampu memimpin Gereja ke masa depan yang lebih sehat? Dunia sedang mengamati setiap langkahnya.



    *** Refleksi pribadi

    Apapun pendapatmu, itu betul. Apapun yang dilakukan oleh Paus baru kita ini, itu betul, sekalipun seandainya  membongkar dan membuang semua ajaran Fransiskus. Karena semua itu betul adanya. Tapi Paus Fransiskus juga betul... Lebih penting dari itu, pendapat mu benar. 


    Pikirkan, renungkan, berdoa pada Roh Kudus, dan  putuskan... Lakukan hal2 baik ... ♥ 💐🌿 🎶


    Thursday, June 5, 2025

    Memikirkan Tuhan

    Manusia hanya sebutir debu. lebih kecil dari debu, dalam jutaan galaksi yang ada. Bila benar Tuhan lah yang menciptakan semua itu, manusia tidak akan dapat mengikuti cara pikir Tuhan. Otak yang maha kecil mau membayangkan Tuhan yang mahabesar? Bagaimana mungkin? 

    Saya percaya kalau Tuhan menciptakan semua manusia, dia menciptakannya dengan cinta. Dengan kasih... Kalau saya nanti tidak hilang begitu saja dalam alam semesta, Dia akan menerima saya dengan penuh kasih... 

    Hilang , tidak masalah. Dulu saya juga tidak ada... Kembali ke Tuhan, juga tidak masalah, bukan? 

    Terus berusaha berbuat baik, dan jalani hidup dengan senyuman. 😊

    =========================

    Renungan setelah membaca posting tentang tuhan2 atau dewa2 zaman dulu yang jumlah nya ratusan atau ribuan, dan  sekarang hilang. Zeus, Yupiter, Ra, Ishtar, Hera, dll.  

    Sunday, June 1, 2025

    Antonius dan Bayi yang Hilang

    *Antonius dan Bayi yang Hilang*

    Santo Antonius dikenal tidak hanya karena khotbah dan ajarannya, tetapi juga karena mukjizat-mukjizat yang terjadi melalui doa dan perantaraannya. Salah satu cerita yang sangat populer adalah kisah ini.


    Di sebuah desa kecil dekat Padua, Italia, hiduplah seorang ibu muda yang baru saja melahirkan bayi laki-laki. Ia sangat bahagia, tetapi suatu malam, ketika ia tertidur lelap, *bayinya tiba-tiba menghilang dari buaian*.


    Setelah mencari ke seluruh rumah dan membangunkan tetangga,  ibu itu menyadari bayi itu diculik oleh orang jahat yang ingin menjualnya atau menggunakan bayi tersebut untuk tujuan gelap atau sihir.


    Tidak tahu harus kemana, sang ibu *pergi ke biara Santo Antonius* dan dengan air mata bercucuran memohon:


    "Romo Antonius, tolong saya... tolong temukan bayiku!"


    Antonius mendengarkan dengan sabar. Ia tidak langsung pergi mencari bayi itu, tetapi berlutut dan berdoa dengan tenang. Setelah beberapa saat, ia berkata kepada ibu itu:


    "Pergilah pulang. Doamu telah didengar. Bayimu akan kembali ke pangkuanmu hari ini."


    Sang ibu pulang dengan hati yang ragu-ragu, tapi penuh harap.


    Beberapa jam kemudian, seorang pria datang ke rumahnya membawa bayi itu dalam keadaan selamat dan sehat. Dia menyesal atas perbuatannya; setelah menculik. Dia mengalami *gangguan batin yang luar biasa, seperti mimpi buruk dan rasa takut yang tidak bisa dijelaskan*. Dalam beberapa versi, dikatakan ia melihat penampakan Santo Antonius dalam mimpi, yang memperingatkannya agar mengembalikan bayi itu. Maka, dengan penuh penyesalan, dia mengembalikan bayi tersebut.


    Ibu itu bersujud berterima kasih kepada Tuhan dan memohon perlindungan Santo Antonius selama sisa hidupnya.


     ✝️ *Makna Spiritual Kisah Ini*


    Kisah ini sering dikaitkan dengan devosi Santo Antonius sebagai *Pelindung Barang Hilang*— termasuk menemukan orang yang hilang atau tersesat hidupnya atau dalam bahaya**.


    📿 *Doa Singkat Kepada Santo Antonius

    "Santo Antonius yang kudus, pelindung barang hilang, bantulah kami menemukan apa yang telah hilang, baik secara lahir maupun batin.

    Semoga melalui doamu, kami selalu dipimpin kembali kepada kasih Allah... Amin."