Jakarta, 30 Maret 2026
Kepada yang
terhormat
Bpk Kardinal
Ignatius Suharyo,
Uskup Agung Jakarta
Di Jakarta
Perihal: Sikap
resmi gereja tentang Kitab Suci dan politik
Lampiran: Di bawah
surat ini
Dengan segala hormat,
Melalui surat ini,
saya memohon kiranya Bapak Kardinal berkenan memberikan penjelasan yang jelas
dan gamblang mengenai hubungan antara Kitab Suci Perjanjian Lama dan sikap
politik, khususnya dalam konteks situasi global saat ini.
Di tengah dunia yang
terdampak konflik di Timur Tengah, berbagai pihak—terutama dari Amerika Serikat
dan Israel—menggunakan nama “Tuhan” untuk membenarkan posisi dan tindakan
mereka. Presiden Amerika Serikat, misalnya, mengundang para pendeta Kristen Evangelikal
untuk mendoakannya, yang secara langsung maupun tidak langsung dimaknai sebagai
permohonan dukungan ilahi dalam konflik tersebut. Di pihak lain, pemimpin
Israel juga mengatasnamakan “Tuhan Israel”.
Sebaliknya, terdapat
pula respons dari kalangan ulama Iran yang memahami posisi resmi Gereja
Katolik—yang tampaknya justru belum banyak diketahui oleh umat. Salah satu
tokoh ulama Iran menulis surat terbuka kepada Paus, berisi seruan perdamaian
dan penghormatan terhadap hukum internasional, serta permohonan supaya Paus
menyerukan agar ajaran Yesus Kristus dijadikan pedoman untuk mencegah kekerasan
lebih lanjut.
Situasi ini
memperlihatkan bagaimana konsep tentang Tuhan—“Tuhan orang Kristen”, “Tuhan
Israel”, dan ajaran Yesus Kristus—seolah dipertentangkan secara terbuka di
ruang publik global. Oleh karena itu, kiranya penting bagi Gereja Katolik untuk
menyampaikan sikapnya secara jelas dan terbuka, setidaknya untuk menjawab
kebingungan, keraguan, rasa penasaran, dan pertanyaan yang muncul, baik dari
umat maupun masyarakat luas.
Berikut ini adalah
pemahaman saya mengenai ajaran Gereja Katolik (selanjutnya saya sebut
"Gereja") terkait hal tersebut. Mohon kiranya Bapak Kardinal
berkenan mengoreksi atau mengkonfirmasi poin-poin berikut:
- Gereja mengajarkan kasih kepada seluruh
umat manusia tanpa membedakan agama, bangsa, atau latar belakang.
- Gereja tidak menempatkan
satu bangsa atau ras lebih tinggi daripada yang lain; semua manusia
memiliki martabat yang sama.
- Gereja mengimani satu Tuhan bagi seluruh
umat manusia, bukan Tuhan yang eksklusif bagi kelompok tertentu. Tidak
ada Tuhan Katolik, Tuhan Kristen, Tuhan Israel, dst.
- Penggunaan nama Tuhan untuk membenarkan
atau memenangkan perang bertentangan dengan ajaran
Gereja, karena Tuhan mengasihi semua manusia tanpa kecuali.
- Gereja tidak mengajarkan
bahwa negara Israel modern merupakan pemenuhan langsung janji Alkitab.
- Gereja tidak mendukung
klaim teologis bahwa wilayah tertentu merupakan hak abadi suatu bangsa
berdasarkan Kitab Suci.
- Gereja mengajak umat untuk berdoa demi
perdamaian dan berempati pada penderitaan semua pihak yang terdampak
konflik.
- Gereja tidak mendorong
umat untuk mengharapkan kemenangan salah satu pihak, melainkan perdamaian
yang adil.
- Istilah “bangsa terpilih” oleh Gereja
dipahami secara teologis, bukan sebagai legitimasi
politik bagi negara Israel modern.
- Gereja menolak segala bentuk
antisemitisme, sikap anti-Yahudi. Tuhan mengasihi semua manusia, semua
bangsa, termasuk umat Yahudi, Iran, Arab, dan semua bangsa lain. Dan umat
Gereja diharapkan juga begitu.
Saya juga melihat
bahwa karena kurangnya pemahaman terhadap ajaran Gereja dalam masalah ini,
sebagian umat cenderung mengambil posisi tertentu dalam konflik tersebut,
membenarkan Israel, berdasarkan pemahaman yang tidak sesuai dengan ajaran resmi
Gereja.
Secara pribadi, setiap
orang tentu memiliki kebebasan untuk memiliki pandangan. Namun, apabila
pandangan tersebut didasarkan pada pemahaman doktrin Gereja yang keliru, hal
ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas.
Oleh karena itu, saya
memohon agar Bapak Kardinal berkenan:
- Memberikan klarifikasi atas poin-poin di
atas;
- Menyampaikan penjelasan yang singkat,
jelas, dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan umat, termasuk umat yang
cuma lulusan sekolah dasar. Alangkah baiknya kalau penjelasan tadi
diteruskan ke bawah sampai ke semua lingkungan;
- Mengimbau umat dan para pelayan Gereja
untuk menjaga sikap dalam menyikapi konflik ini, khususnya di media
sosial, agar tetap mencerminkan nilai kasih dan perdamaian. Semoga umat
gereja lebih banyak menulis tentang kasih dan perdamaian, daripada
kebencian dan saling memaki di medsos seperti terlihat sekarang ini.
Saya menyadari bahwa
surat ini disampaikan secara terbuka. Hal ini semata-mata karena isu yang
diangkat juga berkembang secara terbuka dan luas di masyarakat.
Demikian surat ini
saya sampaikan. Mohon maaf apabila terdapat kekurangan atau hal yang kurang
berkenan.
Salam dalam Kristus,
Dr. E. Nugroho
Tembusan :
- Bpk Uskup Antonius
Subianto Bunjamin, Kepala Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI)
- Redaksi Kompas
- Redaksi Detik
- Redaksi Jawa Pos
- Redaksi Media
Indonesia
- Redaksi Tempo
- Redaksi Koran Sindo
- Redaksi Republika
- Redaksi Liputan 6
- Redaksi Metro TV
- Wahyu Allah yang
ditulis dalam sejarah
- Diilhami Roh Kudus
tetapi melalui penulis manusia
- Tanpa kesalahan
dalam hal "kebenaran yang menyangkut keselamatan", bukan di luar itu
- Tidak berdiri
sendiri—harus dibaca bersama Tradisi Gereja
- Ditafsirkan secara
otoritatif oleh Magisterium. Tidak boleh ditafsirkan seenaknya sendiri oleh
tiap umat.
- bukan buku sejarah
murni
- bukan buku sains
- bukan dokumen hukum
dunia
- atau kitab yang
berdiri sendiri tanpa tradisi.
Peristiwa perang
Israel AS vs Iran sekarang, juga peristiwa pembantaian orang Palestina di Gaza,
membuka lubang besar perdebatan tentang kelanjutan Kitab Kejadian. Ada kesan
sebagian (atau banyak?) umat Katolik sekarang mengikuti saudara2nya umat
Kristen Protestan Evangelikal, percaya bahwa Abraham dan keturunannya
adalah bangsa Israel sekarang, dan dipercaya sebagai pemilik sah, "pemilik
teologis", dari tanah Palestina yang diambil oleh negara Israel
berdasarkan kutipan Kitab Kejadian yang diterjemahkan secara legalistik.
Dengan sedih saya mengikuti perdebatan di antara umat yang mengatakan diri Kristen, Katolik maupun Protestan, yang sebagian (atau banyak?) membela Israel, membenarkan tindakannya, dan tidak menunjukkan empati sedikit pun pada orang-orang Palestina di Gaza (yang sebagian juga orang Kristen), yang dianiaya begitu rupa sehingga Paus Fransiskus meminta agar diselidiki apakah itu bukan genosida. Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa 20-40% umat Katolik mendukung serangan Israel ke Iran (angka spekulasi dari 6 AI, dengan Grok memberi angka 59%).
"Israel adalah
umat pilihan Tuhan", itu kata Kitab Suci, katanya. Maka harus dibela
dan didoakan agar menang. Mereka sama sekali tidak tahu sikap
resmi Gereja Katolik.
Setahu saya, Gereja Katolik memegang doktrin ini:
- Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa
negara Israel modern adalah pemenuhan janji Alkitab.
Paus Benediktus XVI dalam refleksi teologinya tentang Israel menyatakan bahwa negara Israel modern jangan dipahami sebagai pemenuhan langsung janji Kitab Suci. Pandangan ini selaras dengan dokumen Komisi Vatikan "The Gift and the Call" (2015).
Artinya:
- Negara Israel modern adalah realitas politik modern; dia nyata ada, tapi
- Bukan realisasi langsung dari ayat-ayat teologis Perjanjian Lama tentang "Tanah Perjanjian". - Vatikan mengakui Israel secara
politik, bukan sebagai klaim teologis.
Dokumen perjanjian Fundamental Agreement yang ditandatangani pada 1993 mengatur:
- Hubungan diplomatik,
- Hak properti Gereja,
- Kebebasan beribadah.
Namun, dokumen tersebut tidak menyatakan bahwa Israel memiliki hak teologis atas tanah karena Alkitab. Pengakuan Vatikan pada negara Israel bersifat politik dan diplomatik (de facto dan de jure), bukan penegasan janji Alkitab tentang tanah tersebut. - Deklarasi Konsili Vatikan II Nostra Aetate
menyatakan bahwa umat Yahudi memiliki hubungan khusus dengan Allah
Dokumen ini mengakui bahwa Perjanjian Lama memang diambil dari Kitab Suci orang Yahudi dan mereka tetap dikasihi oleh Allah. Namun penting dicatat:
- Dokumen itu tidak mengaitkan janji tersebut dengan negara Israel modern,
- Fokusnya adalah hubungan religius dan sejarah keselamatan, bukan hak politik atas wilayah tertentu. - Tradisi Katolik tidak membaca "Tanah
Perjanjian" secara legalistik
- Umat Katolik diharapkan akhirnya mencari "tanah surgawi" (Ibrani 11:16), bukan tanah Israel secara harfiah. Pemenuhan janji Abraham bagi semua bangsa adalah Gereja yang universal.
- Karena itu, teologi Katolik tidak mendukung doktrin bahwa: "tanah Palestina adalah hak hukum abadi bangsa Israel modern" atau "negara Israel adalah mandat teologis dari Kitab Kejadian".
Kalau ada umat Katolik yang memilih cara pikir ini, ini tidak mencerminkan ajaran resmi Gereja.
Interpretasi bahwa bangsa Israel modern adalah keturunan langsung Abraham secara politik, dan karena itu memiliki hak ilahi atas tanah Palestina, umumnya berasal dari gerakan Zionisme Kristen abad ke-19, bukan dari doktrin Katolik klasik.
Gereja Katolik tidak pernah menyatakan konflik politik di Timur Tengah adalah penggenapan nubuat Alkitab. - Tradisi Katolik dan Sejarah
Selama berabad-abad, teologi Katolik klasik tidak mendukung ide Zionisme politik (pembentukan negara Yahudi di Palestina). Perlu dipahami bahwa konsep "Negara-Bangsa" sendiri adalah konsep modern.
Umat Katolik yang cukup tua, termasuk saya, masih ingat bagaimana tradisi sikap gereja dulu terhadap orang Yahudi. Selama berpuluh-puluh abad, Gereja Katolik sering menganggap orang Yahudi secara kolektif bertanggung jawab atas kematian Kristus (deicide, pembunuh Tuhan), dan dianggap berada di luar jalur keselamatan umum (secara awam, tidak bisa masuk surga) kecuali mereka menerima Kristus. - Upacara Jumat Agung
Pada upacara ini (yang akan diulangi Jumat depan ini), dulu dibacakan doa-doa khusus. Salah satu doa nya adalah untuk orang Yahudi (versi lama sebelum reformasi liturgi):
Pengantar Doa (Versi Lama):
Marilah kita berdoa pula untuk orang-orang Yahudi yang durhaka: agar Tuhan dan Allah kita mengangkat selubung dari hati mereka, supaya mereka pun mengakui Yesus Kristus, Tuhan kita.
Doa Utama (Versi Lama):
Allah yang Mahakuasa dan kekal, yang tidak menolak untuk mencurahkan kerahiman-Mu atas orang-orang Yahudi yang durhaka sekalipun: dengarkanlah doa-doa kami yang kami panjatkan atas nama kebutaan orang-orang itu, agar dengan mengakui terang kebenaran-Mu, yang adalah Kristus, mereka dapat dibebaskan dari kegelapan mereka. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.
Inilah yang saya dengar selama 18 tahun awal kehidupan saya sebagai orang Katolik. Itu doa dalam buku misa, Missale Romanum, edisi lama.
Perubahan Pasca Konsili Vatikan II
Sebenarnya, kata "durhaka" (perfidis) sudah dihapus oleh Paus Yohanes XXIII pada tahun 1959. Namun, bersamaan dengan Konsili Vatikan II tahun 1965 dan mengingat peristiwa Holocaust pada Perang Dunia 2, terjadi rekonsiliasi Yahudi-Kristen yang lebih mendalam.
Doa untuk orang Yahudi itu masih ada hingga kini, tapi rumus kata-katanya sudah diubah total menjadi lebih hormat. Kata "durhaka", "buta", "selubung" dibuang. Umat dapat mendengarnya dalam liturgi Jumat Agung nanti dengan versi yang baru. - Pemimpin-pemimpin Yahudi
Meski pemimpin pemerintahan Israel adalah orang Yahudi yang gemar berperang, perlu diingat bahwa banyak orang Yahudi dan tokoh Yahudi yang tidak setuju dengan perilaku negara Israel dan Amerika, dan mengecam keras tindakan mereka. Contohnya adalah Prof. Jeffrey Sachs, seorang Yahudi Amerika terkenal yang pernah diminta bantuan nasihatnya oleh belasan kepala negara dunia, termasuk membantu Paus Yohanes Paulus II. Juga banyak rabi-rabi Yahudi yang tidak setuju dengan Zionisme dan perang sekarang ini.
Tapi, jahat ataupun baik, Gereja mengajar agar kita mengasihi semua orang tanpa kecuali.
Kesimpulan
Dalam 60 tahun ini terjadi perubahan radikal sikap umat karena Gereja jarang mengajarkan hal di atas secara mendalam kepada umat . Akibatnya, banyak umat Katolik terseret mengikuti teologi Zionisme Kristen yang populer di antara kelompok Evangelikal (bukan Protestan arus utama).
Para wartawan dapat menanyakan sendiri masalah ini pada masing-masing gereja Protestan di Indonesia. Sebagai petunjuk, di Indonesia kelompok Evangelikal/Karismatik sering kali memiliki pandangan berbeda dengan gereja Protestan Arus Utama (mainline) yang bergabung dalam PGI. Dukungan teologis mutlak terhadap Israel umumnya berasal dari kelompok Evangelikal, bukan dari gereja Protestan historis maupun Gereja Katolik.
Akhir kata, sekali
lagi, akan jauh lebih elok kalau semua saudara Kristen, Katolik maupun
Protestan, juga saudara-saudara Muslim, Buddha, Hindu, juga Yahudi, dan semua
masyarakat menjauhi pertengkaran dan kebencian di dunia medsos dan menggantinya
dengan kasih serta perdamaian. Mari kita doakan agar perdamaian segera teratasi
di Timur Tengah, akar permasalahan bisa dihilangkan, dan damai bisa terasa
lebih langgeng. Cukup sudah penderitaan seluruh manusia di bumi ini akibat
perang di sana. Mari berdoa.... Amin.
No comments:
Post a Comment