Tuesday, December 27, 2016

Papa Panov

Bagian 2. Bagian 1 dapat dibaca pada tautan

di sini. Baca itu dulu, lanjutkan di sini...

========================

"Cobalah ini untuknya," katanya, sambil menyerahkan sepatu bayi itu pada ibunya. Sepatu kecil yang indah dan serasi. Gadis itu tersenyum gembira dan si bayi berdeguk kesenangan.
"Bapak begitu baik kepada kami," kata gadis itu, ketika dia bangun dengan bayinya untuk pergi. "Semoga semua harapan Natal bapak terkabul!"

Tapi Papa Panov mulai bertanya-tanya apakah harapan Natalnya yang sangat spesial akan terkabul. Mungkinkah tamunya telah lewat?

Dia melihat dengan cemas ke jalan, ke kanan dan ke kiri. Ada banyak orang,  tapi dia mengenal mereka semua. Ada tetangga yang akan mengunjungi keluarga mereka. Mereka mengangguk dan tersenyum padanya dan mengucapkan Selamat Natal! Atau para pengemis -- dan Papa Panov bergegas masuk ke dalam untuk mengambilkan mereka sup panas dan sepotong besar roti, dan bergegas keluar lagi agar dia tidak melewatkan orang Asing yang Penting itu.

Lalu dengan cepat senja musim dingin telah tiba. Ketika Papa Panov selanjutnya pergi ke pintu dan memicingkan matanya, ia tidak bisa lagi melihat orang-orang yang lewat.

Sebagian besar orang sudah di rumah dan di dalam ruangan sekarang ini. Akhirnya dia berjalan perlahan kembali ke kamarnya, memasang tirai jendelanya, dan duduk dengan letih di kursinya.

Jadi semua itu hanya mimpi. Yesus tidak datang.

Lalu tiba-tiba ia merasa bahwa ia tidak lagi sendirian di kamar.

Ini bukan mimpi karena dia sadar penuh. Pada awalnya dia seperti melihat di depan matanya barisan panjang orang-orang yang datang kepadanya hari itu. Dia melihat lagi si penyapu jalan yang tua itu, ibu muda dan bayinya, dan pengemis yang diberinya makanan.

Ketika mereka lewat, masing-masing berbisik, "Apakah kau tidak melihat aku, Papa Panov?"

"Kamu siapa?" ia berseru, bingung.

Lalu terdengar suara lain menjawab dia. Itu suara dari mimpinya, suara Yesus.

"Aku lapar, dan kamu memberi Aku makan," katanya. "Aku telanjang dan kau memberi Aku pakaian. Aku kedinginan dan engkau menghangatkan Aku. Aku datang kepadamu hari ini dalam setiap orang yang engkau bantu dan sambut."

Lalu semua diam dan sepi. Hanya suara jam besar yang berdetik. Kedamaian dan kebahagiaan tampak memenuhi ruangan, meluapkan hati Papa Panov sampai ia ingin meledak bernyanyi dan tertawa dan menari dengan sukacita.

"Jadi Dia datang juga akhirnya!" Hanya itu yang diucapkannya.
========================

2 comments:

  1. Terimakasih sudah memungkinkan saya membacalagi cerpen indah ini, Pak Eduardus. Ia membangkitkan kenangan ketika pertama kali membacanya saat remaja remaja yang memungkinkan berbagai tekad menyertainya. Selamat pagi. Selamat menyongsong Tahun Baru...

    ReplyDelete
  2. Sama2. Terima kasih sdh mampir 🙏

    ReplyDelete