"Betapa aku mendambakan gereja yang miskin, bagi orang miskin ! (
How much I would like a poor church, for the poor!)" begitu kata Paus Fransiskus, Maret 2013 lalu, ketika dia dipilih menjadi paus. (* Lihat catatan bawah). Banyak orang, termasuk saya, tertegun, bagai membentur pintu kaca, mendengar kalimat itu.
Inilah dia paus kita yg baru. Paus yg sangat revolusioner dalam kata dan perbuatan. Paus pertama yg memilih nama Fransiskus, dari nama Santo Fransiskus Asisi, yg meninggalkan semua kehidupan mewah di masa mudanya utk hidup miskin. Menunjukkan bagaimana obsesinya akan kemiskinan.
Banyak ayat di dalam Injil tentang perlunya hidup miskin dan membantu
orang miskin. Tapi dari
ucapan Paus tadi, tersirat keinginan kuat, luapan hasrat, juga sekilas
rasa prihatinnya selama ini, utk menjadikan gereja kita gereja orang miskin.
Gereja Orang Kaya
"Betapa
aku mendambakan"... dapat diartikan telah lama diinginkan tapi belum juga
terwujud. Jadi sekarang ini gereja Katolik di dunia, termasuk di
Indonesia, sebagian besar, khususnya di kota besar (tidak semuanya)
BELUM dapat disebut gereja orang miskin; masih gereja orang kaya.
Apakah itu berarti kita mesti
miskin untuk menjadi pengikut Kristus? Semiskin Santo Fransiskus Asisi
yg membuang pakaian mewahnya utk berbaju rombeng? Membuang sepatu? Boleh
saja kalau kita ingin menjadi pengikut Fransiskus Asisi sejati. Tapi
itu bukan keharusan utk dapat menjadi orang Kristen sejati. Orang
kaya boleh dan bagus kalau menjadi pengikut Kristus, tapi rasa persaudaraan dengan kaum miskin, menganggap kaum miskin sebagai saudara, harus ada padanya.
Gereja miskin, dalam
pikiran saya, pertama, adalah gereja yg semua kegiatannya dapat diikuti
oleh orang miskin di paroki tsb. Gereja yg pastor dan umatnya (termasuk
pengurus Dewan Paroki) memakai orang miskin sebagai acuan. Utk mudahnya, apa saja contoh kegiatan yg tidak memakai orang miskin sebagai acuan?
- Menjual kitab misa. Ketika mengikuti misa Paskah 2013 lalu, saya melihat, seperti tahun2 lalu, gereja menjual buku misa khusus misa Paskah 2013. Harga 5000 rupiah saja. Tujuannya baik: menggalang dana. Dari iklan yg dimuat plus hasil penjualan, gereja akan dapat dana yg tidak sedikit.
Tapi saya teringat kata2 Bapak Paus tadi. Apakah ini terjangkau oleh orang miskin? Ah, bukankah cuma 5000 rupiah? Nah, inilah semangat orang kaya. Saya yakin, di paroki itu banyak umat yg cukup miskin yg tidak bisa meluangkan 5000 rupiah pada saat itu. Mgkn terbersit pikiran, ya sudah, kalau tidak punya uang, ya tidak usah membeli. Pakai saja buku sehari2. Nah, inilah contoh cara pikir yg dengan sengaja menyingkirkan orang miskin dari gereja.
- Banyak contoh lain yg akan saya tulis pada tulisan berikut.
Di
media-media masa dunia disebutkan, revolusi yg dilakukan oleh paus
memdobrak banyak hati beku, pada orang Katolik maupun non-Katolik, membawa kekaguman di seluruh dunia, tapi
juga membawa kebingungan bagi orang2 Katolik yg selama ini mungkin salah
mengartikan injil. Atau saya sendiri yg salah mengartikan ucapan Bapa Suci?
Bagaimanapun juga, semoga paus kita dapat melaksanakan suara dari Tuhan yg didengar Santo Fransiskus Asisi pada awal perubahan hidupnya, "Fransiskus, perbaikilah gereja Ku."
Mungkin Tuhan saat ini mendambakan gereja yang miskin, dan meminta Paus kita utk memperbaikinya,
Tambahan komentar (9 Agustus 2013):
Seorang romo kenalan memberi komentar ini:
"Satu pertanyaan saja, mengapa gereja katolik di daerah tdk terpikirkan
ya? Padahal mereka juga gereja katolik. Saya melayani di daerah
pedalaman lebih dari lima tahun dg kolekte total satu paroki selama
sebulan sekitar 750.000 rupiah, sementara pengeluaran utk pelaynan di
atas 6 jt per bulan. Tapi kami senang krn dg demikian pelayanan semakin
berarti. Tentu saya tdk mau dibilang gereja (hierarki?) utk org kaya.
Ada
kecenderungn generalisasi. Bhw ada sejumlah orang yg begitu, itu kita
semua tahu, dan saya yakin Bpk Uskup pun sdh berbuat sesuatu.
Semoga kita semakin bijak dan obyektif dlm analisa dan kritik."
Jadi kelihatannya kritik saya di atas (juga kritik Paus?) lebih cocok kalau ditujukan pada umat Katolik di kota besar, bukan di daerah miskin, yg memang sudah "gereja miskin".