Showing posts with label uskup. Show all posts
Showing posts with label uskup. Show all posts

Sunday, November 15, 2015

Kaul untuk Miskin

Mereka Pilih Miskin



Berbicara tentang gereja miskin, mau tak mau kita harus melihat orang2 yang pilih hidup miskin untuk gereja: para biarawan, romo, bruder dan suster.

Terima kasih kami sampaikan padamu semua karena telah mengabdikan diri untuk kita semua... Amiiiin.

*******************

Adakah romo, bruder, atau suster yang mengubah hidupmu? Yang memberimu pencerahan? Yang tak kan kau lupakan?  Ceritakan di sini....

******************
# Maaf, karena keterbatasan tempat, hanya 24 romo yang saya tampilkan...

Sunday, November 1, 2015

Penampakan Maria: Kriteria

Kriteria Gereja untuk Konfirmasi Penampakan Maria 
Saduran dari Catholic News Agency, 8 Mei 2008.

Salvatore M. Perrella, pastor dan profesor teologi dan ahli Mariologi di Roma, menjelaskan kriteria yang digunakan oleh gereja untuk menentukan legitimasi penampakan Maria.

Dalam tulisan di L'Osservatore Romano, dia mengutip Pastor Yesuit Giandomenico Mucci untuk menjelaskan perbedaan antara visi/penglihatan dan penampakan. Yang pertama bersifat spiritual, sedangkan yang kedua bersifat fisik. Artinya, orang yg melihat mengalami pengalaman penampakan yang nyata dan masuk akal.

Proses gereja untuk memverifikasi penampakan Maria telah dibahas pada Konsili Lateran dan Konsili Trent. Saat ini "penegasan tentang kebenaran" dugaan penampakan "berada di tangan uskup atau Uskup Agung - dan belakangan pada Konferensi Uskup - serta pada Paus."


Setelah empat tahun melakukan kajian, "Kongregasi untuk Ajaran Iman" menyusun dokumen internal pada 25 Februari 1978, untuk digunakan oleh pihak yang berwenang dalam menilai kejadian supranatural.

Kongregasi menginstruksikan bahwa agar penyelidikan dapat dilakukan, harus dikumpulkan "informasi yang tepat" tentang berbagai aspek dari dugaan penampakan seperti kesaksian pertobatan, analisis teologis dari pesan penampakan, hasil pemeriksaan medis dan psikologis dari orang yang mengalami penampakan atau penglihatan itu, termasuk tingkat pendidikannya, pemeriksaan kehidupan spiritualnya, tingkat persekutuan dengan Gereja, mukjizat penyembuhan dan kejadian mukjizat, dan faktor lainnya.

Setelah memeriksa rinci peristiwa2 yang berkaitan dengan penampakan, Perrella mengatakan, Gereja telah mengakui total 11 penampakan dari 295 yang telah dipelajari - dan sekarang 12, dengan diakuinya penampakan Bunda Maria Laus, yang disetujui pada 4 Mei 2008.

=================
Catatan: Jelas bahwa selama 2000 tahun ini, tidak banyak penampakan yang diakui resmi oleh gereja. Karena itu, bila di group BB atau WA ada berita tentang "penampakan Maria atau Yesus" (yang sekarang sering beredar di internet) ada baiknya kita mengingat hal di atas: Sedikit sekali yang diakui resmi gereja.


Saturday, October 17, 2015

Paus dan alien

Makhluk luar angkasa, adakah?



Dlm suatu wawancara baru2 ini, wartawan tanya pd Paus Fransiskus berkaitan dengan penemuan NASA Juli lalu, yakni adanya planet baru, Kepler 452 B, yang menyerupai bumi dalam dimensi dan sifatnya... Mungkinkah ada makhluk lain di alam semesta ini? Alien?

"Jujur saya tidak tahu bagaimana menjawabnya," jawab Paus, lalu meneruskan bahwa pengetahuan ilmiah sampai sekarang blm membuktikan adanya makhluk lain, bukan manusia, yg bisa berpikir di alam semesta ini. Tapi "sebelum benua Amerika ditemukan, kita pikir itu tidak ada, dan ternyata ada."

"Tapi saya selalu berpendapat bahwa kita harus tetap berpegang pada apa yang dikatakan para ilmuwan, dan selalu sadar bahwa Sang Pencipta itu jauh lebih besar dari pengetahuan akal kita."

Paus mengatakan bahwa satu hal yg dia yakin tentang alam semesta dan dunia di mana kita hidup ini adalah bahwa hal itu "bukan hasil dari kejadian kebetulan atau kekacauan," melainkan hasil kecerdasan ilahi. (Red. Diciptakan oleh Tuhan).

Ini adalah hasil "dari kasih Allah yang mengasihi kita, menciptakan kita, menginginkan kita ada, dan tidak pernah meninggalkan kita sendirian," katanya.

Saturday, August 10, 2013

Paus Fransiskus (5) : Gereja miskin

20 tahun lalu. Diskusi suatu milis Katolik sedang membahas gereja yg kaya dan miskin. Saya berkata, gereja sekarang sudah cukup baik; tapi sebenarnya dapat lebih baik lagi dengan lebih berpihak pada kaum miskin. Misalnya, kalau membangun gereja, buat gereja yg lebih sederhana. Tidak usah megah2. Misalnya terkumpul 20 milyar. Gunakan yang 18 milyar. Ada sisa uang?  Bagikan pada kaum miskin. Segera tentangan dan cemoohan terlontar.

cormac70

http://www.peduligerejakatolik.org
Diskusi yg sama saya ulangi pada kelompok keluarga beberapa bulan lalu. Segera muncul juga bantahan dari saudara. 

Megah bagi Tuhan

"Soal megah itu harus ada kriterianya. Allah tidak membenci kekayaan.. Allah mengizinkan org pilihannya menjadi kaya. Abraham dan Lot itu orang kaya, ternaknya banyak, Yakup juga kaya; Yusuf wakil raja atau firaun. Daud raja kaya, Salomo mendirikan bait Allah yang megah sekali, peralatannya dilapis emas semua. Pada dasarnya semua itu dilakukan karena sangat menghormati kehadiran Allah. Itu dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru, waktu Yesus diurapi oleh perempuan yang membawa buli2 penuh minyak wangi yg amat mahal. Dan Yudas protes, karena minyak yg mahal itu kan bisa dijual dan uangnya utk org miskin. Dan Yudas ditegur Yesus.. Kisah lengkapnya baca Kitab Suci :).  "

Saya merenung. Inilah indahnya Katolik. Umat bebas menafsirkan. Ucapanku dapat disejajarkan dengan  pendapat Yudas, tapi juga dapat dianggap sesuai dengan perintah Yesus sendiri (Matius 25:35-36). Membingungkan banyak orang.

Lalu muncullah Paus Fransiskus yang suka kesederhanaan. Dan inilah komentarnya: 
"Saya sakit hati bila melihat pastor atau suster mengendarai mobil model terbaru... Mobil memang dibutuhkan untuk melakukan banyak hal, tetapi tolong pakai yang sederhana saja. Jika Anda menyukai mobil mewah, coba bayangkan berapa banyak anak yang mati kelaparan di dunia ini.” kata paus. (search Google "It hurts me when I see a priest or a nun", "Pope Francis")
Pesan yg tersirat sudah jelas. Kita diharapkan untuk memilih barang yang lebih sederhana. Bila ada kelebihan dana, gunakan untuk membantu orang miskin. Hanya saja paus tidak menyebutkannya secara telak. Tapi ada yang terang2an. Waktu paus terpilih, dia bilang pada orang Argentina; jangan berbondong2 ke Roma, berikan uangnya pada orang miskin.

Bukan cuma Paus Fransiskus yg memberi contoh. Paus Johanes XXIII juga. Sewaktu akan dinobatkan sbg paus, dia diberi hadiah mahkota oleh umat kota kelahirannya, Bergamo. Waktu mahkota akan dibuat, dia meminta jumlah permatanya dikurangi setengahnya, dan diberikan pd org miskin. Mestinya pesan kedua paus ini sudah cukup jelas.

Tapi ya itu... Yang sederhana itu sering menyusahkan. Dari segi estetis, sering bikin sepet mata. Kalau gedung panas, bikin gerah orang yang berdoa di dalamnya. Belum lagi gengsinya kurang :).  Saya sendiri juga merasa nikmat kok, kalau berdoa di gedung gereja yg baru, besar, berinterior mewah, desain elegan, dengan kursi jati yg halus dan licin, dihembus udara sejuk dr AC yg besar. Ini akan membuat saya asyik berdoa, berdoa, dan berdoa, dan berdoa terus, untuk mereka yg miskin dan sengsara di luar sana. 


---------------------------
Catatan : konon dulu 20 tahun lalu, saya dengar di Jakarta ada suster yang punya Mercedes mewah. Entah benar atau tidak. Semoga saja ucapan paus yg sekarang ini didengar.






Paus Fransiskus (4) : Pentungan di kepala kita

Beberapa perkataan Paus Fransiskus menyerupai pentungan yg jatuh ke kepala kita saat sedang bermimpi indah.
"The church is a human institution."
Gereja adalah badan atau organisasi manusia, katanya ! Jadi, bukan organisasi superhuman atau di atas manusia. Ini serupa dengan pentungan bagi kita yg biasa mengartikan hakikat gereja dari satu sisi saja.

Pengadilan Galileo

Kalimat di atas tadi masih ditambah lagi... Ini diambil dari BBC News. "He urged journalists to get to know the Church with its "virtues and sins" and to share its focus on "truth, goodness and beauty"
The Church with its "virtues and sins".
Terjemahan bebasnya, gereja punya banyak keutamaan atau kebaikan tapi jg ada dosa2nya !  Gereja sebagai institusi bisa bikin dosa. dan dia bilang "sins". Artinya bukan cuma satu saja. Jadi bukan hanya paus, atau uskup, atau pastor, atau umat, yg bisa bikin dosa, tapi juga gereja.

Dan memang gereja telah meminta maaf, mengakui kesalahannya pada beberapa kasus. Misalkan saja tentang hukuman gereja untuk Galileo Galilei. Meski kejadiannya telah berlalu lebih dari 350 tahun, pengakuan bahwa gereja bersalah telah menghukum Galileo melegakan hati banyak orang.

Namun, seperti dikatakan juga, marilah kita lebih memusatkan perhatian kita pada "kebenaran, kebaikan, dan keindahan" gereja daripada kesalahannya. Dan juga, seperti kata Bapa Suci, ikutilah para uskupmu. Bantulah mereka.

Thursday, August 8, 2013

Paus Fransiskus (2) : Gereja orang kaya

Tahun lalu saya menerima SMS ini.

"Undangan free misa kebangkitan rohani, penyembuhan oleh Romo xxx tgl. 18 Juli di Balai Samudra, Kelapa Gading, pk 17.30... Please forward ke teman atau sanak saudara yang mungkin membutuhkan. Thx"
Sesawi.net


Saya sungguh berterima kasih atas niat baik dari saudara atau kenalan saya yg kala itu mengirim SMS tsb. Tapi "Free misa", gratis? Artinya selama ini ada misa yg bayar kalau ingin ikut? Tidak ada? Kalau tidak ada, mengapa ditulis "free", gratis? Kita tidak pernah dengar "silakan datang ke pertemuan XXX, gratis hirup udara," karena udara memang selalu gratis pada kehidupan yg normal.

Tampaknya, memang banyak kegiatan gereja yg harus memakai bayaran kalau umat ingin mengikuti. Yg bisa bayar, silakan ikut, yg tidak mampu, yg miskin, berdoa saja sendiri di gereja. Gratis. Tuhan juga dengar, kok.

Apakah ini telah sesuai dengan dambaan Paus Fransiskus untuk gereja miskin? Entahlah. Saya tidak tahu. Bisa diperdebatkan dari pagi sampai malam.

 ****************
Tapi menyambung SMS di atas, saya bilang sama kenalan saya tadi: "Aku menantikan undangan misa yg bayar.... Biar bener doanya. Kalo ndak bayar, nanti dibilang: sudah ndak bayar, minta sembuh. Hahaha :) "

Paus Fransiskus (1) : "Betapa aku mendambakan gereja miskin..."

"Betapa aku mendambakan gereja yang miskin, bagi orang miskin ! (How much I would like a poor church, for the poor!)" begitu kata Paus Fransiskus, Maret 2013 lalu, ketika dia dipilih menjadi paus. (* Lihat catatan bawah). Banyak orang, termasuk saya, tertegun, bagai membentur pintu kaca, mendengar kalimat itu.

Inilah dia paus kita yg baru. Paus yg sangat revolusioner dalam kata dan perbuatan. Paus pertama yg memilih nama Fransiskus, dari nama Santo Fransiskus Asisi, yg meninggalkan semua kehidupan mewah di masa mudanya utk hidup miskin. Menunjukkan bagaimana obsesinya akan kemiskinan.




Banyak ayat di dalam Injil tentang perlunya hidup miskin dan membantu orang miskin. Tapi dari ucapan Paus tadi, tersirat keinginan kuat, luapan hasrat, juga sekilas rasa prihatinnya selama ini, utk menjadikan gereja kita gereja orang miskin.

Gereja Orang Kaya

"Betapa aku mendambakan"... dapat diartikan telah lama diinginkan tapi belum juga terwujud. Jadi sekarang ini gereja Katolik di dunia, termasuk di Indonesia, sebagian besar, khususnya di kota besar (tidak semuanya) BELUM dapat disebut gereja orang miskin; masih gereja orang kaya.


Apakah itu berarti kita mesti miskin untuk menjadi pengikut Kristus? Semiskin Santo Fransiskus Asisi yg membuang pakaian mewahnya utk berbaju rombeng? Membuang sepatu? Boleh saja kalau kita ingin menjadi pengikut Fransiskus Asisi sejati. Tapi itu bukan keharusan utk dapat menjadi orang Kristen sejati. Orang kaya boleh dan bagus kalau menjadi pengikut Kristus, tapi rasa persaudaraan dengan kaum miskin, menganggap kaum miskin sebagai saudara, harus ada padanya.  

Gereja miskin, dalam pikiran saya, pertama, adalah gereja yg semua kegiatannya dapat diikuti oleh orang miskin di paroki tsb. Gereja yg pastor dan umatnya (termasuk pengurus Dewan Paroki) memakai orang miskin sebagai acuan. Utk mudahnya, apa saja contoh kegiatan yg tidak memakai orang miskin sebagai acuan? 
  • Menjual kitab misa. Ketika mengikuti misa Paskah 2013 lalu, saya melihat, seperti tahun2 lalu, gereja menjual buku misa khusus misa Paskah 2013. Harga 5000 rupiah saja. Tujuannya baik: menggalang dana. Dari iklan yg dimuat plus hasil penjualan, gereja akan dapat dana yg tidak sedikit.
    Tapi saya teringat kata2 Bapak Paus tadi. Apakah ini terjangkau oleh orang miskin? Ah, bukankah cuma 5000 rupiah? Nah, inilah semangat orang kaya. Saya yakin, di paroki itu banyak umat yg cukup miskin yg tidak bisa meluangkan 5000 rupiah pada saat itu. Mgkn terbersit pikiran, ya sudah, kalau tidak punya uang, ya tidak usah membeli. Pakai saja buku sehari2. Nah, inilah contoh cara pikir yg dengan sengaja menyingkirkan orang miskin dari gereja. 
  • Banyak contoh lain yg akan saya tulis pada tulisan berikut.
Di media-media masa dunia disebutkan, revolusi yg dilakukan oleh paus memdobrak banyak hati beku, pada orang Katolik maupun non-Katolik, membawa kekaguman di seluruh dunia, tapi juga membawa kebingungan bagi orang2 Katolik yg selama ini mungkin salah mengartikan injil. Atau saya sendiri yg salah mengartikan ucapan Bapa Suci?

Bagaimanapun juga, semoga paus kita dapat melaksanakan suara dari Tuhan yg didengar Santo Fransiskus Asisi pada awal perubahan hidupnya, "Fransiskus, perbaikilah gereja Ku."

Mungkin Tuhan saat ini mendambakan gereja yang miskin, dan meminta Paus kita utk memperbaikinya,

Tambahan komentar (9 Agustus 2013): 

Seorang romo kenalan memberi komentar ini:
"Satu pertanyaan saja, mengapa gereja katolik di daerah tdk terpikirkan ya? Padahal mereka juga gereja katolik. Saya melayani di daerah pedalaman lebih dari lima tahun dg kolekte total satu paroki selama sebulan sekitar 750.000 rupiah, sementara pengeluaran utk pelaynan di atas 6 jt per bulan. Tapi kami senang krn dg demikian pelayanan semakin berarti. Tentu saya tdk mau dibilang gereja (hierarki?) utk org kaya.
Ada kecenderungn generalisasi. Bhw ada sejumlah orang yg begitu, itu kita semua tahu, dan saya yakin Bpk Uskup pun sdh berbuat sesuatu.
Semoga kita semakin bijak dan obyektif dlm analisa dan kritik."
Jadi kelihatannya kritik saya di atas (juga kritik Paus?) lebih cocok kalau ditujukan pada umat Katolik di kota besar, bukan di daerah miskin, yg memang sudah "gereja miskin".