Saturday, September 26, 2015

Makan Bersama Para Gelandangan, dan Misi Suci Paus Fransiskus


New York Times, 24 Sep 2015
WASHINGTON - Para penghuni panti jompo Harriet Tubman ini bangun pukul 3 pagi Kamis, agar semua orang ada waktu untuk mandi, merapikan rambut dan mengenakan pakaian terbaik mereka setelah bertahun-tahun menggelandang, keluar masuk panti, digusur, dipukuli, dan dipecat dr pekerjaan.

Mereka akan makan siang dengan Paus Fransiskus.

Menjelang tengah hari, para wanita itu duduk di tengah ruang yang tampaknya seperti resepsi pernikahan: hamparan meja bundar terbungkus taplak meja biru muda, dimahkotai dengan vas bunga kuning dan oranye.

Jangan pedulikan bahwa meja2 itu berada di bawah tenda di jalanan pinggir kota, dan bahwa sebagian besar dari 300 tamu itu gelandangan, kriminal, sakit jiwa, korban kekerasan dalam rumah tangga, penyalahguna narkoba atau sejenisnya. Pada tengah hari, Paus Fransiskus muncul, seperti yang dijanjikan.

Pada kunjungan enam hari ke Amerika Serikat ini, Fransiskus memperhatikan peringatan yang dibisikkan kepadanya oleh seorang kardinal Brasil beberapa saat sebelum dia dinyatakan terpilih sebagai Paus: "Jangan lupa kaum miskin"

Setelah berpidato di depan Kongres, paus langsung pergi ke para gelandangan di panti werda Katolik - jadwal yang dirancang untuk memberi pesan bahwa prioritasnya, dan prioritas gereja, adalah orang-orang yang terpinggirkan.

Di setiap kota yg dikunjunginya dalam perjalanan ini, paus menggunakan status selebritasnya untuk memaksa kamera untuk menunjukkan pada bangsa ini gambar yang bagi banyak orang mungkin lebih baik tidak dilihat: Di Washington, ia bertemu para gelandangan, dan di New York ia berencana mengunjungi para imigran . Di Philadelphia, ia akan pergi ke penjara. Sebagai pastor pengajar utama dari gereja, ia bertekat memperjelas bahwa ia punya dua tujuan: membawa harapan dan semangat hidup untuk mereka yang menderita, dan menggerakkan mereka yg hidup nyaman untuk melakukan sesuatu bagi mereka yang membutuhkan.

"Dengan kunjungan ini, Paus berkata, kamu perlu memikirkan orang miskin," kata Mgr. John J. Enzler dari Keuskupan Agung Washington, sementara ia menunggu paus tiba Kamis itu. "Kamu tidak bisa hanya pergi ke gereja dan berkata, saya sudah melakukan tugas saya. Dia berkata, 'Pergi ke pojok2, pergi ke pinggiran,' " kata Monsignor Enzler. "Dia mengatakan kepada semua orang, 'Keluarlah ke jalan-jalan, biarpun kotor, dan jadikan sebuah gereja di jalanan.'"

Tapi, demi Fransiskus, itu semua perlu perencanaan yang cermat. Bagi para pria dan wanita tunawisma di perjamuan yang diselenggarakan oleh badan amal Katolik itu, hari itu dimulai dengan berbaris panjang, lebih dari satu blok perumahan, untuk melalui screening Secret Service.

Edward Gray, dengan topi lebar dan kacamata, sedang menunggu di barisan. Dia dan banyak dari orang yang menghadiri makan siang itu tinggal di tempat yang disebut "801," singkatan untuk alamat penampungan tunawisma itu. Tidak seperti banyak dari mereka yang sedang berbaris itu, Gray beragama Katolik.

Gray mengatakan ia pernah bertemu paus sebelum itu: Ketika ia jadi putra altar di Washington, ia pergi dengan rombongan ke Roma dan bertemu Paus Pius XII. Dia cerita, dia tidak selalu tunawisma. Dia pernah bekerja sebagai kontraktor di Capitol Hill, dan jadi tukang potong rambut dan guru tata rias. Gray, 69 tahun, bilang ia punya enam anak, lima di antaranya lulusan perguruan tinggi, dan terdengar sentuhan skeptis tentang paus ini.

"Dia datang ke sini untuk menemui para gelandangan?" Kata Gray. "Sangat aneh, raja kok menemui gelandangan."

Paus Benediktus XVI dan Paus Yohanes Paulus II pernah mengunjungi Washington, tapi tidak menemui para klien panti Katolik ini, kata Monsignor Enzler. "Ketika paus lain datang, itu lebih untuk para uskup dan para pemimpin negara kita," katanya, atau untuk merayakan Misa Agung untuk umat seperti yang dilakukan Benediktus delapan tahun lalu di Stadion National.

Bagaimanapun, Fransiskus berhasil menginspirasi panitia untuk mengadakan pesta meriah ini yang meski darurat terkesan mewah. Relawan menyajikan piring dengan teriyaki dada ayam, pasta salad Asia dengan kacang polong dan wortel, lebih dari satu jam sebelum kedatangan Paus. Para tamu diberitahu untuk tidak makan sampai paus tiba dan memberi berkat, dan mereka memang tidak makan duluan.

Di meja, beberapa tamu bersosialisasi, dan saling berfoto ria dengan ponsel mereka, beberapa orang duduk diam dan sebagian tertidur. Beberapa pria mengenakan jas; yang lain celana jeans. Seorang wanita terlihat dengan kuku yang dicat kuning yang cocok dengan bunga di atas meja.

Sementara kamera-kamera televisi dan para wartawan sibuk bergerombol, Ms. Hilliard, mantan karyawati department store, mengatakan, dia yakin akan ketulusan Paus dan bahwa ini "bukan pencitraan."

"Paus benar peduli," katanya, "dan itulah yang penting."

Paus tiba sesaat sebelum tengah hari, tapi sebelum itu dia menyelinap ke gereja di dekat situ, St Patrick, di mana ia berbicara kepada sekitar 250 gelandangan tentang masalah tunawisma. Meskipun ia baru saja menyampaikan pidato di Capitol Hill, di St. Patrick ia tidak berbicara mengenai program politik untuk mengatasi tunawisma atau kemiskinan. Untuk mereka yang telah jatuh miskin ini, ia menawarkan iman, solidaritas dan doa.

"Dalam menghadapi situasi yang tidak adil dan menyakitkan ini, iman membawa kita cahaya yang menerangi kegelapan," katanya. "Iman membuat kita terbuka untuk keheningan kehadiran Allah di setiap saat dalam hidup kita, dalam setiap orang dan dalam setiap situasi. Allah hadir dalam Anda semua, pada kita masing-masing."

Beberapa menit kemudian Fransiskus keluar dari pintu gereja disambut dengan sorak-sorai dan tepuk tangan dari para tamu makan siang itu. Dia memberi berkat singkat, lalu berkata "Buen apetito (selamat makan)," yang disambut dengan tawa riuh. Dia sendiri tidak makan, tapi ia berjalan dari meja ke meja, berhenti untuk meletakkan tangannya ke atas kepala anak-anak yang diam berjam-jam menunggu, mewarnai gambar paus yang diberi ke mereka dengan krayon.

Sambil tersenyum dan tampak tidak tergesa-gesa, paus bergerak di antara para tunawisma itu, beberapa orang mengambil selfi dan mengulurkan tangan untuk menyentuh paus dan berbicara dengannya.


"Saya bilang kepadanya semoga tetap diberkati Tuhan dan tidak stres," kata Mark Perrez, 54 tahun, yang mengatakan Paus memegang tangannya dan dengan terkejut menunjuk koleksi eklektik pin yang dikenakan Perrez di seluruh bagian depan blazer dan topi bisbolnya.

Sementara paus naik ke Fiat kecil hitam sebagai "limousinnya", Peter Atkinson berdiri di pinggiran kerumunan, mensyukuri apa yang dia katakan baginya, sebagai seorang Katolik, "momen kasih karunia." Atkinson, 54, seorang insinyur dengan jaket hitam tajam, yang berbahasa Inggris dengan aksen Prancis, sekarang tinggal di salah satu panti Katolik. Ia bercerita, ia jatuh akibat narkoba dan alkohol.

"Saya tidak akan dapat ikut seperti saat ini bertemu paus jika saya tidak jatuh menjadi sampah dalam hidup saya, yang membawa saya ke panti," kata Atkinson. "Jika saya tidak bisa membaca tanda-tanda zaman ini, saya pasti buta."


========================

Renungan : Bagaimana seandainya sebelum mengambil putusan pada setiap rapat, setiap kegiatan paroki, setiap wisata rohani, setiap pembangunan gereja, setiap sekolah, setiap kegiatan rumah sakit, selalu ada pertanyaan, "Apa ini berguna, dan cocok untuk saudara2 kita yang termiskin?" Karena "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"... Tapi Paus sadar dan bilang, penggunaan kata "miskin" sering membuat banyak orang tidak nyaman...

Tuesday, September 1, 2015

Paus Fransiskus: Pastor dapat mengampuni wanita yang pernah melakukan aborsi

Ringkasan dari tulisan 
Daniel Burke, CNN, Editor Agama
 
September 1, 2015

  • Izin dari uskup tidak lagi diperlukan untuk menghindari ekskomunikasi (pengucilan, dikeluarkan dr gereja)
  •  Perubahan kebijakan ini hanya berlaku di tahun “Kerahiman/Belas Kasihan kalendar Gereja Katolik, dari 8 Desember tahun ini sampai 20 November 2016
  • Paus tidak mengubah pandangan gereja bahwa aborsi adalah "kejahatan moral"


(CNN) Lagi-lagi Paus Fransiskus mengguncang dunia Katolik pada hari Selasa dengan mengumumkan bahwa wanita yg menyesal krn melakukan aborsi dapat meminta pengampunan dari pastor selama "Tahun Kerahiman" mendatang.

Secara tradisional, orang yang terlibat dalam aborsi, yang dikutuk sebagai dosa besar oleh gereja, dianggap otomatis di-ekskomunikasikan (dikeluarkan dari gereja), dan hanya seorang uskup bisa mengangkat larangan tersebut. Pengumuman Paus ini datang hanya beberapa minggu sebelum ia dijadwalkan untuk mengunjungi Amerika Serikat, di tengah perdebatan sengit tentang aborsi di AS.


Menurut jajak pendapat baru yang dilakukan oleh Public Religion Research Institute, 51% dari Amerika Katolik percaya aborsi harus diperbolehkan secara hukum dalam semua kasus, sementara 45% mengatakan itu harus tidak boleh dalam semua kasus. Pada jam-jam setelah pengumuman Francis ini, umat Katolik di kedua kubu perdebatan itu mencari celah untuk memelintir pernyataan Paus yg populer ini.

Kebijakan baru Paus ini tidak mengubah doktrin gereja, dan secara teknis hanya berlaku untuk Tahun Kerahiman ini.


"Saya prihatin akan semua wanita yang pernah menjalani  aborsi," Paus melanjutkan. "Saya menyadari adanya tekanan yang menyebabkan mereka untuk mengambil keputusan ini."

Tahun khusus gereja ini dimulai pada tanggal 8 Desember ini sampai 20 November 2016. Seorang pejabat Vatikan mengatakan ada kemungkinan Paus akan memungkinkan kebijakan ini berlaku selamanya.

Mendorong rahmat

Dengan kebijakan aborsi baru, Fransiskus tampaknya menunjukkan adanya "jalan ketiga" untuk memerintah gereja. Dia bergerak ke luar dari retorika saja, tetapi tidak cukup mengubah praktek gereja lama.

Pemimpin gereja di Amerika Serikat mengatakan, banyak uskup Amerika (tambahan, juga di Indonesia) sudah mengizinkan imam mengampuni dosa aborsi dalam Sakramen Pengakuan Dosa. "Hal yang baru adalah bahwa Paus Fransiskus ... membuat izin itu universal," kata Pastor James Martin, pastor Yesuit dan editor American Magazine di New York.


Selama bertahun-tahun, Fransiskus, Paus pertama dari Amerika Latin, adalah uskup agung Buenos Aires, kota dengan banyak umat Katolik miskin. Dalam pernyataannya Selasa ini, Paus mengatakan bahwa ia pernah bertemu "begitu banyak wanita" yang terluka oleh keputusan yang "menyiksa dan menyakitkan" untuk melakukan aborsi itu.

"Pengampunan Tuhan tidak boleh ditolak untuk orang yang telah bertobat," kata Paus.

Bagaimanapun, keputusan Paus Fransiskus ini 'tidak mengubah ajaran-ajaran Gereja Katolik tentang beratnya dosa aborsi, yang dalam hukum Gereja sebut sebagai "kejahatan moral."


Wednesday, August 14, 2013

Dear Pope Francis: Please answer.


Please answer the following question.

"Is it more proper for Catholics to build a new church building using rich materials or would it be more proper to use simpler and cheaper materials (the capacity and strength being equal)  and give the remaining fund to starving poor children? "

I believe you should speak up, my dear Pope. This controversy has been there as long as I live, with no clear cut answer from higher church hierarchy. And sometimes the church was silent for a long time without giving loud and clear direction in serious affairs such as slavery, making good people without direction and, as a result, doing improper things.

One side cites the very expensive perfume poured on Jesus' head; woman vs other disciples opinion. Matt 26:6.

Other side cites "For I was hungry and you gave me food" Matt 25:35

You have talked about how you were hurt when you saw a priest with latest-model car. Please give your clear and loud direction on the above.

Thank you, dear Pope.


***************************

 Dear Pope Francis, pls answer. Should we build a new church building using rich or cheaper materials?. (10)

Resend:10
***************************

Tuesday, August 13, 2013

Pakailah sepatu kalau ke gereja

Tahun lalu saya membaca poster besar di gereja. Kalau tidak salah dari Seksi Lingkungan. Isinya: pakailah sepatu kalau ke gereja. Jangan pakai sandal. Masak kamu tidak menghormati Tuhan. Gereja adalah rumah Tuhan... Begitu kira2...

Ini bukan pertama kali saya mendengar kritik soal tata cara berbusana ini. Saya selalu menentang. Tidak pada tempatnya gereja, suatu institusi rohani (dulu saya berpendapat begitu), mengatur soal tata cara duniawi ini. Masalahnya, saya sendiri suka memakai sandal :) ...

Lalu, terjadilah pembicaraan berikut:

+ : Masak kamu tidak menghargai rumah Tuhan, memakai sandal ke gereja.
- : Tuhan Yesus sendiri kemana2 selalu memakai sandal. Saya cuma meniru Yesus. Apakah dia tidak boleh masuk ke gereja ini ?

+ : Bedalah. Itu kan zaman dulu. Kalau sekarang, Yesus tentu memakai sepatu.
- :  Kok tahu? Bagaimana bisa yakin bahwa Yesus akan menjelma sebagai orang Jakarta, dan bukan orang di hutan Mentawai yang tidak bersepatu dan hanya memakai cawat?


+ : Pokoknya anggap saja Yesus menjadi orang Jakarta.
- : Bagaimana kalau Yesus tidak punya uang untuk beli sepatu? Masih banyak orang Jakarta yang susah untuk beli sepatu, lho.

+ : Intinya begini. Kalau ke gereja, orang Kristen harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kalau kamu ke Jakarta, sesuaikan diri; pakailah pakaian Jakarta. Sesuaikan diri dengan mayoritas.
- : Kamu serius dengan pendapat itu?
+ : Tentu saja serius.
- : Kalau demikian, kalau kita diajak ke Papua yg umatnya masih pakai koteka, kita harus menyesuaikan diri dengan mereka ?

+ :  Ah, ada2 saja. Mereka kan masih terbelakang.
- : Mungkin ada baiknya kita tidak menyombongkan diri?

+ : Pokoknya menurut saya, pakai sepatu itu pantas untuk Tuhan.
- : Pantas itu relatif. Santo Fransiskus Asisi membuang pakaian mewah dan sepatunya 800 tahun lalu, dan memakai pakaian rombeng dan sandal (mula2 telanjang kaki); juga waktu dia bertemu dengan paus. Gandhi juga membuang jas dan pakaian ala baratnya, memakai sehelai kain tenun India plus sandal. Presiden Vietnam, Ho Chi Min, hanya memakai sandal jepit ketika 54 tahun lalu, tahun 1959, datang ke Istana Merdeka bertemu Soekarno. Mereka tidak dianggap menghina, malah dipuji2 karena berani mewakili rakyat miskin.

+ : Susahlah, kalau berdebat begini. Yang jelas SAYA SUKA PAKAI SEPATU.
- : Tepat... Itulah jawabnya. "Saya suka". Cuma mungkin kita perlu membiarkan orang lain dengan kesukaannya.
- :  Ada tambahan: di Singapura (mungkin juga di tempat lain? ), banyak pria memakai sepatu, tapi bercelana pendek kalau ke gereja. Mana yang lebih pantas ya, bercelana pendek, atau memakai sandal?

Buat saya pribadi, semakin sedikit gereja mengurus tata cara duniawi, akan semakin sedikit kesalahan yg dilakukannya. Dan kalau kita ingin berpihak pada orang miskin seperti diminta Bapa Suci, akan lebih baik kalau kita menyesuaikan diri dengan mereka... Semoga ada kesesuaian pendapat di antara kita.

----------------


Monday, August 12, 2013

Paus Fransiskus (6) : Bahasa yang sederhana

Ketika di Brasil, 27 Juli 2013, paus bertemu dengan para uskup Brasil. Dia pertama2 berbicara tentang mukjizat Aparecida, penemuan patung Bunda Maria oleh sekelompok nelayan miskin. Yang menemukan bukan profesor arkeologi dari University of Chicago di AS, tapi nelayan yang miskin, dan mungkin sekali bodoh, tak berpendidikan. Paus mencatat bahwa Tuhan selalu datang dengan pakaian yang sederhana, pakaian wong cilik. Dia menambahkan :
"Kadang kala, kita kehilangan orang karena mereka tidak memahani apa yang kita katakan, karena kita telah lupa bahasa yang sederhana dan mengimpor intelektualisme yang asing bagi masyarakat kita."
(At times we lose people because they don’t understand what we are saying, because we have forgotten the language of simplicity and import an intellectualism foreign to our people.)
Mungkin ada maksud lain dalam ucapan Paus selain apa yang tersurat di sini; entahlah. Tapi, kalimat yang tertulis di situ menyentuh unek-unek yang telah lama saya pendam. Mengapa surat2 resmi lain dari gereja, surat gembala, visi dan misi, juga kotbah, kadang memakai kalimat atau kata2 yang hanya dimengerti oleh kaum intelektual? 

Berikut adalah contoh yg saya ambil secara sembarang dari internet, tanpa maksud jelek apapun. Ini contoh visi dan misi gereja:

  • Communio dari aneka komunitas basis, yang beriman mendalam, yang solider dan dialogal, memasyarakat dan missioner”
  • Mengembangkan tata layanan pastoral berbasis data; memberdayakan komunitas teritorial lingkungan dan komunitas kategorial menjadi komunitas beriman yang bertumbuh dalam persaudaraan.
Lukisan Rasul Petrus
Mohon maaf kalau saya mengaku bodoh. Saya kadang tidak paham (benar2 tidak paham) arti dari kalimat tadi, khususnya  kata2 yang saya kasih warna biru. Saya pernah bertanya pada Ketua SPSE, apa sih arti "kategorial"? Saya sadar, mungkin sekali kalimat2 tadi mencomot dari pedoman yang diberikan oleh badan yang lebih tinggi. Tapi, yang menjadi pertanyaan, untuk siapa visi dan misi itu dibuat? Apakah khusus untuk Dewan Paroki? Kalau demikian, maka urusan selesai. Titik. Sebagian besar anggota dewan memahaminya. Atau untuk umat? Umat yang mana? Khusus untuk yang berpendidikan SMA? Perguruan tinggi?


Kalau mengambil semangat Paus Fransiskus yang mendambakan "gereja miskin, dari orang miskin", maka kalimat2 tadi seharusnya dapat dibaca oleh orang miskin, yang termiskin di paroki, yang umumnya bukan lulusan UI atau UGM, dan mungkin tidak lulus SD. Lalu, bagaimana cara termudah untuk menguji apakah pesan tadi dimengerti oleh mereka? Bawa saja tulisan itu ke tukang kebun dan tukang sampah di gereja, tanyakan apa dia memahami tulisan ini.  Begitulah pengertian saya tentang pesan Paus kita mengenai "orang miskin dan orang kecil"...

Beberapa kalimat/frasa lain yang sempat saya comot: 
  • menggerakkan karya-karya pastoral yang kontekstual
  • Gereja partikular Keuskupan XXX amat sadar akan keanekaragaman umatnya
  • semangat pertobatan ekologis dan gerak ekopastoral
Juga kata2 ini: 
  • relevansi, donasi, konteks, refleksi
Lalu, apakah tanpa kata2 intelektual itu pesan dapat sampai ke umat? Seharusnya lah. Mungkin lebih "masuk" ke hati umat. Karena dahulu rasul2 sebagian besar juga cuma nelayan, dan mereka menulis secara sederhana. Ketika Rasul Petrus menulis, "hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati," maka rekan2nya yang nelayan, tukang kayu dan penjual roti di sebelah rumahnya, juga para pemuka Sanhedrin dan kaum cendekiawan di Roma, semua memahami arti dari pesannya. Tak ada yang tersingkir.

_____________________________________



Saturday, August 10, 2013

Paus Fransiskus (5) : Gereja miskin

20 tahun lalu. Diskusi suatu milis Katolik sedang membahas gereja yg kaya dan miskin. Saya berkata, gereja sekarang sudah cukup baik; tapi sebenarnya dapat lebih baik lagi dengan lebih berpihak pada kaum miskin. Misalnya, kalau membangun gereja, buat gereja yg lebih sederhana. Tidak usah megah2. Misalnya terkumpul 20 milyar. Gunakan yang 18 milyar. Ada sisa uang?  Bagikan pada kaum miskin. Segera tentangan dan cemoohan terlontar.

cormac70

http://www.peduligerejakatolik.org
Diskusi yg sama saya ulangi pada kelompok keluarga beberapa bulan lalu. Segera muncul juga bantahan dari saudara. 

Megah bagi Tuhan

"Soal megah itu harus ada kriterianya. Allah tidak membenci kekayaan.. Allah mengizinkan org pilihannya menjadi kaya. Abraham dan Lot itu orang kaya, ternaknya banyak, Yakup juga kaya; Yusuf wakil raja atau firaun. Daud raja kaya, Salomo mendirikan bait Allah yang megah sekali, peralatannya dilapis emas semua. Pada dasarnya semua itu dilakukan karena sangat menghormati kehadiran Allah. Itu dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru, waktu Yesus diurapi oleh perempuan yang membawa buli2 penuh minyak wangi yg amat mahal. Dan Yudas protes, karena minyak yg mahal itu kan bisa dijual dan uangnya utk org miskin. Dan Yudas ditegur Yesus.. Kisah lengkapnya baca Kitab Suci :).  "

Saya merenung. Inilah indahnya Katolik. Umat bebas menafsirkan. Ucapanku dapat disejajarkan dengan  pendapat Yudas, tapi juga dapat dianggap sesuai dengan perintah Yesus sendiri (Matius 25:35-36). Membingungkan banyak orang.

Lalu muncullah Paus Fransiskus yang suka kesederhanaan. Dan inilah komentarnya: 
"Saya sakit hati bila melihat pastor atau suster mengendarai mobil model terbaru... Mobil memang dibutuhkan untuk melakukan banyak hal, tetapi tolong pakai yang sederhana saja. Jika Anda menyukai mobil mewah, coba bayangkan berapa banyak anak yang mati kelaparan di dunia ini.” kata paus. (search Google "It hurts me when I see a priest or a nun", "Pope Francis")
Pesan yg tersirat sudah jelas. Kita diharapkan untuk memilih barang yang lebih sederhana. Bila ada kelebihan dana, gunakan untuk membantu orang miskin. Hanya saja paus tidak menyebutkannya secara telak. Tapi ada yang terang2an. Waktu paus terpilih, dia bilang pada orang Argentina; jangan berbondong2 ke Roma, berikan uangnya pada orang miskin.

Bukan cuma Paus Fransiskus yg memberi contoh. Paus Johanes XXIII juga. Sewaktu akan dinobatkan sbg paus, dia diberi hadiah mahkota oleh umat kota kelahirannya, Bergamo. Waktu mahkota akan dibuat, dia meminta jumlah permatanya dikurangi setengahnya, dan diberikan pd org miskin. Mestinya pesan kedua paus ini sudah cukup jelas.

Tapi ya itu... Yang sederhana itu sering menyusahkan. Dari segi estetis, sering bikin sepet mata. Kalau gedung panas, bikin gerah orang yang berdoa di dalamnya. Belum lagi gengsinya kurang :).  Saya sendiri juga merasa nikmat kok, kalau berdoa di gedung gereja yg baru, besar, berinterior mewah, desain elegan, dengan kursi jati yg halus dan licin, dihembus udara sejuk dr AC yg besar. Ini akan membuat saya asyik berdoa, berdoa, dan berdoa, dan berdoa terus, untuk mereka yg miskin dan sengsara di luar sana. 


---------------------------
Catatan : konon dulu 20 tahun lalu, saya dengar di Jakarta ada suster yang punya Mercedes mewah. Entah benar atau tidak. Semoga saja ucapan paus yg sekarang ini didengar.






Paus Fransiskus (4) : Pentungan di kepala kita

Beberapa perkataan Paus Fransiskus menyerupai pentungan yg jatuh ke kepala kita saat sedang bermimpi indah.
"The church is a human institution."
Gereja adalah badan atau organisasi manusia, katanya ! Jadi, bukan organisasi superhuman atau di atas manusia. Ini serupa dengan pentungan bagi kita yg biasa mengartikan hakikat gereja dari satu sisi saja.

Pengadilan Galileo

Kalimat di atas tadi masih ditambah lagi... Ini diambil dari BBC News. "He urged journalists to get to know the Church with its "virtues and sins" and to share its focus on "truth, goodness and beauty"
The Church with its "virtues and sins".
Terjemahan bebasnya, gereja punya banyak keutamaan atau kebaikan tapi jg ada dosa2nya !  Gereja sebagai institusi bisa bikin dosa. dan dia bilang "sins". Artinya bukan cuma satu saja. Jadi bukan hanya paus, atau uskup, atau pastor, atau umat, yg bisa bikin dosa, tapi juga gereja.

Dan memang gereja telah meminta maaf, mengakui kesalahannya pada beberapa kasus. Misalkan saja tentang hukuman gereja untuk Galileo Galilei. Meski kejadiannya telah berlalu lebih dari 350 tahun, pengakuan bahwa gereja bersalah telah menghukum Galileo melegakan hati banyak orang.

Namun, seperti dikatakan juga, marilah kita lebih memusatkan perhatian kita pada "kebenaran, kebaikan, dan keindahan" gereja daripada kesalahannya. Dan juga, seperti kata Bapa Suci, ikutilah para uskupmu. Bantulah mereka.