Kasih Allah tidak hanya bagi orang yang mengikuti Perintah2-Nya
========================
Bila mengingat cinta Allah yang tak terbatas, seharusnya kita membalasnya dengan menaati perintah-perintah-Nya; tapi itu bukan syarat untuk cinta dari Allah dan bukan syarat untuk keselamatan yg ditawarkan-Nya melalui Yesus, kata Paus Fransiskus. Orang yang tidak mengikuti perintah-Nya pun tetap dikasihi Tuhan.
Pada hari raya St Teresa dari Avila, Paus mengatakan bahwa ketika Yesus masih hidup... dan hari ini juga (!!), ada "doktor2 ilmu hukum" (gereja) yang berpikir bahwa mereka bisa tahu siapa yang bisa selamat dan siapa yg tidak, hanya dengan melihat bagaimana orang mematuhi perintah-perintah Tuhan.
"Ada baiknya kalau hari ini kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita percaya bahwa Tuhan telah menyelamatkan kita dengan gratis, secara cuma2," kata Paus. "Apakah kita percaya bahwa kita tidak layak diselamatkan, dan jika kita pantas diselamatkan, itu adalah melalui Yesus Kristus dan apa yang telah dilakukan-Nya untuk kita?"
"Mari kita tanyakan pertanyaan2 itu hari ini; hanya dengan cara itu kita akan setia pada kasih penuh belas kasihan yang begitu besar, kasih seorang bapa dan ibu, karena Allah berkata bahwa Dia seperti ibu bagi kita," kata Paus.
Kasih Allah itu luas, tak berpinggir dan tak terbatas, kata Paus. "Kita seharusnya tidak membiarkan diri tertipu oleh para 'doktor' (ahli hukum gereja) yang membatasi cinta ini."
...
...
Pada bacaan Injil hari itu, Lukas 11: 47-52, Paus mengatakan, Yesus menggunakan kata2 yang keras dan "sangat kasar" ketika berbicara tentang para "doktor ilmu hukum" itu (Red. yang pada masa itu disebut ahli kitab)...
...
Para doktor ilmu hukum itu berpikir, satu-satunya cara yang bisa menyelamatkan diri kita adalah dengan menaati segala perintah dan bahwa siapa pun yang tidak bisa melakukan itu akan dikutuk," kata Paus. Ajaran mereka "membatasi cakrawala Tuhan dan membuat kasih Tuhan kecil, kecil", dan akibatnya, mengecilkannya (kasih Tuhan) ke seukuran manusia.
Perintah-perintah Tuhan harus diperhatikan, kata Paus, tetapi perlu diingat bahwa semua itu diringkas menjadi "kasihi Allah dan kasihi sesamamu."
...
...
========================
http://www.catholicherald.co.uk/news/2015/10/15/do-not-be-fooled-by-doctors-of-law-who-limit-gods-love-says-pope-francis/
Friday, February 26, 2016
Thursday, February 25, 2016
Pergi ke gereja tidak membuatmu menjadi orang yang baik
Paus Fransiskus mengatakan bahwa keduniawian adalah "dosa halus" dan memperingatkan orang terhadap bahaya "dosa halus" ini; tidak semua yg pergi ke gereja adalah orang yang baik.
Dalam homili ini Paus mengungkapkan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus, yang ditulis dalam Injil Lukas.
Orang kaya itu memakai pakaian yg halus dan makan makanan mewah, sementara Lazarus, pengemis yang tinggal di dekat rumahnya, berjuang melawan kelaparan dan penyakit. Paus Fransiskus menjelaskan bahwa orang kaya itu tidak benar-benar jahat, tapi "mata jiwanya sudah pasti berwarna (Red. tidak bening) sehingga tidak melihat."
"Mungkin dia adalah seorang yang religius, dengan caranya sendiri," kata Paus. "Mungkin dia berdoa dan beberapa kali setahun dia pasti pergi ke Bait Allah untuk mempersembahkan korban dan dia memberi sumbangan besar untuk para imam, dan dengan hatinya yg pengecut para imam akan berterima kasih padanya dan memberinya kursi kehormatan."
Tapi tidak peduli "perbuatan baik" apa yg telah ia perbuat utk kemuliaan gereja, orang kaya ini gagal mengenali penderitaan orang miskin yang tinggal begitu dekat dengan rumahnya.
Paus Fransiskus kemudian memperingatkan; banyak orang yang religius tapi hati mereka dibayangi oleh keduniawian, sehingga mereka tdk mampu menyaksikan penderitaan rakyat di sekitar mereka.
"Dengan hati duniawi kamu bisa pergi ke gereja, kamu dapat berdoa, kamu bisa melakukan banyak hal (Red. mgkn termasuk rajin pelayanan)," kata Paus. "Tapi jika hatimu msh bersifat duniawi, kamu tidak dapat memahami kebutuhan dan kesulitan orang lain."
....
....
Tapi Paus mengatakan, masih ada harapan. "Kita memiliki Bapa yang menunggu kita. Di tengah keduniawian kita, Dia memanggil kita anak-anaknya. Kita bukan anak yatim," katanya.
========================
Dalam homili ini Paus mengungkapkan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus, yang ditulis dalam Injil Lukas.
Orang kaya itu memakai pakaian yg halus dan makan makanan mewah, sementara Lazarus, pengemis yang tinggal di dekat rumahnya, berjuang melawan kelaparan dan penyakit. Paus Fransiskus menjelaskan bahwa orang kaya itu tidak benar-benar jahat, tapi "mata jiwanya sudah pasti berwarna (Red. tidak bening) sehingga tidak melihat."
"Mungkin dia adalah seorang yang religius, dengan caranya sendiri," kata Paus. "Mungkin dia berdoa dan beberapa kali setahun dia pasti pergi ke Bait Allah untuk mempersembahkan korban dan dia memberi sumbangan besar untuk para imam, dan dengan hatinya yg pengecut para imam akan berterima kasih padanya dan memberinya kursi kehormatan."
Tapi tidak peduli "perbuatan baik" apa yg telah ia perbuat utk kemuliaan gereja, orang kaya ini gagal mengenali penderitaan orang miskin yang tinggal begitu dekat dengan rumahnya.
Paus Fransiskus kemudian memperingatkan; banyak orang yang religius tapi hati mereka dibayangi oleh keduniawian, sehingga mereka tdk mampu menyaksikan penderitaan rakyat di sekitar mereka.
"Dengan hati duniawi kamu bisa pergi ke gereja, kamu dapat berdoa, kamu bisa melakukan banyak hal (Red. mgkn termasuk rajin pelayanan)," kata Paus. "Tapi jika hatimu msh bersifat duniawi, kamu tidak dapat memahami kebutuhan dan kesulitan orang lain."
....
....
Tapi Paus mengatakan, masih ada harapan. "Kita memiliki Bapa yang menunggu kita. Di tengah keduniawian kita, Dia memanggil kita anak-anaknya. Kita bukan anak yatim," katanya.
========================
Monday, February 1, 2016
Paus Fransiskus: Mengubah gereja jadi bisnis itu skandal
Paus Fransiskus
mengutuk para pastor dan orang
awam yang mengubah paroki mereka jadi
"bisnis" dengan memungut bayaran untuk hal-hal seperti pembaptisan, berkat dan intensi
misa. Dia menyebutnya skandal yang
sulit dimaafkan.
…
Paus memusatkan homilinya pada Injil hari ini, injil Lukas di mana Yesus menjungkirbalikkan meja2 di dalam bait Allah dan mengusir orang-orang yang berjualan, mengatakan itu adalah tempat suci yang dimaksudkan untuk doa dan bukan untuk bisnis.
Sementara banyak orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa dengan baik dan mencari Tuhan, mereka dipaksa untuk membayar untuk membuat persembahan, Sri Paus menjelaskan…
…
Paus memusatkan homilinya pada Injil hari ini, injil Lukas di mana Yesus menjungkirbalikkan meja2 di dalam bait Allah dan mengusir orang-orang yang berjualan, mengatakan itu adalah tempat suci yang dimaksudkan untuk doa dan bukan untuk bisnis.
Sementara banyak orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa dengan baik dan mencari Tuhan, mereka dipaksa untuk membayar untuk membuat persembahan, Sri Paus menjelaskan…
"Saya memikirkan bagaimana sikap kita bisa membuat
skandal dengan kebiasaan yang
tidak imami di Bait Allah: skandal
melakukan bisnis, skandal keduniawian," kata Uskup Roma ini, yang mengamati berapa banyak paroki memiliki daftar harga yang tersedia untuk pembaptisan, berkat dan intensi misa.
Paus kemudian menceritakan kisah pasangan muda yang merupakan bagian dari sekelompok mahasiswa yang dipimpinnya tak lama setelah ditahbiskan. Ketika mereka memutuskan untuk menikah, mereka pergi ke paroki mereka untuk meminta upacara sipil dan misa sekaligus.
Ketika mereka bertanya, pasangan itu diberitahu bahwa mereka tidak bisa merayakan misa plus upacara pernikahan karena slot waktu yang terbatas hanya 20 menit untuk upacara; pasangan itu harus membayar untuk dua slot waktu untuk merayakan misa juga.
"Ini dosa, skandal," Paus menjelaskan, dan menyinggung bagian Alkitab dimana Yesus mengatakan kepada orang-orang yang menyebabkan skandal bahwa mereka "lebih baik dibuang ke laut."
Ketika orang-orang yang mengelola Bait Allah dan pelayanannya, termasuk pastor dan orang awam, menjadi pengusaha, "terjadi skandal. Dan kita bertanggung jawab untuk ini. Awam juga! Semua orang," lanjut Paus.
Mencegah skandal adalah tanggung jawab semua orang, kata dia, karena jika kita melihat mentalitas-bisnis ini terjadi di paroki kita, kita perlu memiliki keberanian untuk mengatakan sesuatu kepada para pastor.
"Terjadi skandal ketika Bait Allah, Rumah Allah, menjadi tempat bisnis, seperti dalam kasus yang pernikahan tadi: gereja sedang disewakan."
Paus Fransiskus mencatat bagaimana ketika Yesus membuat cambuk dan mulai mendorong orang keluar dari kuil itu bukan karena dia marah, tapi lebih karena ia penuh dengan murka Allah dan semangat untuk rumahNya.
Yesus, katanya, "mempersoalkan uang, karena penebusan itu gratis; itu hadiah gratis dari Allah, Dia datang untuk membawa kita hadiah yang mencakup segala kasih Allah."
Jadi, ketika sebuah gereja atau paroki mulai melakukan bisnis, itu seperti mengatakan bahwa keselamatan itu tidak gratis lagi, Sri Paus menjelaskan, itulah sebabnya Yesus mengambil cambuknya untuk memurnikan bait yang korup.
Paus kemudian menceritakan kisah pasangan muda yang merupakan bagian dari sekelompok mahasiswa yang dipimpinnya tak lama setelah ditahbiskan. Ketika mereka memutuskan untuk menikah, mereka pergi ke paroki mereka untuk meminta upacara sipil dan misa sekaligus.
Ketika mereka bertanya, pasangan itu diberitahu bahwa mereka tidak bisa merayakan misa plus upacara pernikahan karena slot waktu yang terbatas hanya 20 menit untuk upacara; pasangan itu harus membayar untuk dua slot waktu untuk merayakan misa juga.
"Ini dosa, skandal," Paus menjelaskan, dan menyinggung bagian Alkitab dimana Yesus mengatakan kepada orang-orang yang menyebabkan skandal bahwa mereka "lebih baik dibuang ke laut."
Ketika orang-orang yang mengelola Bait Allah dan pelayanannya, termasuk pastor dan orang awam, menjadi pengusaha, "terjadi skandal. Dan kita bertanggung jawab untuk ini. Awam juga! Semua orang," lanjut Paus.
Mencegah skandal adalah tanggung jawab semua orang, kata dia, karena jika kita melihat mentalitas-bisnis ini terjadi di paroki kita, kita perlu memiliki keberanian untuk mengatakan sesuatu kepada para pastor.
"Terjadi skandal ketika Bait Allah, Rumah Allah, menjadi tempat bisnis, seperti dalam kasus yang pernikahan tadi: gereja sedang disewakan."
Paus Fransiskus mencatat bagaimana ketika Yesus membuat cambuk dan mulai mendorong orang keluar dari kuil itu bukan karena dia marah, tapi lebih karena ia penuh dengan murka Allah dan semangat untuk rumahNya.
Yesus, katanya, "mempersoalkan uang, karena penebusan itu gratis; itu hadiah gratis dari Allah, Dia datang untuk membawa kita hadiah yang mencakup segala kasih Allah."
Jadi, ketika sebuah gereja atau paroki mulai melakukan bisnis, itu seperti mengatakan bahwa keselamatan itu tidak gratis lagi, Sri Paus menjelaskan, itulah sebabnya Yesus mengambil cambuknya untuk memurnikan bait yang korup.
Diskusi:
Lalu bagaimana dengan bayaran untuk koor, bunga, seminar, KKR, dll.?
Friday, January 29, 2016
Para Biarawan yang Kukenang (1)
Kebetulan
kemarin Hari Guru. Aku jadi mengenang para guru yang membimbingku jadi
“orang” (bukan monyet) seperti sekarang ini. Siapa ya, mereka itu? Balik
62 tahun lalu….
Suster Bernardi. Orang Belanda. Menjelajah jauh kemari, lebih dari separo belahan dunia, untuk berkarya di Indonesia… Tidak banyak yang kuingat karena telah begitu lama. Periang. Baik. Tidak pernah menyentil kupingku yang nakal waktu itu… Kalau lewat di sisi mejaku, aku sering coba mengintip ke sela2 kerudung kepalanya. Katanya kepala suster gundul… Tapi tidak pernah terlihat juga, hehehe…
Hanya kenangan sedikit itu yg kuingat. Tapi tidak pernah lupa. Karena setiap kali lagu “O… O… Bernardine” yang dinyanyikan Pat Boone (?) menggema, aku selalu ingat susterku ini. Terima kasih suster, untuk didikanmu pada masa kecilku.
Suster Bernardi. Orang Belanda. Menjelajah jauh kemari, lebih dari separo belahan dunia, untuk berkarya di Indonesia… Tidak banyak yang kuingat karena telah begitu lama. Periang. Baik. Tidak pernah menyentil kupingku yang nakal waktu itu… Kalau lewat di sisi mejaku, aku sering coba mengintip ke sela2 kerudung kepalanya. Katanya kepala suster gundul… Tapi tidak pernah terlihat juga, hehehe…
Hanya kenangan sedikit itu yg kuingat. Tapi tidak pernah lupa. Karena setiap kali lagu “O… O… Bernardine” yang dinyanyikan Pat Boone (?) menggema, aku selalu ingat susterku ini. Terima kasih suster, untuk didikanmu pada masa kecilku.
Para Biarawan yang Kukenang (2)
Romo
Wakers
Orang Belanda juga. Entah bagaimana ejaan yang benar. Dia romo di parokiku waktu aku kecil. Fasih berbahasa Jawa. Dia biasanya kasih kotbah dalam bahasa Jawa (kotbah = homili, baru aku ketahui 4- 5 tahun terakhir; kita orang Katolik senang kasih istilah baru yang muluk2, ya).
Dia periang (bukankah Paus bilang, kita org Kristen harus riang? Krn kita mewartakan kabar gembira). Selalu terlihat senyum simpul kalau dia berjalan ke manapun... Mengapa aku selalu ingat dia? Karena tiap 2- 3 bulan dia akan berjalan kaki, datang ke rumah. Mengobrol dengan orang tuaku, meski ortu sama sekali bukan aktivis di gereja (tiap minggu ke gereja, sih…)
Orang Belanda juga. Entah bagaimana ejaan yang benar. Dia romo di parokiku waktu aku kecil. Fasih berbahasa Jawa. Dia biasanya kasih kotbah dalam bahasa Jawa (kotbah = homili, baru aku ketahui 4- 5 tahun terakhir; kita orang Katolik senang kasih istilah baru yang muluk2, ya).
Dia periang (bukankah Paus bilang, kita org Kristen harus riang? Krn kita mewartakan kabar gembira). Selalu terlihat senyum simpul kalau dia berjalan ke manapun... Mengapa aku selalu ingat dia? Karena tiap 2- 3 bulan dia akan berjalan kaki, datang ke rumah. Mengobrol dengan orang tuaku, meski ortu sama sekali bukan aktivis di gereja (tiap minggu ke gereja, sih…)
Dari rumahku, dia akan berjalan lagi ke rumah umat Katolik lain. Aku
mendambakan romo seperti itu. Alangkah senangnya, kalau romo2 zaman
sekarang punya waktu untuk kunjungan seperti itu.
Umat banyak? Tidak perlu 2 bulan. Cukup setahun sekali, atau 2 tahun, atau 3 tahun... Tapi mungkin sekarang pekerjaan lebih banyak? Mungkin perlu kurangi seminar2 dll.? Entahlah…
Terima kasih romo... Romo telah memberi teladan pd saya utk jadi orang Katolik yg baik...
Umat banyak? Tidak perlu 2 bulan. Cukup setahun sekali, atau 2 tahun, atau 3 tahun... Tapi mungkin sekarang pekerjaan lebih banyak? Mungkin perlu kurangi seminar2 dll.? Entahlah…
Terima kasih romo... Romo telah memberi teladan pd saya utk jadi orang Katolik yg baik...
Para Biarawan yang Kukenang (5) ... Penolong hidupku…
PASTOR VAN GENUCHTEN
Siang itu, 50 tahun lalu, aku tidak tahu mau ke mana. Harus cari kos, tapi di mana? Tidak ada sanak, tidak ada saudara dekat, tak ada teman di Jakarta. Cari kos yang dekat Salemba. Minta tolong siapa? Segera pikiranku melayang menuju komunitas yang sangat kukenal: gereja. Pasti ada pastor yang bisa bantu. Aku tahu di situ ada Gereja Kramat. Tidak ada pastor yang kenal. Tidak pernah ke gereja itu. Tapi aku harus cari orang yang bisa bantu.
Dengan ayunan kaki mantap aku ke gereja, bunyikan bel, cari pastor, dan tidak lama kemudian keluar pastor Van Genuchten. Wajahnya aku sudah lupa… Seperti apa ya? Terlalu lama… “Ooo…ada tempat kos. Ayo, saya boncengkan…” Dengan sigap dia keluarkan Vespa tuanya dan kita pergi ke rumah kos. Di situlah aku mulai tinggal di Jakarta… Kalau tak dibantu pastor ini, entah bagaimana nasibku dulu…
Tapi itu baru awal… Empat bulan kemudian, duit habis. Dan benar2 habis. Tak ada duit; hari itu mungkin aku tidak makan… Ke mana harus kucari bantuan? Pastor ini lagi…
Sore2 pukul 5, aku ke gereja… Pastor Van Genuchten sedang doa di gereja. Aku duduk dua bangku di belakangnya. Waktu dia keluar, aku menghampiri. “Pastor, saya tidak punya uang untuk makan. Bisa tolong bantu?”… Berapa? … “200 rupiah.” … Dia merenung sejenak, lalu bilang “OK. Ini dari kantong saya pribadi. Mestinya gereja tidak boleh pinjamkan uang.” Kira2 begitu dia berkata. “Tapi jangan bilang2 pada orang ya,” tambahnya … 200 rupiah. Mungkin sekarang setara 600- 700 ribu rupiah.
Itu yang memungkinkan aku menjadi dokter. Beberapa bulan kemudian, sesudah aku bisa cari penghasilan lewat memberi les murid2, uang itu aku kembalikan.
Terima kasih Pastor. Kamu sudah peduli pada orang miskin… Tanpa bantuanmu entah bagaimana…
Siang itu, 50 tahun lalu, aku tidak tahu mau ke mana. Harus cari kos, tapi di mana? Tidak ada sanak, tidak ada saudara dekat, tak ada teman di Jakarta. Cari kos yang dekat Salemba. Minta tolong siapa? Segera pikiranku melayang menuju komunitas yang sangat kukenal: gereja. Pasti ada pastor yang bisa bantu. Aku tahu di situ ada Gereja Kramat. Tidak ada pastor yang kenal. Tidak pernah ke gereja itu. Tapi aku harus cari orang yang bisa bantu.
Dengan ayunan kaki mantap aku ke gereja, bunyikan bel, cari pastor, dan tidak lama kemudian keluar pastor Van Genuchten. Wajahnya aku sudah lupa… Seperti apa ya? Terlalu lama… “Ooo…ada tempat kos. Ayo, saya boncengkan…” Dengan sigap dia keluarkan Vespa tuanya dan kita pergi ke rumah kos. Di situlah aku mulai tinggal di Jakarta… Kalau tak dibantu pastor ini, entah bagaimana nasibku dulu…
Tapi itu baru awal… Empat bulan kemudian, duit habis. Dan benar2 habis. Tak ada duit; hari itu mungkin aku tidak makan… Ke mana harus kucari bantuan? Pastor ini lagi…
Sore2 pukul 5, aku ke gereja… Pastor Van Genuchten sedang doa di gereja. Aku duduk dua bangku di belakangnya. Waktu dia keluar, aku menghampiri. “Pastor, saya tidak punya uang untuk makan. Bisa tolong bantu?”… Berapa? … “200 rupiah.” … Dia merenung sejenak, lalu bilang “OK. Ini dari kantong saya pribadi. Mestinya gereja tidak boleh pinjamkan uang.” Kira2 begitu dia berkata. “Tapi jangan bilang2 pada orang ya,” tambahnya … 200 rupiah. Mungkin sekarang setara 600- 700 ribu rupiah.
Itu yang memungkinkan aku menjadi dokter. Beberapa bulan kemudian, sesudah aku bisa cari penghasilan lewat memberi les murid2, uang itu aku kembalikan.
Terima kasih Pastor. Kamu sudah peduli pada orang miskin… Tanpa bantuanmu entah bagaimana…
Para Biarawan yang Kukenang (3)... Ini paling kukenang
BRUDER ALOYSIUS
Ini biarawan yang paling banyak membentuk kepribadianku. Aku sudah SMP, di Bintang Laut. Pada usia sekianlah manusia berusaha menemukan jati dirinya, dan lewat teladan Bruder Aloysius inilah aku menemukan diri sendiri.
Dia mengajar aljabar; sekarang “matematika”. Bruder Aloysius berperawakan kecil. Tapi terkesan rapi sekali. Sama sekali tidak ada kesan galak di wajahnya, tapi juga tidak sangat murah senyum seperti Romo Wakers yg aku ceritakan sebelum ini. Yang ada adalah kesan “damai”.
Dia selalu bepergian dengan sepeda, dalam jubah putihnya (waktu itu semua bruder dan pastor pakai jubah putih ke mana pun pergi). Semua dilakukannya dengan tenang, sabar.
Untuk membantu murid2 agar mendapat nilai baik, dia sering memberi pelajaran tambahan sore hari. Tapi dia tidak memaksa; kalau merasa sudah tahu, tidak usah datang, begitu aku kenang dia. Dia menyadari bahwa murid punya berbagai tingkat kemampuan.
Aku ingat, suatu hari, dia menerangkan cara menyelesaikan soal aljabar (atau ilmu ukur, ya? Lupa)… Dia menyelesaikannya dalam, katakan saja, 10 baris. Dia lalu tanya: “Siapa yang bisa menyelesaikan dengan cara lain?” …. Seorang murid yg pandai menjawab, bisa… Dan murid itu menyelesaikannya dalam 8 baris. Mungkin guru lain akan merasa terhina kalau kalah dibanding muridnya. Tidak. Dia tidak. Belakangan aku merenung, dia pegang prinsip yang benar; guru yang pandai harus menelurkan murid yang lebih pandai. Kalau lebih bodoh, bukankah dunia akan penuh orang bodoh? Prinsip sederhana, tapi utama, yang mungkin dilupakan beberapa guru.
Lalu, ketika menerangkan sesuatu di kelas, tuuut…. suara kentut, keras, jelas, dihembuskan oleh teman di belakang. Seluruh kelas jadi riuh. Tawa dan ejekan bersahut2an… Bruder hanya tersenyum, lalu bilang: “Jangan disalahkan. Kadang manusia itu tidak bisa menahan kentut.” Semua lalu diam. Sungguh kagum dengan kata2 itu. Memang kita pasti bisa menahan kentut? Tidak. Kadang bisa, kadang tidak. Suatu kebenaran yang benar dan bruder ini mengingatkannya. (pada kasus guru lain, bruder juga, dia marah2 luar biasa. Sifat manusia memang berbeda2.)
Damai, welas asih, penuh pengertian, pintar, rapi, itu yang kukenang dari Bruder Aloysius. Sayang aku tidak bisa menemuinya. Tapi 20 tahun lalu, sebelum beliau meninggal, aku menulis surat padanya, bilang “terima kasih atas bimbingan dan teladannya” yang tidak akan kulupa sampai mati. Aku yakin dia senang bahwa ada anak muridnya yang ingat padanya.
“Terima kasih, Bruder... Aku doakan, Tuhan, berikan Bruder Aloysius kedamaian di sisiMu… Jasanya sangat besar buatku...”
Edit: Setelah sekian tahun, akhirnya saya berhasil memperoleh foto bruder ini, lewat Bruder Michael. Terima kasih bruder...
Ini biarawan yang paling banyak membentuk kepribadianku. Aku sudah SMP, di Bintang Laut. Pada usia sekianlah manusia berusaha menemukan jati dirinya, dan lewat teladan Bruder Aloysius inilah aku menemukan diri sendiri.
Dia mengajar aljabar; sekarang “matematika”. Bruder Aloysius berperawakan kecil. Tapi terkesan rapi sekali. Sama sekali tidak ada kesan galak di wajahnya, tapi juga tidak sangat murah senyum seperti Romo Wakers yg aku ceritakan sebelum ini. Yang ada adalah kesan “damai”.
Dia selalu bepergian dengan sepeda, dalam jubah putihnya (waktu itu semua bruder dan pastor pakai jubah putih ke mana pun pergi). Semua dilakukannya dengan tenang, sabar.
Untuk membantu murid2 agar mendapat nilai baik, dia sering memberi pelajaran tambahan sore hari. Tapi dia tidak memaksa; kalau merasa sudah tahu, tidak usah datang, begitu aku kenang dia. Dia menyadari bahwa murid punya berbagai tingkat kemampuan.
Aku ingat, suatu hari, dia menerangkan cara menyelesaikan soal aljabar (atau ilmu ukur, ya? Lupa)… Dia menyelesaikannya dalam, katakan saja, 10 baris. Dia lalu tanya: “Siapa yang bisa menyelesaikan dengan cara lain?” …. Seorang murid yg pandai menjawab, bisa… Dan murid itu menyelesaikannya dalam 8 baris. Mungkin guru lain akan merasa terhina kalau kalah dibanding muridnya. Tidak. Dia tidak. Belakangan aku merenung, dia pegang prinsip yang benar; guru yang pandai harus menelurkan murid yang lebih pandai. Kalau lebih bodoh, bukankah dunia akan penuh orang bodoh? Prinsip sederhana, tapi utama, yang mungkin dilupakan beberapa guru.
Lalu, ketika menerangkan sesuatu di kelas, tuuut…. suara kentut, keras, jelas, dihembuskan oleh teman di belakang. Seluruh kelas jadi riuh. Tawa dan ejekan bersahut2an… Bruder hanya tersenyum, lalu bilang: “Jangan disalahkan. Kadang manusia itu tidak bisa menahan kentut.” Semua lalu diam. Sungguh kagum dengan kata2 itu. Memang kita pasti bisa menahan kentut? Tidak. Kadang bisa, kadang tidak. Suatu kebenaran yang benar dan bruder ini mengingatkannya. (pada kasus guru lain, bruder juga, dia marah2 luar biasa. Sifat manusia memang berbeda2.)
Damai, welas asih, penuh pengertian, pintar, rapi, itu yang kukenang dari Bruder Aloysius. Sayang aku tidak bisa menemuinya. Tapi 20 tahun lalu, sebelum beliau meninggal, aku menulis surat padanya, bilang “terima kasih atas bimbingan dan teladannya” yang tidak akan kulupa sampai mati. Aku yakin dia senang bahwa ada anak muridnya yang ingat padanya.
“Terima kasih, Bruder... Aku doakan, Tuhan, berikan Bruder Aloysius kedamaian di sisiMu… Jasanya sangat besar buatku...”
Edit: Setelah sekian tahun, akhirnya saya berhasil memperoleh foto bruder ini, lewat Bruder Michael. Terima kasih bruder...
Subscribe to:
Posts (Atom)



