Paus Fransiskus
mengutuk para pastor dan orang
awam yang mengubah paroki mereka jadi
"bisnis" dengan memungut bayaran untuk hal-hal seperti pembaptisan, berkat dan intensi
misa. Dia menyebutnya skandal yang
sulit dimaafkan.
…
Paus memusatkan homilinya pada Injil hari ini, injil Lukas di mana Yesus menjungkirbalikkan meja2 di dalam bait Allah dan mengusir orang-orang yang berjualan, mengatakan itu adalah tempat suci yang dimaksudkan untuk doa dan bukan untuk bisnis.
Sementara banyak orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa dengan baik dan mencari Tuhan, mereka dipaksa untuk membayar untuk membuat persembahan, Sri Paus menjelaskan…
…
Paus memusatkan homilinya pada Injil hari ini, injil Lukas di mana Yesus menjungkirbalikkan meja2 di dalam bait Allah dan mengusir orang-orang yang berjualan, mengatakan itu adalah tempat suci yang dimaksudkan untuk doa dan bukan untuk bisnis.
Sementara banyak orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa dengan baik dan mencari Tuhan, mereka dipaksa untuk membayar untuk membuat persembahan, Sri Paus menjelaskan…
"Saya memikirkan bagaimana sikap kita bisa membuat
skandal dengan kebiasaan yang
tidak imami di Bait Allah: skandal
melakukan bisnis, skandal keduniawian," kata Uskup Roma ini, yang mengamati berapa banyak paroki memiliki daftar harga yang tersedia untuk pembaptisan, berkat dan intensi misa.
Paus kemudian menceritakan kisah pasangan muda yang merupakan bagian dari sekelompok mahasiswa yang dipimpinnya tak lama setelah ditahbiskan. Ketika mereka memutuskan untuk menikah, mereka pergi ke paroki mereka untuk meminta upacara sipil dan misa sekaligus.
Ketika mereka bertanya, pasangan itu diberitahu bahwa mereka tidak bisa merayakan misa plus upacara pernikahan karena slot waktu yang terbatas hanya 20 menit untuk upacara; pasangan itu harus membayar untuk dua slot waktu untuk merayakan misa juga.
"Ini dosa, skandal," Paus menjelaskan, dan menyinggung bagian Alkitab dimana Yesus mengatakan kepada orang-orang yang menyebabkan skandal bahwa mereka "lebih baik dibuang ke laut."
Ketika orang-orang yang mengelola Bait Allah dan pelayanannya, termasuk pastor dan orang awam, menjadi pengusaha, "terjadi skandal. Dan kita bertanggung jawab untuk ini. Awam juga! Semua orang," lanjut Paus.
Mencegah skandal adalah tanggung jawab semua orang, kata dia, karena jika kita melihat mentalitas-bisnis ini terjadi di paroki kita, kita perlu memiliki keberanian untuk mengatakan sesuatu kepada para pastor.
"Terjadi skandal ketika Bait Allah, Rumah Allah, menjadi tempat bisnis, seperti dalam kasus yang pernikahan tadi: gereja sedang disewakan."
Paus Fransiskus mencatat bagaimana ketika Yesus membuat cambuk dan mulai mendorong orang keluar dari kuil itu bukan karena dia marah, tapi lebih karena ia penuh dengan murka Allah dan semangat untuk rumahNya.
Yesus, katanya, "mempersoalkan uang, karena penebusan itu gratis; itu hadiah gratis dari Allah, Dia datang untuk membawa kita hadiah yang mencakup segala kasih Allah."
Jadi, ketika sebuah gereja atau paroki mulai melakukan bisnis, itu seperti mengatakan bahwa keselamatan itu tidak gratis lagi, Sri Paus menjelaskan, itulah sebabnya Yesus mengambil cambuknya untuk memurnikan bait yang korup.
Paus kemudian menceritakan kisah pasangan muda yang merupakan bagian dari sekelompok mahasiswa yang dipimpinnya tak lama setelah ditahbiskan. Ketika mereka memutuskan untuk menikah, mereka pergi ke paroki mereka untuk meminta upacara sipil dan misa sekaligus.
Ketika mereka bertanya, pasangan itu diberitahu bahwa mereka tidak bisa merayakan misa plus upacara pernikahan karena slot waktu yang terbatas hanya 20 menit untuk upacara; pasangan itu harus membayar untuk dua slot waktu untuk merayakan misa juga.
"Ini dosa, skandal," Paus menjelaskan, dan menyinggung bagian Alkitab dimana Yesus mengatakan kepada orang-orang yang menyebabkan skandal bahwa mereka "lebih baik dibuang ke laut."
Ketika orang-orang yang mengelola Bait Allah dan pelayanannya, termasuk pastor dan orang awam, menjadi pengusaha, "terjadi skandal. Dan kita bertanggung jawab untuk ini. Awam juga! Semua orang," lanjut Paus.
Mencegah skandal adalah tanggung jawab semua orang, kata dia, karena jika kita melihat mentalitas-bisnis ini terjadi di paroki kita, kita perlu memiliki keberanian untuk mengatakan sesuatu kepada para pastor.
"Terjadi skandal ketika Bait Allah, Rumah Allah, menjadi tempat bisnis, seperti dalam kasus yang pernikahan tadi: gereja sedang disewakan."
Paus Fransiskus mencatat bagaimana ketika Yesus membuat cambuk dan mulai mendorong orang keluar dari kuil itu bukan karena dia marah, tapi lebih karena ia penuh dengan murka Allah dan semangat untuk rumahNya.
Yesus, katanya, "mempersoalkan uang, karena penebusan itu gratis; itu hadiah gratis dari Allah, Dia datang untuk membawa kita hadiah yang mencakup segala kasih Allah."
Jadi, ketika sebuah gereja atau paroki mulai melakukan bisnis, itu seperti mengatakan bahwa keselamatan itu tidak gratis lagi, Sri Paus menjelaskan, itulah sebabnya Yesus mengambil cambuknya untuk memurnikan bait yang korup.
Diskusi:
Lalu bagaimana dengan bayaran untuk koor, bunga, seminar, KKR, dll.?





