Sunday, June 25, 2017

Mengapa Paus Fransiskus tidak mengadakan reformasi radikal, spt menjual gedung gereja utk orang miskin?

Paus Fransiskus dan Oscar waktu masih di Argentina.



Mengapa Paus Fransiskus tidak mengadakan reformasi radikal, spt menjual gedung gereja utk org miskin?
========================

Paus Fransiskus sangat radikal, dan sangat konsisten. Sejak awal dia mendengungkan visi radikalnya "gereja miskin, utk org miskin", yg sangat saya dukung... Lalu saya bertanya2, pd suatu titik mengapa skg dia spt berhenti.?

Dlm diskusi, sebgn besar orang bilang, yg dimaksud paus adalah miskin dlm arti rohani. Tapi makin hari makin jelas, yg dimaksudkan adalah miskin harta. Dasar2nya ditulis pd ensiklik EG. Lalu dlm Twitter 2 minggu lalu ditulisnya: miskin harta, miskin sarana... Lalu spt saya post kemarin, paus bilang, "kredibilitas Injil ada dlm kesederhanaan dan kemiskinan gereja."  Saya artikan, kalau gereja tidak hidup secara sederhana dan miskin spt pesan Injil, semua yg kita katakan akan dianggap munafik oleh orang luar.

Tapi teman debat saya sering mengajukan "fakta2", buktinya Vatikan masih begitu megah, tidak sesuai dengan visi paus sendiri... Alasan Vatikan tidak dapat dijual, telah disampaikan oleh paus. Vatikan bukan milik gereja. Tapi bagaimana dengan gedung gereja2 lain? So, bagaimana?

Ternyata ada prinsip lain dr paus yg baru saya ketahui: mencegah pertumpahan darah.

Paus Fransiskus punya teman baik sejak SMA. Oscar Crespo. Dia pernah datang ke Vatikan, bicara panjang lebar dengan teman lamanya. Dan wartawan tidak menyia2kan kesempatan ini utk bertanya: apa yg dibicarakan mereka? Banyak hal yg tidak tepat ditulis di situ, tidak dapat dianggap "pernyataan resmi" dr paus. Tapi ada satu kalimat yg saya percaya itu benar: prinsip lain yg dipegang paus. 

Paus Fransiskus "tidak bermaksud untuk memaksakan reformasi radikal dengan mengorbankan kesatuan gereja." "Perubahan bisa dilakukan lewat waktu atau lewat darah, dan saya memilih kedamaian,"  kata Paus Fransiskus kepada Oscar. 

Jadi, mungkin itulah sebabnya mengapa paus sangat berhati2 dlm melakukan perubahannya. Supaya tidak terjadi perpecahan gereja. Tidak perlu "pertumpahan darah"... 

Krn itu, wujud sejati gereja miskin yg dicita2kan Paus Fransiskus mungkin baru akan terlihat bayang2nya 50- 100 tahun lagi, melihat kerasnya tentangan thd ide paus ini... Betapa pun lamanya, saya percaya, itu akan terwujud. Krn gereja tidak bisa terus menerus "tidak konsisten." ... Amin. 


** Teman saya pak @bono bilang ini hil yg mustahal krn gereja telanjur menikmati kekayaannya. Tapi semoga tidak demikian. 🙏 

Thursday, June 1, 2017

Paus Meminta Pengampunan untuk Kesalahan Gereja Selama Lebih dari 2.000 Tahun


** Terjemahan bebas dr artikel New York Times
----------------------------------------

Sambil mengatakan ''kami dengan rendah hati meminta pengampunan,'' Paus Yohanes Paulus II tahun 2000  menyampaikan permintaan maaf yang paling luas dibanding sebelumnya, menyesali kesalahan gereja selama 2.000 tahun terakhir.

''Kita tidak bisa tidak mengakui pengkhianatan  terhadap Injil yang dilakukan oleh beberapa saudara kita, terutama di milenium kedua," kata paus yg mengenakan jubah ungu untuk Prapaskah dalam homilinya. Mengakui penyimpangan masa lalu berguna untuk membangkitkan kembali hati nurani kita pd penyimpangan2 masa kini."

Tindakan pertobatan terbuka, yang dengan khidmat dijalin dalam liturgi Misa hari Minggu dalam Basilika Santo Petrus, merupakan momen yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Gereja Katolik Roma; tindakan ini tetap dilakukan oleh paus berusia 79 tahun yang sakitan ini meski ada keraguan di antara banyak kardinal dan uskupnya sendiri. 

Untuk menggarisbawahi pentingnya permintaan maaf ini, tujuh kardinal dan uskup hadir di hadapan paus dan mengutip beberapa penyimpangan utama Katolik, dulu dan sekarang, termasuk intoleransi agama dan ketidakadilan terhadap orang Yahudi, wanita, masyarakat adat, imigran, orang miskin dan bayi yang belum lahir.

Paus juga menyebut penganiayaan umat Katolik oleh agama lain. ''Selain kita meminta pengampunan atas dosa-dosa kita, kita juga mengampuni dosa-dosa yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita,'' katanya.

Pada awal masa kepausannya, tindakan Paus Yohanes Paulus II yang paling berani adalah di front politik, menghadapi komunisme di Uni Soviet, Eropa Timur dan Amerika Latin dan juga menantang pelanggaran hak asasi manusia dan ketidakadilan ekonomi kapitalisme. Tapi permintaan maaf, yang dikeluarkan pada masa senja kepausannya, secara teologis lebih berani.

Usahanya membersihkan hati nurani gerejanya selama milenium baru telah menimbulkan kecaman, namun hampir pasti akan menorehkan warisannya secara mendalam.

''Permintaan maaf ini tidak hanya berlaku untuk individu, tapi gereja secara keseluruhan, dan itu sangat penting," kata Pastor Lorenzo Albacete, yang mengajar teologi di Seminari St. Joseph di Yonkers. 

Paus juga mengakui bahwa para pengikut gereja telah ''melanggar hak-hak kelompok etnis dan menghina budaya dan tradisi keagamaan mereka.'' Dia menyesalkan perpecahan antara Katolik dan cabang-cabang kekristenan lainnya, dan juga diskriminasi terhadap perempuan. Mengingat jumlah dosa yang dilakukan selama 20 abad, pastinya (permintaan maaf) ini agak terlalu pendek, kata Uskup Piero Marini, yang bertanggung jawab atas upacara kepausan, mengatakan sebelum misa.

Perlunya orang Katolik memeriksa hati nurani kolektif mereka adalah sesuatu yang telah dipikirkan paus selama bertahun-tahun ini, dan dia mengemukakan alasannya untuk itu dalam sebuah surat apostolik tahun 1994 yang berjudul ''Kedatangan Milenium Ketiga.'' Dia juga membahasnya secara pribadi dalam pertemuan dengan kardinal2 utama, dan proposalnya cukup mengkhawatirkan sehingga mereka meminta agar implikasi teologis dan historisnya dipelajari dulu secara mendalam.

Hasilnya adalah sebuah risalah 31 halaman oleh Komisi Teologi Internasional, yang, dengan pengawasan Vatikan, menguraikan dasar teologis dan juga batas permintaan maaf.

Ditulis oleh sebuah komite dan dirilis awal bulan ini, dokumen tersebut membahas kekhawatiran bahwa permintaan maaf tersebut akan disalahpahami atau disalahgunakan oleh orang-orang yang 'memusuhi gereja'.  Ini juga mencerminkan kekhawatiran para teolog lainnya, yang harus bergumul dengan masalah-masalah kompleks seperti bagaimana gereja yang menganggap dirinya suci dapat mengakui kesalahan, dan apakah adil bagi gereja sekarang ini untuk mengutuk tindakan generasi sebelumnya yang dilakukan dengan niat baik meskipun keliru.

Dokumen tersebut menjelaskan bahwa gereja itu suci, namun ternoda oleh dosa anak-anaknya, dan membutuhkan 'pemurnian konstan'.  Ini menyiratkan, namun tidak secara langsung membahas, masalah yang sulit mengenai apakah para pemimpin gereja masa lalu juga keliru.

''Dokumen tersebut seharusnya menuliskan dalam tulisan tebal bahwa 'anak-anak gereja' itu mencakup paus, kardinal dan pastor, dan bukan hanya umat di bangku gereja,'' komentar Pastor Thomas Reeves, editor majalah Yesuit America.'' Paus memiliki gagasan bagus yg oleh beberapa orang di Vatikan dikaburkan dengan mesin kabut.''

Pada sebuah konferensi pers pekan lalu, Kardinal Joseph Ratzinger, yang memimpin Kongregasi Doktrin Iman Vatikan, membahas masalah mengapa gereja merasa siap untuk mengakui kesalahan saat ini, dan tidak pada masa-masa sebelumnya.

Dia mengatakan runtuhnya ateis, sistem totaliter menyebabkan gereja berada dalam situasi baru, bebas untuk kembali memikirkan dosa-dosa kita. 

Tetapi kesulitan bagi para ahli teologi dan sejarawan gereja untuk menentukan apa sebenarnya kesalahan yang pantas diketahui selama Perang Salib, Inkuisisi, perang suci, pembakaran kaum bidah dan pertobatan paksa orang Indian dan Afrika, membawa kita pd referensi yang lebih kabur tentang dosa-dosa yang dilakukan demi menyebarkan kebenaran.

Kardinal Ratzinger berdoa agar umat Katolik bisa sadar bahwa bahkan orang-orang di gereja atas nama iman dan moral, kadang-kadang menggunakan metode yang tidak sesuai dengan Injil.

Sumber: Pope Asks Forgiveness for Errors Of the Church Over 2,000 Years. https://mobile.nytimes.com/2000/03/13/world/pope-asks-forgiveness-for-errors-of-the-church-over-2000-years.html



Sunday, May 28, 2017

Bolehkah diadakan misa bagi orang Katolik yang bunuh diri?

Tahun 2014 lalu secara mengejutkan dan tragis seorang pastor di Ghana melakukan bunuh diri. Uskup Joseph Osei-Bonsu dari Ghana mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan ajaran Gereja Katolik tentang bunuh diri, termasuk pertanyaan apakah orang yang melakukan bunuh diri ditakdirkan untuk pergi ke neraka atau apakah orang tersebut dapat diberi penguburan gereja Katolik atau tidak. Berikut adalah pernyataannya:

Artikel ini berusaha untuk mempresentasikan ajaran Gereja Katolik tentang bunuh diri. Apa itu bunuh diri?

Bunuh diri adalah pembunuhan diri sendiri, tanpa paksaan, dan secara sengaja. Ini jangan dikacaukan dengan penyerahan diri suka rela dalam pengorbanan diri, seperti waktu membela orang yang diserang, atau memberikan perawatan kesehatan kepada orang sakit yang sangat menular, atau mempertahankan iman kita dalam penganiayaan. Dalam kasus ini, seseorang tidak menginginkan kematiannya namun menerimanya sebagai hasil yang tak terelakkan krn melakukan apa yang harus dilakukan demi keadilan, belas kasihan, atau iman.

Dalam perawatan kesehatan, menolak "cara pengobatan yang biasa" (misal infus cairan mknan) dianggap bunuh diri. Menolak cara "luar biasa" bukanlah bunuh diri namun lebih tepat dipahami dengan rendah hati menerima keterbatasan hakiki dari kondisi manusia dan membiarkan patologi yang fatal berjalan dengan sendirinya. "Bunuh diri dengan bantuan", konsep terkait dengan hal di atas, adalah membantu orang mengakhiri hidup sendiri dengan memberikan sarana dan pengetahuan tentang bagaimana melakukannya.

Sejumlah teori telah dikembangkan untuk menjelaskan penyebab bunuh diri. Teori psikologis menekankan faktor kepribadian dan emosional, sementara teori sosiologis menekankan pengaruh tekanan sosial dan budaya pada individu. Faktor sosial seperti hidup menjanda, tidak memiliki anak, tinggal di kota-kota besar, standar kehidupan yang tinggi, gangguan mental, dan penyakit fisik punya kaitan dengan tingkat bunuh diri. Di sini kita tidak bisa terlibat dalam diskusi tentang teori-teori ini, karena fokus utama artikel ini adalah ajaran Gereja Katolik berkaitan dengan bunuh diri.

Gereja Katolik menentang bunuh diri dengan berpegang pada prinsip kesucian hidup dan prinsip-prinsip kedaulatan Allah, penatalayanan manusia, dan larangan pembunuhan. Argumen religius mengklaim bahwa hidup telah diberikan kepada kita untuk digunakan dan berbuah, namun pada akhirnya menjadi milik Tuhan dan dengan demikian kita tidak berhak mengakhirinya ketika kita memilih demikian.

Konsekuensinya, kita harus sadar bahwa pelestarian hidup kita bukanlah sesuatu yang bersifat boleh-memilih (discretionary) tapi wajib. Kita harus memelihara dan menjaga kehidupan fisik dan spiritual kita. Dalam hubungan ini, Katekismus Gereja Katolik tahun 1997 menegaskan, "Setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya di hadapan Allah yang telah memberikannya kepadanya. Tuhan tetap Penguasa Kehidupan yang berdaulat. Kita berkewajiban untuk menerima hidup dengan syukur dan melestarikannya demi kehormatan dan keselamatan jiwa kita. Kita adalah penatalayan, bukan pemilik, dari kehidupan yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita. Kehidupan bukan milik kita untuk dibuang" (KGK # 2280).

Mengambil nyawa seseorang itu melanggar kedaulatan Allah atas kehidupan, menyerang martabat manusia, dan merupakan pelanggaran terhadap kasih yang sejati. Bunuh diri melanggar cinta sejati untuk diri sendiri dan tetangga -- keluarga, teman, tetangga, dan bahkan kenalan. Orang lain membutuhkan kita dan bergantung kepada kita dengan cara yang mungkin tidak kita ketahui. Seperti yang dikatakan Katekismus, "Bunuh Diri bertentangan dengan kecenderungan alami manusia untuk melestarikan dan mengabadikan hidupnya. Hal ini sangat bertentangan dengan kasih yg adil pd diri sendiri.  Hal itu juga melanggar kasih pd sesama karena secara tidak adil mematahkan ikatan solidaritas dengan keluarga, bangsa, dan masyarakat manusia lainnya yang dengannya kita terus memiliki kewajiban. Bunuh diri bertentangan dengan cinta akan Tuhan yang hidup" (KGK # 2281).

Bunuh diri secara tradisional dianggap sebagai tindakan moral yang salah, suatu dosa berat. Oleh karena itu, secara obyektif, bunuh diri adalah dosa berat. Namun, kita harus ingat bahwa agar dosa menjadi fatal dan mengorbankan keselamatan seseorang, tindakan objektif itu (dalam hal ini pengambilan nyawa seseorang) harus berat atau serius; orang tersebut harus memiliki cukup kecerdasan (tahu bahwa ini salah); Dan orang tersebut harus memberikan persetujuan penuh atas kehendak (berniat melakukan tindakan ini).

Dalam kasus bunuh diri, seseorang mungkin tidak memberikan persetujuan penuh atas kehendak tadi. Studi terbaru yang memperhatikan keadaan sosial dan pribadi seputar bunuh diri menunjukkan bahwa tindakan tersebut seringkali bukan tindakan sukarela, dan karena itu meski mereka keliru dan secara moral salah, mereka tidak selalu dapat disalahkan. Ketakutan, tekanan, ketidaktahuan, kebiasaan, gairah, dan masalah psikologis dapat menghalangi pelaksanaan kehendak sehingga seseorang mungkin tidak sepenuhnya bertanggung jawab atau bahkan tidak bertanggung jawab sama sekali atas sebuah tindakan. Jadi, sementara tindakan bunuh diri itu secara obyektif tidak bermoral, tingkat kesalahan untuk bunuh diri bergantung pada keadaan pikiran saat tindakan tersebut dilakukan.

Dalam hubungan ini, Katekismus menyatakan, "Gangguan psikologis yg berat, kesedihan mendalam, atau ketakutan luar biasa akan kesusahan, penderitaan, atau penyiksaan dapat mengurangi tanggung jawab seseorang yang melakukan bunuh diri" (KGK # 2282). Kualifikasi ini tidak membuat tindakan bunuh diri benar dalam keadaan apapun; Namun, hal itu membuat kita menyadari bahwa orang tersebut mungkin tidak benar-benar bersalah atas tindakan tersebut karena berbagai keadaan atau kondisi pribadi.

Seperti Gereja, masyarakat tradisional kita menganggap bunuh diri itu salah secara moral dan tidak dapat diterima. Di antara orang Akans, misalnya, itu dianggap sebagai kekejian. Hal ini dianggap sangat serius sehingga di masa lalu orang yang meninggal menjadi sasaran persidangan di pengadilan sebelum dimakamkan dan selalu dinyatakan bersalah. Anggapannya adalah bahwa dengan melakukan bunuh diri, orang tersebut berusaha melarikan diri dari beberapa kejahatan serius yang dia lakukan. Orang seperti itu dengan terburu-buru dimakamkan setelah "persidangan" tanpa penghormatan yg biasa diberikan kepada orang yang tidak meninggal karena bunuh diri.

Kita dapat membedakan perlakuan tradisional ini dengan bagaimana mereka diperlakukan oleh Gereja Katolik saat ini. Sementara Gereja menyatakan bahwa kematian dengan bunuh diri adalah dosa berat atau serius, Gereja tetap berdoa untuk orang-orang yang telah melakukan bunuh diri, karena mengetahui bahwa Kristus akan menghakimi almarhum dengan wajar dan adil. Gereja percaya bahwa hanya Tuhan yang bisa membaca kedalaman jiwa kita. Hanya Dia yang tahu betapa kita mengasihi Dia dan bagaimana kita bertanggung jawab atas tindakan kita. Pandangan Gereja adalah bahwa kita harus menyerahkan keputusan mengenai orang-orang yang bunuh diri itu kepada Tuhan. Gereja tetap mengajarkan bahwa ada neraka, yang dipahami sebagai pemisahan secara pasti dari kasih Tuhan, namun menyerahkannya kepada Tuhan untuk memutuskan siapa yang harus pergi ke sana. Katekismus, bagaimanapun, menawarkan kata-kata harapan besar: "Kita seharusnya tidak putus asa akan keselamatan abadi bagi orang-orang yang telah mengakhiri hidup mereka sendiri. Dengan cara yang dikenal olehNya saja, Tuhan dapat memberikan kesempatan untuk pertobatan yang bermanfaat. Gereja berdoa untuk orang-orang yang telah mengambil nyawanya sendiri" (KGK # 2283). Oleh karena itu, kami menawarkan Misa untuk ketenangan jiwa seorang korban bunuh diri, yang meminta kasih dan belas kasih yang lembut dari Tuhan, dan karunia penyembuhan-Nya bagi orang-orang tercinta yang berduka. Gereja juga berdoa untuk kerabat dekat almarhum, supaya sentuhan Tuhan yang penuh kasih dan penyembuhan akan menghibur mereka yang terkoyak akibat dampak bunuh diri.

Gereja mengajarkan melalui tindakan penyembahan publiknya yang dikenal sebagai liturgi, dan liturgi pada kesempatan seperti ini menekankan belas kasih Tuhan. Ada banyak pasal yang menekankan belas kasih Tuhan yang berlimpah. Kami hanya mengutip beberapa. Menurut Mazmur 103: 10-12, Tuhan "tidak melakukannya sesuai dengan dosa-dosa kita, atau membalas kita sesuai dengan kesalahan kita. Karena setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya terhadap orang-orang yang takut akan Dia; Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya daripada kita pelanggaran kita". Menurut Yesaya 1:18, "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."

Di masa lalu, orang sering ditolak upacara pemakaman atau dimakamkan di pemakaman Gereja. Namun, beberapa pertimbangan selalu diperhitungkan mengenai keadaan mental seseorang saat itu. Hukum Kanon tidak lagi secara khusus menyebutkan bunuh diri sebagai penghalang bagi upacara pemakaman atau pemakaman gereja. Kanon 1184 dari Kode Hukum Kanon hanya menyebutkan tiga kasus orang yang dapat ditolak utk upacara pemakaman atau pemakaman gereja: (i) seorang yg dikenal murtad (seseorang yang telah meninggalkan iman Kristen), seorang bidah (seseorang yang memegang atau mengajarkan doktrin yg bertentangan dengan ajaran Gereja) atau skismatik (seseorang yang telah memisahkan diri dari gereja); (ii) mereka yang meminta kremasi dengan tujuan yang bertentangan dengan iman Kristen; dan (iii) orang yg nyata2 berdosa yg kepadanya pemakaman Gereja tidak dapat diberikan tanpa menimbulkan skandal publik kepada umat beriman. Pembatasan ini hanya berlaku jika tidak ada pertanda pertobatan sebelum kematiannya.

Uskup setempat mempertimbangkan kasus-kasus yang meragukan dan dalam praktiknya pastor yang bijaksana harus selalu berkonsultasi dengan uskup sebelum menolak misa pemakaman bagi  orang yang meninggal. Kasus bunuh diri tertentu mungkin masuk ke dalam kasus ketiga - seorang pendosa yang nyata dan tidak bertobat - terutama jika bunuh diri terjadi setelah kejahatan berat lainnya seperti pembunuhan. Namun, dalam kebanyakan kasus, kemajuan yang dicapai dalam studi penyebab bunuh diri menunjukkan bahwa sebagian besar kasus merupakan akibat dari akumulasi faktor psikologis yang menghambat tindakan kehendak bebas dan deliberatif. Dengan demikian, kecenderungan umum adalah melihat tindakan ekstrem ini hampir selalu dihasilkan dari dampak keadaan mental yang tidak seimbang dan, sebagai akibatnya, tidak lagi dilarang mengadakan upacara pemakaman bagi seseorang yang telah melakukan bunuh diri, walaupun setiap kasus masih hrs dipelajari patut tidaknya. 

Rev.Joseph Osei-Bonsu,
Uskup Konongo-Mampong, Ghana.
(Sumber: The Catholic Standard, Ghana)


E-mail: engafrica@vatiradio.va



Sunday, May 21, 2017

Salah menafsirkan kitab suci

Laudato Si 67.

This is not a correct interpretation of the Bible as understood by the Church. Although it is true that we Christians have at times incorrectly interpreted the Scriptures, nowadays we must forcefully reject the notion that our being created in God’s image and given dominion over the earth justifies absolute domination over other creatures. The biblical texts are to be read in their context, with an appropriate hermeneutic, recognizing that they tell us to “till and keep” the garden of the world


Catatan2 penting: Protestan, Ortodoks

Jangan pernah menobatkan orang Ortodoks. Mereka saudara kita dlm Yesus Kristus.

http://m.vatican.va/content/francescomobile/en/speeches/2016/october/documents/papa-francesco_20161001_georgia-sacerdoti-religiosi.html

Saya tidak tertarik menobatkan orang2 Evangelical ke Katolik.

http://www.catholicherald.co.uk/issues/july-24th-2015/the-popes-great-evangelical-gamble/

Ecumenism

http://www.catholicworldreport.com/Item/5268/Ecumenism_Proselytism_and_the_Danger_of_Doctrinal_Ambiguity.aspx

Mempertobatkan, menginjilkan

https://www.catholicculture.org/commentary/otc.cfm?id=1419


How many times do we see evangelization as involving any number of strategies, tactics, maneuvers, techniques, as if we could convert people on the basis of our own arguments. Today the Lord says to us quite clearly: in the mentality of the Gospel, you do not convince people with arguments, strategies or tactics. You convince them by simply learning how to welcome them. (7/12/15, Homily)
http://w2.vatican.va/content/francesco/en/homilies/2015/documents/papa-francesco_20150712_paraguay-omelia-nu-guazu.html

Monday, April 17, 2017

Perdebatan tentang Maria dengan sdr2 Protestan.

To the non Catholics who post that Mary cannot save us, she cannot pray for us, she cannot intercede for us, where is she mentioned in the bible?  WHERE are you getting all of this from?  You're relying on your bible for everything and that is your problem.

She didn't die for our sins.  God didn't give us a book, he gave us his CHURCH! The bible came much later, and without the church instituted by God 2000+ years ago, you would have NO bible to read at all. All protestant churches are branches off of the Catholic church, where it all began.  All protestant churches were founded by flawed, mortal men who have taught their own version of scripture.  There are over 40,000 different protestant denominations all with different beliefs and teachings, while there is only ONE Catholic church, who's sacred traditions and teachings have remained the SAME without change for over 2000 years!  That should tell you something!

When you accuse Catholics of not following the bible and following the teachings of man, you're wrong, ALL of our teachings are from GOD.  The Catholic church wrote scripture, and WHAT man gave us these teachings?  Can you name him??  All of our teachings, sacred traditions, doctrines, ALL of it came from God himself. God didn't find any protestant church, he only found ONE church, the Catholic church.  The bible alone is a false teaching, this was not what God wanted, this is what Martin Luther taught.  The bible states that it is NOT sufficient alone.  To those who say we practice non biblical teachings, no we do not, but to the non Catholics, you do, every single day, it's called scripture alone.  Catholics follow the teachings of God, protestants follow the teachings of a man.

Mary CAN save us, and Mary CAN pray for us and Mary CAN intercede for us, this is WHY Jesus gave her to us from the cross.  She LEADS us directly to her son. They are INSEPARABLE!  Everything ... (Saya putus di sini)

========================
** Menyedihkan bhw orang Katolik yg terlihat dan terdengar pintar itu bukan pengikut Paus Fransiskus. Tidak ada kesan semangat Paus Fransiskus dlm tulisan di atas.

Paus menghendaki kita tidak berdebat dengan sdr2 kita ini, melainkan bekerja sama dlm karya kasih. Biarkan para ahli teologi di Vatikan yg berdiskusi dengan sdr2 kita dr gereja2 di luar Katolik. Tugas kita adalah menjalin persahabatan dan kerja sama. Amin.