Showing posts with label paroki. Show all posts
Showing posts with label paroki. Show all posts

Sunday, November 15, 2015

Kaul untuk Miskin

Mereka Pilih Miskin



Berbicara tentang gereja miskin, mau tak mau kita harus melihat orang2 yang pilih hidup miskin untuk gereja: para biarawan, romo, bruder dan suster.

Terima kasih kami sampaikan padamu semua karena telah mengabdikan diri untuk kita semua... Amiiiin.

*******************

Adakah romo, bruder, atau suster yang mengubah hidupmu? Yang memberimu pencerahan? Yang tak kan kau lupakan?  Ceritakan di sini....

******************
# Maaf, karena keterbatasan tempat, hanya 24 romo yang saya tampilkan...

Monday, November 2, 2015

Penampakan Maria atau Yesus: Bagaimana Menyikapi?

Kriteria Gereja untuk Konfirmasi Penampakan Maria 
Saduran dari Catholic News Agency, 8 Mei 2008.

Salvatore M. Perrella, pastor dan profesor teologi dan ahli Mariologi di Roma, menjelaskan kriteria yang digunakan oleh gereja untuk menentukan legitimasi penampakan Maria.

Dalam tulisan di L'Osservatore Romano, dia mengutip Pastor Yesuit Giandomenico Mucci untuk menjelaskan perbedaan antara visi/penglihatan dan penampakan. Yang pertama bersifat spiritual, sedangkan yang kedua bersifat fisik. Artinya, orang yg melihat mengalami pengalaman penampakan yang nyata dan masuk akal.

Proses gereja untuk memverifikasi penampakan Maria telah dibahas pada Konsili Lateran dan Konsili Trent. Saat ini "penegasan tentang kebenaran" dugaan penampakan "berada di tangan uskup atau Uskup Agung - dan belakangan pada Konferensi Uskup - serta pada Paus."


Setelah empat tahun melakukan kajian, "Kongregasi untuk Ajaran Iman" menyusun dokumen internal pada 25 Februari 1978, untuk digunakan oleh pihak yang berwenang dalam menilai kejadian supranatural.

Kongregasi menginstruksikan bahwa agar penyelidikan dapat dilakukan, harus dikumpulkan "informasi yang tepat" tentang berbagai aspek dari dugaan penampakan seperti kesaksian pertobatan, analisis teologis dari pesan penampakan, hasil pemeriksaan medis dan psikologis dari orang yang mengalami penampakan atau penglihatan itu, termasuk tingkat pendidikannya, pemeriksaan kehidupan spiritualnya, tingkat persekutuan dengan Gereja, mukjizat penyembuhan dan kejadian mukjizat, dan faktor lainnya.

Setelah memeriksa rinci peristiwa2 yang berkaitan dengan penampakan, Perrella mengatakan, Gereja telah mengakui total 11 penampakan dari 295 yang telah dipelajari - dan sekarang 12, dengan diakuinya penampakan Bunda Maria Laus, yang disetujui pada 4 Mei 2008.

=================
Catatan: Jelas bahwa selama 2000 tahun ini, tidak banyak penampakan yang diakui resmi oleh gereja. Karena itu, bila di group BB atau WA ada berita tentang "penampakan Maria atau Yesus" (yang sekarang sering beredar di internet) ada baiknya kita mengingat hal di atas: Sedikit sekali yang diakui resmi gereja.

Sunday, November 1, 2015

Kemiskinan - kata yang tidak nyaman (kata Paus)

Kardinal Jaime Ortega Alamino dari Havana memperkenalkan umatnya pd Paus, dan berkata, "Gereja di Kuba adalah gereja miskin," ... Menanggapi ini, Paus berkata, kardinal "menggunakan kata yang tidak nyaman: kemiskinan. Semangat dunia (skg ini-Red) tidak mengenal kata itu, tidak mencarinya, dan menyembunyikannya."

Kemiskinan, kata dia, bisa menjadi kekayaan terbesar seseorang, tetapi mencari kekayaan dapat juga menghancurkan kehidupan seseorang.

Mengutip pendiri Jesuit, St Ignatius Loyola, Paus mengatakan dia menemukan kebijaksanaan dalam ajaran St Ignatius bahwa kemiskinan "adalah dinding dan ibu" dari hidup suci.

"Cintailah kemiskinan spt kamu mencintai ibumu," katanya.


* Catatan: Selama ini banyak orang Katolik yang bingung dengan kata2 Paus tentang kemiskinan. "Betapa aku merindukan gereja miskin, untuk orang miskin". Banyak sekali yang menerjemahkannya (memelesetkan) menjadi "berjiwa miskin" seperti dalam Kotbah di Bukit. Tentu itu bagus saja; itu kalimat Yesus sendiri. Tapi kalau melihat konteksnya, serta rangkaian kata2 Paus, jelas paus meminta gereja menjadi miskin secara duniawi. Secara fisik... Dan merangkul orang miskin. Paus sadar sekali banyak umat yang tidak merasa "nyaman" dengan kata miskin. Maka dia ulangi dan ulangi lagi.


Diskusi
IMA: Sorry mau tanya, apa bnr Pope Francis tdk menghendaki / tdk memperbolehkan kita utk menjd kaya secara jasmani..? Kl memang bnr bgtu, aku kok krg setuju ya, krn apa jdnya dunia ini kl semua org di dunia ini miskin smuanya?? Bgmn mungkin kita bs membantu sesama kita yang membutuhkan bantuan secara materi, kl kitanya sdiri jg miskin n perlu bantuan..? :) :).„dan bgmn mungkin kehidupan di dunia ini akan menjd maju n berkembang, kota2 bs menjd bgs n indah gemerlapan kl smua penduduknya miskin adanya? Dan bgmn mungkin jg dunia kedokteran n kesehatan akan menjd lbh maju dgn kemiskinan? Apakah manusia bs menjd lbh pintar dgn kemiskinan? Dan apakah Tuhan kita bnr tdk menghendaki umatnya menjd kaya?
Apakah menjd kaya itu adalah suatu dosa? Kl menurutku sih gak ada slhnya org menjd kaya secara jasmani, asalkan dia mendptkan kekayaannya dgn cara yang bnr, n dia bs menggunakan kekayaan yg dimilikinya dgn cara yg bnr n bijaksana, bukan hanya utk kesenangannya sdiri n keluarganya, tp jg utk kebaikan sesama n smua makluk hidup yg ada di dunia ini, n trutama utk kemuliaan Tuhan. Bukankah Tuhan menghendaki umatnya utk saling tolong menolong ? Yg kaya menolong yg miskin? :))
TK : Hebat,,, keren bnget ulasannya n sangat setuju, bahkan Tuhan Yesus sendiri pun tdk miskin, bukti  nya pny kasir yaitu Yudas, kalau sama rata miskin itu paham komunis, sdng kn kenyataannya yg memakai paham komunis itupun para pemimpinnya tetap kaya malah berfoya2, yg miskin hny rakyatnya aja
IMA: Kita smua tahu bhw miskin itu tdk jauh dr penderitaan, lalu apakah bnr bhw Tuhan itu menginginkan manusia utk menderita trs seumur hdpnya? Bukankah Tuhan menginginkan kita smua utk hdp bahagia sejahtera jasmani n rohani, slmt dunia n akhirat ? Dgn catatan asalkan kita mau sll ingat kpd Tuhan n mau menjlnkan perintahNya. Jd aku rasa gak ada yg slh dgn menjd 'kaya', yg penting semangatnya/ jiwanya yg sederhana / bersahaja, artinya walaupun kaya tp ttp sederhana hdpnya, tdk trlalu ber foya2, n mau sll ingat pd sesamanya yg kekurangan n membutuhkan bantuan. Krn utk itulah kita hidup, saling mengasihi n saling berbagi / saling memberi.
IMA: "Kemiskinan, kata dia, bisa menjadi kekayaan terbesar seseorang, tetapi mencari kekayaan dapat juga menghancurkan kehidupan seseorang.". Kl menurutku mungkin itu artinya walaupun kita miskin, tp berjiwa 'kaya', n tetap bs menjlni hidup dgn cara yg baik n bermartabat, n sll ingat kpd Tuhan n menjlnkan sgala perintaahNya, mk hidupnya akan diberkati Tuhan n akan mendptkan kebahagiaan surgawi/ keselamatan yg kekal. Sdgkan org yg mencari kekayaan dgn cara yg tidak bnr (korupsi, serakah dll), n menggunakan kekayaannya dg se-mena2 n tidak brtg jwb, mk dia akan hancur oleh kekayaannya / ketamakannya. Sorry kl slh...
EN: "Apa bener Paus Fransiskus tdk menghendaki /tdk memperbolehkan kita utk menjadi kaya secara jasmani..?" Tinggal baca aja, tertulis begitu atau tdk..  Paus tidak pernah berkata begitu.
Paus melihatnya dari sudut pandang keadaan kota tempat tinggalnya, ibukota Argentina, yang seperti Jakarta, penuh dengan kemewahan tapi terbalut oleh kemiskinan. Sebagian (kecil) kaya raya, sisanya, mayoritas, miskin. Kalau Paus hidup di pedalaman Papua atau Kalimantan, atau di ujung Gunung Semeru, di tengah gereja yang semua miskin, mungkin perkataannya akan berbeda. Paus ingin gereja miskin sebagai solidaritas, ikut bela rasa pada orang miskin. Supaya mereka tidak tersingkir dari gereja...

=====================
** Semoga semangat Paus Fransiskus hidup di hati kita. Apakah kita telah mencari mereka? Atau menyembunyikannya, seolah2 tidak ada, seperti kata Paus?

=====================

Wednesday, October 28, 2015

Dua Uskup Agung baru, pembela orang miskin



Paus Fransiskus bikin kejutan lagi. Dia menunjuk dua uskup agung baru yang memiliki "bau domba."

Yg satu, Matteo Zuppi, seblm ini uskup pembantu di Roma; yg lain, Corrado Lorefice, 53 th, seblm ini cuma pastor paroki di Keuskupan Noto di Sisilia.

Kedua uskup baru ini rohaniawan sederhana, dikenal krn banyak bekerja untuk orang miskin, org yg terbuang dan dalam kesulitan (Zuppi) dan mereka yang terjebak dalam prostitusi dan migran (Lorefice).

Zuppi, 59, dikenal sangat ramah dan baik. Dia dicintai oleh orang-orang miskin, orang buangan, kaum gipsi, dan orang-orang tua yang telantar; ia menghabiskan hidupnya melayani mereka.

Pengangkatan ini meneguhkan visi Paus, gereja untuk orang miskin. Dulu orang yang kurang setuju dgn paus memelesetkan visi itu dengan "berjiwa miskin" (tidak salah sih). Tapi makin lama paus makin jelas menunjuk ke kemiskinan dunia ini. Orang miskin, kere.... Itulah yang perlu dirangkul gereja... Sudahkah itu menjadi pedoman gereja di paroki Anda ?

Edit: artikel semula menyebut "kardinal". Salah baca..

Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (2)

Lanjutan dari   Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen


  • Tidak boleh istirahat di hari Minggu: Dalam Katekismus Katolik, dalam Kesepuluh perintah Allah ada perintah "Kuduskanlah Hari Tuhan"... Mungkin karena terlalu pendek, banyak orang Katolik mengartikan, hanya orang Kristen yang harus beristirahat pada hari ketujuh, yang sekarang disebut hari Minggu. Orang lain, pembantu di rumah, yang bukan Kristen, kan tidak terikat oleh hukum itu? Benar? Salah...

    Perintah aslinya, yang berasal dari Kitab Keluaran 20:10, mengatakan:
    "tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu."
    Nah, hewan pun tidak diperkenankan untuk bekerja terus menerus, apalagi manusia. Harus ada istirahat. (Mungkin pada perbaikan naskah katekismus yang akan datang, kalimat ini perlu dicantumkan lagi dan tidak terlalu pendek. Mohon Bapa Uskup mengusulkan ke Vatikan.)

    Negara-negara Barat banyak yang punya hukum untuk melindungi pekerja kecil seperti PRT ini. Singapura juga. Ada LSM yang mendorong pemerintah untuk melindungi PRT. Maka akhirnya dibuatlah peraturan bahwa semua PRT di Singapura harus diberi istirahat satu hari seminggu. Sayangnya, kalau tidak salah, ada klausula, pada hari istirahat itu PRT boleh tidak beristirahat kalau ada kompensasi uang. Apa arti uang bagi orang Singapura yang rata2 sangat kaya itu? Mereka negara terkaya ketiga di dunia (dari rata2 kekayaan penduduk). Dengan mudah mereka akan kasih uang, dan PRT tetap "dipenjara" di rumah dengan legal tanpa melawan hukum.

    Tadi aku sebut lembaga2 sosial, LSM, di Singapura yang mengusahakan perbaikan nasib para PRT di Singapura. Apakah itu LSM Katolik? Bukan. Adakah yang menulis beberapa di antaranya mewakili umat Katolik? Tidak... Aduh, sedih... ke mana saja saudara2ku orang Katolik Singapura itu? Apakah mereka tidak ada waktu karena sedang berdoa atau berkotbah tentang cinta kasih?  Gereja sebagai gereja, tidak boleh ikut politik. Tapi sebagai individu, orang Katolik perlu ikut memperjuangkan. Dan perlu berkata saya memperjuangkan karena saya Katolik. Inilah salah satu bentuk penginjilan (evangelisasi) yang diharapkan Paus Fransiskus. "Aku Katolik. Aku membela orang yang miskin dan menderita."

    Aku tidak tinggal di sana, jadi tidak tahu tepat apa yang terjadi. Tapi minimal dari berita koran Straits Times, tidak ada kata "katolik" yang tersisip dalam ulasan2 tentang PRT di sana (karena dulu tinggal di Batam, aku sangat sering ke Singapura, kadang tiap minggu). Dari artikel yang ada, tahun 1987 ada LSM yang aktif membela PRT. Tidak banyak jumlah orangnya; kalau tidak salah cuma 22 orang. Tapi tercatat di situ, dan aku bangga, bahwa sebagian dari mereka mengaku bergerak karena mereka Katolik. Karena pemerintah saat itu sedang sangat keras, mereka ditangkap. bahkan dituduh komunis. Ditahan tidak lama. Tapi tak lama kemudian LSM itu bubar... dan kata "Katolik" tidak tersisip lagi di koran, sampai sekarang (untuk urusan itu).

    Entah bagaimana gerakan umat Katolik di sana saat ini. Juga entah apakah pastor di sana sering mengingatkan umatnya soal ini dalam homili.
  • Di Indonesia sendiri, dalam 10 tahun ini rasanya aku tidak mendengar ada gerakan umat Katolik untuk membela PRT. Entah ada atau tidak ulasan tentang ini (dan cukup sering kah) di majalah Hidup. Juga 10 tahun ini dalam homili aku tidak mendengar kata PRT kecuali saat perayaan Natal atau Paskah 2 - 3 tahun lalu, di mana Pastor Eddy meminta kita menyayangi orang kecil, termasuk pembantu di rumah kita. Aku sangat menghargai itu... Umat perlu bergerak, tapi pastor bisa berpengaruh besar sekali kalau mau menekankan masalah ini berkali-kali dalam homili. Kristus sering sekali kita temui, dalam bentuk pembantu di rumah, office boy di kantor, satpam di lingkungan rumah (atau gereja), penjaja makanan kecil yang lewat di depan rumah, dst.

    Maaf, aku tahu tulisan ini mungkin akan membuat tidak senang sebagian orang, juga saudara2, anak2, menantuku, serta teman2 semua, khususnya ibu2 rumah tangga. Tapi aku harus mengatakan yang seharusnya. 
 Lanjutan: Pembantu Rumah Tangga ... (3)

Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (1)

Lanjutan dari  Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen
(Klik untuk baca)

 
Kisah sedih tentang pembantu rumah tangga (PRT) sering terdengar: yang dianiaya sampai cacat, yang dihukum mati, dihukum penjara karena menganiaya majikan atau anak majikan, dst. Kisah mengenaskan sebagai subyek. ataupun obyek. Di luar negeri, maupun dalam negeri.

PRT juga yang, dalam bentuk lebih ringan, kadang diperlakukan mirip budak belian pada masa kini, di sini, oleh sebagian orang Katolik. Begini:


  • Tidak boleh keluar rumah sendiri: Mungkin ada sebagian majikan Katolik yang aktif sekali di gereja, aktif berdoa, rajin pelayanan, daaan .... menerapkan peraturan ini. "Kalau dibiarkan keluar sendirian, nanti dia ke tetangga dan diambil oleh tetangga; saya jadi repot." Begitu alasannya... Tega ya! Demi kepentingan pribadi, kita bikin sengsara sesama manusia, mengambil hak asasinya yang sangat dasar, kebebasan. Atau mungkin majikan Katolik itu berpikir, PRT ini gembira tidak keluar rumah? Bukankah seluruh rumah adem, ada AC, banyak pesawat TV? Semua tersedia buat PRT, kecuali satu, kekebasan. (mirip penjara model baru yang sedang dirintis di Eropa?)

    Apakah kita mengetahui ada kasus ini di lingkungan paroki kita? Tidak tahu? Mungkin perlu bertanya2. Terbuka saja. Siapa tahu ada.. Kalau tahu ada, adakah umat atau salah satu kelompok kategorial, yang giat mengingatkan, itu tidak sesuai dengan jiwa Kristen kita? Kalau Yesus hidup pada masa sekarang, mungkin dia akan menambahkan sabdaNya dalam Matius 25:41 "... enyahlah ke dalam api yang kekal... Sebab ketika aku kesepian, kau mengungkung Aku di rumah.".... Aduh Gusti...

    Aku menyayangi kamu semua sebagai saudaraku, sesama umat Katolik. Jangan sampai itu terjadi padamu. Maka sekali lagi aku mengingatkanmu di sini, lewat tulisan ini. Aku telah berbuat; aku menulis ini; Semoga teman2 di paroki masing2 ikut berbuat, membela kaum tertindas ini. Jangan sampai kejadian budak disiksa itu dibiarkan selama 200 tahun lagi oleh kita semua, gereja, dengan menutup mata. Minimal, buka suara lah...

    Aku mengasihi kamu semua. Menyadari sulitnya hidup tanpa pembantu di dalam rumah. Sungguh berat... Susah... Tapi aku juga mau mengingatkan, ingat sabda Yesus. Apa yg kamu lakukan pada saudara kita yang paling kecil ini, kamu telah melakukannya pada Tuhan Yesus (Matius 25:32-42).
Baca lanjutan : Pembantu Rumah Tangga ... (2)

Saturday, September 26, 2015

Makan Bersama Para Gelandangan, dan Misi Suci Paus Fransiskus


New York Times, 24 Sep 2015
WASHINGTON - Para penghuni panti jompo Harriet Tubman ini bangun pukul 3 pagi Kamis, agar semua orang ada waktu untuk mandi, merapikan rambut dan mengenakan pakaian terbaik mereka setelah bertahun-tahun menggelandang, keluar masuk panti, digusur, dipukuli, dan dipecat dr pekerjaan.

Mereka akan makan siang dengan Paus Fransiskus.

Menjelang tengah hari, para wanita itu duduk di tengah ruang yang tampaknya seperti resepsi pernikahan: hamparan meja bundar terbungkus taplak meja biru muda, dimahkotai dengan vas bunga kuning dan oranye.

Jangan pedulikan bahwa meja2 itu berada di bawah tenda di jalanan pinggir kota, dan bahwa sebagian besar dari 300 tamu itu gelandangan, kriminal, sakit jiwa, korban kekerasan dalam rumah tangga, penyalahguna narkoba atau sejenisnya. Pada tengah hari, Paus Fransiskus muncul, seperti yang dijanjikan.

Pada kunjungan enam hari ke Amerika Serikat ini, Fransiskus memperhatikan peringatan yang dibisikkan kepadanya oleh seorang kardinal Brasil beberapa saat sebelum dia dinyatakan terpilih sebagai Paus: "Jangan lupa kaum miskin"

Setelah berpidato di depan Kongres, paus langsung pergi ke para gelandangan di panti werda Katolik - jadwal yang dirancang untuk memberi pesan bahwa prioritasnya, dan prioritas gereja, adalah orang-orang yang terpinggirkan.

Di setiap kota yg dikunjunginya dalam perjalanan ini, paus menggunakan status selebritasnya untuk memaksa kamera untuk menunjukkan pada bangsa ini gambar yang bagi banyak orang mungkin lebih baik tidak dilihat: Di Washington, ia bertemu para gelandangan, dan di New York ia berencana mengunjungi para imigran . Di Philadelphia, ia akan pergi ke penjara. Sebagai pastor pengajar utama dari gereja, ia bertekat memperjelas bahwa ia punya dua tujuan: membawa harapan dan semangat hidup untuk mereka yang menderita, dan menggerakkan mereka yg hidup nyaman untuk melakukan sesuatu bagi mereka yang membutuhkan.

"Dengan kunjungan ini, Paus berkata, kamu perlu memikirkan orang miskin," kata Mgr. John J. Enzler dari Keuskupan Agung Washington, sementara ia menunggu paus tiba Kamis itu. "Kamu tidak bisa hanya pergi ke gereja dan berkata, saya sudah melakukan tugas saya. Dia berkata, 'Pergi ke pojok2, pergi ke pinggiran,' " kata Monsignor Enzler. "Dia mengatakan kepada semua orang, 'Keluarlah ke jalan-jalan, biarpun kotor, dan jadikan sebuah gereja di jalanan.'"

Tapi, demi Fransiskus, itu semua perlu perencanaan yang cermat. Bagi para pria dan wanita tunawisma di perjamuan yang diselenggarakan oleh badan amal Katolik itu, hari itu dimulai dengan berbaris panjang, lebih dari satu blok perumahan, untuk melalui screening Secret Service.

Edward Gray, dengan topi lebar dan kacamata, sedang menunggu di barisan. Dia dan banyak dari orang yang menghadiri makan siang itu tinggal di tempat yang disebut "801," singkatan untuk alamat penampungan tunawisma itu. Tidak seperti banyak dari mereka yang sedang berbaris itu, Gray beragama Katolik.

Gray mengatakan ia pernah bertemu paus sebelum itu: Ketika ia jadi putra altar di Washington, ia pergi dengan rombongan ke Roma dan bertemu Paus Pius XII. Dia cerita, dia tidak selalu tunawisma. Dia pernah bekerja sebagai kontraktor di Capitol Hill, dan jadi tukang potong rambut dan guru tata rias. Gray, 69 tahun, bilang ia punya enam anak, lima di antaranya lulusan perguruan tinggi, dan terdengar sentuhan skeptis tentang paus ini.

"Dia datang ke sini untuk menemui para gelandangan?" Kata Gray. "Sangat aneh, raja kok menemui gelandangan."

Paus Benediktus XVI dan Paus Yohanes Paulus II pernah mengunjungi Washington, tapi tidak menemui para klien panti Katolik ini, kata Monsignor Enzler. "Ketika paus lain datang, itu lebih untuk para uskup dan para pemimpin negara kita," katanya, atau untuk merayakan Misa Agung untuk umat seperti yang dilakukan Benediktus delapan tahun lalu di Stadion National.

Bagaimanapun, Fransiskus berhasil menginspirasi panitia untuk mengadakan pesta meriah ini yang meski darurat terkesan mewah. Relawan menyajikan piring dengan teriyaki dada ayam, pasta salad Asia dengan kacang polong dan wortel, lebih dari satu jam sebelum kedatangan Paus. Para tamu diberitahu untuk tidak makan sampai paus tiba dan memberi berkat, dan mereka memang tidak makan duluan.

Di meja, beberapa tamu bersosialisasi, dan saling berfoto ria dengan ponsel mereka, beberapa orang duduk diam dan sebagian tertidur. Beberapa pria mengenakan jas; yang lain celana jeans. Seorang wanita terlihat dengan kuku yang dicat kuning yang cocok dengan bunga di atas meja.

Sementara kamera-kamera televisi dan para wartawan sibuk bergerombol, Ms. Hilliard, mantan karyawati department store, mengatakan, dia yakin akan ketulusan Paus dan bahwa ini "bukan pencitraan."

"Paus benar peduli," katanya, "dan itulah yang penting."

Paus tiba sesaat sebelum tengah hari, tapi sebelum itu dia menyelinap ke gereja di dekat situ, St Patrick, di mana ia berbicara kepada sekitar 250 gelandangan tentang masalah tunawisma. Meskipun ia baru saja menyampaikan pidato di Capitol Hill, di St. Patrick ia tidak berbicara mengenai program politik untuk mengatasi tunawisma atau kemiskinan. Untuk mereka yang telah jatuh miskin ini, ia menawarkan iman, solidaritas dan doa.

"Dalam menghadapi situasi yang tidak adil dan menyakitkan ini, iman membawa kita cahaya yang menerangi kegelapan," katanya. "Iman membuat kita terbuka untuk keheningan kehadiran Allah di setiap saat dalam hidup kita, dalam setiap orang dan dalam setiap situasi. Allah hadir dalam Anda semua, pada kita masing-masing."

Beberapa menit kemudian Fransiskus keluar dari pintu gereja disambut dengan sorak-sorai dan tepuk tangan dari para tamu makan siang itu. Dia memberi berkat singkat, lalu berkata "Buen apetito (selamat makan)," yang disambut dengan tawa riuh. Dia sendiri tidak makan, tapi ia berjalan dari meja ke meja, berhenti untuk meletakkan tangannya ke atas kepala anak-anak yang diam berjam-jam menunggu, mewarnai gambar paus yang diberi ke mereka dengan krayon.

Sambil tersenyum dan tampak tidak tergesa-gesa, paus bergerak di antara para tunawisma itu, beberapa orang mengambil selfi dan mengulurkan tangan untuk menyentuh paus dan berbicara dengannya.


"Saya bilang kepadanya semoga tetap diberkati Tuhan dan tidak stres," kata Mark Perrez, 54 tahun, yang mengatakan Paus memegang tangannya dan dengan terkejut menunjuk koleksi eklektik pin yang dikenakan Perrez di seluruh bagian depan blazer dan topi bisbolnya.

Sementara paus naik ke Fiat kecil hitam sebagai "limousinnya", Peter Atkinson berdiri di pinggiran kerumunan, mensyukuri apa yang dia katakan baginya, sebagai seorang Katolik, "momen kasih karunia." Atkinson, 54, seorang insinyur dengan jaket hitam tajam, yang berbahasa Inggris dengan aksen Prancis, sekarang tinggal di salah satu panti Katolik. Ia bercerita, ia jatuh akibat narkoba dan alkohol.

"Saya tidak akan dapat ikut seperti saat ini bertemu paus jika saya tidak jatuh menjadi sampah dalam hidup saya, yang membawa saya ke panti," kata Atkinson. "Jika saya tidak bisa membaca tanda-tanda zaman ini, saya pasti buta."


========================

Renungan : Bagaimana seandainya sebelum mengambil putusan pada setiap rapat, setiap kegiatan paroki, setiap wisata rohani, setiap pembangunan gereja, setiap sekolah, setiap kegiatan rumah sakit, selalu ada pertanyaan, "Apa ini berguna, dan cocok untuk saudara2 kita yang termiskin?" Karena "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"... Tapi Paus sadar dan bilang, penggunaan kata "miskin" sering membuat banyak orang tidak nyaman...

Tuesday, August 13, 2013

Pakailah sepatu kalau ke gereja

Tahun lalu saya membaca poster besar di gereja. Kalau tidak salah dari Seksi Lingkungan. Isinya: pakailah sepatu kalau ke gereja. Jangan pakai sandal. Masak kamu tidak menghormati Tuhan. Gereja adalah rumah Tuhan... Begitu kira2...

Ini bukan pertama kali saya mendengar kritik soal tata cara berbusana ini. Saya selalu menentang. Tidak pada tempatnya gereja, suatu institusi rohani (dulu saya berpendapat begitu), mengatur soal tata cara duniawi ini. Masalahnya, saya sendiri suka memakai sandal :) ...

Lalu, terjadilah pembicaraan berikut:

+ : Masak kamu tidak menghargai rumah Tuhan, memakai sandal ke gereja.
- : Tuhan Yesus sendiri kemana2 selalu memakai sandal. Saya cuma meniru Yesus. Apakah dia tidak boleh masuk ke gereja ini ?

+ : Bedalah. Itu kan zaman dulu. Kalau sekarang, Yesus tentu memakai sepatu.
- :  Kok tahu? Bagaimana bisa yakin bahwa Yesus akan menjelma sebagai orang Jakarta, dan bukan orang di hutan Mentawai yang tidak bersepatu dan hanya memakai cawat?


+ : Pokoknya anggap saja Yesus menjadi orang Jakarta.
- : Bagaimana kalau Yesus tidak punya uang untuk beli sepatu? Masih banyak orang Jakarta yang susah untuk beli sepatu, lho.

+ : Intinya begini. Kalau ke gereja, orang Kristen harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kalau kamu ke Jakarta, sesuaikan diri; pakailah pakaian Jakarta. Sesuaikan diri dengan mayoritas.
- : Kamu serius dengan pendapat itu?
+ : Tentu saja serius.
- : Kalau demikian, kalau kita diajak ke Papua yg umatnya masih pakai koteka, kita harus menyesuaikan diri dengan mereka ?

+ :  Ah, ada2 saja. Mereka kan masih terbelakang.
- : Mungkin ada baiknya kita tidak menyombongkan diri?

+ : Pokoknya menurut saya, pakai sepatu itu pantas untuk Tuhan.
- : Pantas itu relatif. Santo Fransiskus Asisi membuang pakaian mewah dan sepatunya 800 tahun lalu, dan memakai pakaian rombeng dan sandal (mula2 telanjang kaki); juga waktu dia bertemu dengan paus. Gandhi juga membuang jas dan pakaian ala baratnya, memakai sehelai kain tenun India plus sandal. Presiden Vietnam, Ho Chi Min, hanya memakai sandal jepit ketika 54 tahun lalu, tahun 1959, datang ke Istana Merdeka bertemu Soekarno. Mereka tidak dianggap menghina, malah dipuji2 karena berani mewakili rakyat miskin.

+ : Susahlah, kalau berdebat begini. Yang jelas SAYA SUKA PAKAI SEPATU.
- : Tepat... Itulah jawabnya. "Saya suka". Cuma mungkin kita perlu membiarkan orang lain dengan kesukaannya.
- :  Ada tambahan: di Singapura (mungkin juga di tempat lain? ), banyak pria memakai sepatu, tapi bercelana pendek kalau ke gereja. Mana yang lebih pantas ya, bercelana pendek, atau memakai sandal?

Buat saya pribadi, semakin sedikit gereja mengurus tata cara duniawi, akan semakin sedikit kesalahan yg dilakukannya. Dan kalau kita ingin berpihak pada orang miskin seperti diminta Bapa Suci, akan lebih baik kalau kita menyesuaikan diri dengan mereka... Semoga ada kesesuaian pendapat di antara kita.

----------------


Monday, August 12, 2013

Paus Fransiskus (6) : Bahasa yang sederhana

Ketika di Brasil, 27 Juli 2013, paus bertemu dengan para uskup Brasil. Dia pertama2 berbicara tentang mukjizat Aparecida, penemuan patung Bunda Maria oleh sekelompok nelayan miskin. Yang menemukan bukan profesor arkeologi dari University of Chicago di AS, tapi nelayan yang miskin, dan mungkin sekali bodoh, tak berpendidikan. Paus mencatat bahwa Tuhan selalu datang dengan pakaian yang sederhana, pakaian wong cilik. Dia menambahkan :
"Kadang kala, kita kehilangan orang karena mereka tidak memahani apa yang kita katakan, karena kita telah lupa bahasa yang sederhana dan mengimpor intelektualisme yang asing bagi masyarakat kita."
(At times we lose people because they don’t understand what we are saying, because we have forgotten the language of simplicity and import an intellectualism foreign to our people.)
Mungkin ada maksud lain dalam ucapan Paus selain apa yang tersurat di sini; entahlah. Tapi, kalimat yang tertulis di situ menyentuh unek-unek yang telah lama saya pendam. Mengapa surat2 resmi lain dari gereja, surat gembala, visi dan misi, juga kotbah, kadang memakai kalimat atau kata2 yang hanya dimengerti oleh kaum intelektual? 

Berikut adalah contoh yg saya ambil secara sembarang dari internet, tanpa maksud jelek apapun. Ini contoh visi dan misi gereja:

  • ”Communio dari aneka komunitas basis, yang beriman mendalam, yang solider dan dialogal, memasyarakat dan missioner”
  • Mengembangkan tata layanan pastoral berbasis data; memberdayakan komunitas teritorial lingkungan dan komunitas kategorial menjadi komunitas beriman yang bertumbuh dalam persaudaraan.
Lukisan Rasul Petrus
Mohon maaf kalau saya mengaku bodoh. Saya kadang tidak paham (benar2 tidak paham) arti dari kalimat tadi, khususnya  kata2 yang saya kasih warna biru. Saya pernah bertanya pada Ketua SPSE, apa sih arti "kategorial"? Saya sadar, mungkin sekali kalimat2 tadi mencomot dari pedoman yang diberikan oleh badan yang lebih tinggi. Tapi, yang menjadi pertanyaan, untuk siapa visi dan misi itu dibuat? Apakah khusus untuk Dewan Paroki? Kalau demikian, maka urusan selesai. Titik. Sebagian besar anggota dewan memahaminya. Atau untuk umat? Umat yang mana? Khusus untuk yang berpendidikan SMA? Perguruan tinggi?


Kalau mengambil semangat Paus Fransiskus yang mendambakan "gereja miskin, dari orang miskin", maka kalimat2 tadi seharusnya dapat dibaca oleh orang miskin, yang termiskin di paroki, yang umumnya bukan lulusan UI atau UGM, dan mungkin tidak lulus SD. Lalu, bagaimana cara termudah untuk menguji apakah pesan tadi dimengerti oleh mereka? Bawa saja tulisan itu ke tukang kebun dan tukang sampah di gereja, tanyakan apa dia memahami tulisan ini.  Begitulah pengertian saya tentang pesan Paus kita mengenai "orang miskin dan orang kecil"...

Beberapa kalimat/frasa lain yang sempat saya comot: 
  • menggerakkan karya-karya pastoral yang kontekstual
  • Gereja partikular Keuskupan XXX amat sadar akan keanekaragaman umatnya
  • semangat pertobatan ekologis dan gerak ekopastoral
Juga kata2 ini: 
  • relevansi, donasi, konteks, refleksi
Lalu, apakah tanpa kata2 intelektual itu pesan dapat sampai ke umat? Seharusnya lah. Mungkin lebih "masuk" ke hati umat. Karena dahulu rasul2 sebagian besar juga cuma nelayan, dan mereka menulis secara sederhana. Ketika Rasul Petrus menulis, "hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati," maka rekan2nya yang nelayan, tukang kayu dan penjual roti di sebelah rumahnya, juga para pemuka Sanhedrin dan kaum cendekiawan di Roma, semua memahami arti dari pesannya. Tak ada yang tersingkir.

_____________________________________



Saturday, August 10, 2013

Paus Fransiskus (5) : Gereja miskin

20 tahun lalu. Diskusi suatu milis Katolik sedang membahas gereja yg kaya dan miskin. Saya berkata, gereja sekarang sudah cukup baik; tapi sebenarnya dapat lebih baik lagi dengan lebih berpihak pada kaum miskin. Misalnya, kalau membangun gereja, buat gereja yg lebih sederhana. Tidak usah megah2. Misalnya terkumpul 20 milyar. Gunakan yang 18 milyar. Ada sisa uang?  Bagikan pada kaum miskin. Segera tentangan dan cemoohan terlontar.

cormac70

http://www.peduligerejakatolik.org
Diskusi yg sama saya ulangi pada kelompok keluarga beberapa bulan lalu. Segera muncul juga bantahan dari saudara. 

Megah bagi Tuhan

"Soal megah itu harus ada kriterianya. Allah tidak membenci kekayaan.. Allah mengizinkan org pilihannya menjadi kaya. Abraham dan Lot itu orang kaya, ternaknya banyak, Yakup juga kaya; Yusuf wakil raja atau firaun. Daud raja kaya, Salomo mendirikan bait Allah yang megah sekali, peralatannya dilapis emas semua. Pada dasarnya semua itu dilakukan karena sangat menghormati kehadiran Allah. Itu dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru, waktu Yesus diurapi oleh perempuan yang membawa buli2 penuh minyak wangi yg amat mahal. Dan Yudas protes, karena minyak yg mahal itu kan bisa dijual dan uangnya utk org miskin. Dan Yudas ditegur Yesus.. Kisah lengkapnya baca Kitab Suci :).  "

Saya merenung. Inilah indahnya Katolik. Umat bebas menafsirkan. Ucapanku dapat disejajarkan dengan  pendapat Yudas, tapi juga dapat dianggap sesuai dengan perintah Yesus sendiri (Matius 25:35-36). Membingungkan banyak orang.

Lalu muncullah Paus Fransiskus yang suka kesederhanaan. Dan inilah komentarnya: 
"Saya sakit hati bila melihat pastor atau suster mengendarai mobil model terbaru... Mobil memang dibutuhkan untuk melakukan banyak hal, tetapi tolong pakai yang sederhana saja. Jika Anda menyukai mobil mewah, coba bayangkan berapa banyak anak yang mati kelaparan di dunia ini.” kata paus. (search Google "It hurts me when I see a priest or a nun", "Pope Francis")
Pesan yg tersirat sudah jelas. Kita diharapkan untuk memilih barang yang lebih sederhana. Bila ada kelebihan dana, gunakan untuk membantu orang miskin. Hanya saja paus tidak menyebutkannya secara telak. Tapi ada yang terang2an. Waktu paus terpilih, dia bilang pada orang Argentina; jangan berbondong2 ke Roma, berikan uangnya pada orang miskin.

Bukan cuma Paus Fransiskus yg memberi contoh. Paus Johanes XXIII juga. Sewaktu akan dinobatkan sbg paus, dia diberi hadiah mahkota oleh umat kota kelahirannya, Bergamo. Waktu mahkota akan dibuat, dia meminta jumlah permatanya dikurangi setengahnya, dan diberikan pd org miskin. Mestinya pesan kedua paus ini sudah cukup jelas.

Tapi ya itu... Yang sederhana itu sering menyusahkan. Dari segi estetis, sering bikin sepet mata. Kalau gedung panas, bikin gerah orang yang berdoa di dalamnya. Belum lagi gengsinya kurang :).  Saya sendiri juga merasa nikmat kok, kalau berdoa di gedung gereja yg baru, besar, berinterior mewah, desain elegan, dengan kursi jati yg halus dan licin, dihembus udara sejuk dr AC yg besar. Ini akan membuat saya asyik berdoa, berdoa, dan berdoa, dan berdoa terus, untuk mereka yg miskin dan sengsara di luar sana. 


---------------------------
Catatan : konon dulu 20 tahun lalu, saya dengar di Jakarta ada suster yang punya Mercedes mewah. Entah benar atau tidak. Semoga saja ucapan paus yg sekarang ini didengar.






Thursday, August 8, 2013

Paus Fransiskus (1) : "Betapa aku mendambakan gereja miskin..."

"Betapa aku mendambakan gereja yang miskin, bagi orang miskin ! (How much I would like a poor church, for the poor!)" begitu kata Paus Fransiskus, Maret 2013 lalu, ketika dia dipilih menjadi paus. (* Lihat catatan bawah). Banyak orang, termasuk saya, tertegun, bagai membentur pintu kaca, mendengar kalimat itu.

Inilah dia paus kita yg baru. Paus yg sangat revolusioner dalam kata dan perbuatan. Paus pertama yg memilih nama Fransiskus, dari nama Santo Fransiskus Asisi, yg meninggalkan semua kehidupan mewah di masa mudanya utk hidup miskin. Menunjukkan bagaimana obsesinya akan kemiskinan.




Banyak ayat di dalam Injil tentang perlunya hidup miskin dan membantu orang miskin. Tapi dari ucapan Paus tadi, tersirat keinginan kuat, luapan hasrat, juga sekilas rasa prihatinnya selama ini, utk menjadikan gereja kita gereja orang miskin.

Gereja Orang Kaya

"Betapa aku mendambakan"... dapat diartikan telah lama diinginkan tapi belum juga terwujud. Jadi sekarang ini gereja Katolik di dunia, termasuk di Indonesia, sebagian besar, khususnya di kota besar (tidak semuanya) BELUM dapat disebut gereja orang miskin; masih gereja orang kaya.


Apakah itu berarti kita mesti miskin untuk menjadi pengikut Kristus? Semiskin Santo Fransiskus Asisi yg membuang pakaian mewahnya utk berbaju rombeng? Membuang sepatu? Boleh saja kalau kita ingin menjadi pengikut Fransiskus Asisi sejati. Tapi itu bukan keharusan utk dapat menjadi orang Kristen sejati. Orang kaya boleh dan bagus kalau menjadi pengikut Kristus, tapi rasa persaudaraan dengan kaum miskin, menganggap kaum miskin sebagai saudara, harus ada padanya.  

Gereja miskin, dalam pikiran saya, pertama, adalah gereja yg semua kegiatannya dapat diikuti oleh orang miskin di paroki tsb. Gereja yg pastor dan umatnya (termasuk pengurus Dewan Paroki) memakai orang miskin sebagai acuan. Utk mudahnya, apa saja contoh kegiatan yg tidak memakai orang miskin sebagai acuan? 
  • Menjual kitab misa. Ketika mengikuti misa Paskah 2013 lalu, saya melihat, seperti tahun2 lalu, gereja menjual buku misa khusus misa Paskah 2013. Harga 5000 rupiah saja. Tujuannya baik: menggalang dana. Dari iklan yg dimuat plus hasil penjualan, gereja akan dapat dana yg tidak sedikit.
    Tapi saya teringat kata2 Bapak Paus tadi. Apakah ini terjangkau oleh orang miskin? Ah, bukankah cuma 5000 rupiah? Nah, inilah semangat orang kaya. Saya yakin, di paroki itu banyak umat yg cukup miskin yg tidak bisa meluangkan 5000 rupiah pada saat itu. Mgkn terbersit pikiran, ya sudah, kalau tidak punya uang, ya tidak usah membeli. Pakai saja buku sehari2. Nah, inilah contoh cara pikir yg dengan sengaja menyingkirkan orang miskin dari gereja. 
  • Banyak contoh lain yg akan saya tulis pada tulisan berikut.
Di media-media masa dunia disebutkan, revolusi yg dilakukan oleh paus memdobrak banyak hati beku, pada orang Katolik maupun non-Katolik, membawa kekaguman di seluruh dunia, tapi juga membawa kebingungan bagi orang2 Katolik yg selama ini mungkin salah mengartikan injil. Atau saya sendiri yg salah mengartikan ucapan Bapa Suci?

Bagaimanapun juga, semoga paus kita dapat melaksanakan suara dari Tuhan yg didengar Santo Fransiskus Asisi pada awal perubahan hidupnya, "Fransiskus, perbaikilah gereja Ku."

Mungkin Tuhan saat ini mendambakan gereja yang miskin, dan meminta Paus kita utk memperbaikinya,

Tambahan komentar (9 Agustus 2013): 

Seorang romo kenalan memberi komentar ini:
"Satu pertanyaan saja, mengapa gereja katolik di daerah tdk terpikirkan ya? Padahal mereka juga gereja katolik. Saya melayani di daerah pedalaman lebih dari lima tahun dg kolekte total satu paroki selama sebulan sekitar 750.000 rupiah, sementara pengeluaran utk pelaynan di atas 6 jt per bulan. Tapi kami senang krn dg demikian pelayanan semakin berarti. Tentu saya tdk mau dibilang gereja (hierarki?) utk org kaya.
Ada kecenderungn generalisasi. Bhw ada sejumlah orang yg begitu, itu kita semua tahu, dan saya yakin Bpk Uskup pun sdh berbuat sesuatu.
Semoga kita semakin bijak dan obyektif dlm analisa dan kritik."
Jadi kelihatannya kritik saya di atas (juga kritik Paus?) lebih cocok kalau ditujukan pada umat Katolik di kota besar, bukan di daerah miskin, yg memang sudah "gereja miskin".



Wednesday, August 3, 2011

Setan: adakah ?

Adakah setan? Orang Kristen tentu percaya. Setan banyak disebut2 dalam Kitab Suci. Kalau malam tiba, ruangan kita gelapkan untuk tidur, dan suasana sunyi sepi, ada kalanya kita merasa merinding. Takut akan sesuatu yg tidak kita ketahui. Takut sesuatu di balik kegelapan, di balik kamar sana. Takut ada setan... Dan kita pun berdoa...

Itukah setan? Setan adalah malaikat; makhluk unggul, pintar, dengan inteligensi tinggi, yg jatuh ke dalam dosa dan dikirim ke neraka oleh Tuhan. Tetapi kadang Tuhan membiarkan setan menggoda dan mengganggu manusia. Tujuan utama setan: menggoda manusia agar menjauhi Tuhan.

Tapi aneh. Kalau di kegelapan, kita merasa ada setan, bukankah kita segera berdoa? Itukah tujuan setan? Agar kita berdoa pada Tuhan? Rasanya ini tidak sesuai dengan tujuan setan.

Maka yg lebih masuk akal adalah, setan menggoda kita di keramaian diskotek, untuk melakukan hal2 yg tidak dikehendaki Tuhan; di pesta2, untuk membual atau menjelek2kan teman; di tempat kerja yg ramai, untuk meninggikan diri dengan menindas yg lemah. Di kegelapan saja, tidak ada setan...

Kalau kita baca blog sebelum ini, tentang pastor Vianney, gangguan setan jelas ada tujuannya: membuat pastor suci ini kehabisan tenaga untuk melayani pengakuan dosa umatnya.

Jadi, kalau malam tiba, ruangan kita gelapkan untuk tidur, suasana sunyi sepi, dan kita merinding, jangan takut setan... itu bukan setan. Itu rasa khawatir manusiawi pada ancaman pemangsa di kegelapan. Peninggalan evolusi hewani manusia ....