Showing posts with label kasih. Show all posts
Showing posts with label kasih. Show all posts

Thursday, November 12, 2015

Pembangunan Gereja Baru: Voting...


Pilih mana? Nomor 1, atau 2 ?

  • Tidak perlu cari ayat di Kitab Suci.   Ada ayat2 yang mendukung nomor 1, ada ayat yang mendukung nomor 2.
  • Semua cuma selera... Pilih 1 Anda benar... Pilih 2 Anda benar....
  • Eh, bukankah  kita SUDAH bantu orang miskin?
  • SUDAH cukupkah? Kalau jatah bisa dikurangi untuk mereka yang menderita, bukankah lebih baik?
  • Tapi saya ingin kemegahan untuk Tuhan
  • Tapi "Tuhan telah memakai wajah mereka (Red. orang miskin). Dan wajah itu memandang pada kita.... Jika kita tidak merendahkan diri kita, kita tidak akan melihat wajahNya," kata Paus.
  • Bukankah gereja yang megah demi kemuliaan Tuhan? Sudahlah. Saya senang dengan itu...

****************



Orang yang Komuni tidak boleh Tidak Peduli



Pesan Paus pada Kongres Ekaristi India

Manusia di seluruh dunia hari ini butuh makanan. Dan makanan ini tidak hanya untuk memuaskan rasa lapar badani. Ada rasa lapar lain – lapar cinta, keabadian, lapar kasih sayang, rawatan, pengampunan, belas kasih. Lapar ini dapat dipenuhi hanya oleh Roti yang datang dari atas ....

Tapi Ekaristi tidak berakhir dengan ambil bagian dari Tubuh dan Darah Tuhan.
Ekaristi membawa kita pada solidaritas dengan orang lain. Persekutuan (Red. komuni) dengan Tuhan selalu juga persekutuan dengan sesama saudara kita. Dan, oleh karena itu, orang yang diberi makan dan dipelihara oleh Tubuh dan Darah Kristus tidak boleh tetap tidak peduli ketika ia melihat saudara-saudaranya menderita karena kekurangan dan lapar…

(Radio Vatican)

**************
Paus Fransiskus, semoga doamu menyertai kita semua…

**************

Wednesday, November 11, 2015

Paus menemani orang miskin




Paus makan siang bersama orang2 miskin di Dapur Umum

2015-11-10 Vatican Radio

Di sela pertemuannya dengan Kongres Nasional Gereja Italia dan sebelum merayakan Misa di stadion sepak bola di kota itu, Paus duduk untuk makan siang dengan 60 warga termiskin kota itu.

Banyak
dari mereka kehilangan pekerjaan serta rumah mereka, tapi berkat kerja badan amal Gereja Katolik, Caritas, yang menjalankan dapur umum di mana makan siang berlangsung, mereka tidak kehilangan martabat mereka.

Paus Fran
siskus juga diberi voucher utk makan, dan makan dari piring plastik, sama seperti mereka yang duduk bersamanya, menekankan ajarannya bahwa Gereja harus menyertai dan menemani mereka yang terpinggirkan dan orang-orang di pinggiran masyarakat.

888888888888888888888888

** Mari kita ikuti teladan beliau... 

888888888888888888888888

Katolik harus berubah



Katolik dapat dan harus berubah, kata Paus Fransiskus
NCR, 10 November 2015


Paus Fransiskus dengan tajam menguraikan pandangan lengkapnya bagi masa depan gereja Katolik, dan dengan tegas mengatakan bahwa zaman ini butuh katolikisme yang sangat pemurah dan tidak takut perubahan. Umat Katolik harus sadar: "Kita tidak hidup dalam zaman perubahan namun perubahan zaman." 

"Doktrin Kristen bukanlah sistem tertutup yang tidak mampu menghasilkan pertanyaan, keraguan, interogatif - tapi masih hidup, tahu sedang gelisah, dihidupkan," kata Paus. "Dia memiliki wajah yang tidak kaku, ia memiliki tubuh yang bergerak dan tumbuh, memiliki daging yang lembut: itu disebut Yesus Kristus." ...

Pernyataan2  Paus ini luar biasa dalam hal luasnya, penekanannya, dan cara pembawaannya yang tegas. Sementara Paus berbicara di katedral artistik yang terkenal di Florence itu, pidatonya terputus berkali-kali oleh tepuk tangan meriah. 

Dia mulai sambutannya dengan meditasi pada wajah Yesus, yang diwakili oleh sebuah lukisan masa renaisans. "Kalau melihat wajahnya, apa yang kita lihat?" Paus bertanya. "Terutama, wajah Allah yang kosong, Allah yang telah mengambil peran hamba, rendah hati dan taat sampai mati."
"Wajah Yesus mirip dengan wajah begitu banyak saudara kita yang dihina, diperbudak, kosong," katanya. "Tuhan telah memakai wajah mereka. Dan wajah itu memandang pada kita." 

"Jika kita tidak merendahkan diri kita, kita tidak akan melihat wajahnya," kata Paus. "Kita tidak akan melihat kepenuhan-Nya jika kita tidak menerima bahwa Tuhan telah mengosongkan diri-Nya."
Mengutip dua kali dari Injil Matius, Paus mengatakan Anda bisa membayangkan Yesus berkata: "Aku haus dan Kau beri Aku minum," atau "Aku haus dan Kau tidak memberi Aku apapun untuk minum." 

… Paus juga berkata terus terang: "Untuk para uskup, saya meminta Anda untuk menjadi pastor." … "Sebagai pastor Anda jangan berkotbah tentang doktrin yang rumit, tapi pembawa berita Kristus, yang mati dan bangkit untuk kita," katanya. "Tujukan pada hal yang pokok, kerygma."
 
Paus Fransiskus juga berbicara tentang ajaran gereja, "pilih orang miskin" - yang menyatakan bahwa umat Katolik harus mempertimbangkan dampak semua pilihan pada mereka yang termiskin; dengan tegas Paus menyatakan: "Tuhan mencurahkan darahnya tidak untuk beberapa orang, tidak untuk banyak orang, tetapi untuk semua!"

 ... "Oleh karena itu, pergilah ke jalan-jalan dan ke persimpangan jalan: semua yang Anda temukan, panggil mereka, tidak ada yang dikecualikan," dia mendesak. "Di manapun Anda berada, jangan bangun dinding atau batas, tapi tempat pertemuan dan rumah sakit lapangan." 

"Saya ingin gereja Italia yang resah, selalu dekat dengan mereka yang ditinggalkan, yang terlupakan, yang tidak sempurna," kata Fransiskus. "Saya menginginkan gereja bahagia dengan wajah seorang ibu, yang penuh pengertian, menyertai, memberi belaian.""Mimpikan gereja yang seperti ini, percayalah padanya, berinovasilah dengan bebas," desak Paus.


Diskusi 
Jarang Paus bicara seperti di atas. Sedikit sulit dimengerti, tapi ada butir2 yang dengan mudah kita cerna... Beberapa di antaranya:
  • Jangankan tradisi atau kebiasaan; Ajaran Katolik, doktrin, itu bisa berubah. Sebelum ini, seorang kardinal juga bilang, "Doktrin Katolik itu bukan seperti toko yang sudah tutup." Bisa berubah...
  • Wajah Yesus itu mirip dengan wajah begitu banyak saudara kita. Carilah orang kecil, orang yang menderita, terkena bencana, termasuk pasangan yang menderita karena cerai, itulah wajah Kristus. Jangan hina mereka, jangan pandang dengan sebelah mata. Itulah Kristus yang menderita.
  • Untuk para imam, mohon jangan kotbahkan teologi yang rumit2. Tapi yang mudah saja. Kehidupan sehari2. Ini sejalan dengan ucapan Paus di sini.
  • "Pilih orang miskin". Option for the poor. Jangan sampai kegiatan gereja (kita) meninggalkan mereka yang miskin karena tidak punya uang untuk ikut serta. Bikin seminar di hotel? OK saja. Tapi pikirkan bagaimana yang miskin bisa ikut, tanpa terpaksa merendahkan dirinya dengan mengaku miskin.
  •  Akhirnya, mari kita semua (sebagai gereja) menjadi ibu bagi semua saudara kita. Ibu yang penuh kasih, pengertian, dan siap melipur lara mereka yang susah....

Tuesday, November 3, 2015

Bangga Menekan Orang Kecil


Mengapa Banyak Orang Bangga Menekan Harga Pada Pedagang Kecil?
Tulisan saya kutip dari kiriman di group WA. Kalau ada penulis aslinya, dengan senang hati akan saya cantumkan nama beliau di sini. Terima kasih...

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Pak Ujang (65 tahun), pemilik kios ikan kecil di bilangan Jakarta Pusat. Saya sering ke sana. Kiosnya sangat sederhana, berupa papan kecil seluas 2,5 x 4 meter. Beliau sudah lebih dari 30 tahun berjualan ikan hias di sana. Di sudut kanan toko terdapat sebuah tangga menuju lantai dua. Lantai yang memiliki tinggi 1 m merupakan tempat tinggal Pak Ujang dan istri.


Tepat saat saya berkunjung, muncullah seorang pembeli yang menggunakan mobil mewah brand Jerman. Awalnya Si Pembeli membeli makanan ikan seharga Rp 5.000,- Ia pun berusaha keras menawar. Akhirnya Pak Ujang sepakat menjual Rp 9.000,- per dua bungkus. Si Pembeli kemudian melihat ikan koi tiga warna berukuran sekitar 30 cm. Pak Ujang menjual dengan harga Rp. 40.000,- per ekor. Terjadilah tawar-menawar.  Si pembeli terus memaksa ingin memiliki ikan tersebut dengan harga Rp 25.000,-. Katanya, ikan begitu tidak layak dihargai Rp 40.000,-

Pak Ujang terlihat sangat keberatan menjual ikan tersebut di bawah Rp 35.000,-. Namun, saya sendiri menyaksikan betapa kerasnya si pembeli menawar dan memaksa. Akhirnya Pak Ujang pun luluh dan menjual empat ekor dengan harga yang diinginkan pembeli. ”Ikan ini sudah hampir 1 bulan tidak laku,” Jawabnya setelah saya menanyakan alasannya menjual. Si Pembeli kembali membeli tanaman air yang harusnya berharga Rp 5.000,- per buah. Begitu gigihnya mendapat 4 buah dengan uang Rp 10.000,-, sampai-sampai Si Pembeli memasukkan sendiri dua tanaman air tambahan ke plastik.
Tidak berhenti sampai di sana, saat hendak membayar, dia pembeli kembali meminta dua ekor ikan kecil seharga Rp 5.000,- per ekor untuk mainan anaknya. Dan Pak Ujang akhirnya memberikan.

Saya merenung. Banyak orang sering sekali berhemat setiap keping rupiah dari si miskin. Mereka sering mengganggap harga barang dari seorang pedagang kecil atau pasar tradisional tidak pantas dan menawar serta puas karena bisa berhemat setidaknya Rp 500,- Kemudian mereka berjalan ke mall dan tidak bertanya kepantasan dari harga secangkir kopi Rp 60.000,- atau semangkok bakso Rp. 40.000,-  Mereka bahkan membeli dengan bangga dan malu bila menawar.

Mereka menawar dari tukang becak yang harus mengayuh sepeda dengan berat, tetapi tidak pernah memprotes argo taksi yang bergerak tak terkendali.

Setelah itu, mereka akan bicara tentang pengentasan kemiskinan. Mereka salahkan pemerintah atas data-data kemiskinan yang tidak pernah turun. Padahal di balik itu, mereka mengeksploitasi Si Miskin.

Mereka berusaha berhemat setiap keping rupiah dari Si Miskin yang bekerja lebih keras, lebih berat, dan panas untuk memberi makan keluarganya. Namun, mereka menghabiskan uang yang jauh lebih banyak di mall tanpa menanyakan kepantasannya.
Dan sadar ataupun tidak... mereka mungkin adalah kita…?

Diskusi
Ada faktor psikologi tersendiri waktu tawar menawar dengan pedagang kecil ini... Sering kali bukan nilai uang yang berperan, melainkan "menang atau kalah", "memeras atau diperas." Kalau beli sedikit mahal, bukankah kita merasa tertipu?

Kalau cara pikir diubah sedikit, akan jauh berbeda transaksi tsb... Bagaimana kalau "Biar, ah. Dia perlu makan. Katanya kita tidak boleh kasih pengemis; ini orang berdagang dengan baik2, perlu dihargai"... 

Tawar dikit, bolehlah. Lalu kasih duitnya dan mungkin tdk perlu ambil kembaliannya kalau mood sedang bagus... Kenapa tidak?

******************
******************