Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Tuesday, November 3, 2015

Bangga Menekan Orang Kecil


Mengapa Banyak Orang Bangga Menekan Harga Pada Pedagang Kecil?
Tulisan saya kutip dari kiriman di group WA. Kalau ada penulis aslinya, dengan senang hati akan saya cantumkan nama beliau di sini. Terima kasih...

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Pak Ujang (65 tahun), pemilik kios ikan kecil di bilangan Jakarta Pusat. Saya sering ke sana. Kiosnya sangat sederhana, berupa papan kecil seluas 2,5 x 4 meter. Beliau sudah lebih dari 30 tahun berjualan ikan hias di sana. Di sudut kanan toko terdapat sebuah tangga menuju lantai dua. Lantai yang memiliki tinggi 1 m merupakan tempat tinggal Pak Ujang dan istri.


Tepat saat saya berkunjung, muncullah seorang pembeli yang menggunakan mobil mewah brand Jerman. Awalnya Si Pembeli membeli makanan ikan seharga Rp 5.000,- Ia pun berusaha keras menawar. Akhirnya Pak Ujang sepakat menjual Rp 9.000,- per dua bungkus. Si Pembeli kemudian melihat ikan koi tiga warna berukuran sekitar 30 cm. Pak Ujang menjual dengan harga Rp. 40.000,- per ekor. Terjadilah tawar-menawar.  Si pembeli terus memaksa ingin memiliki ikan tersebut dengan harga Rp 25.000,-. Katanya, ikan begitu tidak layak dihargai Rp 40.000,-

Pak Ujang terlihat sangat keberatan menjual ikan tersebut di bawah Rp 35.000,-. Namun, saya sendiri menyaksikan betapa kerasnya si pembeli menawar dan memaksa. Akhirnya Pak Ujang pun luluh dan menjual empat ekor dengan harga yang diinginkan pembeli. ”Ikan ini sudah hampir 1 bulan tidak laku,” Jawabnya setelah saya menanyakan alasannya menjual. Si Pembeli kembali membeli tanaman air yang harusnya berharga Rp 5.000,- per buah. Begitu gigihnya mendapat 4 buah dengan uang Rp 10.000,-, sampai-sampai Si Pembeli memasukkan sendiri dua tanaman air tambahan ke plastik.
Tidak berhenti sampai di sana, saat hendak membayar, dia pembeli kembali meminta dua ekor ikan kecil seharga Rp 5.000,- per ekor untuk mainan anaknya. Dan Pak Ujang akhirnya memberikan.

Saya merenung. Banyak orang sering sekali berhemat setiap keping rupiah dari si miskin. Mereka sering mengganggap harga barang dari seorang pedagang kecil atau pasar tradisional tidak pantas dan menawar serta puas karena bisa berhemat setidaknya Rp 500,- Kemudian mereka berjalan ke mall dan tidak bertanya kepantasan dari harga secangkir kopi Rp 60.000,- atau semangkok bakso Rp. 40.000,-  Mereka bahkan membeli dengan bangga dan malu bila menawar.

Mereka menawar dari tukang becak yang harus mengayuh sepeda dengan berat, tetapi tidak pernah memprotes argo taksi yang bergerak tak terkendali.

Setelah itu, mereka akan bicara tentang pengentasan kemiskinan. Mereka salahkan pemerintah atas data-data kemiskinan yang tidak pernah turun. Padahal di balik itu, mereka mengeksploitasi Si Miskin.

Mereka berusaha berhemat setiap keping rupiah dari Si Miskin yang bekerja lebih keras, lebih berat, dan panas untuk memberi makan keluarganya. Namun, mereka menghabiskan uang yang jauh lebih banyak di mall tanpa menanyakan kepantasannya.
Dan sadar ataupun tidak... mereka mungkin adalah kita…?

Diskusi
Ada faktor psikologi tersendiri waktu tawar menawar dengan pedagang kecil ini... Sering kali bukan nilai uang yang berperan, melainkan "menang atau kalah", "memeras atau diperas." Kalau beli sedikit mahal, bukankah kita merasa tertipu?

Kalau cara pikir diubah sedikit, akan jauh berbeda transaksi tsb... Bagaimana kalau "Biar, ah. Dia perlu makan. Katanya kita tidak boleh kasih pengemis; ini orang berdagang dengan baik2, perlu dihargai"... 

Tawar dikit, bolehlah. Lalu kasih duitnya dan mungkin tdk perlu ambil kembaliannya kalau mood sedang bagus... Kenapa tidak?

******************
******************

Wednesday, October 28, 2015

Pembantu Rumah Tangga orang Katolik (3)

Lanjutan dari   Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen.

  • Gaji: Saya tidak bicara mengenai keluarga miskin yang terpaksa memakai dan menggaji pembantu karena keadaan sangat memerlukan. Keluarga itu dengan amat bersusah payah berusaha menggaji pembantunya dari segala kekurangannya... Hemat sini, irit sana, dan akhirnya mereka bisa.
  • Tapi sebagian orang yang mampu, bahkan amat sangat lebih dari mampu, kadang berpikir, kalau gaji bisa lebih rendah mengapa tidak? Toh semua ini hukum pasar. Dia mau, dia senang, aku senang, tanpa paksaan... Maka dicari cara untuk meminimalkan gaji tadi. Aku ambil contoh saja peraturan di Singapura. Karena di sini belum ada peraturan apapun. Sedang digarap LSM (yang mungkin bukan Katolik)... Di sana ada ketentuan, misalnya PRT harus digaji 400 dolar. Nah, bagi sebagian orang Katolik, kalau bisa diatur supaya pembantunya mau menerima 250 dolar, bukankah itu bagus? Dia senang, karena untuk ukuran Indonesia, itu sudah cukup besar. Nyonya majikan juga senang karena ada uang lebih untuk beli parfum Crocodile alias Lacoste atau Elizabeth Arden, tiap bulan. Bukankah kalau kumpul berdoa ke gereja perlu wangi? Juga mungkin uang bisa didermakan ke gereja, karena rumah Tuhan perlu dibuat megah.

    Di sini orang Katolik ini lupa pada ajaran gereja yang dituangkan dalam ensiklik Rerum Novarum (lebih dari 100 tahun lalu) dan Quadragesimo Anno. Intinya, jangan serahkan gaji pada mekanisme pasar! "Toh, tidak dipaksa, dia mau." Itu mekanisme pasar. Apalagi, pada kasus di atas, pembantu tadi telah ditipu karena seharusnya minimal dia memperoleh gaji setara yang ditetapkan negara. Sangat menyedihkan kalau ini dilakukan oleh orang Katolik yang rajin ke gereja. Apa ini terjadi? Coba tanya pada komunitas Katolik di sana...
  • Jadi bagaimana seharusnya orang Katolik menggaji karyawan kecil atau pembantunya? Pertama, ikuti aturan pemerintah (kalau kamu mampu, karena ada yang tidak mampu). Kedua, ingat bahwa pekerja-pekerja terkecil itu adalah perwujudan Kristus di dunia. Yesus sendiri yang bilang, apa yang kau lakukan pada mereka, itu kau lakukan pada Dia. Kalau sabda ini diterima dengan hati terbuka, tak ada keluarga Katolik yang semena2 terhadap pembantu. Pakai "kasih" sebagai dasar utama, maka semua akan gembira (karena "orang Kristen itu gembira," kata Paus)

    Jadi, berapa besar kita harus menggaji pembantu rumah tangga (atau karyawan kecil lainnya)? Terserah seberapa besar kasih Anda pada perwujudan Kristus di dunia ini. Tetangga umumnya memberi 500 ribu misalnya. Kalau pakai mekanisme pasar, jawaban kita sebagai majikan mungkin "saya beri 600 ribu saja; bukankah sudah lebih dari cukup?" Tapi untuk yang sudah berlebih kemampuannya, kenapa tidak lebih besar? Sepuluh kali lipat? Kenapa tidak, kalau mampu? Yang utama, jangan lihat pasar. Jangan lihat berapa besar orang lain membayar.

    Aku mengenal keluarga2 yang menggaji pembantunya dengan baik dan menyekolahkan anak2 pembantunya sampai lulus. Itulah Kristen sejati.Itu penginjilan yang diinginkan oleh Paus Fransiskus sekarang ini. Anggaplah mereka saudaramu sendiri.

Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (2)

Lanjutan dari   Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen


  • Tidak boleh istirahat di hari Minggu: Dalam Katekismus Katolik, dalam Kesepuluh perintah Allah ada perintah "Kuduskanlah Hari Tuhan"... Mungkin karena terlalu pendek, banyak orang Katolik mengartikan, hanya orang Kristen yang harus beristirahat pada hari ketujuh, yang sekarang disebut hari Minggu. Orang lain, pembantu di rumah, yang bukan Kristen, kan tidak terikat oleh hukum itu? Benar? Salah...

    Perintah aslinya, yang berasal dari Kitab Keluaran 20:10, mengatakan:
    "tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu."
    Nah, hewan pun tidak diperkenankan untuk bekerja terus menerus, apalagi manusia. Harus ada istirahat. (Mungkin pada perbaikan naskah katekismus yang akan datang, kalimat ini perlu dicantumkan lagi dan tidak terlalu pendek. Mohon Bapa Uskup mengusulkan ke Vatikan.)

    Negara-negara Barat banyak yang punya hukum untuk melindungi pekerja kecil seperti PRT ini. Singapura juga. Ada LSM yang mendorong pemerintah untuk melindungi PRT. Maka akhirnya dibuatlah peraturan bahwa semua PRT di Singapura harus diberi istirahat satu hari seminggu. Sayangnya, kalau tidak salah, ada klausula, pada hari istirahat itu PRT boleh tidak beristirahat kalau ada kompensasi uang. Apa arti uang bagi orang Singapura yang rata2 sangat kaya itu? Mereka negara terkaya ketiga di dunia (dari rata2 kekayaan penduduk). Dengan mudah mereka akan kasih uang, dan PRT tetap "dipenjara" di rumah dengan legal tanpa melawan hukum.

    Tadi aku sebut lembaga2 sosial, LSM, di Singapura yang mengusahakan perbaikan nasib para PRT di Singapura. Apakah itu LSM Katolik? Bukan. Adakah yang menulis beberapa di antaranya mewakili umat Katolik? Tidak... Aduh, sedih... ke mana saja saudara2ku orang Katolik Singapura itu? Apakah mereka tidak ada waktu karena sedang berdoa atau berkotbah tentang cinta kasih?  Gereja sebagai gereja, tidak boleh ikut politik. Tapi sebagai individu, orang Katolik perlu ikut memperjuangkan. Dan perlu berkata saya memperjuangkan karena saya Katolik. Inilah salah satu bentuk penginjilan (evangelisasi) yang diharapkan Paus Fransiskus. "Aku Katolik. Aku membela orang yang miskin dan menderita."

    Aku tidak tinggal di sana, jadi tidak tahu tepat apa yang terjadi. Tapi minimal dari berita koran Straits Times, tidak ada kata "katolik" yang tersisip dalam ulasan2 tentang PRT di sana (karena dulu tinggal di Batam, aku sangat sering ke Singapura, kadang tiap minggu). Dari artikel yang ada, tahun 1987 ada LSM yang aktif membela PRT. Tidak banyak jumlah orangnya; kalau tidak salah cuma 22 orang. Tapi tercatat di situ, dan aku bangga, bahwa sebagian dari mereka mengaku bergerak karena mereka Katolik. Karena pemerintah saat itu sedang sangat keras, mereka ditangkap. bahkan dituduh komunis. Ditahan tidak lama. Tapi tak lama kemudian LSM itu bubar... dan kata "Katolik" tidak tersisip lagi di koran, sampai sekarang (untuk urusan itu).

    Entah bagaimana gerakan umat Katolik di sana saat ini. Juga entah apakah pastor di sana sering mengingatkan umatnya soal ini dalam homili.
  • Di Indonesia sendiri, dalam 10 tahun ini rasanya aku tidak mendengar ada gerakan umat Katolik untuk membela PRT. Entah ada atau tidak ulasan tentang ini (dan cukup sering kah) di majalah Hidup. Juga 10 tahun ini dalam homili aku tidak mendengar kata PRT kecuali saat perayaan Natal atau Paskah 2 - 3 tahun lalu, di mana Pastor Eddy meminta kita menyayangi orang kecil, termasuk pembantu di rumah kita. Aku sangat menghargai itu... Umat perlu bergerak, tapi pastor bisa berpengaruh besar sekali kalau mau menekankan masalah ini berkali-kali dalam homili. Kristus sering sekali kita temui, dalam bentuk pembantu di rumah, office boy di kantor, satpam di lingkungan rumah (atau gereja), penjaja makanan kecil yang lewat di depan rumah, dst.

    Maaf, aku tahu tulisan ini mungkin akan membuat tidak senang sebagian orang, juga saudara2, anak2, menantuku, serta teman2 semua, khususnya ibu2 rumah tangga. Tapi aku harus mengatakan yang seharusnya. 
 Lanjutan: Pembantu Rumah Tangga ... (3)

Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (1)

Lanjutan dari  Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen
(Klik untuk baca)

 
Kisah sedih tentang pembantu rumah tangga (PRT) sering terdengar: yang dianiaya sampai cacat, yang dihukum mati, dihukum penjara karena menganiaya majikan atau anak majikan, dst. Kisah mengenaskan sebagai subyek. ataupun obyek. Di luar negeri, maupun dalam negeri.

PRT juga yang, dalam bentuk lebih ringan, kadang diperlakukan mirip budak belian pada masa kini, di sini, oleh sebagian orang Katolik. Begini:


  • Tidak boleh keluar rumah sendiri: Mungkin ada sebagian majikan Katolik yang aktif sekali di gereja, aktif berdoa, rajin pelayanan, daaan .... menerapkan peraturan ini. "Kalau dibiarkan keluar sendirian, nanti dia ke tetangga dan diambil oleh tetangga; saya jadi repot." Begitu alasannya... Tega ya! Demi kepentingan pribadi, kita bikin sengsara sesama manusia, mengambil hak asasinya yang sangat dasar, kebebasan. Atau mungkin majikan Katolik itu berpikir, PRT ini gembira tidak keluar rumah? Bukankah seluruh rumah adem, ada AC, banyak pesawat TV? Semua tersedia buat PRT, kecuali satu, kekebasan. (mirip penjara model baru yang sedang dirintis di Eropa?)

    Apakah kita mengetahui ada kasus ini di lingkungan paroki kita? Tidak tahu? Mungkin perlu bertanya2. Terbuka saja. Siapa tahu ada.. Kalau tahu ada, adakah umat atau salah satu kelompok kategorial, yang giat mengingatkan, itu tidak sesuai dengan jiwa Kristen kita? Kalau Yesus hidup pada masa sekarang, mungkin dia akan menambahkan sabdaNya dalam Matius 25:41 "... enyahlah ke dalam api yang kekal... Sebab ketika aku kesepian, kau mengungkung Aku di rumah.".... Aduh Gusti...

    Aku menyayangi kamu semua sebagai saudaraku, sesama umat Katolik. Jangan sampai itu terjadi padamu. Maka sekali lagi aku mengingatkanmu di sini, lewat tulisan ini. Aku telah berbuat; aku menulis ini; Semoga teman2 di paroki masing2 ikut berbuat, membela kaum tertindas ini. Jangan sampai kejadian budak disiksa itu dibiarkan selama 200 tahun lagi oleh kita semua, gereja, dengan menutup mata. Minimal, buka suara lah...

    Aku mengasihi kamu semua. Menyadari sulitnya hidup tanpa pembantu di dalam rumah. Sungguh berat... Susah... Tapi aku juga mau mengingatkan, ingat sabda Yesus. Apa yg kamu lakukan pada saudara kita yang paling kecil ini, kamu telah melakukannya pada Tuhan Yesus (Matius 25:32-42).
Baca lanjutan : Pembantu Rumah Tangga ... (2)

Monday, October 26, 2015

Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen


Kutipan di bawah ini saya peroleh dari selebaran lewat WA yang tidak saya ketahui sumbernya. Mohon izin dikutip untuk diskusi...
Kencan Dengan Tuhan
Senin, 26 Oktober 2015

Renungan: Seorang kakek berkulit hitam berdiri di depan pintu kantor lembaga Alkitab di Amerika Serikat. Setelah masuk ia bertanya, "Apakah kalian menjual Alkitab?" "Betul, kek," jawab pemuda di balik meja. Kemudian si kakek bercerita, "Aku terlahir sebagai seorang budak dan majikanku melarang aku untuk belajar membaca dan menulis, tetapi aku nekat sehingga seringkali aku dicambuk karena melanggar peraturan.
     Setelah itu aku dan ayahku mengabdi pada anak majikanku yang sudah berkeluarga. Ia mengijinkan budaknya belajar membaca agar bisa membaca Alkitab. Aku senang sekali. Aku membaca Alkitab dan melakukan perintah Tuhan yang aku baca. Sayang sekali aku tidak punya uang untuk membeli Alkitab. Bisakah aku mendapatkan Alkitab dengan bermain suling?" Maka terdengarlah suara suling nan merdu menggema di seluruh ruangan kantor. Pria muda itu segera membuka lemari dan memberikan sebuah Alkitab kepada sang kakek.
     Setelah berhenti bermain suling, sang kakek berkata, "Aku bisa memperolehnya tanpa membayar, nak?" Dengan ramah sang pemuda berkata, "Sesungguhnya kakek sudah membayarnya ketika dulu kakek berani dicambuk hanya karena belajar membaca."
    Begitu indah jika semua orang percaya memiliki kerinduan yang sama untuk membaca firman Tuhan...

Tuhan memberkati.

===================


Begitulah ceritanya.... Dia terlahir sebagai budak, dan majikan saat itu secara legal formal boleh mencambuk sesukanya, karena di dalam hukum, dia bukanlah manusia, melainkan "barang". Dia nekat sering melanggar peraturan, maka sering dicambuk. Untuk saat itu, wajar, biasa, alamiah; dan  kakek ini bercerita mungkin dengan tersenyum. Tapi yang sering dilupakan, majikan pencambuk itu mayoritas orang Kristen. Sebagian Katolik. Karena ini terjadi di AS.

Kisah kakek kulit hitam yang dicambuk itu menjadi pemicu tulisan ini. (Renungan yang saya kira akan tidak berkenan bagi sebagian orang. Untuk itu, mohon maaf sebelumnya.)

Apa yang ingin saya tekankan? Tolong dicatat bhw gereja Katolik kita pada masa itu tdk banyak bersuara tentang pelanggaran perikemanusiaan itu karena dianggap sudah sesuai dengan nilai zaman itu. Siapa yang dimaksud dengan gereja itu?

Gereja adalah kita semua. Orang awam, aktivis gereja, biarawan, sampai paus. Saya mungkin kurang lama mempelajari, tapi yang saya ketahui, secara umum tidak banyak yg dilakukan gereja untuk membela orang kulit hitam yang teraniaya setengah mati (banyak yang sampai mati) pada masa itu. Mungkin, dan pasti, ada pribadi2 Katolik atau non-Katolik yang baik, yang tidak melakukan penganiayaan; tapi sebagai kesatuan umat Katolik (kalau saat ini, mungkin berupa Wanita Katolik, SPSE, Orang Muda Katolik, kelompok kategorial lain, paroki, keuskupan, paus) tidak banyak membela, minimal kurang terdengar upaya mereka, untuk membantu orang tertindas itu. Selama 200 tahun.

Diskusi di group WA pun jadi makin panas; ada yang dengan cepat berkata "Mengapa sih mengungkit2 masa lalu, menyebar kemarahan. Cobalah berdamai dengan masa lalu..." Mungkin maksudnya mari kita bicara yang indah2 saja. Yang enak didengar. Yang membuat hati tenteram, damai, penuh kasih... Saya juga senang bicara yang manis2 seperti itu; tapi saya tidak bisa, kalau masih ada orang menderita, yang kita ketahui menderita, dan kita biarkan sengsara, sementara kita berkotbah menghamburkan kata-kata penuh cinta kasih tentang membantu sesama dst. Bentuk perbudakan itu masih ada, sampai saat ini, sekarang, di sini, di lingkungan kita, juga di lingkungan orang Katolik. Maka saya berkata. AYO BANGUN. Mari kita bantu mereka... Ini tidak bicara peristiwa 100 - 250 tahun lalu. Ini bicara masalah saat ini.

** Sudah lewat jam 12 malam... capek badan dan pikiran... Istirahat dulu...

Lanjutan di sini: Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (1)
 

Friday, August 9, 2013

Paus Fransiskus (3) : Cara pikir Tuhan

Paus Fransiskus sangat revolusioner. Buat saya, sungguh mengagumkan. Banyak hal yg dikatakannya tidak pernah diucapkan oleh para paus sebelumnya. Contohnya ini: cara pikir Tuhan.

27 Maret lalu, pada masa Paskah, lewat Twitternya, @Pontifex, paus menulis:
"To experience Holy Week is to enter more and more into God's logic of love and self-giving."
Terjemahan bebasnya: utk menghayati  Pekan Suci ini (paskah yg lalu), kita perlu semakin mendalami cara berpikir (logika) Tuhan tentang kasih dan pengorbanan diri (dan melaksanakannya).   Hal yg tersirat: cara pikir kita mungkin salah. Kita mungkin merasa tindakan kita sesuai dgn "kasih" tapi bukan itu yg dimaksud Tuhan. Contoh sehari2nya? Orang tua yg dengan keras memukul anaknya krn "sayang" anak. Padahal itu sebenarnya bukan kasih sayang tapi kemarahan. Mungkin ada keputusan2 serupa yg diambil oleh kita sebagai umat Katolik, oleh Dewan Paroki, oleh para pastor, dll, sehingga Paus berkata demikian?

Mungkin analisa saya di atas juga salah. Tapi sesuai dgn pesan Bapa Suci, marilah selalu bertanya. apakah cara pikir kita sudah sesuai dengan cara pikir Tuhan.

Doa saya: "Terima kasih banyak ya Tuhan, Kau yg Mahabaik telah memberi kami Paus Fransiskus yg luar biasa ini... Yang ingin membawa kita kembali ke gereja awal, gereja nya Petrus dan Paulus."

‎

Saturday, June 4, 2011

Paus Johanes XXIII - Mengunjungi RS dan penjara.


Tidak banyak yg tahu bahwa Paus Johanes XXIII sudah sakit2an sewaktu diangkat menjadi paus. Pada waktu Shah Iran menghadapnya di tahun 1958, dia bahkan setengah pingsan di tempat duduknya. Maklum, usianya sudah 77 tahun. Dan kehidupan paus sehari2 sangatlah sibuk. Ratusan atau ribuan surat harus dibalasnya.

Tapi itu tidak menghalanginya utk melaksanakan tugas yg diembannya. Beberapa hari setelah diangkat, dia langsung mengunjungi penjara dan RS. Ingat Injil Matius? "Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ... ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku." Roncalli ingin memberi contoh nyata. Peristiwa ini diliput koran2 di seluruh dunia waktu itu. Suasana peliputan sangat mengharukan.... Lihat sendiri untuk memahaminya. Klik di sini.

Dia terkenal baik hati. Maka dia dijuluki "Paus yg Baik Hati", The Good Pope. Tahun 2000, 37 tahun setelah kematiannya, dia dinyatakan sebagai "beato" (satu tahap sebelum santo/santa) oleh Paus Johanes Paulus II (yg juga dinyatakan sbg beato di tahun 2011).