Showing posts with label homili. Show all posts
Showing posts with label homili. Show all posts

Wednesday, November 11, 2015

Katolik harus berubah



Katolik dapat dan harus berubah, kata Paus Fransiskus
NCR, 10 November 2015


Paus Fransiskus dengan tajam menguraikan pandangan lengkapnya bagi masa depan gereja Katolik, dan dengan tegas mengatakan bahwa zaman ini butuh katolikisme yang sangat pemurah dan tidak takut perubahan. Umat Katolik harus sadar: "Kita tidak hidup dalam zaman perubahan namun perubahan zaman." 

"Doktrin Kristen bukanlah sistem tertutup yang tidak mampu menghasilkan pertanyaan, keraguan, interogatif - tapi masih hidup, tahu sedang gelisah, dihidupkan," kata Paus. "Dia memiliki wajah yang tidak kaku, ia memiliki tubuh yang bergerak dan tumbuh, memiliki daging yang lembut: itu disebut Yesus Kristus." ...

Pernyataan2  Paus ini luar biasa dalam hal luasnya, penekanannya, dan cara pembawaannya yang tegas. Sementara Paus berbicara di katedral artistik yang terkenal di Florence itu, pidatonya terputus berkali-kali oleh tepuk tangan meriah. 

Dia mulai sambutannya dengan meditasi pada wajah Yesus, yang diwakili oleh sebuah lukisan masa renaisans. "Kalau melihat wajahnya, apa yang kita lihat?" Paus bertanya. "Terutama, wajah Allah yang kosong, Allah yang telah mengambil peran hamba, rendah hati dan taat sampai mati."
"Wajah Yesus mirip dengan wajah begitu banyak saudara kita yang dihina, diperbudak, kosong," katanya. "Tuhan telah memakai wajah mereka. Dan wajah itu memandang pada kita." 

"Jika kita tidak merendahkan diri kita, kita tidak akan melihat wajahnya," kata Paus. "Kita tidak akan melihat kepenuhan-Nya jika kita tidak menerima bahwa Tuhan telah mengosongkan diri-Nya."
Mengutip dua kali dari Injil Matius, Paus mengatakan Anda bisa membayangkan Yesus berkata: "Aku haus dan Kau beri Aku minum," atau "Aku haus dan Kau tidak memberi Aku apapun untuk minum." 

… Paus juga berkata terus terang: "Untuk para uskup, saya meminta Anda untuk menjadi pastor." … "Sebagai pastor Anda jangan berkotbah tentang doktrin yang rumit, tapi pembawa berita Kristus, yang mati dan bangkit untuk kita," katanya. "Tujukan pada hal yang pokok, kerygma."
 
Paus Fransiskus juga berbicara tentang ajaran gereja, "pilih orang miskin" - yang menyatakan bahwa umat Katolik harus mempertimbangkan dampak semua pilihan pada mereka yang termiskin; dengan tegas Paus menyatakan: "Tuhan mencurahkan darahnya tidak untuk beberapa orang, tidak untuk banyak orang, tetapi untuk semua!"

 ... "Oleh karena itu, pergilah ke jalan-jalan dan ke persimpangan jalan: semua yang Anda temukan, panggil mereka, tidak ada yang dikecualikan," dia mendesak. "Di manapun Anda berada, jangan bangun dinding atau batas, tapi tempat pertemuan dan rumah sakit lapangan." 

"Saya ingin gereja Italia yang resah, selalu dekat dengan mereka yang ditinggalkan, yang terlupakan, yang tidak sempurna," kata Fransiskus. "Saya menginginkan gereja bahagia dengan wajah seorang ibu, yang penuh pengertian, menyertai, memberi belaian.""Mimpikan gereja yang seperti ini, percayalah padanya, berinovasilah dengan bebas," desak Paus.


Diskusi 
Jarang Paus bicara seperti di atas. Sedikit sulit dimengerti, tapi ada butir2 yang dengan mudah kita cerna... Beberapa di antaranya:
  • Jangankan tradisi atau kebiasaan; Ajaran Katolik, doktrin, itu bisa berubah. Sebelum ini, seorang kardinal juga bilang, "Doktrin Katolik itu bukan seperti toko yang sudah tutup." Bisa berubah...
  • Wajah Yesus itu mirip dengan wajah begitu banyak saudara kita. Carilah orang kecil, orang yang menderita, terkena bencana, termasuk pasangan yang menderita karena cerai, itulah wajah Kristus. Jangan hina mereka, jangan pandang dengan sebelah mata. Itulah Kristus yang menderita.
  • Untuk para imam, mohon jangan kotbahkan teologi yang rumit2. Tapi yang mudah saja. Kehidupan sehari2. Ini sejalan dengan ucapan Paus di sini.
  • "Pilih orang miskin". Option for the poor. Jangan sampai kegiatan gereja (kita) meninggalkan mereka yang miskin karena tidak punya uang untuk ikut serta. Bikin seminar di hotel? OK saja. Tapi pikirkan bagaimana yang miskin bisa ikut, tanpa terpaksa merendahkan dirinya dengan mengaku miskin.
  •  Akhirnya, mari kita semua (sebagai gereja) menjadi ibu bagi semua saudara kita. Ibu yang penuh kasih, pengertian, dan siap melipur lara mereka yang susah....

Wednesday, October 28, 2015

Dua Uskup Agung baru, pembela orang miskin



Paus Fransiskus bikin kejutan lagi. Dia menunjuk dua uskup agung baru yang memiliki "bau domba."

Yg satu, Matteo Zuppi, seblm ini uskup pembantu di Roma; yg lain, Corrado Lorefice, 53 th, seblm ini cuma pastor paroki di Keuskupan Noto di Sisilia.

Kedua uskup baru ini rohaniawan sederhana, dikenal krn banyak bekerja untuk orang miskin, org yg terbuang dan dalam kesulitan (Zuppi) dan mereka yang terjebak dalam prostitusi dan migran (Lorefice).

Zuppi, 59, dikenal sangat ramah dan baik. Dia dicintai oleh orang-orang miskin, orang buangan, kaum gipsi, dan orang-orang tua yang telantar; ia menghabiskan hidupnya melayani mereka.

Pengangkatan ini meneguhkan visi Paus, gereja untuk orang miskin. Dulu orang yang kurang setuju dgn paus memelesetkan visi itu dengan "berjiwa miskin" (tidak salah sih). Tapi makin lama paus makin jelas menunjuk ke kemiskinan dunia ini. Orang miskin, kere.... Itulah yang perlu dirangkul gereja... Sudahkah itu menjadi pedoman gereja di paroki Anda ?

Edit: artikel semula menyebut "kardinal". Salah baca..

Pembantu Rumah Tangga orang Katolik (3)

Lanjutan dari   Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen.

  • Gaji: Saya tidak bicara mengenai keluarga miskin yang terpaksa memakai dan menggaji pembantu karena keadaan sangat memerlukan. Keluarga itu dengan amat bersusah payah berusaha menggaji pembantunya dari segala kekurangannya... Hemat sini, irit sana, dan akhirnya mereka bisa.
  • Tapi sebagian orang yang mampu, bahkan amat sangat lebih dari mampu, kadang berpikir, kalau gaji bisa lebih rendah mengapa tidak? Toh semua ini hukum pasar. Dia mau, dia senang, aku senang, tanpa paksaan... Maka dicari cara untuk meminimalkan gaji tadi. Aku ambil contoh saja peraturan di Singapura. Karena di sini belum ada peraturan apapun. Sedang digarap LSM (yang mungkin bukan Katolik)... Di sana ada ketentuan, misalnya PRT harus digaji 400 dolar. Nah, bagi sebagian orang Katolik, kalau bisa diatur supaya pembantunya mau menerima 250 dolar, bukankah itu bagus? Dia senang, karena untuk ukuran Indonesia, itu sudah cukup besar. Nyonya majikan juga senang karena ada uang lebih untuk beli parfum Crocodile alias Lacoste atau Elizabeth Arden, tiap bulan. Bukankah kalau kumpul berdoa ke gereja perlu wangi? Juga mungkin uang bisa didermakan ke gereja, karena rumah Tuhan perlu dibuat megah.

    Di sini orang Katolik ini lupa pada ajaran gereja yang dituangkan dalam ensiklik Rerum Novarum (lebih dari 100 tahun lalu) dan Quadragesimo Anno. Intinya, jangan serahkan gaji pada mekanisme pasar! "Toh, tidak dipaksa, dia mau." Itu mekanisme pasar. Apalagi, pada kasus di atas, pembantu tadi telah ditipu karena seharusnya minimal dia memperoleh gaji setara yang ditetapkan negara. Sangat menyedihkan kalau ini dilakukan oleh orang Katolik yang rajin ke gereja. Apa ini terjadi? Coba tanya pada komunitas Katolik di sana...
  • Jadi bagaimana seharusnya orang Katolik menggaji karyawan kecil atau pembantunya? Pertama, ikuti aturan pemerintah (kalau kamu mampu, karena ada yang tidak mampu). Kedua, ingat bahwa pekerja-pekerja terkecil itu adalah perwujudan Kristus di dunia. Yesus sendiri yang bilang, apa yang kau lakukan pada mereka, itu kau lakukan pada Dia. Kalau sabda ini diterima dengan hati terbuka, tak ada keluarga Katolik yang semena2 terhadap pembantu. Pakai "kasih" sebagai dasar utama, maka semua akan gembira (karena "orang Kristen itu gembira," kata Paus)

    Jadi, berapa besar kita harus menggaji pembantu rumah tangga (atau karyawan kecil lainnya)? Terserah seberapa besar kasih Anda pada perwujudan Kristus di dunia ini. Tetangga umumnya memberi 500 ribu misalnya. Kalau pakai mekanisme pasar, jawaban kita sebagai majikan mungkin "saya beri 600 ribu saja; bukankah sudah lebih dari cukup?" Tapi untuk yang sudah berlebih kemampuannya, kenapa tidak lebih besar? Sepuluh kali lipat? Kenapa tidak, kalau mampu? Yang utama, jangan lihat pasar. Jangan lihat berapa besar orang lain membayar.

    Aku mengenal keluarga2 yang menggaji pembantunya dengan baik dan menyekolahkan anak2 pembantunya sampai lulus. Itulah Kristen sejati.Itu penginjilan yang diinginkan oleh Paus Fransiskus sekarang ini. Anggaplah mereka saudaramu sendiri.

Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (2)

Lanjutan dari   Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen


  • Tidak boleh istirahat di hari Minggu: Dalam Katekismus Katolik, dalam Kesepuluh perintah Allah ada perintah "Kuduskanlah Hari Tuhan"... Mungkin karena terlalu pendek, banyak orang Katolik mengartikan, hanya orang Kristen yang harus beristirahat pada hari ketujuh, yang sekarang disebut hari Minggu. Orang lain, pembantu di rumah, yang bukan Kristen, kan tidak terikat oleh hukum itu? Benar? Salah...

    Perintah aslinya, yang berasal dari Kitab Keluaran 20:10, mengatakan:
    "tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu."
    Nah, hewan pun tidak diperkenankan untuk bekerja terus menerus, apalagi manusia. Harus ada istirahat. (Mungkin pada perbaikan naskah katekismus yang akan datang, kalimat ini perlu dicantumkan lagi dan tidak terlalu pendek. Mohon Bapa Uskup mengusulkan ke Vatikan.)

    Negara-negara Barat banyak yang punya hukum untuk melindungi pekerja kecil seperti PRT ini. Singapura juga. Ada LSM yang mendorong pemerintah untuk melindungi PRT. Maka akhirnya dibuatlah peraturan bahwa semua PRT di Singapura harus diberi istirahat satu hari seminggu. Sayangnya, kalau tidak salah, ada klausula, pada hari istirahat itu PRT boleh tidak beristirahat kalau ada kompensasi uang. Apa arti uang bagi orang Singapura yang rata2 sangat kaya itu? Mereka negara terkaya ketiga di dunia (dari rata2 kekayaan penduduk). Dengan mudah mereka akan kasih uang, dan PRT tetap "dipenjara" di rumah dengan legal tanpa melawan hukum.

    Tadi aku sebut lembaga2 sosial, LSM, di Singapura yang mengusahakan perbaikan nasib para PRT di Singapura. Apakah itu LSM Katolik? Bukan. Adakah yang menulis beberapa di antaranya mewakili umat Katolik? Tidak... Aduh, sedih... ke mana saja saudara2ku orang Katolik Singapura itu? Apakah mereka tidak ada waktu karena sedang berdoa atau berkotbah tentang cinta kasih?  Gereja sebagai gereja, tidak boleh ikut politik. Tapi sebagai individu, orang Katolik perlu ikut memperjuangkan. Dan perlu berkata saya memperjuangkan karena saya Katolik. Inilah salah satu bentuk penginjilan (evangelisasi) yang diharapkan Paus Fransiskus. "Aku Katolik. Aku membela orang yang miskin dan menderita."

    Aku tidak tinggal di sana, jadi tidak tahu tepat apa yang terjadi. Tapi minimal dari berita koran Straits Times, tidak ada kata "katolik" yang tersisip dalam ulasan2 tentang PRT di sana (karena dulu tinggal di Batam, aku sangat sering ke Singapura, kadang tiap minggu). Dari artikel yang ada, tahun 1987 ada LSM yang aktif membela PRT. Tidak banyak jumlah orangnya; kalau tidak salah cuma 22 orang. Tapi tercatat di situ, dan aku bangga, bahwa sebagian dari mereka mengaku bergerak karena mereka Katolik. Karena pemerintah saat itu sedang sangat keras, mereka ditangkap. bahkan dituduh komunis. Ditahan tidak lama. Tapi tak lama kemudian LSM itu bubar... dan kata "Katolik" tidak tersisip lagi di koran, sampai sekarang (untuk urusan itu).

    Entah bagaimana gerakan umat Katolik di sana saat ini. Juga entah apakah pastor di sana sering mengingatkan umatnya soal ini dalam homili.
  • Di Indonesia sendiri, dalam 10 tahun ini rasanya aku tidak mendengar ada gerakan umat Katolik untuk membela PRT. Entah ada atau tidak ulasan tentang ini (dan cukup sering kah) di majalah Hidup. Juga 10 tahun ini dalam homili aku tidak mendengar kata PRT kecuali saat perayaan Natal atau Paskah 2 - 3 tahun lalu, di mana Pastor Eddy meminta kita menyayangi orang kecil, termasuk pembantu di rumah kita. Aku sangat menghargai itu... Umat perlu bergerak, tapi pastor bisa berpengaruh besar sekali kalau mau menekankan masalah ini berkali-kali dalam homili. Kristus sering sekali kita temui, dalam bentuk pembantu di rumah, office boy di kantor, satpam di lingkungan rumah (atau gereja), penjaja makanan kecil yang lewat di depan rumah, dst.

    Maaf, aku tahu tulisan ini mungkin akan membuat tidak senang sebagian orang, juga saudara2, anak2, menantuku, serta teman2 semua, khususnya ibu2 rumah tangga. Tapi aku harus mengatakan yang seharusnya. 
 Lanjutan: Pembantu Rumah Tangga ... (3)

Monday, October 26, 2015

Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen


Kutipan di bawah ini saya peroleh dari selebaran lewat WA yang tidak saya ketahui sumbernya. Mohon izin dikutip untuk diskusi...
Kencan Dengan Tuhan
Senin, 26 Oktober 2015

Renungan: Seorang kakek berkulit hitam berdiri di depan pintu kantor lembaga Alkitab di Amerika Serikat. Setelah masuk ia bertanya, "Apakah kalian menjual Alkitab?" "Betul, kek," jawab pemuda di balik meja. Kemudian si kakek bercerita, "Aku terlahir sebagai seorang budak dan majikanku melarang aku untuk belajar membaca dan menulis, tetapi aku nekat sehingga seringkali aku dicambuk karena melanggar peraturan.
     Setelah itu aku dan ayahku mengabdi pada anak majikanku yang sudah berkeluarga. Ia mengijinkan budaknya belajar membaca agar bisa membaca Alkitab. Aku senang sekali. Aku membaca Alkitab dan melakukan perintah Tuhan yang aku baca. Sayang sekali aku tidak punya uang untuk membeli Alkitab. Bisakah aku mendapatkan Alkitab dengan bermain suling?" Maka terdengarlah suara suling nan merdu menggema di seluruh ruangan kantor. Pria muda itu segera membuka lemari dan memberikan sebuah Alkitab kepada sang kakek.
     Setelah berhenti bermain suling, sang kakek berkata, "Aku bisa memperolehnya tanpa membayar, nak?" Dengan ramah sang pemuda berkata, "Sesungguhnya kakek sudah membayarnya ketika dulu kakek berani dicambuk hanya karena belajar membaca."
    Begitu indah jika semua orang percaya memiliki kerinduan yang sama untuk membaca firman Tuhan...

Tuhan memberkati.

===================


Begitulah ceritanya.... Dia terlahir sebagai budak, dan majikan saat itu secara legal formal boleh mencambuk sesukanya, karena di dalam hukum, dia bukanlah manusia, melainkan "barang". Dia nekat sering melanggar peraturan, maka sering dicambuk. Untuk saat itu, wajar, biasa, alamiah; dan  kakek ini bercerita mungkin dengan tersenyum. Tapi yang sering dilupakan, majikan pencambuk itu mayoritas orang Kristen. Sebagian Katolik. Karena ini terjadi di AS.

Kisah kakek kulit hitam yang dicambuk itu menjadi pemicu tulisan ini. (Renungan yang saya kira akan tidak berkenan bagi sebagian orang. Untuk itu, mohon maaf sebelumnya.)

Apa yang ingin saya tekankan? Tolong dicatat bhw gereja Katolik kita pada masa itu tdk banyak bersuara tentang pelanggaran perikemanusiaan itu karena dianggap sudah sesuai dengan nilai zaman itu. Siapa yang dimaksud dengan gereja itu?

Gereja adalah kita semua. Orang awam, aktivis gereja, biarawan, sampai paus. Saya mungkin kurang lama mempelajari, tapi yang saya ketahui, secara umum tidak banyak yg dilakukan gereja untuk membela orang kulit hitam yang teraniaya setengah mati (banyak yang sampai mati) pada masa itu. Mungkin, dan pasti, ada pribadi2 Katolik atau non-Katolik yang baik, yang tidak melakukan penganiayaan; tapi sebagai kesatuan umat Katolik (kalau saat ini, mungkin berupa Wanita Katolik, SPSE, Orang Muda Katolik, kelompok kategorial lain, paroki, keuskupan, paus) tidak banyak membela, minimal kurang terdengar upaya mereka, untuk membantu orang tertindas itu. Selama 200 tahun.

Diskusi di group WA pun jadi makin panas; ada yang dengan cepat berkata "Mengapa sih mengungkit2 masa lalu, menyebar kemarahan. Cobalah berdamai dengan masa lalu..." Mungkin maksudnya mari kita bicara yang indah2 saja. Yang enak didengar. Yang membuat hati tenteram, damai, penuh kasih... Saya juga senang bicara yang manis2 seperti itu; tapi saya tidak bisa, kalau masih ada orang menderita, yang kita ketahui menderita, dan kita biarkan sengsara, sementara kita berkotbah menghamburkan kata-kata penuh cinta kasih tentang membantu sesama dst. Bentuk perbudakan itu masih ada, sampai saat ini, sekarang, di sini, di lingkungan kita, juga di lingkungan orang Katolik. Maka saya berkata. AYO BANGUN. Mari kita bantu mereka... Ini tidak bicara peristiwa 100 - 250 tahun lalu. Ini bicara masalah saat ini.

** Sudah lewat jam 12 malam... capek badan dan pikiran... Istirahat dulu...

Lanjutan di sini: Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (1)
 

Saturday, September 26, 2015

Makan Bersama Para Gelandangan, dan Misi Suci Paus Fransiskus


New York Times, 24 Sep 2015
WASHINGTON - Para penghuni panti jompo Harriet Tubman ini bangun pukul 3 pagi Kamis, agar semua orang ada waktu untuk mandi, merapikan rambut dan mengenakan pakaian terbaik mereka setelah bertahun-tahun menggelandang, keluar masuk panti, digusur, dipukuli, dan dipecat dr pekerjaan.

Mereka akan makan siang dengan Paus Fransiskus.

Menjelang tengah hari, para wanita itu duduk di tengah ruang yang tampaknya seperti resepsi pernikahan: hamparan meja bundar terbungkus taplak meja biru muda, dimahkotai dengan vas bunga kuning dan oranye.

Jangan pedulikan bahwa meja2 itu berada di bawah tenda di jalanan pinggir kota, dan bahwa sebagian besar dari 300 tamu itu gelandangan, kriminal, sakit jiwa, korban kekerasan dalam rumah tangga, penyalahguna narkoba atau sejenisnya. Pada tengah hari, Paus Fransiskus muncul, seperti yang dijanjikan.

Pada kunjungan enam hari ke Amerika Serikat ini, Fransiskus memperhatikan peringatan yang dibisikkan kepadanya oleh seorang kardinal Brasil beberapa saat sebelum dia dinyatakan terpilih sebagai Paus: "Jangan lupa kaum miskin"

Setelah berpidato di depan Kongres, paus langsung pergi ke para gelandangan di panti werda Katolik - jadwal yang dirancang untuk memberi pesan bahwa prioritasnya, dan prioritas gereja, adalah orang-orang yang terpinggirkan.

Di setiap kota yg dikunjunginya dalam perjalanan ini, paus menggunakan status selebritasnya untuk memaksa kamera untuk menunjukkan pada bangsa ini gambar yang bagi banyak orang mungkin lebih baik tidak dilihat: Di Washington, ia bertemu para gelandangan, dan di New York ia berencana mengunjungi para imigran . Di Philadelphia, ia akan pergi ke penjara. Sebagai pastor pengajar utama dari gereja, ia bertekat memperjelas bahwa ia punya dua tujuan: membawa harapan dan semangat hidup untuk mereka yang menderita, dan menggerakkan mereka yg hidup nyaman untuk melakukan sesuatu bagi mereka yang membutuhkan.

"Dengan kunjungan ini, Paus berkata, kamu perlu memikirkan orang miskin," kata Mgr. John J. Enzler dari Keuskupan Agung Washington, sementara ia menunggu paus tiba Kamis itu. "Kamu tidak bisa hanya pergi ke gereja dan berkata, saya sudah melakukan tugas saya. Dia berkata, 'Pergi ke pojok2, pergi ke pinggiran,' " kata Monsignor Enzler. "Dia mengatakan kepada semua orang, 'Keluarlah ke jalan-jalan, biarpun kotor, dan jadikan sebuah gereja di jalanan.'"

Tapi, demi Fransiskus, itu semua perlu perencanaan yang cermat. Bagi para pria dan wanita tunawisma di perjamuan yang diselenggarakan oleh badan amal Katolik itu, hari itu dimulai dengan berbaris panjang, lebih dari satu blok perumahan, untuk melalui screening Secret Service.

Edward Gray, dengan topi lebar dan kacamata, sedang menunggu di barisan. Dia dan banyak dari orang yang menghadiri makan siang itu tinggal di tempat yang disebut "801," singkatan untuk alamat penampungan tunawisma itu. Tidak seperti banyak dari mereka yang sedang berbaris itu, Gray beragama Katolik.

Gray mengatakan ia pernah bertemu paus sebelum itu: Ketika ia jadi putra altar di Washington, ia pergi dengan rombongan ke Roma dan bertemu Paus Pius XII. Dia cerita, dia tidak selalu tunawisma. Dia pernah bekerja sebagai kontraktor di Capitol Hill, dan jadi tukang potong rambut dan guru tata rias. Gray, 69 tahun, bilang ia punya enam anak, lima di antaranya lulusan perguruan tinggi, dan terdengar sentuhan skeptis tentang paus ini.

"Dia datang ke sini untuk menemui para gelandangan?" Kata Gray. "Sangat aneh, raja kok menemui gelandangan."

Paus Benediktus XVI dan Paus Yohanes Paulus II pernah mengunjungi Washington, tapi tidak menemui para klien panti Katolik ini, kata Monsignor Enzler. "Ketika paus lain datang, itu lebih untuk para uskup dan para pemimpin negara kita," katanya, atau untuk merayakan Misa Agung untuk umat seperti yang dilakukan Benediktus delapan tahun lalu di Stadion National.

Bagaimanapun, Fransiskus berhasil menginspirasi panitia untuk mengadakan pesta meriah ini yang meski darurat terkesan mewah. Relawan menyajikan piring dengan teriyaki dada ayam, pasta salad Asia dengan kacang polong dan wortel, lebih dari satu jam sebelum kedatangan Paus. Para tamu diberitahu untuk tidak makan sampai paus tiba dan memberi berkat, dan mereka memang tidak makan duluan.

Di meja, beberapa tamu bersosialisasi, dan saling berfoto ria dengan ponsel mereka, beberapa orang duduk diam dan sebagian tertidur. Beberapa pria mengenakan jas; yang lain celana jeans. Seorang wanita terlihat dengan kuku yang dicat kuning yang cocok dengan bunga di atas meja.

Sementara kamera-kamera televisi dan para wartawan sibuk bergerombol, Ms. Hilliard, mantan karyawati department store, mengatakan, dia yakin akan ketulusan Paus dan bahwa ini "bukan pencitraan."

"Paus benar peduli," katanya, "dan itulah yang penting."

Paus tiba sesaat sebelum tengah hari, tapi sebelum itu dia menyelinap ke gereja di dekat situ, St Patrick, di mana ia berbicara kepada sekitar 250 gelandangan tentang masalah tunawisma. Meskipun ia baru saja menyampaikan pidato di Capitol Hill, di St. Patrick ia tidak berbicara mengenai program politik untuk mengatasi tunawisma atau kemiskinan. Untuk mereka yang telah jatuh miskin ini, ia menawarkan iman, solidaritas dan doa.

"Dalam menghadapi situasi yang tidak adil dan menyakitkan ini, iman membawa kita cahaya yang menerangi kegelapan," katanya. "Iman membuat kita terbuka untuk keheningan kehadiran Allah di setiap saat dalam hidup kita, dalam setiap orang dan dalam setiap situasi. Allah hadir dalam Anda semua, pada kita masing-masing."

Beberapa menit kemudian Fransiskus keluar dari pintu gereja disambut dengan sorak-sorai dan tepuk tangan dari para tamu makan siang itu. Dia memberi berkat singkat, lalu berkata "Buen apetito (selamat makan)," yang disambut dengan tawa riuh. Dia sendiri tidak makan, tapi ia berjalan dari meja ke meja, berhenti untuk meletakkan tangannya ke atas kepala anak-anak yang diam berjam-jam menunggu, mewarnai gambar paus yang diberi ke mereka dengan krayon.

Sambil tersenyum dan tampak tidak tergesa-gesa, paus bergerak di antara para tunawisma itu, beberapa orang mengambil selfi dan mengulurkan tangan untuk menyentuh paus dan berbicara dengannya.


"Saya bilang kepadanya semoga tetap diberkati Tuhan dan tidak stres," kata Mark Perrez, 54 tahun, yang mengatakan Paus memegang tangannya dan dengan terkejut menunjuk koleksi eklektik pin yang dikenakan Perrez di seluruh bagian depan blazer dan topi bisbolnya.

Sementara paus naik ke Fiat kecil hitam sebagai "limousinnya", Peter Atkinson berdiri di pinggiran kerumunan, mensyukuri apa yang dia katakan baginya, sebagai seorang Katolik, "momen kasih karunia." Atkinson, 54, seorang insinyur dengan jaket hitam tajam, yang berbahasa Inggris dengan aksen Prancis, sekarang tinggal di salah satu panti Katolik. Ia bercerita, ia jatuh akibat narkoba dan alkohol.

"Saya tidak akan dapat ikut seperti saat ini bertemu paus jika saya tidak jatuh menjadi sampah dalam hidup saya, yang membawa saya ke panti," kata Atkinson. "Jika saya tidak bisa membaca tanda-tanda zaman ini, saya pasti buta."


========================

Renungan : Bagaimana seandainya sebelum mengambil putusan pada setiap rapat, setiap kegiatan paroki, setiap wisata rohani, setiap pembangunan gereja, setiap sekolah, setiap kegiatan rumah sakit, selalu ada pertanyaan, "Apa ini berguna, dan cocok untuk saudara2 kita yang termiskin?" Karena "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"... Tapi Paus sadar dan bilang, penggunaan kata "miskin" sering membuat banyak orang tidak nyaman...

Monday, August 12, 2013

Paus Fransiskus (6) : Bahasa yang sederhana

Ketika di Brasil, 27 Juli 2013, paus bertemu dengan para uskup Brasil. Dia pertama2 berbicara tentang mukjizat Aparecida, penemuan patung Bunda Maria oleh sekelompok nelayan miskin. Yang menemukan bukan profesor arkeologi dari University of Chicago di AS, tapi nelayan yang miskin, dan mungkin sekali bodoh, tak berpendidikan. Paus mencatat bahwa Tuhan selalu datang dengan pakaian yang sederhana, pakaian wong cilik. Dia menambahkan :
"Kadang kala, kita kehilangan orang karena mereka tidak memahani apa yang kita katakan, karena kita telah lupa bahasa yang sederhana dan mengimpor intelektualisme yang asing bagi masyarakat kita."
(At times we lose people because they don’t understand what we are saying, because we have forgotten the language of simplicity and import an intellectualism foreign to our people.)
Mungkin ada maksud lain dalam ucapan Paus selain apa yang tersurat di sini; entahlah. Tapi, kalimat yang tertulis di situ menyentuh unek-unek yang telah lama saya pendam. Mengapa surat2 resmi lain dari gereja, surat gembala, visi dan misi, juga kotbah, kadang memakai kalimat atau kata2 yang hanya dimengerti oleh kaum intelektual? 

Berikut adalah contoh yg saya ambil secara sembarang dari internet, tanpa maksud jelek apapun. Ini contoh visi dan misi gereja:

  • ”Communio dari aneka komunitas basis, yang beriman mendalam, yang solider dan dialogal, memasyarakat dan missioner”
  • Mengembangkan tata layanan pastoral berbasis data; memberdayakan komunitas teritorial lingkungan dan komunitas kategorial menjadi komunitas beriman yang bertumbuh dalam persaudaraan.
Lukisan Rasul Petrus
Mohon maaf kalau saya mengaku bodoh. Saya kadang tidak paham (benar2 tidak paham) arti dari kalimat tadi, khususnya  kata2 yang saya kasih warna biru. Saya pernah bertanya pada Ketua SPSE, apa sih arti "kategorial"? Saya sadar, mungkin sekali kalimat2 tadi mencomot dari pedoman yang diberikan oleh badan yang lebih tinggi. Tapi, yang menjadi pertanyaan, untuk siapa visi dan misi itu dibuat? Apakah khusus untuk Dewan Paroki? Kalau demikian, maka urusan selesai. Titik. Sebagian besar anggota dewan memahaminya. Atau untuk umat? Umat yang mana? Khusus untuk yang berpendidikan SMA? Perguruan tinggi?


Kalau mengambil semangat Paus Fransiskus yang mendambakan "gereja miskin, dari orang miskin", maka kalimat2 tadi seharusnya dapat dibaca oleh orang miskin, yang termiskin di paroki, yang umumnya bukan lulusan UI atau UGM, dan mungkin tidak lulus SD. Lalu, bagaimana cara termudah untuk menguji apakah pesan tadi dimengerti oleh mereka? Bawa saja tulisan itu ke tukang kebun dan tukang sampah di gereja, tanyakan apa dia memahami tulisan ini.  Begitulah pengertian saya tentang pesan Paus kita mengenai "orang miskin dan orang kecil"...

Beberapa kalimat/frasa lain yang sempat saya comot: 
  • menggerakkan karya-karya pastoral yang kontekstual
  • Gereja partikular Keuskupan XXX amat sadar akan keanekaragaman umatnya
  • semangat pertobatan ekologis dan gerak ekopastoral
Juga kata2 ini: 
  • relevansi, donasi, konteks, refleksi
Lalu, apakah tanpa kata2 intelektual itu pesan dapat sampai ke umat? Seharusnya lah. Mungkin lebih "masuk" ke hati umat. Karena dahulu rasul2 sebagian besar juga cuma nelayan, dan mereka menulis secara sederhana. Ketika Rasul Petrus menulis, "hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati," maka rekan2nya yang nelayan, tukang kayu dan penjual roti di sebelah rumahnya, juga para pemuka Sanhedrin dan kaum cendekiawan di Roma, semua memahami arti dari pesannya. Tak ada yang tersingkir.

_____________________________________



Friday, August 9, 2013

Paus Fransiskus (3) : Cara pikir Tuhan

Paus Fransiskus sangat revolusioner. Buat saya, sungguh mengagumkan. Banyak hal yg dikatakannya tidak pernah diucapkan oleh para paus sebelumnya. Contohnya ini: cara pikir Tuhan.

27 Maret lalu, pada masa Paskah, lewat Twitternya, @Pontifex, paus menulis:
"To experience Holy Week is to enter more and more into God's logic of love and self-giving."
Terjemahan bebasnya: utk menghayati  Pekan Suci ini (paskah yg lalu), kita perlu semakin mendalami cara berpikir (logika) Tuhan tentang kasih dan pengorbanan diri (dan melaksanakannya).   Hal yg tersirat: cara pikir kita mungkin salah. Kita mungkin merasa tindakan kita sesuai dgn "kasih" tapi bukan itu yg dimaksud Tuhan. Contoh sehari2nya? Orang tua yg dengan keras memukul anaknya krn "sayang" anak. Padahal itu sebenarnya bukan kasih sayang tapi kemarahan. Mungkin ada keputusan2 serupa yg diambil oleh kita sebagai umat Katolik, oleh Dewan Paroki, oleh para pastor, dll, sehingga Paus berkata demikian?

Mungkin analisa saya di atas juga salah. Tapi sesuai dgn pesan Bapa Suci, marilah selalu bertanya. apakah cara pikir kita sudah sesuai dengan cara pikir Tuhan.

Doa saya: "Terima kasih banyak ya Tuhan, Kau yg Mahabaik telah memberi kami Paus Fransiskus yg luar biasa ini... Yang ingin membawa kita kembali ke gereja awal, gereja nya Petrus dan Paulus."

‎