Showing posts with label gelandangan. Show all posts
Showing posts with label gelandangan. Show all posts

Saturday, November 7, 2015

Paus minta maaf kepada Kelompok Gereja Miskin



Paus Fransiskus meminta maaf kepada Kelompok Gereja Miskin, Waldensia

http://www.dw.com/en/pope-Fransiskus-apologizes-to-waldensian-community/a-18531675

Paus di Gereja Waldensia
Atas nama Gereja Katolik Roma, Paus telah meminta maaf atas perlakuan Gereja Katolik di zaman dulu terhadap satu kelompok gereja yang ada di Italia utara.

Paus Fransiskus, paus pertama yang berkunjung ke gereja Waldensia, menyatakan permintaan maaf, dan mengatakan penganiayaan kelompok minoritas oleh Gereja Katolik ini "tidak-Kristiani."
Gereja Waldensia punya sekitar 45.000 anggota - mayoritas di wilayah Piedmont Italia utara, dan sekitar 15.000 di Amerika Latin. Pada hari kedua kunjungannya ke Piedmont, Paus Fransiskus mengatakan dia tidak bisa tidak merasa sedih atas "perselisihan dan kekerasan yang dilakukan atas nama iman." "Atas nama Gereja Katolik, saya minta maaf," katanya. "Saya minta maaf atas sikap dan perilaku tidak-Kristiani, bahkan tak berperikemanusiaan, yang telah kita (Red. Gereja Katolik) lakukan terhadap Anda semua. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, ampuni kami."


'Menembus Dinding’
Pidato Paus
itu disambut dengan tepuk tangan hangat, dan  pendeta gereja, Eugenio Bernardini, berterima kasih kepada Paus Fransiskus karena telah "menembus dinding yang dibangun delapan abad lalu, ketika gereja kami dituduh sesat dan dikucilkan."

Gerakan Waldensia yang kecil ini dimulai pada abad ke-12 oleh Peter Waldo, pengusaha kaya dari Lyon, Perancis. Waldo membagi2kan hartanya, dengan gigih berkotbah dan menganjurkan hidup sederhana serta mencela kemewahan duniawi yang ditunjukkan oleh Gereja Katolik, yang waktu itu sangat kuat. Gerakan itu makin tumbuh,  dan konflik dengan Vatikan makin meningkat, dan Waldo akhirnya dikucilkan, dikeluarkan dari gereja.

Ide2 Waldo secara resmi dinyatakan sebagai bidah, sesat, oleh Paus Lucius III di 1184, dan diulang lagi oleh Paus Innocentus III di tahun 1215. Pada 1211, lebih dari 80 anggota kelompok Waldensia dibakar karena dianggap sesat di Strasbourg, menandai dimulainya abad2 penganiayaan terhadap kelompok ini.



Paus Fransiskus, pastor Jesuit Argentina yang orang tuanya lahir di Piedmont, Italia, lahir dan dibesarkan di Argentina, di mana cukup banyak kelompok Waldensia.

Deutch Welle, 22/06/2015


Penganiayaan wanita, anak2, orang tua2, pengikut Waldo tahun 1655. Ilustrasi buku "History of the Evangelical Churches of the Valleys of Piemont", London, 1658.

Diskusi
Mencela kemewahan yang ditunjukkan oleh Gereja Katolik. Itu misi utama Peter Waldo di tahun 1170-an itu. Dia konsekuen dengan membagi2kan hartanya dan hidup miskin, karena Yesus berkali2 menekankan kemiskinan, kata yang sering bikin tidak enak telinga banyak orang (sampai saat ini, kata Paus Fransiskus).

Tapi, Waldo berbeda dengan Santo Fransiskus Assisi yang juga membuang hartanya serta pakaian indah dan sepatunya, jadi mirip gelandangan. Fransiskus Assisi tunduk pada hierarki gereja, tunduk pada paus. Waldo tidak mau tunduk, karena (mungkin) menganggap paus pun bersalah dalam pamer kemewahan itu. Sayang Waldo bukan hanya berhenti di situ. Berbagai ajaran gereja kemudian juga diserangnya. Itu membuat pengucilan semakin cepat dilakukan.

Pengucilan kemudian diikuti oleh penganiayaan banyak pengikut Waldo. Banyak yang melarikan diri ke luar Italia, Ketika gerakan Reformasi Kristen dimulai sekitar tahun 1500 an, para pengikut Waldo ini segera masuk ke gereja Protestan untuk melindungi diri. Ini tidak menyurutkan penganiayaan terhadap kelompok ini. Ratusan atau ribuan anggotanya dibunuh dan dianiaya atas perintah raja Perancis.

Demikianlah sedikit latar belakang Gereja Waldensia. Saya bukan ahli sejarah gereja. Mungkin sekali ada kesalahan dalam interpretasi masalah ini. Tapi siapapun pengulasnya, tidak banyak data yang bisa diperoleh, karena buku asli Waldo dan pengikutnya kini tidak ada. Mungkin dibakar pada masa penganiayaan.

Tapi ada satu hal yang menarik saya: pengikut Waldo ini sebagian disebut Sandaliati, kelompok yang memakai sandal. Bukankah sekarang juga sering ada kecaman terhadap pemakai sandal di gereja ? :))



Terima kasih Tuhan, kau beri kami umat Katolik, Paus Fransiskus, yang meluruskan jalan kami.





Paus Fransiskus: Saya ingin dunia tanpa kemiskinan



(Radio Vatikan, 06/11/2015) 

Paus Fransiskus diwawancarai oleh koran Belanda, Straatnieuws, yang diterbitkan oleh “Tunawisma kota Utrecht”. Dalam percakapan itu, Paus Fransiskus menyentuh topik yang menarik, baik pribadi ataupun soal gereja…  Di bawah ini beberapa petikannya.

Wawancara dimulai dengan kenangan Paus tentang rumah masa kecilnya di Buenos Aires, "jalan di mana ia dibesarkan." Dia ingat bagaimana dia waktu kecil bermain sepak bola, dan bagaimana segala sesuatu di lingkungannya berada dalam jarak berjalan kaki.

Kenangan dari tetangga2 di Buenos Aires merupakan sumber kedekatan pribadinya pada orang miskin. Ditanya tentang tanggapan Gereja terhadap kemiskinan, Paus Fransiskus mengatakan, "Yesus datang ke dunia sebagai tunawisma (Red. Lahir di kandang) dan miskin. Kemudian Gereja ingin merangkul semua orang, dan mengatakan bahwa setiap orang memiliki hak untuk memiliki atap 'di atas kepala Anda’…”. 

Bapa Suci juga berbicara tentang perlunya melawan "dua godaan" yang dihadapi Gereja saat dia mencoba untuk berbicara bagi masyarakat miskin tanpa dimanfaatkan oleh kubu politik yang berbeda. "Gereja harus berbicara tentang kebenaran dan juga lewat kesaksian: kesaksian orang miskin. Jika seorang beriman berbicara tentang kemiskinan atau tentang tunawisma, dan hidup seperti firaun: ini tidak boleh."

Godaan kedua, katanya, "adalah membuat perjanjian dengan pemimpin pemerintahan. Perjanjian dapat dibuat, tetapi perjanjian harus jelas, transparan. . . karena selalu ada godaan untuk korupsi dalam kehidupan publik - baik secara politik ataupun agama. . . . Selalu ada bahaya korupsi."
Paus Fransiskus mengatakan ia ingin dunia tanpa kemiskinan: "Kita harus terus berjuang untuk ini." 

Tapi, katanya, "Saya percaya dan saya tahu bahwa dosa selalu ada dalam diri kita. Dan selalu ada keserakahan manusia, kurangnya solidaritas, egoisme, yang menyebabkan kemiskinan. Karena alasan ini, menurut saya agak sulit membayangkan dunia tanpa kemiskinan. . . . Tapi kita harus terus berjuang, terus, terus."

========================

Diskusi

Pernyataan Paus di atas menjawab pertanyaan2 dalam diskusi sebelum ini. Apa memang benar Paus ingin kita semua miskin? Kenapa dia bilang "betapa aku merindukan gereja miskin untuk orang miskin."? Baca diskusi ini: Kemiskinan - Kata yang Tidak Nyaman, kata Paus.

Tidak. Jawab Paus dengan sangat jelas. Dia ingin tidak ada kemiskinan di dunia ini. Tapi, faktanya, karena keserakahan manusia, kemiskinan akan selalu ada. Pada si miskin itulah gereja perlu solider, berbela rasa. Coba kita lihat semua kegiatan gereja dari sudut pandang si miskin, karena Yesus lah yang seharusnya kita lihat kalau kita melihat si miskin.

Lalu Paus bicara soal "firaun". Yang dimaksud dia bukan 'raja', atau orang kaya; titik. Yang dimaksud adalah orang kaya yang berbuat sewenang2 pada bawahan, khususnya pegawai yang paling kecil, pada orang miskin, seperti firaun yang menganiaya orang Israel... Baca ini juga: Orang Kulit Hitam Sering Dicambuk Orang Kristen.

**************

Sunday, November 1, 2015

Kemiskinan - kata yang tidak nyaman (kata Paus)

Kardinal Jaime Ortega Alamino dari Havana memperkenalkan umatnya pd Paus, dan berkata, "Gereja di Kuba adalah gereja miskin," ... Menanggapi ini, Paus berkata, kardinal "menggunakan kata yang tidak nyaman: kemiskinan. Semangat dunia (skg ini-Red) tidak mengenal kata itu, tidak mencarinya, dan menyembunyikannya."

Kemiskinan, kata dia, bisa menjadi kekayaan terbesar seseorang, tetapi mencari kekayaan dapat juga menghancurkan kehidupan seseorang.

Mengutip pendiri Jesuit, St Ignatius Loyola, Paus mengatakan dia menemukan kebijaksanaan dalam ajaran St Ignatius bahwa kemiskinan "adalah dinding dan ibu" dari hidup suci.

"Cintailah kemiskinan spt kamu mencintai ibumu," katanya.


* Catatan: Selama ini banyak orang Katolik yang bingung dengan kata2 Paus tentang kemiskinan. "Betapa aku merindukan gereja miskin, untuk orang miskin". Banyak sekali yang menerjemahkannya (memelesetkan) menjadi "berjiwa miskin" seperti dalam Kotbah di Bukit. Tentu itu bagus saja; itu kalimat Yesus sendiri. Tapi kalau melihat konteksnya, serta rangkaian kata2 Paus, jelas paus meminta gereja menjadi miskin secara duniawi. Secara fisik... Dan merangkul orang miskin. Paus sadar sekali banyak umat yang tidak merasa "nyaman" dengan kata miskin. Maka dia ulangi dan ulangi lagi.


Diskusi
IMA: Sorry mau tanya, apa bnr Pope Francis tdk menghendaki / tdk memperbolehkan kita utk menjd kaya secara jasmani..? Kl memang bnr bgtu, aku kok krg setuju ya, krn apa jdnya dunia ini kl semua org di dunia ini miskin smuanya?? Bgmn mungkin kita bs membantu sesama kita yang membutuhkan bantuan secara materi, kl kitanya sdiri jg miskin n perlu bantuan..? :) :).„dan bgmn mungkin kehidupan di dunia ini akan menjd maju n berkembang, kota2 bs menjd bgs n indah gemerlapan kl smua penduduknya miskin adanya? Dan bgmn mungkin jg dunia kedokteran n kesehatan akan menjd lbh maju dgn kemiskinan? Apakah manusia bs menjd lbh pintar dgn kemiskinan? Dan apakah Tuhan kita bnr tdk menghendaki umatnya menjd kaya?
Apakah menjd kaya itu adalah suatu dosa? Kl menurutku sih gak ada slhnya org menjd kaya secara jasmani, asalkan dia mendptkan kekayaannya dgn cara yang bnr, n dia bs menggunakan kekayaan yg dimilikinya dgn cara yg bnr n bijaksana, bukan hanya utk kesenangannya sdiri n keluarganya, tp jg utk kebaikan sesama n smua makluk hidup yg ada di dunia ini, n trutama utk kemuliaan Tuhan. Bukankah Tuhan menghendaki umatnya utk saling tolong menolong ? Yg kaya menolong yg miskin? :))
TK : Hebat,,, keren bnget ulasannya n sangat setuju, bahkan Tuhan Yesus sendiri pun tdk miskin, bukti  nya pny kasir yaitu Yudas, kalau sama rata miskin itu paham komunis, sdng kn kenyataannya yg memakai paham komunis itupun para pemimpinnya tetap kaya malah berfoya2, yg miskin hny rakyatnya aja
IMA: Kita smua tahu bhw miskin itu tdk jauh dr penderitaan, lalu apakah bnr bhw Tuhan itu menginginkan manusia utk menderita trs seumur hdpnya? Bukankah Tuhan menginginkan kita smua utk hdp bahagia sejahtera jasmani n rohani, slmt dunia n akhirat ? Dgn catatan asalkan kita mau sll ingat kpd Tuhan n mau menjlnkan perintahNya. Jd aku rasa gak ada yg slh dgn menjd 'kaya', yg penting semangatnya/ jiwanya yg sederhana / bersahaja, artinya walaupun kaya tp ttp sederhana hdpnya, tdk trlalu ber foya2, n mau sll ingat pd sesamanya yg kekurangan n membutuhkan bantuan. Krn utk itulah kita hidup, saling mengasihi n saling berbagi / saling memberi.
IMA: "Kemiskinan, kata dia, bisa menjadi kekayaan terbesar seseorang, tetapi mencari kekayaan dapat juga menghancurkan kehidupan seseorang.". Kl menurutku mungkin itu artinya walaupun kita miskin, tp berjiwa 'kaya', n tetap bs menjlni hidup dgn cara yg baik n bermartabat, n sll ingat kpd Tuhan n menjlnkan sgala perintaahNya, mk hidupnya akan diberkati Tuhan n akan mendptkan kebahagiaan surgawi/ keselamatan yg kekal. Sdgkan org yg mencari kekayaan dgn cara yg tidak bnr (korupsi, serakah dll), n menggunakan kekayaannya dg se-mena2 n tidak brtg jwb, mk dia akan hancur oleh kekayaannya / ketamakannya. Sorry kl slh...
EN: "Apa bener Paus Fransiskus tdk menghendaki /tdk memperbolehkan kita utk menjadi kaya secara jasmani..?" Tinggal baca aja, tertulis begitu atau tdk..  Paus tidak pernah berkata begitu.
Paus melihatnya dari sudut pandang keadaan kota tempat tinggalnya, ibukota Argentina, yang seperti Jakarta, penuh dengan kemewahan tapi terbalut oleh kemiskinan. Sebagian (kecil) kaya raya, sisanya, mayoritas, miskin. Kalau Paus hidup di pedalaman Papua atau Kalimantan, atau di ujung Gunung Semeru, di tengah gereja yang semua miskin, mungkin perkataannya akan berbeda. Paus ingin gereja miskin sebagai solidaritas, ikut bela rasa pada orang miskin. Supaya mereka tidak tersingkir dari gereja...

=====================
** Semoga semangat Paus Fransiskus hidup di hati kita. Apakah kita telah mencari mereka? Atau menyembunyikannya, seolah2 tidak ada, seperti kata Paus?

=====================

Monday, October 26, 2015

Kulit hitam: sering dicambuk oleh orang Kristen


Kutipan di bawah ini saya peroleh dari selebaran lewat WA yang tidak saya ketahui sumbernya. Mohon izin dikutip untuk diskusi...
Kencan Dengan Tuhan
Senin, 26 Oktober 2015

Renungan: Seorang kakek berkulit hitam berdiri di depan pintu kantor lembaga Alkitab di Amerika Serikat. Setelah masuk ia bertanya, "Apakah kalian menjual Alkitab?" "Betul, kek," jawab pemuda di balik meja. Kemudian si kakek bercerita, "Aku terlahir sebagai seorang budak dan majikanku melarang aku untuk belajar membaca dan menulis, tetapi aku nekat sehingga seringkali aku dicambuk karena melanggar peraturan.
     Setelah itu aku dan ayahku mengabdi pada anak majikanku yang sudah berkeluarga. Ia mengijinkan budaknya belajar membaca agar bisa membaca Alkitab. Aku senang sekali. Aku membaca Alkitab dan melakukan perintah Tuhan yang aku baca. Sayang sekali aku tidak punya uang untuk membeli Alkitab. Bisakah aku mendapatkan Alkitab dengan bermain suling?" Maka terdengarlah suara suling nan merdu menggema di seluruh ruangan kantor. Pria muda itu segera membuka lemari dan memberikan sebuah Alkitab kepada sang kakek.
     Setelah berhenti bermain suling, sang kakek berkata, "Aku bisa memperolehnya tanpa membayar, nak?" Dengan ramah sang pemuda berkata, "Sesungguhnya kakek sudah membayarnya ketika dulu kakek berani dicambuk hanya karena belajar membaca."
    Begitu indah jika semua orang percaya memiliki kerinduan yang sama untuk membaca firman Tuhan...

Tuhan memberkati.

===================


Begitulah ceritanya.... Dia terlahir sebagai budak, dan majikan saat itu secara legal formal boleh mencambuk sesukanya, karena di dalam hukum, dia bukanlah manusia, melainkan "barang". Dia nekat sering melanggar peraturan, maka sering dicambuk. Untuk saat itu, wajar, biasa, alamiah; dan  kakek ini bercerita mungkin dengan tersenyum. Tapi yang sering dilupakan, majikan pencambuk itu mayoritas orang Kristen. Sebagian Katolik. Karena ini terjadi di AS.

Kisah kakek kulit hitam yang dicambuk itu menjadi pemicu tulisan ini. (Renungan yang saya kira akan tidak berkenan bagi sebagian orang. Untuk itu, mohon maaf sebelumnya.)

Apa yang ingin saya tekankan? Tolong dicatat bhw gereja Katolik kita pada masa itu tdk banyak bersuara tentang pelanggaran perikemanusiaan itu karena dianggap sudah sesuai dengan nilai zaman itu. Siapa yang dimaksud dengan gereja itu?

Gereja adalah kita semua. Orang awam, aktivis gereja, biarawan, sampai paus. Saya mungkin kurang lama mempelajari, tapi yang saya ketahui, secara umum tidak banyak yg dilakukan gereja untuk membela orang kulit hitam yang teraniaya setengah mati (banyak yang sampai mati) pada masa itu. Mungkin, dan pasti, ada pribadi2 Katolik atau non-Katolik yang baik, yang tidak melakukan penganiayaan; tapi sebagai kesatuan umat Katolik (kalau saat ini, mungkin berupa Wanita Katolik, SPSE, Orang Muda Katolik, kelompok kategorial lain, paroki, keuskupan, paus) tidak banyak membela, minimal kurang terdengar upaya mereka, untuk membantu orang tertindas itu. Selama 200 tahun.

Diskusi di group WA pun jadi makin panas; ada yang dengan cepat berkata "Mengapa sih mengungkit2 masa lalu, menyebar kemarahan. Cobalah berdamai dengan masa lalu..." Mungkin maksudnya mari kita bicara yang indah2 saja. Yang enak didengar. Yang membuat hati tenteram, damai, penuh kasih... Saya juga senang bicara yang manis2 seperti itu; tapi saya tidak bisa, kalau masih ada orang menderita, yang kita ketahui menderita, dan kita biarkan sengsara, sementara kita berkotbah menghamburkan kata-kata penuh cinta kasih tentang membantu sesama dst. Bentuk perbudakan itu masih ada, sampai saat ini, sekarang, di sini, di lingkungan kita, juga di lingkungan orang Katolik. Maka saya berkata. AYO BANGUN. Mari kita bantu mereka... Ini tidak bicara peristiwa 100 - 250 tahun lalu. Ini bicara masalah saat ini.

** Sudah lewat jam 12 malam... capek badan dan pikiran... Istirahat dulu...

Lanjutan di sini: Pembantu Rumah Tangga di Rumah Orang Katolik (1)
 

Saturday, September 26, 2015

Makan Bersama Para Gelandangan, dan Misi Suci Paus Fransiskus


New York Times, 24 Sep 2015
WASHINGTON - Para penghuni panti jompo Harriet Tubman ini bangun pukul 3 pagi Kamis, agar semua orang ada waktu untuk mandi, merapikan rambut dan mengenakan pakaian terbaik mereka setelah bertahun-tahun menggelandang, keluar masuk panti, digusur, dipukuli, dan dipecat dr pekerjaan.

Mereka akan makan siang dengan Paus Fransiskus.

Menjelang tengah hari, para wanita itu duduk di tengah ruang yang tampaknya seperti resepsi pernikahan: hamparan meja bundar terbungkus taplak meja biru muda, dimahkotai dengan vas bunga kuning dan oranye.

Jangan pedulikan bahwa meja2 itu berada di bawah tenda di jalanan pinggir kota, dan bahwa sebagian besar dari 300 tamu itu gelandangan, kriminal, sakit jiwa, korban kekerasan dalam rumah tangga, penyalahguna narkoba atau sejenisnya. Pada tengah hari, Paus Fransiskus muncul, seperti yang dijanjikan.

Pada kunjungan enam hari ke Amerika Serikat ini, Fransiskus memperhatikan peringatan yang dibisikkan kepadanya oleh seorang kardinal Brasil beberapa saat sebelum dia dinyatakan terpilih sebagai Paus: "Jangan lupa kaum miskin"

Setelah berpidato di depan Kongres, paus langsung pergi ke para gelandangan di panti werda Katolik - jadwal yang dirancang untuk memberi pesan bahwa prioritasnya, dan prioritas gereja, adalah orang-orang yang terpinggirkan.

Di setiap kota yg dikunjunginya dalam perjalanan ini, paus menggunakan status selebritasnya untuk memaksa kamera untuk menunjukkan pada bangsa ini gambar yang bagi banyak orang mungkin lebih baik tidak dilihat: Di Washington, ia bertemu para gelandangan, dan di New York ia berencana mengunjungi para imigran . Di Philadelphia, ia akan pergi ke penjara. Sebagai pastor pengajar utama dari gereja, ia bertekat memperjelas bahwa ia punya dua tujuan: membawa harapan dan semangat hidup untuk mereka yang menderita, dan menggerakkan mereka yg hidup nyaman untuk melakukan sesuatu bagi mereka yang membutuhkan.

"Dengan kunjungan ini, Paus berkata, kamu perlu memikirkan orang miskin," kata Mgr. John J. Enzler dari Keuskupan Agung Washington, sementara ia menunggu paus tiba Kamis itu. "Kamu tidak bisa hanya pergi ke gereja dan berkata, saya sudah melakukan tugas saya. Dia berkata, 'Pergi ke pojok2, pergi ke pinggiran,' " kata Monsignor Enzler. "Dia mengatakan kepada semua orang, 'Keluarlah ke jalan-jalan, biarpun kotor, dan jadikan sebuah gereja di jalanan.'"

Tapi, demi Fransiskus, itu semua perlu perencanaan yang cermat. Bagi para pria dan wanita tunawisma di perjamuan yang diselenggarakan oleh badan amal Katolik itu, hari itu dimulai dengan berbaris panjang, lebih dari satu blok perumahan, untuk melalui screening Secret Service.

Edward Gray, dengan topi lebar dan kacamata, sedang menunggu di barisan. Dia dan banyak dari orang yang menghadiri makan siang itu tinggal di tempat yang disebut "801," singkatan untuk alamat penampungan tunawisma itu. Tidak seperti banyak dari mereka yang sedang berbaris itu, Gray beragama Katolik.

Gray mengatakan ia pernah bertemu paus sebelum itu: Ketika ia jadi putra altar di Washington, ia pergi dengan rombongan ke Roma dan bertemu Paus Pius XII. Dia cerita, dia tidak selalu tunawisma. Dia pernah bekerja sebagai kontraktor di Capitol Hill, dan jadi tukang potong rambut dan guru tata rias. Gray, 69 tahun, bilang ia punya enam anak, lima di antaranya lulusan perguruan tinggi, dan terdengar sentuhan skeptis tentang paus ini.

"Dia datang ke sini untuk menemui para gelandangan?" Kata Gray. "Sangat aneh, raja kok menemui gelandangan."

Paus Benediktus XVI dan Paus Yohanes Paulus II pernah mengunjungi Washington, tapi tidak menemui para klien panti Katolik ini, kata Monsignor Enzler. "Ketika paus lain datang, itu lebih untuk para uskup dan para pemimpin negara kita," katanya, atau untuk merayakan Misa Agung untuk umat seperti yang dilakukan Benediktus delapan tahun lalu di Stadion National.

Bagaimanapun, Fransiskus berhasil menginspirasi panitia untuk mengadakan pesta meriah ini yang meski darurat terkesan mewah. Relawan menyajikan piring dengan teriyaki dada ayam, pasta salad Asia dengan kacang polong dan wortel, lebih dari satu jam sebelum kedatangan Paus. Para tamu diberitahu untuk tidak makan sampai paus tiba dan memberi berkat, dan mereka memang tidak makan duluan.

Di meja, beberapa tamu bersosialisasi, dan saling berfoto ria dengan ponsel mereka, beberapa orang duduk diam dan sebagian tertidur. Beberapa pria mengenakan jas; yang lain celana jeans. Seorang wanita terlihat dengan kuku yang dicat kuning yang cocok dengan bunga di atas meja.

Sementara kamera-kamera televisi dan para wartawan sibuk bergerombol, Ms. Hilliard, mantan karyawati department store, mengatakan, dia yakin akan ketulusan Paus dan bahwa ini "bukan pencitraan."

"Paus benar peduli," katanya, "dan itulah yang penting."

Paus tiba sesaat sebelum tengah hari, tapi sebelum itu dia menyelinap ke gereja di dekat situ, St Patrick, di mana ia berbicara kepada sekitar 250 gelandangan tentang masalah tunawisma. Meskipun ia baru saja menyampaikan pidato di Capitol Hill, di St. Patrick ia tidak berbicara mengenai program politik untuk mengatasi tunawisma atau kemiskinan. Untuk mereka yang telah jatuh miskin ini, ia menawarkan iman, solidaritas dan doa.

"Dalam menghadapi situasi yang tidak adil dan menyakitkan ini, iman membawa kita cahaya yang menerangi kegelapan," katanya. "Iman membuat kita terbuka untuk keheningan kehadiran Allah di setiap saat dalam hidup kita, dalam setiap orang dan dalam setiap situasi. Allah hadir dalam Anda semua, pada kita masing-masing."

Beberapa menit kemudian Fransiskus keluar dari pintu gereja disambut dengan sorak-sorai dan tepuk tangan dari para tamu makan siang itu. Dia memberi berkat singkat, lalu berkata "Buen apetito (selamat makan)," yang disambut dengan tawa riuh. Dia sendiri tidak makan, tapi ia berjalan dari meja ke meja, berhenti untuk meletakkan tangannya ke atas kepala anak-anak yang diam berjam-jam menunggu, mewarnai gambar paus yang diberi ke mereka dengan krayon.

Sambil tersenyum dan tampak tidak tergesa-gesa, paus bergerak di antara para tunawisma itu, beberapa orang mengambil selfi dan mengulurkan tangan untuk menyentuh paus dan berbicara dengannya.


"Saya bilang kepadanya semoga tetap diberkati Tuhan dan tidak stres," kata Mark Perrez, 54 tahun, yang mengatakan Paus memegang tangannya dan dengan terkejut menunjuk koleksi eklektik pin yang dikenakan Perrez di seluruh bagian depan blazer dan topi bisbolnya.

Sementara paus naik ke Fiat kecil hitam sebagai "limousinnya", Peter Atkinson berdiri di pinggiran kerumunan, mensyukuri apa yang dia katakan baginya, sebagai seorang Katolik, "momen kasih karunia." Atkinson, 54, seorang insinyur dengan jaket hitam tajam, yang berbahasa Inggris dengan aksen Prancis, sekarang tinggal di salah satu panti Katolik. Ia bercerita, ia jatuh akibat narkoba dan alkohol.

"Saya tidak akan dapat ikut seperti saat ini bertemu paus jika saya tidak jatuh menjadi sampah dalam hidup saya, yang membawa saya ke panti," kata Atkinson. "Jika saya tidak bisa membaca tanda-tanda zaman ini, saya pasti buta."


========================

Renungan : Bagaimana seandainya sebelum mengambil putusan pada setiap rapat, setiap kegiatan paroki, setiap wisata rohani, setiap pembangunan gereja, setiap sekolah, setiap kegiatan rumah sakit, selalu ada pertanyaan, "Apa ini berguna, dan cocok untuk saudara2 kita yang termiskin?" Karena "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"... Tapi Paus sadar dan bilang, penggunaan kata "miskin" sering membuat banyak orang tidak nyaman...