Monday, March 12, 2018

Paus Fransiskus mengundang perubahan, kitalah perubahan itu.

Paus Fransiskus mengundang perubahan, kitalah perubahan itu.
========================
(Terjemahan dr tulisan Joan Chittister, seorang suster Benedictine)

Ada saat dalam hidup ketika saya menginginkan sesuatu dilakukan dan dilakukan sekarang. Saya masih ingin semuanya dilakukan sekarang tapi setelah bertahun-tahun lewat, saya menemukan bahwa, setidaknya di gereja, saya mencari tindakan di tempat yang salah. Seperti yang dikatakan oleh Sean Freyne, teolog Irlandia dan sarjana Kitab Suci, "Salah jika berpikir bahwa seorang paus memiliki kekuatan untuk melakukan segala sesuatu." Terjemahannya: Hak untuk memerintah sebagai seorang otokrat (yg dapat memutuskan segalanya) ternyata tidak menyertai mahkota kepausan.

Paus dan uskup adalah pengelola tradisi gereja. Ketika mereka bergerak, biasanya dengan satu matanya berada di masa lalu --titik di mana terletak wilayah kanonik yang aman. Hanya kita lah (orang awam) pengubah sejati gereja.

Orang awam rata-rata lah yg menjalani iman dalam kerasnya zaman yang membentuk masa depan. Dialah guru visioner, pengkritik penuh kasih, nabi yang mengatakan kebenaran, yang menggerakkan gereja dari zaman ke zaman lain. Merekalah yang harus menegosiasikan ekonomi baru yang melihat bunga yang adil atas investasi sebagai kebajikan dan bukan dosa riba, misalnya. Mereka yang terjebak dalam hubungan kekerasanlah yang menyadari bahwa perceraian bisa menjadi keputusan yang lebih penuh kasih daripada situasi keluarga yang rusak.

Namun, cara paus dan uskup bergerak, telinga terbuka yang mereka bawa ke dunia, hati yang mereka tunjukkan, serta cinta dan kepemimpinan yang mereka contohkan, dapat membuat perbedaan besar dalam nada dan keefektifan gereja.

Lima tahun yang lalu, misalnya, kita berubah dari satu gaya gereja ke gaya gereja lainnya. Itu terjadi dengan tenang tapi mendarat di tengah umat beriman bagai Kitab Wahyu. Hilanglah kisah tentang penyelidikan teologis, dan dampratan serta ekskomunikasi pd orang-orang yang berani mempertanyakan nilai dari cara2 lama.

Ketika Jorge Bergoglio, Paus Fransiskus yang baru terpilih, muncul di balkon Basilika Santo Petrus di Roma, dia membungkuk kepada orang-orang dan meminta berkat; orang2 beriman dengan gegap gempita meneriakkan persetujuan mereka untuk orang yang tahu kebutuhannya akan bantuan dan arahan kita.

Ketika dia mengatakan kepada para uskup aristokrat untuk "menjadi gembala dengan bau domba" -- untuk bergerak di antara orang-orang, menyentuh mereka, untuk melayani mereka, untuk berbagi hidup dengan mereka -- istana2 uskup dan pagar tingginya kehilangan pamornya. Yang diinginkan orang adalah uskup yang mau keluar dari gedung paroki, berjalan bersama mereka dan memahami kesulitan dr jalan yg hrs dilalui.

Ketika Paus Fransiskus memberitahu para imam untuk menangani aborsi dalam pengakuan dosa, di mana semua perjuangan manusia menemukan penghiburan dan pengampunan, dan tidak memperlakukannya sebagai dosa yang tak terampuni, gereja semakin memahami. Ketika dia berkata, "Siapa saya sehingga dapat menilai" orang gay, gereja menjadi gereja lagi. 

Paus Fransiskus, yang membangun fondasi yang diletakkan oleh Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI, membuka hati dan pintu ke Kuba, dan bersama pemerintahan Obama mengurangi isolasi Kuba dari dunia modern. Fransiskus telah membawa perhatian dunia pada para migran yg melarikan diri dari perang dan situasi ekonomi yang menindas; dia telah berbicara menentang pembantaian di Asia Tenggara dan Afrika Tengah. Dia telah secara pasti mengatakan tidak pada senjata nuklir dan mendorong pemikiran ulang pd apa yang disebut perang adil.

Jelas, Fransiskus adalah undangan untuk mengubah pendirian kita di dunia. Kita memiliki model baru tentang bagaimana seharusnya gereja dilihat oleh orang lain dan juga apa yang dapat kita harapkan darinya dalam kehidupan kita sendiri. Kita mulai melihat gereja sebagai tanda kasih Allah dan bukan momok dari murka Allah.

Namun, pada saat bersamaan, beberapa hal yang harus berubah, jelas tidak berubah dalam lima tahun terakhir ini. Ada asap tanpa api, komisi dijanjikan tapi tidak pernah dibentuk, pertanyaannya boleh ditanyakan, ya, tapi jawabannya masih langka.

Ada janji2 dan banyak kemungkinan. Tapi, dalam banyak kasus, jika tak ada yang terlaksana, semakin banyak orang, yg kecewa, menjauh dari kapal yang hanyut.

Maka pasangan yang sudah menikah yang hidup dlm kekerasan, melalui perkawinan yg lebih meracuni hidup daripada memberi hidup, menunggu pemahaman bahwa meskipun menikah lagi, mereka berhak mendapatkan dukungan spiritual yang ditawarkan gereja. Mereka menunggu, namun deklarasi dr gereja tidak datang.

Komisi untuk pemulihan diakonat wanita telah terbentuk, namun gereja sendiri tidak termasuk dalam percakapan, tidak ada laporan publik, dan bagian sejarah gereja Katolik Roma yang sangat penting dan sangat lama dibungkam lagi.

Monster pelecehan anak, masalah yang paling mencolok yang dihadapi gereja, terus mengangkat kepalanya yang menakutkan. 

Seruan untuk wanita di posisi resmi di eselon yang lebih tinggi di gereja dijanjikan - namun diabaikan. Ini berarti, tentu saja, bahwa peran perempuan belum pernah bergeser sama sekali. Efeknya jelas: Wanita tidak ada hubungannya dengan komisi teologis di mana keputusan dibuat yang mempengaruhi kehidupan spiritual separo gereja (kaum wanita). Tapi Paus Fransiskus mengatakan bahwa tidak ada lagi yang bisa dikatakan tentang wanita karena pendahulunya telah berbicara.

Pertanyaannya mengapa kepausan ini nampaknya macet. Apakah situasi seperti ini berasal dari kurangnya komitmen Fransiskus atau sebagai akibat perlawanan Curia terhadap kepemimpinan paus boleh menjadi dugaan siapa saja. Tapi itu menandai kepausan ini. Itu membuat ketidakpercayaan dlm jangka panjang.

Dari tempat saya berdiri, kepausan ini telah membuat berpikir itu menjadi dimungkinkan lagi. Dia memeluk ide bahwa perubahan adalah bagian dari proses hidup. Tapi kepausan ini belum memberi arah yang jelas pd bebrp masalah penting. Dalam kasus seperti ini, janji akan adanya tindakan dan tidak adanya hasil, seperti kata orang Prancis, spt "hanya rayuan untuk menipu." Mereka memberikan harapan palsu. Akibatnya, pada akhirnya, tidak adanya tindakan bahkan lebih mengecewakan daripada jika janji itu tidak pernah dilakukan.

Santo Paulus memperingatkan gereja tentang kepemimpinan yang tidak jelas ini berabad-abad yang lalu. Dia menulis dalam 1 Korintus 14: 8, "Jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang?"

Ini adalah peringatan bagi kepausan yang penuh harapan dan sangat dihormati karena hal itu. Seperti kata Talmud, "Mereka yang tidak mengambil risiko, lebih berisiko."

https://www.ncronline.org/news/opinion/where-i-stand/francis-invites-change-we-are-change

Sunday, February 25, 2018

Bunga2 kecil dari Santo Fransiskus Assisi



Bunga2 kecil dari Santo Fransiskus Assisi
========================
BAB VIII

Hal Yang Merupakan Kegembiraan Yg Sempurna
----------------------------------------
Suatu hari di musim dingin, saat Santo Fransiskus pergi bersama Bruder Leo dari Perugia ke biara Santa Maria dari Para Malaikat, dan sangat menderita karena kedinginan, dia memanggil Bruder Leo (teman dan pengikut St. Fransiskus Assisi), yang berjalan di depannya, dan berkata kepadanya: "Bruder Leo, jika seandainya dapat menyenangkan Tuhan jika Saudara2 Hina Dina di seluruh negeri memberi contoh bagus tentang kekudusan dan pembinaan, tuliskan, dan catat dengan saksama, bahwa ini bukan sukacita yang sempurna."

Tak lama kemudian, Santo Fransiskus memanggilnya untuk kedua kalinya: "O Bruder Leo, jika Saudara Hina tadi dapat membuat orang lumpuh berjalan, jika mereka dapat membuat lurus tubuh yang bengkok, mengusir setan, memberi penglihatan kepada orang buta, orang tuli mendengar, orang gagu bicara, dan bahkan pekerjaan2 yang jauh lebih besar, jika mereka dapat membangkitkan orang mati setelah empat hari, tulislah bahwa ini bukan sukacita yang sempurna."

Tak lama kemudian, dia berteriak lagi:" O Bruder Leo, jika Saudara Hina itu tahu semua bahasa; jika mereka menguasai semua ilmu pengetahuan; jika mereka bisa menjelaskan semua Kitab Suci; jika mereka memiliki karunia membuat nubuat, dan dapat mengungkapkan, tidak hanya semua hal di masa depan, tapi juga rahasia semua nurani dan semua jiwa, tulislah bahwa ini bukan sukacita yang sempurna."

Setelah melangkah beberapa langkah lebih jauh, dia berteriak lagi. dengan suara nyaring: "Wahai Bruder Leo, hai anak domba Allah! jika Saudara Hina Dina bisa berbicara dengan bahasa roh malaikat; jika mereka bisa menjelaskan jalannya bintang2;  jika mereka tahu kebajikan semua tanaman; jika semua harta terbuka bagi mereka; Jika mereka mengenal berbagai sifat semua burung, semua ikan, semua binatang, manusia, pohon, batu, akar, dan perairan - tulislah bahwa ini bukan sukacita yang sempurna."

Tak lama kemudian, dia berteriak lagi: "Wahai Bruder Leo, jika Saudara Hina mendapat karunia berkhotbah untuk mempertobatkan semua orang kafir ke dlm iman Kristus, tulislah bahwa ini bukan sukacita yg sempurna."

Kini ketika pembicaraan ini sdh berlangsung dlm dua mil perjalanan, Bruder Leo bertanya-tanya dalam hati; dan, sambil bertanya kepada orang suci ini, dia berkata: "Bapa, tolong kamu ajari saya di mana sukacita yang sempurna itu."

St Fransiskus menjawab: "Jika, ketika kita sampai di biara St. Maria dari Para Malaikat, basah kuyup kehujanan dan gemetar kedinginan, sekujur tertutup lumpur dan lelah kelaparan; jika, ketika kita mengetuk pintu gerbang biara, penjaga pintunya keluar dengan marah dan bertanya kepada kita siapa kita; jika, setelah kita mengatakan kepadanya, 'Kami adalah dua dari para saudara', dia menjawab dengan marah, 'Apa yang kamu katakan bukanlah kebenaran; kamu hanyalah dua penipu yang akan menipu dunia, dan mengambil sedekah orang miskin; pergi sana kataku '; Jika kemudian dia menolak untuk buka pintu bagi kita, dan membiarkan kita di luar, terkena salju dan hujan, menderita dingin dan lapar sampai malam hari -- maka, jika kita menerima ketidakadilan dan kekejaman semacam itu serta penghinaan seperti itu dengan sabar, tanpa terganggu dan tanpa menggerundel, percaya dengan rendah hati dan kasih bahwa penjaga pintu itu benar-benar mengenal kita, dan bahwa Tuhanlah yang membuat dia berbicara demikian terhadap kita, tulislah, O Bruder Leo, bahwa inilah sukacita yang sempurna. Dan jika kita mengetuk lagi, dan penjaga pintu itu keluar dengan marah untuk mengusir kita dengan sumpah serapah dan memukul, seolah-olah kita ini penipu jahat, dengan mengatakan, 'Pergi sana, perampok sialan! ke rumah sakit, karena di sini kamu tidak akan dapat makanan atau tidur! ' - Dan jika kita menerima semua ini dengan sabar, dengan sukacita, dan dengan kasih, O Bruder Leo, tulislah bahwa inilah sesungguhnya sukacita yang sempurna. Dan jika, karena dorongan kedinginan dan kelaparan, kita mengetuk lagi, memanggil penjaga dan memintanya dengan air mata bercucuran untuk membuka bagi kita dan memberi kita tempat berlindung, demi kasih Allah, dan jika dia keluar lebih marah lagi dari pada sebelumnya, dan berseru, 'Ini hanyalah bajingan pengganggu, aku akan menangani sesuai keinginanmu'; dan dia mengambil tongkat gada, dia menangkap topi kita, melempar kita ke tanah, menggulingkan kita di salju, dan memukul serta melukai kita dengan bulatan di tongkat itu -- jika kita menanggung semua luka ini dengan sabar dan gembira, sambil merenungkan penderitaan Tuhan Yang Terberkati, yang akan ikut kita rasakan karena kasih kepadaNya, tulislah, O Bruder Leo, bahwa di sini, akhirnya ada sukacita yang sempurna.

Dan sekarang, saudaraku, dengarkan kesimpulannya. Di atas semua rahmat dan semua karunia Roh Kudus yang diberikan oleh Kristus kepada teman-temannya, adalah anugerah untuk mengatasi diri sendiri, dan menerima dengan sukarela --karena kasih kepada Kristus --semua penderitaan, luka, ketidaknyamanan dan penghinaan; karena dalam semua karunia Allah lainnya kita tidak dapat bermegah diri, karena itu bukan dari diri kita sendiri tetapi dari Allah, sesuai dengan kata Rasul,  'Apa yang kamu miliki yg bukan kamu terima dari Allah? dan jika Engkau menerimanya, mengapa kamu mengagungkannya seolah-olah kamu bukan menerimanya (dr Tuhan)? Tetapi di dalam salib kesengsaraan dan penderitaan kita dapat bermegah, karena, seperti yang juga dikatakan Rasul, 'Aku tidak akan bermegah diri kecuali di kayu salib Tuhan kita Yesus Kristus.' Amin."



Tuesday, February 20, 2018

Paus Fransiskus: "Blog-blog mengatakan saya sesat? Saya tahu siapa yang menulisnya, dan saya tidak membacanya"


Berikut adalah beberapa kutipan dari percakapan Paus Fransiskus dengan para Yesuit di Chile pada 16 Januari dan di Peru pada 19 Januari, dlm kunjungan apostoliknya ke kedua negara itu.

Bapa Suci, apa kegembiraan dan ketidaksenangan yang Anda alami selama masa kepausan Anda?

Masa jabatan ini agak damai. Dari saat di Konklaf ketika saya menyadari apa yang akan terjadi -- sebuah kejutan untuk saya -- saya merasakan kedamaian yang luar biasa. Dan sampai hari ini, kedamaian itu belum meninggalkan saya. Ini adalah pemberian Tuhan, dan saya bersyukur. Dan saya benar-benar berharap Dia tidak mengambilnya dariku. Yang tidak menghilangkan kedamaianku, tapi yang menyebabkan saya sakit, adalah gosip. Saya tidak suka gosip, itu membuat saya sedih. Ini banyak terjadi di lingkungan tertutup. Bila itu terjadi dalam konteks para imam atau klerus, saya bertanya pada diri sendiri: bagaimana mungkin? Kamu telah meninggalkan segalanya, kamu telah memutuskan untuk tidak punya wanita di sisimu, kamu tidak menikah, kamu tidak punya anak ... Kamu ingin jadi tukang gosip? Oh, astaga, betapa menyedihkannya itu!

Apa penolakan/resistensi yang Anda temukan, dan bagaimana Anda menghadapinya?

Bila menghadapi kesulitan, saya tidak pernah mengatakan itu adalah 'perlawanan', karena itu berarti menolak memeriksa dengan bijak (discernment), kebalikan dr yang ingin saya lakukan. Mudah mengatakan bahwa ada perlawanan, dan (dengan demikian) tidak menyadari bahwa, dalam konflik itu juga bisa ada suatu kebenaran. Ini membantu saya juga untuk merelatifkan banyak hal yang, sekilas tampak seperti perlawanan, tapi yang pada kenyataannya adalah reaksi yang lahir dari kesalahpahaman... Tapi saat saya menyadari bahwa ada perlawanan nyata, tentu saja saya tidak suka. Beberapa orang mengatakan kepada saya bahwa normal saja terjadi perlawanan saat seseorang ingin melakukan perubahan. (Kalimat) yang terkenal, 'hal itu selalu dilakukan dengan cara ini' banyak di mana-mana; Ini adalah cobaan besar yang kita alami. Perlawanan setelah Vatikan II masih ada, berarti: (bikin keputusan2 Konsili Vatikan II seolah2) relatif (tidak mengikat), encerkan (putusan2 konsili itu). (** Paus bicara ttg orang2 yg ingin kembali pd kebiasaan/tradisi seblm Konsili Vatikan II di mana semua putusan diambil di Roma).

Saya bahkan lebih terganggu saat seseorang daftar dalam kampanye perlawanan. Dan sayangnya, saya juga melihatnya. Saya tidak bisa menyangkal bahwa ada beberapa perlawanan. Saya melihat perlawanan dan saya mengenalinya. Ada perlawanan doktrinal. Untuk kesehatan mental saya, saya tidak membaca situs internet dari apa yang disebut 'perlawanan' ini. Saya tahu siapa mereka, saya mengenal kelompoknya, tapi saya tidak membacanya, demi kesehatan jiwa saya. Jika ada yang sangat serius, mereka (orang di sekitar paus) akan memberi tahu saya tentang hal itu, jadi saya akan tahu. Dan itu tidak menyenangkan, tapi orang perlu bergerak maju.

Ketika saya merasakan perlawanan, saya mencoba berdialog, bila dialog dimungkinkan; tetapi beberapa perlawanan datang dari orang-orang yang percaya bahwa mereka memiliki doktrin yang benar, dan mereka menuduhmu sesat. Bila saya tidak menemukan kebaikan spiritual pada orang-orang ini, karena apa yang mereka katakan atau tulis, saya hanya berdoa untuk mereka. Saya (juga pernah) mengalami rasa tidak senang, tapi saya tidak terus menerus terbawa perasaan ini, demi kesehatan jiwa saya.

Dengan reformasi yg bagaimana kita dapat mendukung Anda dengan lebih baik?

Saya percaya bahwa salah satu hal yang paling dibutuhkan Gereja saat ini, dan ini sangat jelas dalam perspektif dan tujuan pastoral Amoris Laetitia, adalah kearifan (discernment). Kita terbiasa dengan 'kamu boleh atau tidak boleh.' Dalam masa formasi saya, saya juga diajari cara berpikir 'sampai di sini kamu boleh, sampai di sini kamu tidak boleh.' Saya tidak tahu apa kamu ingat pastor Jesuit Kolombia yang datang untuk mengajar kita teologi moral di Collegio Massimo; ketika tiba saatnya untuk membicarakan perintah keenam (jangan berzinah), ada orang yg berani mengajukan pertanyaan 'bolehkah pasangan (yg berpacaran) berciuman?' Apakah mereka boleh berciuman! Kamu mengerti? Dan dia berkata, 'Ya, boleh!' Tidak ada masalah! Mereka cuma perlu meletakkan saputangan di antara (mulut) mereka." Ini adalah mentalitas forma mentis dlm teologi pada umumnya. Forma mentis berdasarkan batas2. Dan kita menanggung akibatnya.

Apa yang akan Anda katakan (dalam komunitas Yesuit) kepada mereka yang semakin tua dan melihat lebih sedikit orang yang ikut di belakang mereka?

Mengingat berkurangnya jumlah dan kekuatan anggota muda, orang bisa jatuh ke dalam perasaan hancurnya institusi ini. Tidak, kamu tidak boleh membiarkan dirimu hanyut begitu. Kesedihan akan menarikmu ke bawah, dan merupakan selimut basah yang mereka lemparkan kepadamu untuk melihat bagaimana kamu mengaturnya, dan hal itu membawamu pada kepahitan, kekecewaan. 
...
...

Saya ingin bertanya sedikit tentang masalah pelecehan seksual. Kami mendapat cap tidak baik oleh skandal ini.

Ini kesedihan terbesar yang dialami Gereja. Ini membuat kita malu, tapi kita perlu ingat juga bahwa rasa malu juga merupakan anugerah Ignasian. Dan karena itu, marilah kita menganggapnya sebagai anugerah, dan merasa sangat malu. Kita harus mencintai Gereja dengan luka2. Banyak luka ...

Saya mau cerita. Di Argentina, tgl 24 Maret adalah peringatan kudeta militer, kediktatoran, tentang 'desaparecidos' [orang-orang yang hilang selama kediktatoran, korban penindasan pemerintah], dan Plaza de Mayo penuh dengan orang-orang yg akan memperingatinya. Pada salah satu hari itu, saat saya hendak menyeberang jalan, ada pasangan dengan bayi berusia dua atau tiga tahun, dan anak itu itu berlari ke depan. Sang ayah berteriak kepadanya, 'ayo, ayo balik ... Awas ada pedofil!' Betapa malunya saya! Mereka tidak tahu bahwa saya uskup agung; saya seorang imam, dan ... Sayang sekali! Terkadang orang menghibur diri dan ada yg  bahkan berkata, 'Lihat statistiknya ... Ini ... saya tidak tahu ... 70% pedofil ditemukan di dalam keluarga, di antara kenalan. Lalu di gimnasium dan kolam renang. Persentase pedofil yang menjadi imam Katolik tidak sampai 2%, itu 1,6%. Jadi tidak begitu banyak ... ' Tapi itu mengerikan, biarpun hanya satu dari ini, saudara2ku ! Karena Tuhan mengurapi dia untuk menguduskan anak-anak dan orang dewasa, dan dia telah menghancurkan mereka. Mengerikan! Coba dengarkan pengalaman dr satu orang saja yang telah dilecehkan!

Tiap Jumat -- kadang-kadang diketahui  umum dan terkadang tidak -- biasanya saya bertemu dengan beberapa dari mereka. Proses mereka [penyembuhan] sangat sulit; [pelecehan] menghancurkan mereka. Bagi Gereja, ini adalah penghinaan besar. Ini tidak hanya menunjukkan kerapuhan kita, tapi juga, katakan dengan jelas, KEMUNAFIKAN kita. Mengherankan: fenomena pelecehan ini terjadi pd beberapa kongregasi baru yang makmur. Di sana, pelecehan selalu merupakan buah mentalitas yang terkait dengan kekuasaan, yang perlu disembuhkan pada akar ganasnya. Ada tiga tingkat pelecehan yang terjadi: penyalahgunaan wewenang, pelecehan seksual, dan penyelewengan finansial. Uang selalu dlm campuran itu: iblis masuk melalui dompet.

Bagaimana Anda melihat Roh yang menggerakkan Gereja sekarang menuju masa depan?

Ambil (dokumen) Konsili Vatikan II, Lumen gentium. Ketika bicara kepada uskup Chile, saya mendesak mereka untuk melakukan deklerikalisasi (mengurangi peran klerus). Evangelisasi dilakukan oleh Gereja sebagai umat Allah. Tuhan meminta kita untuk menjadi Gereja yang pergi keluar, rumah sakit lapangan ... Gereja yang miskin untuk orang miskin! Orang miskin bukanlah rumusan teoretis partai Komunis; mereka adalah pusat Injil! Sepanjang garis inilah saya merasakan Roh menuntun kita. Ada perlawanan kuat, tapi bagi saya, fakta bahwa itu muncul adalah pertanda bahwa kita berada di jalur yang benar. Jika tidak, iblis tidak akan muncul untuk menciptakan perlawanan.




Sunday, December 24, 2017

Kardinal Tobin, apakah saya orang Kristen?


Wawancara oleh Nicholas Kristof
22 Desember 2017

Natal itu soal apa sih? Dapatkah saya menjadi orang Kristen jika saya meragukan kelahiran (Yesus dr seorang) perawan? Bisakah seorang wanita menjadi kardinal? Apa yang akan mengganggu Yesus pd masa ini? Saya mengajukan pertanyaan2 terus terang dan lain2nya kepada Kardinal Joseph Tobin dari Newark, AS, yang ditunjuk oleh Paus Fransiskus dan dicetak olehnya. Inilah percakapan kami...

KRISTOF. Selamat Hari Natal! Mari saya mulai dengan skeptisisme yg sopan. Saya menghormati ajaran Yesus, tapi saya sulit menerima mukjizat2 (Yesus) - termasuk, karena ini adalah Natal, kelahiran (dr seorang) perawan. Pada zaman Yesus orang percaya bahwa (dewi) Athena lahir dari kepala (dewa) Zeus, jadi wajar jika seorang besar berjalan di atas air atau memperbanyak roti dan ikan; pada tahun 2017, tidak begitu mudah (menerima ini). Tidak bisakah kita mengambil Khotbah di Bukit tapi meninggalkan yang supranatural?

KARDINAL TOBIN. Saya kira, orang bebas mengambil apapun yang mereka inginkan. Sama halnya ada kebijaksanaan dalam agama-agama non-Kristen yang diambil orang Kristen.

Keajaiban yang paling membingungkan adalah inkarnasi (kelahiran Yesus). Kami percaya bahwa (Allah) Pencipta Alam Semesta, yang ada sebelum ada waktu dan sebelum ada hal lain, menjadi salah satu dari kita. Jika Anda menerimanya, maka ada banyak hal lain yang tampaknya tidak begitu sulit dipercaya.

Ini bukan pertunjukan sulap. Semua mukjizat itu tidak terisolasi atau hanya peristiwa altruistik. Semua itu sebenarnya menunjuk pada siapa Tuhan itu, dan siapa sebenarnya tukang kayu dari Nazaret ini.

Tanya: Salah satu bidang yang menurut saya Gereja Katolik itu kuno adalah masalah jenis kelamin. Jika Yesus mempercayai wanita seperti Maria Magdalena, jika Phoebe bisa menjadi pemimpin gereja perdana, mengapa perempuan tidak bisa menjadi imam atau kardinal sekarang?

Jawab: Itu dua pertanyaan berbeda. Mengenai para imam, ini benar-benar merupakan batu sandungan bagi orang, dan terutama di negara ini dan dalam budaya ini, karena sementara semua bidang kehidupan terbuka bagi wanita, pelayanan tertentu di Gereja Katolik tidak demikian. Jadi saya mengerti ini membingungkan. Saya punya delapan saudara perempuan. Saya tahu bahwa bagi beberapa wanita, batu sandungan semacam ini menyebabkan mereka menjauh dari gereja.

Sedangkan untuk kardinal, kebanyakan adalah uskup tapi tidak semuanya. Bahkan pd abad ke-19 ada orang awam yang jadi kardinal.

Tanya: Jadi apakah kita akan melihat kardinal wanita dlm waktu dekat ini?

Jawab: Mungkin teologi saya tidak cukup canggih, tapi saya tidak percaya bahwa ada alasan teologis yang meyakinkan mengapa paus tidak bisa mengangkat wanita sebagai kardinal.

Paus Fransiskus telah berjanji untuk menemukan peran yang lebih tajam bagi wanita di gereja. Ada beberapa perempuan yang ditunjuk untuk jabatan yang cukup berpengaruh dalam Kuria Roma. Saya pikir penunjukan itu harus lebih dari itu.

Tanya: Saya sangat mengagumi biarawati Katolik, imam dan awam yang bekerja di garis depan di seluruh dunia untuk memerangi kemiskinan, penyakit, ketidakadilan. Orang-orang itu melakukan persis apa yang Yesus katakan. Tapi, seringkali, para pemimpin agama, termasuk orang-orang di Vatikan, tampaknya kurang memusatkan perhatian pada orang miskin dan lebih pada masalah yg tidak pernah disebut Yesus sepatah kata pun, seperti gay, aborsi, atau keluarga berencana.

Jawab: Cukup adil ini bila dikatakan bahwa Yesus tidak membuat pernyataan tentang tiga masalah panas tersebut. Tapi saya pikir, Dia memberi kita etos dan arahan moral, jadi kita tidak perlu duduk dan berkata, "Yesus, apa yang hrs kita lakukan?" Tradisi Katolik tidak keluar ruang kosong dan memutuskan sesuatu secara impulsif. Ini didasarkan pada segala macam pengalaman hidup orang-orang yang mencoba mengikut Yesus dengan saksama.

Tanya: Bolehlah saya bertanya tentang doa? Saya dapat menerima doa itu memiliki nilai spiritual dan penyembuhan, tapi mengapa Tuhan menjawab doa hanya dalam situasi yang ambigu, seperti menyembuhkan kanker, tapi tidak pernah, katakan saja, menumbuhkan kembali kaki (yg putus)?  (Redaksi: saya pernah menulis ini pd post saya tahun lalu.)

Jawab: Menarik sekali bahwa Anda menyebutkan itu, Nicholas. Ayah saya tumbuh kuat dan besar, bermain sepak bola untuk Boston College, ikut wajib militer dan kehilangan kakinya dalam Perang Dunia II.

Suatu malam dia menatap kaki palsunya. Dia berkata: "Saya pikir saya sekarang telah memiliki kaki palsu ini selama setengah dr hidup saya. Tapi jika saya tidak memilikinya, saya tidak akan memiliki ibumu, dan saya tidak punya kamu." Jadi dia menemukan sesuatu dalam tragedi itu. Iman menyebabkan dia berhasil melewatinya.

Terkadang saya berpikir ketika saya tidak menerima jawaban atas apa yang saya doakan, mungkin yang saya minta sebenarnya adalah sesuatu yang bisa berbahaya bagi saya. Saya percaya Tuhan mendengar semua doa, dan saya percaya Tuhan menjawab dengan cara tertentu.

Tanya: Pada tanya jawab sebelum ini, saya bertanya kepada Pastor Tim Keller dan Presiden Jimmy Carter apakah orang yang skeptis seperti saya, yang mengagumi ajaran moral Yesus tapi meragukan kelahiran perawan dan kebangkitan fisik, dapat dianggap sebagai orang Kristen. Pada dasarnya, Keller bilang "tidak," dan Carter "iya," jadi (jawaban) Anda adalah penentu. Apakah saya seorang Kristen?

Jawab: Saya pikir, jika Anda belum benar-benar menutup pintu terhadap kemungkinan bahwa Tuhan akan lebih banyak bicara kepada Anda, maka saya pikir Anda berada di dlm tenda (Tuhan).

Tanya: Ayo skg balikkan tanya jawabnya. Apa saja yang ingin Anda tanyakan pada saya?

Jawab: Dapatkah saya minta bantuan? Saya sangat khawatir dengan negara ini karena berbagai alasan, tapi saya sangat prihatin dengan pengungsi dan imigran. Saya benar-benar berpikir bahwa pemerintahan (AS) sekarang bergerak dengan jelas menuju deportasi massal. Umat ​​saya sudah diteror. Saya sangat takut bahwa jika kita tidak bisa menemukan cara untuk mengubah hati (pemerintah), mereka akan terus melakukannya (mengusir imigran).

Tanya: Jadi, apa itu juga karya Tuhan di bumi ini? Apakah itu yang akan dikritik Yesus hari ini?

Jawab: Saya tidak pernah mendengar Yesus keluar dari jalan untuk menunjuk dengan jarinya pada orang-orang yang menindas orang miskin. Yang Dia kritik dengan sangat tegas adalah orang-orang yang tidak melihat mereka (orang2 miskin itu), yang tidak melihat mereka sebagaimana adanya. Saya pikir itulah yang terjadi. Kita sedang mengalami katarak nasional.

Tanya: Terima kasih! Dan untuk semua skeptisisme saya, ini saya percaya: Selamat Natal!

Saturday, December 23, 2017

Natal dalam keheningan




Baca indahnya  tulisan Paus Fransiskus ini:

=================================

"Natal biasanya pesta yang ribut; kita bisa menggunakan keheningan untuk mendengar suara Cinta."

  • Natal adalah kamu, ketika kamu memutuskan untuk dilahirkan kembali setiap hari dan membiarkan Tuhan masuk ke dalam jiwamu.
  • Pohon cemara Natal adalah kamu, ketika kamu menahan angin kencang dan kesulitan hidup.
  • Dekorasi Natal adalah kamu, ketika kebajikanmu adalah warna yang menghiasi hidupmu.
  • Lonceng Natal adalah kamu, ketika kamu menelepon, berkumpul dan berusaha untuk bersatu.
  • Kamu juga merupakan cahaya Natal, bila hidupmu menerangi jalan orang2 lain dengan kebaikan, kesabaran, sukacita dan kemurahan hati.
  • Malaikat Natal adalah kamu, ketika kamu bernyanyi untuk dunia tentang perdamaian, keadilan dan cinta kasih.
  • Bintang Natal adalah kamu, ketika kamu membimbing seseorang untuk bertemu dengan Tuhan.
  • Kamu juga orang2 bijak (majus) itu, bila kamu memberi yang terbaik, tidak peduli siapa.
  • Musik Natal adalah kamu saat kamu menguasai harmoni di dalam dirimu.
  • Hadiah Natal adalah kamu, ketika kamu benar-benar teman dan saudara dari setiap manusia.
  • Kartu Natal adalah kamu, ketika kebaikan tertulis di tanganmu.
  • Salam Natal adalah kamu, saat kamu memaafkan dan membangun kembali kedamaian, bahkan saat kamu menderita.
  • Makan malam Natal adalah kamu, saat kamu memberi roti dan harapan sampai kenyang kepada orang miskin yang ada di sisimu. 
  • Ya, kamu adalah malam Natal, ketika dengan rendah hati dan sadar, dalam keheningan malam kamu menerima Juruselamat dunia tanpa kegaduhan atau perayaan besar; kamu adalah senyum kepercayaan dan kelembutan, dalam kedamaian hati abadi Natal yang terus menerus yang membentuk Kerajaan di dalam dirimu.


Selamat Natal yang sangat meriah untuk semua orang yang terlihat seperti Natal.

Papa Francesco

** Sumber tidak diketahui. 

Tuesday, August 8, 2017

Siapa Santo Pierre Favre itu?


November, dua tahun lalu, Paus Fransiskus mengumumkan kanonisasi Pierre Favre, SJ, alias Peter Faber atau Petrus Faber (1506-46). Bagi banyak orang Katolik, pertanyaannya mungkin, "Siapa dia?" Bagi kebanyakan pastor Yesuit, tanggapannya adalah "Akhirnya !"(diakui santo juga).

Paus Fransiskus memuji orang yang sering disebut "Yesuit Kedua" ini. "[Dia mau] berdialog dengan semua," kata paus, "bahkan dengan lawan-lawannya." Dia mampu membuat keputusan yang hebat, tetapi juga mampu bersikap lembut dan penuh kasih. Favre terbuka, dermawan, rendah hati luar biasa, khususnya pd lawan bicaranya, orang2 Protestan baru.

Dua teman sekamarnya adalah santo yg sangat terkenal, Ignatius Loyola dan Fransiskus Xaverius.
........
........

Ketiganya bertemu di Collège Sainte-Barbe di Universitas Paris, pada tahun 1529. Ignatius mantan tentara. Ia tokoh terkenal di kampus dengan disiplin spiritual dan kebiasaannya mengemis sedekah. Pada usia 38 tahun, Ignatius jauh lebih tua daripada Pierre dan Fransiskus, yang keduanya berusia 23 tahun itu. Ignatius, tentara yang dulu bangga dengan kedudukannya itu skg duduk di meja kecil di samping pemuda2 di kelasnya. Bersama Favre dan Xavierius, mereka berbagi "ruangan yang sama, meja yang sama dan tas yang sama."

Ignatius rendah hati. Tekatnya utk hidup sederhana mengesankan teman barunya. Begitu pula kecerdasan spiritualnya. Bagi Favre, yg suka mengritik diri sendiri secara berlebihan, Ignatius adalah seorang dewa penolong.  "Dia memberi saya pemahaman tentang hati nurani saya," tulis Favre. Akhirnya, Ignatius memimpin Favre melalui Latihan Rohani, yang secara dramatis mengubah hidup Favre. Sebaliknya Favre mengajar Ignatius filsafat Yunani. 

Favre menghabiskan masa kecilnya di sawah sebagai gembala. Ignatius, di sisi lain, bertahun-tahun hidup sebagai pegawai istana dan tentara, mengalami pertobatan yang dramatis, menyebabkan dirinya menerima hukuman yang ekstrem, berjalan ke Roma dan Tanah Suci dalam mengejar tujuannya mengikuti kehendak Tuhan.

Akhirnya, Ignatius membantu Pierre mengambil keputusan penting melalui kebebasan yang ditawarkan dalam Latihan Rohani. Pierre menulis dalam buku hariannya:

"Sebelum itu -- maksudku sebelum memilih jalur hidupku melalui pertolongan yang diberikan Tuhan melalui Inigo (Ignatius) -- aku selalu merasa tidak yakin dengan diri sendiri dan tertiup angin kian kemari: kadang-kadang ingin menikah, terkadang jadi dokter, kadang-kadang seorang pengacara, kadang-kadang profesor teologi, kadang-kadang seorang klerus tanpa gelar, kadang-kadang berharap saya jadi biarawan."

Pada waktunya, Pierre memutuskan untuk bergabung dengan Ignatius di jalur barunya, yang tujuan utamanya masih belum jelas. Pierre, kadang-kadang disebut "Yesuit Kedua," sangat antusias dengan usaha ini sejak awal. "Akhirnya," tulisnya, "kita menjadi satu dalam keinginan dan kehendak dan bersatu dalam tekat teguh untuk menjalani hidup yang kita jalani hari ini ...." Temannya mengubah hidupnya. Di belakang hari, Ignatius mengatakan bahwa Favre adalah orang yang paling terampil dari semua Yesuit dalam memberikan Latihan Rohani.

Ignatius juga akan mengubah kehidupan teman sekamarnya yang lain. Francisco de Jassu y Javier, lahir tahun 1506, di istana Javier. Xaverius. Dia seorang atlet dan siswa yang luar biasa. Dia memulai studinya di Paris pada usia 19. Setiap penulis biografi menggambarkan  Xaverius sebagai pemuda gagah dengan ambisi yang tak terbatas. Don Francisco ini tidak berlatar hidup sederhana spt Favre.

Fransiskus Xavierius jauh lebih sulit berubah daripada Peter Favre. Baru setelah Peter meninggalkan penginapan mereka untuk mengunjungi keluarganya, ketika Ignatius sendirian dengan pemuda Spanyol yang sombong ini, Ignatius bisa perlahan-lahan mematahkan perlawanan Xavierius yang keras kepala. Menurut legenda, Ignatius mengutip satu baris dari Perjanjian Baru, "Apa keuntungannya jika mereka mendapatkan dunia, tapi kehilangan diri sendiri?" Pertobatan Fransiskus "setegas Favre tapi lebih dramatis karena hidupnya pada titik itu telah menunjukkan tanda-tanda ambisi duniawi."
Di kemudian hari, Ignatius akan menjadi administrator utama yang memimpin Serikat Yesus. Xaverius diutus Ignatius menjadi misionaris, berkeliling dunia, dan mengirim kembali surat-surat yang dipenuhi dengan petualangan yg membuat bulu kuduk berdiri bagi saudara2 Yesuit-nya. (surat-surat Xavierius mirip dengan film aksi-petualangan pada masa itu). Favre, sebaliknya, menghabiskan sisa hidupnya sebagai konselor spiritual yang dikirim untuk menyebarkan iman Katolik selama Reformasi. Karyanya lebih diplomatis, membutuhkan negosiasi rumit melalui berbagai perang agama.

Ignatius, Fransiskus dan Pierre memulai komitmen yang mereka buat kepada Tuhan dan satu sama lain pada tahun 1534. Di sebuah kapel di lingkungan Montmartre di Paris, ketiga orang tersebut, bersama empat teman baru lainnya mengucapkan sumpah kemiskinan dan kesucian bersama. Bersama-sama mereka menawarkan diri mereka kepada Tuhan. (Tiga orang lainnya yang akan melengkapi daftar "Yesuit Pertama," akan bergabung setelah tahun 1535.)

Persahabatan di antara para Yesuit awal itu sangat erat. Mereka saling mengasihi dan tidak pernah melupakan sahabatnya meski terpisah jauh. Mereka sering berkirim surat.

Tapi persahabatan mereka bukan berpusat pada diri sendiri, tapi diarahkan pd tujuan mulia mereka. Maka Ignatius tidak segan meminta Fransiskus meninggalkannya utk menjadi salah satu misionaris besar gereja. Dia sadar, dia mungkin tidak akan pernah melihat sahabatnya lagi. Dan itu terjadi...

Selama perjalanannya, Xavierius akan menulis surat kepada Ignatius, tidak hanya melaporkan negara-negara baru yang telah dieksplorasi dan orang-orang baru yang dia hadapi, namun juga mengungkapkan kegembiraannya. Keduanya saling merindukan. Keduanya menyadari kemungkinan akan mati sebelum bisa bertemu lagi. 

Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang melelahkan yang membawanya dari Lisbon ke India, Jepang, Kalimantan, Maluku. Fransiskus melangkah ke sebuah kapal yang menuju ke Cina, tujuan akhirnya. Pada bulan September 1552, dua belas tahun setelah dia mengucapkan selamat tinggal kepada Ignatius, dia mendarat fdi pulau Shangchuan (Sancian), di Cina. Dia jatuh sakit karena demam, dan terkurung di sebuah gubuk di pulau itu. Dia meninggal, dan tubuhnya dikuburkan di situ. Tubuhnya yg msh utuh kemudian dibawa ke Malaka, dikuburkan sementara di sana, lalu dibawa ke kubur akhirnya di Goa, India. (Kalau ke Malaka, jangan lupa berkunjung ke bekas kuburannya yg terbuka smp skg). 

Beberapa bulan kemudian, dan tidak menyadari kematiannya, Ignatius di Roma, menulis surat meminta Fransiskus untuk kembali.

Ke Jerman

Akan halnya Pierre Favre, waktu itu politik dan agama di Eropa sedang gunjang ganjing. Gereja Katolik dituntut melakukan pembaharuan dan reformasi. Pada tahun 1520-an, suara paling keras dan paling menentukan diserukan oleh Martin Luther di Jerman. Pada tahun 1521, bertahun-tahun sebelum memutuskan hubungan dengan Gereja Katolik, raja Henry VIII mencela ajaran Luther sehingga Paus Leo X mengatakan bhw kerajaan Inggris ini adalah "Pembela Iman." Orang-orang awam terkenal seperti Erasmus dan Thomas More juga menulis, menentang Luther tapi juga mendesak pembaruan rohaniwan. Tapi pemisahan dr Roma tetap berjalan, terutama di Jerman, dan ini merupakan pukulan yang parah pd gereja. Ketika Paus Paulus III meminta para Yesuit muda untuk merebut kembali daerah yg dengan cepat hilang karena ajaran-ajaran Protestan, Pierre adalah salah satu yang pertama dipilih untuk bertugas oleh Ignatius.

Pada tahun 1541, Pierre memulai pelayanan yang mengirimnya melintasi Eropa, ke Spanyol, Portugal, dan Belgia, tapi sebagian besar waktunya dihabiskan di Jerman, pusat reformasi Protestan. 

Segera setelah kedatangannya di kota kecil Speyer di Jerman pada 1542, Pierre melihat situasi yg suram. Orang-orang Katolik dengan cepat beralih ke Protestan. Perdebatan2 yg dilakukan antara para Reformator dan Katolik menunjukkan kekuatan pihak Protestan; Mereka memiliki apa yang tidak dimiliki oleh para teolog Katolik: front persatuan, organisasi yang lebih baik, dan kesederhanaan pesan. Dan para politisi dari kedua belah pihak memiliki taruhan dalam hasil perdebatan tersebut. Pierre berada di atas panggung tragedi yang sedang berlangsung, dan skornya tidak bagus untuk Gereja. Pernah karena putus asa, dia ingin meninggalkan posnya di Jerman.

Dari perdebatan2 yg dia ikuti, akhirnya dia yakin bhw argumen intelektual, dan perdebatan sengit tidak akan dapat mengubah siapa pun. Kekudusan pribadi adalah kata kuncinya. 

Maka dia banyak berdoa untuk diri sendiri dan untuk orang-orang yang akan dia temui. Dia berdoa saat dia melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain agar pelayanannya akan berbuah. 

Dia berkhotbah, memberi ceramah, memberi Latihan Rohani dan mendengar pengakuan sampai larut malam. Dia banyak bertemu dengan orang2, dan orang-orang tertarik kepadanya. Jika seseorang akan meninggalkan gereja, jika ada orang membutuhkan dorongan untuk bertekun dalam iman, Pierre mendengarkan dengan saksama dan menanggapi secara pastoral. Dengan kasih, dia mengembalikan orang ke Gereja. Dia menghindari pokok diskusi yang dapat menimbulkan pertengkaran. Pada masa itu, ketika toleransi agama belum dikenal, pandangannya luar biasa.

Pada tanggal 1 Agustus 1546, akibat kelelahan, Pierre meninggal di Roma dalam perjalanan ke Konsili Trent di mana dia akan bertugas sebagai penasihat teologis.

Jangan berdebat dengan sdr2 Protestan, kata Paus Fransiskus. Utamakan kasih. Mari berdoa bersama dan bekerja bersama, sehingga nanti pd waktunya semua akan menjadi satu... Ini juga yg disuarakan oleh Pierre Favre, hampir 500 th lalu. 






Sunday, June 25, 2017

Mengapa Paus Fransiskus tidak mengadakan reformasi radikal, spt menjual gedung gereja utk orang miskin?

Paus Fransiskus dan Oscar waktu masih di Argentina.



Mengapa Paus Fransiskus tidak mengadakan reformasi radikal, spt menjual gedung gereja utk org miskin?
========================

Paus Fransiskus sangat radikal, dan sangat konsisten. Sejak awal dia mendengungkan visi radikalnya "gereja miskin, utk org miskin", yg sangat saya dukung... Lalu saya bertanya2, pd suatu titik mengapa skg dia spt berhenti.?

Dlm diskusi, sebgn besar orang bilang, yg dimaksud paus adalah miskin dlm arti rohani. Tapi makin hari makin jelas, yg dimaksudkan adalah miskin harta. Dasar2nya ditulis pd ensiklik EG. Lalu dlm Twitter 2 minggu lalu ditulisnya: miskin harta, miskin sarana... Lalu spt saya post kemarin, paus bilang, "kredibilitas Injil ada dlm kesederhanaan dan kemiskinan gereja."  Saya artikan, kalau gereja tidak hidup secara sederhana dan miskin spt pesan Injil, semua yg kita katakan akan dianggap munafik oleh orang luar.

Tapi teman debat saya sering mengajukan "fakta2", buktinya Vatikan masih begitu megah, tidak sesuai dengan visi paus sendiri... Alasan Vatikan tidak dapat dijual, telah disampaikan oleh paus. Vatikan bukan milik gereja. Tapi bagaimana dengan gedung gereja2 lain? So, bagaimana?

Ternyata ada prinsip lain dr paus yg baru saya ketahui: mencegah pertumpahan darah.

Paus Fransiskus punya teman baik sejak SMA. Oscar Crespo. Dia pernah datang ke Vatikan, bicara panjang lebar dengan teman lamanya. Dan wartawan tidak menyia2kan kesempatan ini utk bertanya: apa yg dibicarakan mereka? Banyak hal yg tidak tepat ditulis di situ, tidak dapat dianggap "pernyataan resmi" dr paus. Tapi ada satu kalimat yg saya percaya itu benar: prinsip lain yg dipegang paus. 

Paus Fransiskus "tidak bermaksud untuk memaksakan reformasi radikal dengan mengorbankan kesatuan gereja." "Perubahan bisa dilakukan lewat waktu atau lewat darah, dan saya memilih kedamaian,"  kata Paus Fransiskus kepada Oscar. 

Jadi, mungkin itulah sebabnya mengapa paus sangat berhati2 dlm melakukan perubahannya. Supaya tidak terjadi perpecahan gereja. Tidak perlu "pertumpahan darah"... 

Krn itu, wujud sejati gereja miskin yg dicita2kan Paus Fransiskus mungkin baru akan terlihat bayang2nya 50- 100 tahun lagi, melihat kerasnya tentangan thd ide paus ini... Betapa pun lamanya, saya percaya, itu akan terwujud. Krn gereja tidak bisa terus menerus "tidak konsisten." ... Amin. 


** Teman saya pak @bono bilang ini hil yg mustahal krn gereja telanjur menikmati kekayaannya. Tapi semoga tidak demikian. 🙏