Friday, June 26, 2020

Perjalanan Terakhir


Pagi itu aku membawa mobilku menuju sebuah rumah bercat hijau. Kubunyikan klakson sebagai tanda bahwa taksi yang dipesan telah siap di depan rumahnya. Aku menunggu beberapa menit.   Namun tidak ada tanda-tanda seseorang akan keluar dari rumah itu.
Tadinya aku mau membunyikan klason lagi tapi perasaanku mengatakan aku harus keluar dan mengetuk pintu rumah itu saja.

Aku membuka pintu mobil, berjalan melalui taman di depan rumahnya.
“Taman yang cukup terawat”, pikirku.  Aku mulai mengetuk pintu rumahnya.
Terdengar sebuah suara : “Tunggu sebentar ya”.
Suaranya lemah, sepertinya sudah berusia senja.
Lalu aku dengar langkah kaki dan sesuatu yang diseret menuju ke pintu tempat aku berdiri. 
Tak lama pintu terbuka.
Seorang wanita tua berdiri di depanku.  Dia mengenakan baju berwarna ungu  dan kerudung berwarna senada yang dipakai diatas kepalanya.
Aku menebak umurnya mungkin sekitar 70 an tahun.

Di sampingnya terdapat sebuah koper kecil yang tadi terdengar diseret.  Tidak ada orang lain di rumah itu, bahkan aku perhatikan semua perabotan disana sudah kosong,  terlihat beberapa dus bekas dan meja kecil yang ditutup koran.
Sepertinya pemiliknya akan meninggalkan rumah itu dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak ingin kembali kesana.

“Apakah Anda bisa membawa koper saya ke mobil? " dia bertanya.
Aku mengangguk lalu mengambil koper dan memasukannya dalam bagasi  taksi,  kemudian kembali untuk membantu wanita itu.
Dia memegang lenganku dan kami berjalan perlahan menuju tepi jalan tempat aku memarkirkan kendaraanku.
Wanita tua itu berterima kasih kepadaku karena mau memegangnya saat menuju taksi tadi.
 "Tidak mengapa Bu..., itu sudah seharusnya saya lakukan.”
Saya jadi teringat Ibu saya sendiri.  Saya senang jika Ibu saya diperlakukan dengan baik oleh orang lain.
Jadi sudah seharusnya saya juga melakukan hal yang sama pada Ibu. “Oh, Anda sepertinya anak yang baik ya”, katanya.   Aku hanya tersenyum.
Ketika kami sampai di dalam taksi, wanita itu memberi aku sebuah alamat dan kemudian bertanya, "Bisakah Anda berkendara melalui pusat kota?"
"Pusat kota..? Bukankah itu malah menjadi lebih jauh kalau mau ke alamat ini Bu?" jawabku cepat.
“ Oh ya, sy mengerti, tp saya tidak terburu-buru, saya sedang dalam perjalanan ke panti jompo Nak”.
Aku melihat di kaca spion. Matanya berkilauan sepertinya dia menahan tangis.  Terlihat jelas ada kesedihan terpendam di wajahnya.
"Saya tidak punya keluarga lagi Nak..," lanjutnya dengan suara lembut.
“Suami saya sudah meninggal, saya tidak punya anak.  Dokter mengatakan saya punya penyakit serius.
Jika sendirian di rumah,  dokter khawatir terjadi apa-apa dengan saya, jadi dokter menyarankan agar sisa hidup saya ini dihabiskan di panti jompo saja Nak. "

Aku diam-diam mengulurkan tangan dan mematikan argometer.
“ Ibu ingin lewat jalan apa?
Biar saya antar jalan-jalan dengan taksi saya ini”.

Ibu itu pun lalu memintaku untuk melewati jalan di kota yang cukup ramai.
Beliau menunjukkan gedung tempat dia pernah bekerja sebagai seorang sekretaris.
Kami melaju melalui sebuah perumahan,  di mana ia dan suaminya pernah tinggal ketika masih pengantin baru.
Lalu beliau juga memintaku untuk berhenti di depan sebuah gudang mebel yang pernah menjadi ballroom gedung kesenian tempat di mana dia menjadi penari saat masih gadis.
Kadang-kadang dia memintaku untuk memperlambat di depan sebuah bangunan tertentu atau berhenti di sebuah sudut jalan, kemudian dia keluar dari mobil.   Dia  duduk di situ, menatap ke sekeliling, terkadang dia menyentuh tembok, atau benda yang ada disana.  Pandangannya menunjukkan rona kesedihan, namun tidak mengatakan apa-apa.
Tanpa terasa matahari sudah mulai meninggalkan cakrawala. Hari sudah berganti gelap.  Dia tiba-tiba berkata, "Aku lelah.., ayo pergi sekarang".
Kami melaju dalam keheningan ke alamat yang telah dia berikan padaku.
Sesampainya disana, aku melihat Itu adalah sebuah bangunan, seperti rumah peristirahatan kecil.
Sekelilingnya penuh dengan tanaman hias aneka warna.
Suasananya sejuk, sangat cocok untuk menenangkan diri.   Ada kolam ikan di dekat jalan menuju pintu masuk.
Beberapa kandang burung juga ada disana.
Menambah semarak suasana sekitar rumah tersebut. 
Ada dua orang perempuan berbaju perawat yang keluar dari rumah kecil itu.
Mereka membawa sebuah kursi roda.  Terihat garis kecemasan di wajah perawat itu.  Mungkin mereka sudah mengharapan wanita tersebut dari sejak siang tadi.
Aku membuka bagasi, mengambil koper kecil dan membawanya menuju pintu masuk.  Wanita itu sudah duduk di kursi roda.
“Berapa yang harus saya bayar untuk ongkos taksinya nak...? “
(Dia bertanya sambil merogoh tasnya.)
"Gak usah Bu," kataku.
"Wah gak boleh begitu, Anda kan mencari nafkah", jawabnya.
“gak papa bu..., nnt kan ada penumpang yg lain ".
Aku menjawab yakin.
Tanpa berpikir panjang, aku membungkuk dan memeluknya di kursi roda.
Dia balas memelukku dan memegang erat-erat tanganku.
"Nak... Anda sudah memberikan kpd seorang wanita tua ini sebuah kegembiraan yang tiada tara".  Anda sudah memberikan Perjalanan terakhir yang menyenangkan untuk saya kenang.
Terima kasih untuk semua kebaikanmu ya Nak”.
Aku meremas tangannya, dan kemudian berjalan ke dalam cahaya malam yang redup.
Di belakangku terdengar pintu menutup.
Rasanya pilu, dingin dan menyeramkan.  Seperti tertutupnya sebuah harapan dalam kehidupan.

Aku tidak mengambil lagi penumpang di jalan meski ada beberapa yang meminta taksiku berhenti.   Aku pergi tanpa tujuan, melamun.
Selama sisa hari itu, aku hampir tidak bisa bicara.
Pikiranku melayang saat pertama kali bertemu dengan wanita tua itu.  Bagaimana jika bukan aku sopir taksi yang menjemputnya.  Bagaimana jika sopir taksi yang menjemputnya itu tidak keluar dari mobil dan hanya marah-marah sambil klakson berkali-kali untuk memberitahu bahwa taksi sudah datang..?
Bagaimana jika sopir taksi itu tidak mau mengantarnya jalan-jalan seharian?
Padahal di jalan banyak penumpang yang akan memakai jasa taksinya. 
Aku akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa aku telah melakukan sesuatu yang benar, selain mencari uang di jalanan dengan taksiku ini. 

Bukankah hidup bagaikan roda yang berputar?
Bagaimana jika wanita tua itu adalah Ibuku sendiri?
Bagaimana jika wanita tua itu adalah istriku sendiri?
Bagaimana jika wanita tua itu adalah anakku sendiri.
Atau bahkan diriku sendiri.

________________

 ** Dulu saya pernah menerjemahkan ini. Entah di mana disimpannya...

Tuesday, March 17, 2020

Cina, atau China, atau Tionghoa?

Untuk teman2 FKUI.
=====================
Aku keturunan Cina. Juga keturunan Jawa. Nenek ibu, yang sangat menyayangi ibuku (kalau tidur selalu dikeloni), orang Jawa asli. Juga nenek dr ayah. Jadi aku sangat pas kalau bicara tentang ini. Mengapa sebagian orang menuntut dipanggil Tionghoa dan bukan Cina? Latar belakang nya macam2.. Begini... 

Saudara iparku pernah cerita. Waktu kecil dia pernah berantem. Oleh lawan2nya dia dikatai "dasar Cina lu." Dia marah sekali, dan mereka berkelahi sampai usai. Peristiwa ini menggoreskan luka mendalam di hatinya. Sampai sekarang. Ada teman SMA yang kurang lebih juga mengalami hal semacam itu. Biasa lah. Anak SMA. Berantem. Maki memaki. Lalu sampai pada kata2 itu. Untung aku jarang berantem secara fisik. Pernah sekali saja. Jadi tidak mengalami peristiwa seperti itu. Maka juga tidak ada luka mendalam di hati. Jadi bisa melihat dengan kacamata netral.

Lalu, sewaktu masa Suharto, orang keturunan Cina dipaksa ganti nama. Banyak orang marah sekali dengan ini. Itu menginjak injak harga diri seseorang. Aku juga marah. Tidak suka. Bayangkan kalau kamu sendiri dipaksa harus ganti nama yang selama ini asing bagimu. Salah tulis huruf  saja, misal "Z"diganti "S", bisa bikin orang tidak suka. 

Tapi ada orang yang bisa menerima itu. Dengan legawa. Dan memakai nama barunya di rmh. Untuk seluruh keluarga... Misal ganti nama menjadi Hadi. Dan di rmh dipanggil dengan nama itu. Di keluarga ku tidak. Itu nama paksaan. Jadi untuk keluarga besar, kita tetap memakai nama lama untuk panggilan di rmh. Nama Cina. Akibatnya? Terjadi semacam dual personality: waktu di rmh di antara keluarga. Dan waktu di tempat kerja. Maka kadang kalau datang rekan kerja, dan berkata, "saya ketemu dengan pak xxxx, saudara Bpk," maka harus mikir dulu siapa itu. Ooo... adik kelima.

Tapi emosi bisa berubah. Setelah masa marah berlalu, aku melihat kenyataan, bahwa memang bagi yang bukan keturunan Cina, nama2 kami ini susah dilafalkan. Ada diftong seperti 'au' dalam 'Lauw', yang bener2 dilafalkan 1 huruf hidup, biasa (atau hampir selalu) salah dilafalkan "a-u" oleh orang bukan keturunan Cina. Ada ejaan Belanda dan Suwandi di mana huruf "I" dibaca "e", sehingga nama margaku, Kwik, dilafalkan berbeda2. Yang benar, agak berbunyi "e".  (Transliterasi untuk ini banyak sekali, mungkin terbanyak: Kwik, Kwee, Kwek, Quek, Que,  tergantung daerah)๐Ÿ˜Š

Semua itu tidak dialami lagi oleh anak2ku, generasi berikutnya, yang tidak punya nama Cina lagi. Tidak ada dual personality lagi. Dari segi ini, dapat dikata pemaksaan ganti nama itu di belakang hari ada manfaatnya. Lebih menyatu. (Tapi ada anak ku yang menuntut dikasih nama Cina  ๐Ÿ˜Š). 

Kembali pada kebencian pada kata "Cina". Aku pernah tanya pada saudaraku di atas tadi. Kamu lebih suka disebut "lu anjing Cina" atau "lu anjing Tionghoa". Dia tertawa... Jadi sebenarnya yang tidak disukai adalah aroma kebencian dalam kata itu. Lalu yang disalahkan adalah "kata" nya. 

Lalu aku bilang, di antara teman2 ku orang Jawa asli, mereka memakai kata Cina, Cino, itu sebagai kata yang netral sama sekali secara emosional. Memang dr dulu begitu. Kalau menyebut Cino, ya Cino, tanpa maksud apa2. Tidak ada yang salah. Jadi seharusnya kata "Cina" bisa dipakai secara netral, kalau mau. 

Ada juga dulu rasa direndahkan. Karena dulu Cina identik dengan negara Cina. Miskin. Gaji buruh dan gurunya sepersepuluh dr gaji guru di Indonesia pada tahun 1970 awal. Ya, sepersepuluh.  Tapi sekarang Cina adalah negara adidaya kedua, bahkan cadangan devisanya terbesar di dunia, melebihi Amerika. Masih malu? Rendah diri? Ajaib... Aku bangga. Aku keturunan Cina. Meski di sana tidak diakui. (Aku juga bangga atas gen Jawa di setiap sel tubuhku. Suku bangsa yang berbudaya luhur, tinggi tutur katanya, yang menurunkan jiwa seni dan kepintaran dalam diriku). 

Lalu sebagian saudara yang luka batin tadi menuntut dipakai kata Tionghoa sebagai pengganti Cina. Ada hal yang dilupakan. Karena kata ini mayoritas dipakai di Jawa saja. Ini berasal dr bahasa daerah, Hokkian. Orang keturunan Cina yang dr luar daerah itu, keturunan Kongfu, Shantung, dll., tidak memakainya. Orang2 di Batam, Karimun, dsb., tidak mengenal kata itu, dulu... Mereka, orang2 keturunan Cina, dengan enak memakai kata "Cina" dalam obrolan sehari2. O, ya, bagaimana kalau kita, orang keturunan Cina menyebut orang Cina dalam kehidupan sehari2? Kita pakai kata "tรชng lang". Di Riau maupun di Jawa. (Lang = orang. Mungkin kata "orang" juga berasal dr sini. O lang → orang.). 

Lalu apakah kita perlu menuntut negara Cina untuk memakai "People's Republic of Tiongkok" sebagai pengganti "China"? Piye tho... Bingung, kan... Tionghoa food sebagai pengganti Chinese food? 

Orang Negro Amerika pernah protes besar atas penggunaan kata Negro yang dinilai menghina. Karena dipakai sebagai makian tadi. Dasar Negro bodoh. You.. Niger... Sekarang mereka damai dengan istilah "hitam". Black. Mereka black people. Ada persamaan dengan tuntutan sebagian orang keturunan Cina di sini dalam hal latar belakang. 

Akhirnya, mungkin dapat ditawarkan kata China. Ejaan Inggris. Tepat sama dengan yang dipakai di China kalau menuliskannya dalam huruf Latin. Mungkin lebih dapat diterima semua pihak?

Ada yang mengatakan, tapi itu tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Benar dalam satu segi. Tapi ingat, bahasa Indonesia juga ada pengecualian. Misal kata "Allah" seharusnya ditulis "Alah" kalau konsisten (coba lihat Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia). Buddha ditulis Buda. Ternyata tidak. Beberapa kata diberi pengecualian karena berbagai pertimbangan. 

Jadi, sebagai jalan tengah, saya usulkan dipakai saja ejaan kata "China" sebagai pengganti "Cina". Mungkin lebih damai. Saya sendiri? Terserah lu aja. Owe sudah tua. Cuma kasian dengan generasi mendatang yang mungkin masih akan terus mempersoalkan ini. Pdhal diperlukan kesatuan pikiran kalau mau sama2 maju... 

Semoga nanti semua pihak dapat mencapai kesepakatan demi kemajuan bangsa. 





Thursday, February 27, 2020

LUKAS, Tentang orang-orang munafik




Oleh Kahlil Gibran
========================
"Yesus membenci dan mencela orang-orang munafik, dan murka-Nya seperti badai yang menyiksa mereka.  Suara-Nya bergemuruh di telinga mereka dan Dia menakutkan mereka.

Dalam ketakutan mereka kepada-Nya mereka menginginkan kematian-Nya;  dan seperti tikus tanah di tanah yang gelap, mereka bekerja untuk merusak jejak-Nya.  Tetapi Dia tidak jatuh ke dalam jerat mereka.

Dia menertawakan mereka, karena Dia tahu benar bahwa roh tidak akan diejek, juga tidak akan masuk ke dalam perangkap.

Dia memegang cermin di tangan-Nya dan di sana Dia melihat si pemalas dan orang-orang yang tertatih-tatih dan mereka yang terhuyung-huyung dan jatuh di tepi jalan menuju ke puncak.

Dan Dia mengasihani mereka semua.  Dia bahkan akan mengangkat mereka setinggi-tingginya dan Dia akan memikul beban mereka.  Bahkan, Dia akan menukar kelemahan mereka dengan kekuatan-Nya.

Dia sama sekali tidak mengutuk si pembohong atau si pencuri atau si pembunuh, tetapi dia benar-benar mengutuk orang munafik yang wajahnya bertopeng dan yang tangannya diselubungi sarung tangan.

Seringkali saya merenung tentang hati yang melindungi semua orang yang datang dari tanah kosong ke tempat perlindungan, namun terhadap orang munafik itu tertutup dan tersegel.

Pada suatu hari ketika kami beristirahat dengan-Nya di Taman Delima, saya berkata kepada-Nya, “Tuan, Anda mengampuni dan menghibur orang berdosa dan semua yang lemah dan yang rapuh kecuali orang munafik saja.”

Dan Dia berkata, “Kamu telah memilih kata-katamu dengan tepat ketika kamu menyebut orang berdosa itu lemah dan rapuh.  Aku benar-benar memaafkan kelemahan tubuh dan kerapuhan roh mereka.  Karena kegagalan mereka ini ditimpakan kepada mereka oleh nenek moyang mereka, atau oleh keserakahan tetangga mereka.

"Tetapi aku tidak mentoleransi orang munafik, karena dia sendiri meletakkan kuk atas orang yang tidak bersalah dan yang menurut.

"Orang2 yang lemah, yang kamu sebut orang berdosa, seperti anak burung muda tanpa bulu yang jatuh dari sarang.  Orang munafik adalah burung nasar yang menunggu di atas batu menanti kematian mangsa.

“Orang2 yang lemah adalah orang-orang yang tersesat di padang pasir.  Tapi orang munafik itu tidak tersesat.  Dia tahu jalan namun dia tertawa di antara pasir dan angin.

 "Karena alasan ini Aku tidak menerimanya."

Demikianlah Guru kita berbicara, dan saya tidak mengerti.  Tapi saya mengerti sekarang.

 Kemudian orang-orang munafik negeri itu mencengkeramkan tangan ke atas-Nya dan mereka menghakimi Dia;  dan dengan melakukan itu mereka menganggap diri mereka dibenarkan.  Karena mereka mengutip hukum Musa di Sanhedrin sebagai saksi dan bukti yang menentang Dia.

Dan mereka yang melanggar hukum pada saat tiap terbitnya fajar dan melanggarnya lagi saat matahari terbenam, membawa kematian-Nya.

** Dari kumpulan puisi, Jesus, the Son of Man. 

Tuesday, February 11, 2020

Gereja dan busana



Kejadian 2:25. Mereka keduanya telanjang... tetapi mereka tidak merasa malu...

Saudara2 kita di dalam misa ini tidak merasa malu. Berarti mereka hidup di Taman Firdaus kah? Entahlah. Mungkin... Yang penting,  "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik... "(Kejadian 1:31). Tidak perlu malu, saudaraku... ๐Ÿ™



Monday, January 13, 2020

TAHUN KEADILAN SOSIAL 2020 (1)


SURAT GEMBALA
========================
Tahun Keadilan Sosial ini mulai dicanangkan  pada Hari Raya Penampakan Tuhan, Epifani,  untuk mengambil teladan dr kisah itu; kisah orang majus dari Timur.

Konon mereka pulang ke negerinya "lewat jalan lain". Secara simbolis, itu berarti tidak menapaki jalan hidup yang sama. Yang lama. Tapi mengubahnya sehingga membuahkan sukacita (Mat 2:10).

Ini berlaku untuk kita masing-masing, keluarga, paroki, keuskupan, bahkan Gereja semesta: KITA harus berubah. Tidak hanya berpikir dan berbuat seperti kebiasaan lama, kemarin2 dulu.

Diharapkan kita mulai berbuat baik pada semua orang, khususnya orang2 kecil yang miskin, menderita, tersingkir, difabel, dst... sesuai perintah Yesus dalam Injil Matius 25 (yang saya ulang2 terus selama beberapa tahun).
----------------------------------------

** Begitu kurang lebih pembukaan Surat Gembala tadi... Sungguh menarik. Sungguh mulia. Saya sungguh gembira gereja Indonesia mulai serius memperhatikan seruan pemimpinnya, Paus Fransiskus, setelah 6 tahun.

Tapi saya ragu, sangat ragu, dalam hal pelaksanaannya, serta cara pikir tim penyusun. Dan itu SEGERA TERBUKTI.
-------------------
Muncul edaran dr paroki. Minta warga menyumbang untuk keperluan tadi. Membantu orang miskin dst. Segera berkelebat bayangan posting WA tadi siang: cibiran pada seorang kepala daerah yang meminta masyarakat menyumbang orang2 yang kesusahan karena banjir. Dan dia sendiri tidak memberi apa2. Bahkan memotong anggaran untuk itu....

Bukankah itu analogi yang sangat sejajar?. Ada baiknya kalau si pemimpin mulai dr dirinya sendiri. Memberi contoh teladan. Menyumbang. Menambah jatah dalam anggaran. Memberitahukan pada masyarakat, anggaran ditambah sekian persen. Bukan langsung meminta orang untuk menyumbang.

Untuk gereja, ini adalah paroki, keuskupan. Seharusnya paroki dan keuskupan memulai lebih dulu dengan mengeluarkan dana yang dipotong dr anggaran lain. Tidak ada? Tidak bisa? Mungkin slogan Tahun Keadilan perlu disingkirkan dulu untuk 10 tahun lagi...

Kalau anggaran untuk orang miskin ditambah, dengan sendirinya HARUS ada anggaran lain yang dikorbankan (silakan cari).

Ada peristiwa bagus tentang ini.
Wilayah saya akan mengadakan Pesta Natal. Bersuka ria. Mendadak banjir datang. Pesta TIDAK BISA dilangsungkan. Maka panitia mengusulkan, dana diberikan saja pada orang2 yang menderita tadi.... Setujuuuu.... Kurang lebih begitu reaksinya. Putusan yang mulia. Tapi jauh lebih mulia lagi kalau putusan itu dilakukan sebelum banjir datang. Bukan putusan-terpaksa, karena tidak ada jalan lain. Karena kalau mau mencari, pasti masih banyak orang2 menderita di luar sana, terlebih yang bukan Katolik.

Lho, kalau terus menerus memberi, dana gereja akan habis dong? Yes, sir... Itulah gereja yang disebut Paus Fransiskus, gereja miskin, untuk orang miskin.... (Semboyan yang tidak disukai banyak orang).

Mungkin itulah yang diminta dan diharapkan: Mengubah cara pikir kita untuk memakai logika yang lurus. Bukan logika yang kemarin.

*** Omong2, berapa persen ya dana keuskupan yang selama ini dianggarkan? Ada yang tahu? 20- 30%? 40- 50%? Atau cuma 2 -5 %? Mari kita bicara angka.

Semoga terang Roh Kudus  membuka pintu nurani kita semua... Amin๐Ÿ™

TAHUN KEADILAN SOSIAL 2020 (2)

Semua perbuatan baik pada orang2 yang terkecil itu harus mulai dari  "kita masing-masing, keluarga, paroki, keuskupan, bahkan Gereja semesta."

Kalau ditanya sebaiknya mulai dr mana? Menurut saya, mulailah dr diri kita sendiri. Lalu keluarga kita, baru naik ke tingkat lingkungan, wilayah, paroki, lalu keuskupan.

Ini sesuai dengan anjuran Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium. Juga penekanan beliau terhadap aktivitas umat awam.

Untuk lingkungan saya, saya sudah usulkan untuk tidak dikirim ke paroki. Tapi langsung kita salurkan pada saudara2 yang menderita di sekitar kita. (Lha wong orang yang sangat perlu bantuan ada di depan mata, kok pakai muter segala).

Kalau suatu lingkungan atau wilayah sangat kaya (banyak di Jakarta), barulah dana disalurkan lewat paroki lalu ke keuskupan. ... Bagaimana pendapat Anda?

Komunis, Gereja, dan Yesus Tunawisma



TAHUN KEADILAN SOSIAL 2020 (4)

Hampir 130 tahun lalu, Paus Leo XIII menyodorkan prinsip baru untuk melawan gerakan komunis yang meluas kala itu; prinsip atau asas subsidiaritas. Komunis mengajarkan untuk mengambil anak2 untuk dididik (diindoktrinasi) oleh negara di asrama. Jangan, kata gereja. Itu salah besar. Apa yang bisa dilakukan oleh unit yang lebih rendah, harus dilakukan mereka. Yang di atas hanya melihat dan membantu, kalau perlu... Anak bisa dididik oleh keluarga sendiri. Jangan ambil hak keluarga... Setuju bukan? Setuju sekali...

Tapi mari kita lihat kehidupan dalam gereja kita sendiri. Tadi nonton sekilas penjelasan resmi tentang "celengan Yesus Tunawisma" di Hidup TV, lewat Youtube... Menabunglah. Masukkan duit dalam celengan. Lalu kumpulkan di lingkungan. Serahkan ke paroki. Paroki akan memanfaatkan dana itu untuk program2 membantu orang miskin, yang lemah, menderita, difabel, dll... Lingkungan boleh usul, tapi paroki yang menentukan. 

Yang tersirat, tapi tidak tersurat, adalah: kamu, keluarga2, lingkungan2, tidak bisa, tidak mampu, melakukan tindakan2 kasih, tindakan kebaikan, seperti yang diminta Yesus pada semua orang. Para pengurus paroki dan pengurus keuskupan lah yang bisa. Yang tahu caranya... Just pray, pay, and obey (Berdoa saja, bayar, dan nurut saja, kata orang2 yang sinis pada gereja.)

Kata2 itu mungkin terlalu keras. Tapi mungkin juga ada individu, keluarga, atau lingkungan yang kurang nyaman kalau dianggap tidak mampu berbuat baik kalau tidak dibimbing... Saya sendiri percaya, mereka bisa! Bisa berbuat baik sendiri, tanpa harus diajari caranya oleh paroki dan keuskupan. Yesus sendiri yang mengajari.. 

Lalu mengapa gereja tidak memakai prinsipnya sendiri yang dulu digembor2kan? Asas subsidiaritas. Masing2 individu dan keluarga serta lingkungan dapat melakukan itu. 
Biar mereka yang melakukan. Jangan diambil alih oleh paroki atau keuskupan. Tapi kami lebih ahli mengurus itu. Lebih efisien... Itulah juga yang dikatakan oleh para gembong komunis Eropa di masa lalu. 

Paus Fransiskus sendiri, dalam Evangelii Gaudium #120, berkata: "Semua orang  yang dibaptis, apapun posisinya di Gereja atau tingkat pemahaman imannya, adalah agen dari evangelisasi, dan tidak cukup kalau membayangkan rencana
evangelisasi yang (hanya) dilakukan oleh
profesional sedangkan sisa umat yang setia hanya menjadi penerima pasif. Evangelisasi-baru meminta keterlibatan pribadi dari tiap2 orang yang dibaptis."
Jelas Paus Fransiskus menekankan pentingnya keterlibatan unit2 yang lebih bwh, lebih kecil, yaitu pribadi dan lingkungan. Beliau menginginkan agar asas subsidiaritas secara konsisten digunakan, bukan hanya untuk di luar gereja, namun juga di dlm kehidupan gereja. Karena rada ajaib kalau gereja mendua: pakai asas itu di luar, dan mencampakkannya di dalam. 

Mengikuti ajaran paus untuk berbela-rasa rasa pada orang miskin, menuju visi "Gereja miskin", itu bagus sekali. Tapi mungkin perlu juga dipelajari prinsip2 ajaran paus yang lain, yang meminta kita kreatif, menggunakan cara pikir dan jalan baru, yang selama ini belum dilewati. Semua Roh Kudus menerangi kita semua. Amin...

** Dalam tulisan sebelum ini sudah disebut, untuk paroki kaya, tentu ada surplus. Itu yang perlu diserahkan ke keuskupan...