Sunday, February 25, 2018

Bunga2 kecil dari Santo Fransiskus Assisi



Bunga2 kecil dari Santo Fransiskus Assisi
========================
BAB VIII

Hal Yang Merupakan Kegembiraan Yg Sempurna
----------------------------------------
Suatu hari di musim dingin, saat Santo Fransiskus pergi bersama Bruder Leo dari Perugia ke biara Santa Maria dari Para Malaikat, dan sangat menderita karena kedinginan, dia memanggil Bruder Leo (teman dan pengikut St. Fransiskus Assisi), yang berjalan di depannya, dan berkata kepadanya: "Bruder Leo, jika seandainya dapat menyenangkan Tuhan jika Saudara2 Hina Dina di seluruh negeri memberi contoh bagus tentang kekudusan dan pembinaan, tuliskan, dan catat dengan saksama, bahwa ini bukan sukacita yang sempurna."

Tak lama kemudian, Santo Fransiskus memanggilnya untuk kedua kalinya: "O Bruder Leo, jika Saudara Hina tadi dapat membuat orang lumpuh berjalan, jika mereka dapat membuat lurus tubuh yang bengkok, mengusir setan, memberi penglihatan kepada orang buta, orang tuli mendengar, orang gagu bicara, dan bahkan pekerjaan2 yang jauh lebih besar, jika mereka dapat membangkitkan orang mati setelah empat hari, tulislah bahwa ini bukan sukacita yang sempurna."

Tak lama kemudian, dia berteriak lagi:" O Bruder Leo, jika Saudara Hina itu tahu semua bahasa; jika mereka menguasai semua ilmu pengetahuan; jika mereka bisa menjelaskan semua Kitab Suci; jika mereka memiliki karunia membuat nubuat, dan dapat mengungkapkan, tidak hanya semua hal di masa depan, tapi juga rahasia semua nurani dan semua jiwa, tulislah bahwa ini bukan sukacita yang sempurna."

Setelah melangkah beberapa langkah lebih jauh, dia berteriak lagi. dengan suara nyaring: "Wahai Bruder Leo, hai anak domba Allah! jika Saudara Hina Dina bisa berbicara dengan bahasa roh malaikat; jika mereka bisa menjelaskan jalannya bintang2;  jika mereka tahu kebajikan semua tanaman; jika semua harta terbuka bagi mereka; Jika mereka mengenal berbagai sifat semua burung, semua ikan, semua binatang, manusia, pohon, batu, akar, dan perairan - tulislah bahwa ini bukan sukacita yang sempurna."

Tak lama kemudian, dia berteriak lagi: "Wahai Bruder Leo, jika Saudara Hina mendapat karunia berkhotbah untuk mempertobatkan semua orang kafir ke dlm iman Kristus, tulislah bahwa ini bukan sukacita yg sempurna."

Kini ketika pembicaraan ini sdh berlangsung dlm dua mil perjalanan, Bruder Leo bertanya-tanya dalam hati; dan, sambil bertanya kepada orang suci ini, dia berkata: "Bapa, tolong kamu ajari saya di mana sukacita yang sempurna itu."

St Fransiskus menjawab: "Jika, ketika kita sampai di biara St. Maria dari Para Malaikat, basah kuyup kehujanan dan gemetar kedinginan, sekujur tertutup lumpur dan lelah kelaparan; jika, ketika kita mengetuk pintu gerbang biara, penjaga pintunya keluar dengan marah dan bertanya kepada kita siapa kita; jika, setelah kita mengatakan kepadanya, 'Kami adalah dua dari para saudara', dia menjawab dengan marah, 'Apa yang kamu katakan bukanlah kebenaran; kamu hanyalah dua penipu yang akan menipu dunia, dan mengambil sedekah orang miskin; pergi sana kataku '; Jika kemudian dia menolak untuk buka pintu bagi kita, dan membiarkan kita di luar, terkena salju dan hujan, menderita dingin dan lapar sampai malam hari -- maka, jika kita menerima ketidakadilan dan kekejaman semacam itu serta penghinaan seperti itu dengan sabar, tanpa terganggu dan tanpa menggerundel, percaya dengan rendah hati dan kasih bahwa penjaga pintu itu benar-benar mengenal kita, dan bahwa Tuhanlah yang membuat dia berbicara demikian terhadap kita, tulislah, O Bruder Leo, bahwa inilah sukacita yang sempurna. Dan jika kita mengetuk lagi, dan penjaga pintu itu keluar dengan marah untuk mengusir kita dengan sumpah serapah dan memukul, seolah-olah kita ini penipu jahat, dengan mengatakan, 'Pergi sana, perampok sialan! ke rumah sakit, karena di sini kamu tidak akan dapat makanan atau tidur! ' - Dan jika kita menerima semua ini dengan sabar, dengan sukacita, dan dengan kasih, O Bruder Leo, tulislah bahwa inilah sesungguhnya sukacita yang sempurna. Dan jika, karena dorongan kedinginan dan kelaparan, kita mengetuk lagi, memanggil penjaga dan memintanya dengan air mata bercucuran untuk membuka bagi kita dan memberi kita tempat berlindung, demi kasih Allah, dan jika dia keluar lebih marah lagi dari pada sebelumnya, dan berseru, 'Ini hanyalah bajingan pengganggu, aku akan menangani sesuai keinginanmu'; dan dia mengambil tongkat gada, dia menangkap topi kita, melempar kita ke tanah, menggulingkan kita di salju, dan memukul serta melukai kita dengan bulatan di tongkat itu -- jika kita menanggung semua luka ini dengan sabar dan gembira, sambil merenungkan penderitaan Tuhan Yang Terberkati, yang akan ikut kita rasakan karena kasih kepadaNya, tulislah, O Bruder Leo, bahwa di sini, akhirnya ada sukacita yang sempurna.

Dan sekarang, saudaraku, dengarkan kesimpulannya. Di atas semua rahmat dan semua karunia Roh Kudus yang diberikan oleh Kristus kepada teman-temannya, adalah anugerah untuk mengatasi diri sendiri, dan menerima dengan sukarela --karena kasih kepada Kristus --semua penderitaan, luka, ketidaknyamanan dan penghinaan; karena dalam semua karunia Allah lainnya kita tidak dapat bermegah diri, karena itu bukan dari diri kita sendiri tetapi dari Allah, sesuai dengan kata Rasul,  'Apa yang kamu miliki yg bukan kamu terima dari Allah? dan jika Engkau menerimanya, mengapa kamu mengagungkannya seolah-olah kamu bukan menerimanya (dr Tuhan)? Tetapi di dalam salib kesengsaraan dan penderitaan kita dapat bermegah, karena, seperti yang juga dikatakan Rasul, 'Aku tidak akan bermegah diri kecuali di kayu salib Tuhan kita Yesus Kristus.' Amin."



Tuesday, February 20, 2018

Paus Fransiskus: "Blog-blog mengatakan saya sesat? Saya tahu siapa yang menulisnya, dan saya tidak membacanya"


Berikut adalah beberapa kutipan dari percakapan Paus Fransiskus dengan para Yesuit di Chile pada 16 Januari dan di Peru pada 19 Januari, dlm kunjungan apostoliknya ke kedua negara itu.

Bapa Suci, apa kegembiraan dan ketidaksenangan yang Anda alami selama masa kepausan Anda?

Masa jabatan ini agak damai. Dari saat di Konklaf ketika saya menyadari apa yang akan terjadi -- sebuah kejutan untuk saya -- saya merasakan kedamaian yang luar biasa. Dan sampai hari ini, kedamaian itu belum meninggalkan saya. Ini adalah pemberian Tuhan, dan saya bersyukur. Dan saya benar-benar berharap Dia tidak mengambilnya dariku. Yang tidak menghilangkan kedamaianku, tapi yang menyebabkan saya sakit, adalah gosip. Saya tidak suka gosip, itu membuat saya sedih. Ini banyak terjadi di lingkungan tertutup. Bila itu terjadi dalam konteks para imam atau klerus, saya bertanya pada diri sendiri: bagaimana mungkin? Kamu telah meninggalkan segalanya, kamu telah memutuskan untuk tidak punya wanita di sisimu, kamu tidak menikah, kamu tidak punya anak ... Kamu ingin jadi tukang gosip? Oh, astaga, betapa menyedihkannya itu!

Apa penolakan/resistensi yang Anda temukan, dan bagaimana Anda menghadapinya?

Bila menghadapi kesulitan, saya tidak pernah mengatakan itu adalah 'perlawanan', karena itu berarti menolak memeriksa dengan bijak (discernment), kebalikan dr yang ingin saya lakukan. Mudah mengatakan bahwa ada perlawanan, dan (dengan demikian) tidak menyadari bahwa, dalam konflik itu juga bisa ada suatu kebenaran. Ini membantu saya juga untuk merelatifkan banyak hal yang, sekilas tampak seperti perlawanan, tapi yang pada kenyataannya adalah reaksi yang lahir dari kesalahpahaman... Tapi saat saya menyadari bahwa ada perlawanan nyata, tentu saja saya tidak suka. Beberapa orang mengatakan kepada saya bahwa normal saja terjadi perlawanan saat seseorang ingin melakukan perubahan. (Kalimat) yang terkenal, 'hal itu selalu dilakukan dengan cara ini' banyak di mana-mana; Ini adalah cobaan besar yang kita alami. Perlawanan setelah Vatikan II masih ada, berarti: (bikin keputusan2 Konsili Vatikan II seolah2) relatif (tidak mengikat), encerkan (putusan2 konsili itu). (** Paus bicara ttg orang2 yg ingin kembali pd kebiasaan/tradisi seblm Konsili Vatikan II di mana semua putusan diambil di Roma).

Saya bahkan lebih terganggu saat seseorang daftar dalam kampanye perlawanan. Dan sayangnya, saya juga melihatnya. Saya tidak bisa menyangkal bahwa ada beberapa perlawanan. Saya melihat perlawanan dan saya mengenalinya. Ada perlawanan doktrinal. Untuk kesehatan mental saya, saya tidak membaca situs internet dari apa yang disebut 'perlawanan' ini. Saya tahu siapa mereka, saya mengenal kelompoknya, tapi saya tidak membacanya, demi kesehatan jiwa saya. Jika ada yang sangat serius, mereka (orang di sekitar paus) akan memberi tahu saya tentang hal itu, jadi saya akan tahu. Dan itu tidak menyenangkan, tapi orang perlu bergerak maju.

Ketika saya merasakan perlawanan, saya mencoba berdialog, bila dialog dimungkinkan; tetapi beberapa perlawanan datang dari orang-orang yang percaya bahwa mereka memiliki doktrin yang benar, dan mereka menuduhmu sesat. Bila saya tidak menemukan kebaikan spiritual pada orang-orang ini, karena apa yang mereka katakan atau tulis, saya hanya berdoa untuk mereka. Saya (juga pernah) mengalami rasa tidak senang, tapi saya tidak terus menerus terbawa perasaan ini, demi kesehatan jiwa saya.

Dengan reformasi yg bagaimana kita dapat mendukung Anda dengan lebih baik?

Saya percaya bahwa salah satu hal yang paling dibutuhkan Gereja saat ini, dan ini sangat jelas dalam perspektif dan tujuan pastoral Amoris Laetitia, adalah kearifan (discernment). Kita terbiasa dengan 'kamu boleh atau tidak boleh.' Dalam masa formasi saya, saya juga diajari cara berpikir 'sampai di sini kamu boleh, sampai di sini kamu tidak boleh.' Saya tidak tahu apa kamu ingat pastor Jesuit Kolombia yang datang untuk mengajar kita teologi moral di Collegio Massimo; ketika tiba saatnya untuk membicarakan perintah keenam (jangan berzinah), ada orang yg berani mengajukan pertanyaan 'bolehkah pasangan (yg berpacaran) berciuman?' Apakah mereka boleh berciuman! Kamu mengerti? Dan dia berkata, 'Ya, boleh!' Tidak ada masalah! Mereka cuma perlu meletakkan saputangan di antara (mulut) mereka." Ini adalah mentalitas forma mentis dlm teologi pada umumnya. Forma mentis berdasarkan batas2. Dan kita menanggung akibatnya.

Apa yang akan Anda katakan (dalam komunitas Yesuit) kepada mereka yang semakin tua dan melihat lebih sedikit orang yang ikut di belakang mereka?

Mengingat berkurangnya jumlah dan kekuatan anggota muda, orang bisa jatuh ke dalam perasaan hancurnya institusi ini. Tidak, kamu tidak boleh membiarkan dirimu hanyut begitu. Kesedihan akan menarikmu ke bawah, dan merupakan selimut basah yang mereka lemparkan kepadamu untuk melihat bagaimana kamu mengaturnya, dan hal itu membawamu pada kepahitan, kekecewaan. 
...
...

Saya ingin bertanya sedikit tentang masalah pelecehan seksual. Kami mendapat cap tidak baik oleh skandal ini.

Ini kesedihan terbesar yang dialami Gereja. Ini membuat kita malu, tapi kita perlu ingat juga bahwa rasa malu juga merupakan anugerah Ignasian. Dan karena itu, marilah kita menganggapnya sebagai anugerah, dan merasa sangat malu. Kita harus mencintai Gereja dengan luka2. Banyak luka ...

Saya mau cerita. Di Argentina, tgl 24 Maret adalah peringatan kudeta militer, kediktatoran, tentang 'desaparecidos' [orang-orang yang hilang selama kediktatoran, korban penindasan pemerintah], dan Plaza de Mayo penuh dengan orang-orang yg akan memperingatinya. Pada salah satu hari itu, saat saya hendak menyeberang jalan, ada pasangan dengan bayi berusia dua atau tiga tahun, dan anak itu itu berlari ke depan. Sang ayah berteriak kepadanya, 'ayo, ayo balik ... Awas ada pedofil!' Betapa malunya saya! Mereka tidak tahu bahwa saya uskup agung; saya seorang imam, dan ... Sayang sekali! Terkadang orang menghibur diri dan ada yg  bahkan berkata, 'Lihat statistiknya ... Ini ... saya tidak tahu ... 70% pedofil ditemukan di dalam keluarga, di antara kenalan. Lalu di gimnasium dan kolam renang. Persentase pedofil yang menjadi imam Katolik tidak sampai 2%, itu 1,6%. Jadi tidak begitu banyak ... ' Tapi itu mengerikan, biarpun hanya satu dari ini, saudara2ku ! Karena Tuhan mengurapi dia untuk menguduskan anak-anak dan orang dewasa, dan dia telah menghancurkan mereka. Mengerikan! Coba dengarkan pengalaman dr satu orang saja yang telah dilecehkan!

Tiap Jumat -- kadang-kadang diketahui  umum dan terkadang tidak -- biasanya saya bertemu dengan beberapa dari mereka. Proses mereka [penyembuhan] sangat sulit; [pelecehan] menghancurkan mereka. Bagi Gereja, ini adalah penghinaan besar. Ini tidak hanya menunjukkan kerapuhan kita, tapi juga, katakan dengan jelas, KEMUNAFIKAN kita. Mengherankan: fenomena pelecehan ini terjadi pd beberapa kongregasi baru yang makmur. Di sana, pelecehan selalu merupakan buah mentalitas yang terkait dengan kekuasaan, yang perlu disembuhkan pada akar ganasnya. Ada tiga tingkat pelecehan yang terjadi: penyalahgunaan wewenang, pelecehan seksual, dan penyelewengan finansial. Uang selalu dlm campuran itu: iblis masuk melalui dompet.

Bagaimana Anda melihat Roh yang menggerakkan Gereja sekarang menuju masa depan?

Ambil (dokumen) Konsili Vatikan II, Lumen gentium. Ketika bicara kepada uskup Chile, saya mendesak mereka untuk melakukan deklerikalisasi (mengurangi peran klerus). Evangelisasi dilakukan oleh Gereja sebagai umat Allah. Tuhan meminta kita untuk menjadi Gereja yang pergi keluar, rumah sakit lapangan ... Gereja yang miskin untuk orang miskin! Orang miskin bukanlah rumusan teoretis partai Komunis; mereka adalah pusat Injil! Sepanjang garis inilah saya merasakan Roh menuntun kita. Ada perlawanan kuat, tapi bagi saya, fakta bahwa itu muncul adalah pertanda bahwa kita berada di jalur yang benar. Jika tidak, iblis tidak akan muncul untuk menciptakan perlawanan.